<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Menunggu &#8220;Lonceng Kematian&#8221; Lewat Ujian Nasional</title>
	<atom:link href="http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/</link>
	<description>Media Berbagi dan Bersilaturahmi antarguru</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Nov 2009 12:17:41 -0500</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Syamsul Bahri, SE</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/comment-page-2/#comment-2266</link>
		<dc:creator>Syamsul Bahri, SE</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 14:47:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/#comment-2266</guid>
		<description>Saya sependapat dengan penulis bahwa, sebuah lonceng kematian Pendidikan nasional, yang seakan-akan baik atau tidak baiknya atau pintar dan tidak pintarnya atau layak tidak layaknya  siswa itu kan diketahui oleh guru yang mengasuh dan mengayomi siswa setiap hari, karena sesuai pasal 58 ayat (1) UU No.20 Tahun 2003 yang mengavaluasi dan memantau proses intelektual anak didik adalah pendidik, jelas kontribusi dan peran guru dalam penentuan kelulusan anak didik sangat penting dan besar, karena sang pahlawan tanpa tanda jasa yang melihat, mendidik, membina mental dan intelektual anak didik selama berada di lembaga pendidikan terkesan di kebirikan. Pasal 35 ayat (1) dalam penjelasan ?kompetensi kelulusan adalah merupakan kualifikasi kemampauan kelulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan ketrampilan?, di sini jelas bahwa kelulusan tidak bisa ditentukan oleh 3-6 materi ujian nasional, karena sikap, kemampuan dan ketrampilan yang hanya diketahui oleh Pendidik/guru tidak dinilai oleh Ujian Nasional, kembali lagi peran pendidik dikebirikan. Pasal 37 materi wajib yang harus diakomodir dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah memuat Pendidikan Agama, PKN, Bahasa, Matematika, IPA, IPS, Seni dan Budaya Penjas, Ketarmpilan dan jasa, muatan local, kata ? wajib? merupakan suatu bentuk yang wajib diajarkan kepada anak didik, konsekwenasinya materi tersebut menjadi indicator sebuah kelulusan anak didik, kenyataan hanya 4-6 materi yang menjadi indikator kelulusan nasional

Oya kebetulan saya juga pernah nulis tentang UN di http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=35, dengan judul UJIAN NASIONAL DAN KELULUSAN SISWA? (Orang Miskin dilarang Pintar)


Oya, sewaktu menulis opini tersebut saya memakai email  sekarang saya akti email &lt;syamsul_12@yahoo.co.id)

Wassalam

Syamsul Bahri, SE
Conservationis dan Dosen</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sependapat dengan penulis bahwa, sebuah lonceng kematian Pendidikan nasional, yang seakan-akan baik atau tidak baiknya atau pintar dan tidak pintarnya atau layak tidak layaknya  siswa itu kan diketahui oleh guru yang mengasuh dan mengayomi siswa setiap hari, karena sesuai pasal 58 ayat (1) UU No.20 Tahun 2003 yang mengavaluasi dan memantau proses intelektual anak didik adalah pendidik, jelas kontribusi dan peran guru dalam penentuan kelulusan anak didik sangat penting dan besar, karena sang pahlawan tanpa tanda jasa yang melihat, mendidik, membina mental dan intelektual anak didik selama berada di lembaga pendidikan terkesan di kebirikan. Pasal 35 ayat (1) dalam penjelasan ?kompetensi kelulusan adalah merupakan kualifikasi kemampauan kelulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan ketrampilan?, di sini jelas bahwa kelulusan tidak bisa ditentukan oleh 3-6 materi ujian nasional, karena sikap, kemampuan dan ketrampilan yang hanya diketahui oleh Pendidik/guru tidak dinilai oleh Ujian Nasional, kembali lagi peran pendidik dikebirikan. Pasal 37 materi wajib yang harus diakomodir dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah memuat Pendidikan Agama, PKN, Bahasa, Matematika, IPA, IPS, Seni dan Budaya Penjas, Ketarmpilan dan jasa, muatan local, kata ? wajib? merupakan suatu bentuk yang wajib diajarkan kepada anak didik, konsekwenasinya materi tersebut menjadi indicator sebuah kelulusan anak didik, kenyataan hanya 4-6 materi yang menjadi indikator kelulusan nasional</p>
<p>Oya kebetulan saya juga pernah nulis tentang UN di <a href="http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=35" rel="nofollow">http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=35</a>, dengan judul UJIAN NASIONAL DAN KELULUSAN SISWA? (Orang Miskin dilarang Pintar)</p>
<p>Oya, sewaktu menulis opini tersebut saya memakai email  sekarang saya akti email &lt;syamsul_12@yahoo.co.id)</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Syamsul Bahri, SE<br />
Conservationis dan Dosen</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: akafuji</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/comment-page-2/#comment-1601</link>
		<dc:creator>akafuji</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 12:52:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/#comment-1601</guid>
		<description>sory, pak guru sekarang udah bisa link saya kok :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sory, pak guru sekarang udah bisa link saya kok <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/comment-page-2/#comment-1598</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 14:36:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/#comment-1598</guid>
		<description>@ akafuji:
Ya, benar, sekolah pasti sudah mempersiapkan siswanya agar benar2 dalam kondisi siap untuk ujian.
Oh, ok, percaya2, tapi kok ndak diberi alamat URL yang bisa saya link, yak!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ akafuji:<br />
Ya, benar, sekolah pasti sudah mempersiapkan siswanya agar benar2 dalam kondisi siap untuk ujian.<br />
Oh, ok, percaya2, tapi kok ndak diberi alamat URL yang bisa saya link, yak!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: akafuji</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/comment-page-2/#comment-1600</link>
		<dc:creator>akafuji</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 10:20:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/#comment-1600</guid>
		<description>saya juga seorang guru, baru sih! saya fikir sekolah pasti punya trik tertentu bagemana caranya biar semua anak didik bapak lolos dari &quot;lonceng kematian&quot;. kalo bpk tidak percaya kalo saya seorang guru, liat aja d blog saya. bpk akan tau saya guru apa? yang notabene pelajaran yang saya ajarkan juga ikut di UAN kan. fiuh....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya juga seorang guru, baru sih! saya fikir sekolah pasti punya trik tertentu bagemana caranya biar semua anak didik bapak lolos dari &#8220;lonceng kematian&#8221;. kalo bpk tidak percaya kalo saya seorang guru, liat aja d blog saya. bpk akan tau saya guru apa? yang notabene pelajaran yang saya ajarkan juga ikut di UAN kan. fiuh&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/comment-page-1/#comment-1597</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 04:20:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/#comment-1597</guid>
		<description>@ nico kurnianto:
Oh, begitu, yak. Cukup disayangkan kan, yak, kalau dilirik aja nggak, di sebuah negeri yang berpenduduk lebih dari 220 juta.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ nico kurnianto:<br />
Oh, begitu, yak. Cukup disayangkan kan, yak, kalau dilirik aja nggak, di sebuah negeri yang berpenduduk lebih dari 220 juta.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: nico kurnianto</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/comment-page-1/#comment-1599</link>
		<dc:creator>nico kurnianto</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 15:44:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/#comment-1599</guid>
		<description>sebetulnya Indonesia ingin sekali mengulang kejayaan di masa lalu....di mana pendidikan Indonesia masih dilirik, kalau sekarang boro-boro dilirik, disebut aja gak.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sebetulnya Indonesia ingin sekali mengulang kejayaan di masa lalu&#8230;.di mana pendidikan Indonesia masih dilirik, kalau sekarang boro-boro dilirik, disebut aja gak&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: weti</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/comment-page-1/#comment-1596</link>
		<dc:creator>weti</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Dec 2007 14:48:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/#comment-1596</guid>
		<description>Berikut ini adalah petikan dari beberapa penelitian di berbagai belahan dunia tentang ujian nasional yang terstandar. Penelitian-penelitian ini dimuat dalam Journal of Research in Science Teaching dan Journal of Science Teacher Education.

1. Tamir (1998): situation that compete with tests are bound to fail.
2. Dalziel (1998): Researches bear out that decisions that made about students futures on the basis of percentage and even fractioned percentage grades are likely unwarranted.
3. Black (1995). External public examinations do not deserve support since they are based on faulty assumptions. The implicit public assumption about external assessment is that they are more thrustworthy than those of then classroom teacher. Black warns that great damage to education can follow from action based on such assumptions.
4. Linn (2001) argue the public administered examination has tended to be surrounded by controversy.
5. Rothstein (1998), Horace Mann US, secretary to the Massachusetts Board of Education in the 1845 Mann administered first written public examination to Boston brightest 14 year old public school students to encourage the higher degree of standardization and quantitatively scored, Mann have reasoned that if schools were publicly demonstrated to be deficient in examination scores, this would imply incompetence on the part of teachers and headmasters.
(ujian ini akhirnya dhapuskan karena diprotes oleh dewan guru di Massachusetts). It  is of doubtful utility to use the test scores of individual students to rate schools and teachers.

Kalau di berbagai belahan dunia Ujian Nasional sudah diprotes sejak lebih dulu-dulu, sebetulnya Indonesia ikutan siapa ya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini adalah petikan dari beberapa penelitian di berbagai belahan dunia tentang ujian nasional yang terstandar. Penelitian-penelitian ini dimuat dalam Journal of Research in Science Teaching dan Journal of Science Teacher Education.</p>
<p>1. Tamir (1998): situation that compete with tests are bound to fail.<br />
2. Dalziel (1998): Researches bear out that decisions that made about students futures on the basis of percentage and even fractioned percentage grades are likely unwarranted.<br />
3. Black (1995). External public examinations do not deserve support since they are based on faulty assumptions. The implicit public assumption about external assessment is that they are more thrustworthy than those of then classroom teacher. Black warns that great damage to education can follow from action based on such assumptions.<br />
4. Linn (2001) argue the public administered examination has tended to be surrounded by controversy.<br />
5. Rothstein (1998), Horace Mann US, secretary to the Massachusetts Board of Education in the 1845 Mann administered first written public examination to Boston brightest 14 year old public school students to encourage the higher degree of standardization and quantitatively scored, Mann have reasoned that if schools were publicly demonstrated to be deficient in examination scores, this would imply incompetence on the part of teachers and headmasters.<br />
(ujian ini akhirnya dhapuskan karena diprotes oleh dewan guru di Massachusetts). It  is of doubtful utility to use the test scores of individual students to rate schools and teachers.</p>
<p>Kalau di berbagai belahan dunia Ujian Nasional sudah diprotes sejak lebih dulu-dulu, sebetulnya Indonesia ikutan siapa ya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/comment-page-1/#comment-1595</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 17:41:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/#comment-1595</guid>
		<description>@ Imam Mawardi:
Makasih banget Pak Mawardi. Saya sudah membaca di postingan Bapak. Saya setuju, Pak, asalkan UN bener2 sahih sehingga mampu memotret kompetensi siswa yang sesungguhnya. Ini bisa terwujud jika segala macam bentuk kecurangan bisa dihindari.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Imam Mawardi:<br />
Makasih banget Pak Mawardi. Saya sudah membaca di postingan Bapak. Saya setuju, Pak, asalkan UN bener2 sahih sehingga mampu memotret kompetensi siswa yang sesungguhnya. Ini bisa terwujud jika segala macam bentuk kecurangan bisa dihindari.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Imam Mawardi</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/comment-page-1/#comment-1594</link>
		<dc:creator>Imam Mawardi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 16:07:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/#comment-1594</guid>
		<description>Ujian Nasional Sebagai Penjamin Mutu


Saya sangat setuju dan mendukung dilaksanakan ujian bagi setiap pelajar yang akan mengakhiri studinya. Ujian dapat dijadikan standar dan indikator untuk mengukur mutu sebuah lembaga pendidikan. Akhir-akhir ini muncul fenomena penolakkan dilaksanakan ujian nasional. Yang lebih parah lagi adalah ada pihak-pihak memprovokasi siswa agar demo menolaknya. Mereka yang menolak mengambil alasan paling tidak adalah sebagai berikut:

1.Standar ujian nasional belum mecerminkan kondisi masing-masing daerah sehingga di beberapa daerah banyak pelajar jadi korban.
2.Kebocoran soal masih sangat tinggi.
3.Ketidakjujuran para guru, pengawas dan bahkan sistem di sekolah secara keseluruhan.
4.Para murid terjebak pada jalan pintas sehingga terpaksa harus mengikuti bimbel.
5.Mempertanyakan fungsi ujian nasional secar mendasar. Untuk apa nilai ujian nasional?
6.Ujian nasional bertentangan dengan UU Sisdiknas
7.Ujian nasional  tidak sejalan dengan prinsip kurikulum modern yang menganut penilaian berbasis kelas (classroom based assesment)
Saya setuju bukan karena saya ini pegawai pemerintah. Saya hanya pengabdi pendidikan yang tidak pegawai pemerintah. Landasan kesetujuan saya adalah sebagai berikut:
1.Melalui evaluasi yang dilaksanakan oleh negara secara terencana dengan baik, jujur dan standartnya teruji akan didapatkan data mutu anak didik, mutu guru, dan mutu penyelenggara sekolah secara nasional. Dari data ini akan dijadikan bahan tindakkan peningkatan mutu pendidikan secara nasional. Dari sini kita mempertanyakan apakah setelah diselenggarakan ujian nasional langsung ada tindakkan perbaikan mutu pendidikan?
2.Ujian nasional tidak harus dikaitkan dengan kelulusan anak didik dari pembelajaran di sekolah tetapi untuk bahan evaluasi daya serap dan sekaligus bahan pertimbangan untuk melanjutkan pada jenjang berikutnya. Kelulusan anak didik diserahkan di masing-masing penyelenggara pendidikan dengan stnadart yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
3.Pemerintah harus mendengar keluhan masyarakat, keluhan para orang tua terhadap kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional. Beri sanksi tegas para pelanggar tersebut. Seperti apa sanksinya, yaaa menurutku seperti para wasit saat di lapangan menghadapi para pemain sepak bola yang cenderung nakal, melukai lawan dan kadang-kadang menipu. Pemerintah harus menyiapkan keberanian untuk mengeluarkan kartu kuning hingga kartu merah.
4.Peserta ujian yang nyontek, mengerjakan bersama temen-temennya, ada jawaban yang telah disediakan oleh gurunya, jawaban di tulis di kamar kecil dan sekian banyak bentuk kecurangan lainnya yang dilakukan oleh para siswa maka sangat diperlukan penegakkan disiplin. Peneggakan disiplin ini untuk mengetahui secara benar mutu pendidikan. Nahhhh, saat ini atas dasar kejadian kecurangan di lapangan maka hasil ujian nasional hanya tipuan belaka. Maka tujuan diselenggarakan ujian nasional menjadi gagal total. Ada banyak pilihan untuk menghindari nyontek dan pola curang peserta ujian, ada yang ingin menyampaikan pandangannya?
5.Pemerintah saat memberlakukan ujian nasional harus dibarengi dengan pembenahan pendidikan secara menyeluruh. Semisal pemerintah harus menyikapi perkembangan bimbingan belajar yang ada saat ini. Pemerintah harus menangani kantor-kantor dinas pendidikan yang hanya main proyek dan tidak bersentuhan dengan peningkatan mutu pendidikan. Bahkan banyak pejabat diknas pendidikan yang tidak melayani masyarakat tetapi ingin dilayani. Apalagi kondisi guru yang tidak optimal dalam menjalan tugas KBM-nya.
6.Buka akses pendidikan untuk semua kalangan masyarakat secara luas, mudah, memadai dan transparan. Sediakan bahan-bahan ajar bagi warga miskin secara mudah agar dapat belajar dengan baik sehingga dapat menjalankan ujian nasional secar maksimal. Melalui ujian nasional berarti membuka kesempatan semua kalangan masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan berstandart baik. Tidak hanya pendidikan yang asal-asalan saja. Tidak sekeder hanya mutu pendidikan berstandar sekolah.
Jika suatu saat pemerintah mengalah dan menghapus ujian nasional karena atas desakkan pihak-pihak yang tidak setuju dengan ujian nasional maka pendidikan kita akan semakin morat-marit. Pendidikan secara intern sekolah tidak ada perkembangan untuk tumbuh kembang menjadi lebih baik. Persaingan semakin kecil. Dan tentu akan dapat dilihat generasi yang malas belajar dan malas bekerja keras.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ujian Nasional Sebagai Penjamin Mutu</p>
<p>Saya sangat setuju dan mendukung dilaksanakan ujian bagi setiap pelajar yang akan mengakhiri studinya. Ujian dapat dijadikan standar dan indikator untuk mengukur mutu sebuah lembaga pendidikan. Akhir-akhir ini muncul fenomena penolakkan dilaksanakan ujian nasional. Yang lebih parah lagi adalah ada pihak-pihak memprovokasi siswa agar demo menolaknya. Mereka yang menolak mengambil alasan paling tidak adalah sebagai berikut:</p>
<p>1.Standar ujian nasional belum mecerminkan kondisi masing-masing daerah sehingga di beberapa daerah banyak pelajar jadi korban.<br />
2.Kebocoran soal masih sangat tinggi.<br />
3.Ketidakjujuran para guru, pengawas dan bahkan sistem di sekolah secara keseluruhan.<br />
4.Para murid terjebak pada jalan pintas sehingga terpaksa harus mengikuti bimbel.<br />
5.Mempertanyakan fungsi ujian nasional secar mendasar. Untuk apa nilai ujian nasional?<br />
6.Ujian nasional bertentangan dengan UU Sisdiknas<br />
7.Ujian nasional  tidak sejalan dengan prinsip kurikulum modern yang menganut penilaian berbasis kelas (classroom based assesment)<br />
Saya setuju bukan karena saya ini pegawai pemerintah. Saya hanya pengabdi pendidikan yang tidak pegawai pemerintah. Landasan kesetujuan saya adalah sebagai berikut:<br />
1.Melalui evaluasi yang dilaksanakan oleh negara secara terencana dengan baik, jujur dan standartnya teruji akan didapatkan data mutu anak didik, mutu guru, dan mutu penyelenggara sekolah secara nasional. Dari data ini akan dijadikan bahan tindakkan peningkatan mutu pendidikan secara nasional. Dari sini kita mempertanyakan apakah setelah diselenggarakan ujian nasional langsung ada tindakkan perbaikan mutu pendidikan?<br />
2.Ujian nasional tidak harus dikaitkan dengan kelulusan anak didik dari pembelajaran di sekolah tetapi untuk bahan evaluasi daya serap dan sekaligus bahan pertimbangan untuk melanjutkan pada jenjang berikutnya. Kelulusan anak didik diserahkan di masing-masing penyelenggara pendidikan dengan stnadart yang telah ditetapkan oleh pemerintah.<br />
3.Pemerintah harus mendengar keluhan masyarakat, keluhan para orang tua terhadap kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional. Beri sanksi tegas para pelanggar tersebut. Seperti apa sanksinya, yaaa menurutku seperti para wasit saat di lapangan menghadapi para pemain sepak bola yang cenderung nakal, melukai lawan dan kadang-kadang menipu. Pemerintah harus menyiapkan keberanian untuk mengeluarkan kartu kuning hingga kartu merah.<br />
4.Peserta ujian yang nyontek, mengerjakan bersama temen-temennya, ada jawaban yang telah disediakan oleh gurunya, jawaban di tulis di kamar kecil dan sekian banyak bentuk kecurangan lainnya yang dilakukan oleh para siswa maka sangat diperlukan penegakkan disiplin. Peneggakan disiplin ini untuk mengetahui secara benar mutu pendidikan. Nahhhh, saat ini atas dasar kejadian kecurangan di lapangan maka hasil ujian nasional hanya tipuan belaka. Maka tujuan diselenggarakan ujian nasional menjadi gagal total. Ada banyak pilihan untuk menghindari nyontek dan pola curang peserta ujian, ada yang ingin menyampaikan pandangannya?<br />
5.Pemerintah saat memberlakukan ujian nasional harus dibarengi dengan pembenahan pendidikan secara menyeluruh. Semisal pemerintah harus menyikapi perkembangan bimbingan belajar yang ada saat ini. Pemerintah harus menangani kantor-kantor dinas pendidikan yang hanya main proyek dan tidak bersentuhan dengan peningkatan mutu pendidikan. Bahkan banyak pejabat diknas pendidikan yang tidak melayani masyarakat tetapi ingin dilayani. Apalagi kondisi guru yang tidak optimal dalam menjalan tugas KBM-nya.<br />
6.Buka akses pendidikan untuk semua kalangan masyarakat secara luas, mudah, memadai dan transparan. Sediakan bahan-bahan ajar bagi warga miskin secara mudah agar dapat belajar dengan baik sehingga dapat menjalankan ujian nasional secar maksimal. Melalui ujian nasional berarti membuka kesempatan semua kalangan masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan berstandart baik. Tidak hanya pendidikan yang asal-asalan saja. Tidak sekeder hanya mutu pendidikan berstandar sekolah.<br />
Jika suatu saat pemerintah mengalah dan menghapus ujian nasional karena atas desakkan pihak-pihak yang tidak setuju dengan ujian nasional maka pendidikan kita akan semakin morat-marit. Pendidikan secara intern sekolah tidak ada perkembangan untuk tumbuh kembang menjadi lebih baik. Persaingan semakin kecil. Dan tentu akan dapat dilihat generasi yang malas belajar dan malas bekerja keras.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/comment-page-1/#comment-1593</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 07:47:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/30/menunggu-lonceng-kematian-lewat-ujian-nasional/#comment-1593</guid>
		<description>@ kangguru:
Walah, ya itu Kangguru. Agaknya hasil lebih diutamakan ketimbang proses. Akibatnya berdampak buruk bagi masa depan anak2. Mereka nggak siap *halah sok tahu* menghadapi tantangan karena sudah terbiasa meraih sukses secara instan. :mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ kangguru:<br />
Walah, ya itu Kangguru. Agaknya hasil lebih diutamakan ketimbang proses. Akibatnya berdampak buruk bagi masa depan anak2. Mereka nggak siap *halah sok tahu* menghadapi tantangan karena sudah terbiasa meraih sukses secara instan. <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
