<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Quo Vadis Kurikulum Pendidikan Kita (Sebuah Refleksi Akhir Tahun)</title>
	<atom:link href="http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/</link>
	<description>Media Berbagi dan Bersilaturahmi antarguru</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Nov 2009 12:17:41 -0500</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: SUROYO,S.Pd,M.Pd</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/comment-page-1/#comment-2270</link>
		<dc:creator>SUROYO,S.Pd,M.Pd</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 02:36:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comment-2270</guid>
		<description>wow tulisannya benar-benar menyentuh para pendidik bukan penghardik dan biasanya yang merusak dunia pendidikan kadang-kadang orang pendidikan juga dan inilah gambaran carut marut dunia pendidikan kita</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wow tulisannya benar-benar menyentuh para pendidik bukan penghardik dan biasanya yang merusak dunia pendidikan kadang-kadang orang pendidikan juga dan inilah gambaran carut marut dunia pendidikan kita</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: agorsiloku</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/comment-page-1/#comment-2057</link>
		<dc:creator>agorsiloku</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 23:09:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comment-2057</guid>
		<description>Pak Guru Sawali, sungguh lho, saya tidak melihat &quot;Kurikulum Kate Siape&quot; ini adalah kurikulum baru.  Model baru yang punya &quot;sesuatu&quot; yang bisa dijual.  Kurikulum ini hanyalah melanjutkan &quot;Kurikukum Banyak Keliru&quot; yang tidak pernah disahkan oleh Mendiknas sebelumnya.  Lebih karena faktor kekuasaan pindah ke Pak Bambang Sudibyo maka diganti namanya menjadi KTSP.
Kurikulum ini juga dalam perjalanan adalah Kurikulum yang proses sosialisasinya paling amburadul, main pukul rata, tembak langsung tanpa memperhatikan pentahapan proses yang sebenarnya sudah tersusun rapih oleh Mendiknas sebelum beliau ini.
Yang paling tampak berubah adalah format rapor (eh itu sih sudah dimulai dari KBK kan).
Karena esensinya penggantian nama saja dari KBK ke KTSP maka pengaruh perubahan nama dan keterburu-buruan ini mengakibatkan kerugian besar sekali baik dari segi anggaran.  Salah satu contohnya, dana ratusan milyar untuk pembelian buku yang ditetapkan oleh BNSP adalah buku KBK (periode 2005-2006) sedangkan sekolah suka-suka menetapkan pemakaian KTSP di seluruh kelas (kelas 1-12) dengan buku bernama KTSP.  Banyak sekolah dan guru berpendapat ganti kurikulum harus juga ganti buku (karena sering urutan materi berganti atau pindah ke materi ke kelas lain).    UAN juga main pukul rata, akibatnya jeblok di banyak sekolah.  Akhirnya, standar mutu diturunkan.
Turunnya peringkat Indonesia adalah wajar karena memang implementasi sistem berorientasi kekuasaan.

Mungkin yang paling baik nantinya perlu ganti ke KCP.
Kurikulum Cape Deh....

Eh maaf komen kok sinis ya Pak....  Kesel dan marah seeh, ratusan milyar dana BGB banyak tersia-sia karena ganti nama untuk sesuatu yang esensinya sama saja......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Guru Sawali, sungguh lho, saya tidak melihat &#8220;Kurikulum Kate Siape&#8221; ini adalah kurikulum baru.  Model baru yang punya &#8220;sesuatu&#8221; yang bisa dijual.  Kurikulum ini hanyalah melanjutkan &#8220;Kurikukum Banyak Keliru&#8221; yang tidak pernah disahkan oleh Mendiknas sebelumnya.  Lebih karena faktor kekuasaan pindah ke Pak Bambang Sudibyo maka diganti namanya menjadi KTSP.<br />
Kurikulum ini juga dalam perjalanan adalah Kurikulum yang proses sosialisasinya paling amburadul, main pukul rata, tembak langsung tanpa memperhatikan pentahapan proses yang sebenarnya sudah tersusun rapih oleh Mendiknas sebelum beliau ini.<br />
Yang paling tampak berubah adalah format rapor (eh itu sih sudah dimulai dari KBK kan).<br />
Karena esensinya penggantian nama saja dari KBK ke KTSP maka pengaruh perubahan nama dan keterburu-buruan ini mengakibatkan kerugian besar sekali baik dari segi anggaran.  Salah satu contohnya, dana ratusan milyar untuk pembelian buku yang ditetapkan oleh BNSP adalah buku KBK (periode 2005-2006) sedangkan sekolah suka-suka menetapkan pemakaian KTSP di seluruh kelas (kelas 1-12) dengan buku bernama KTSP.  Banyak sekolah dan guru berpendapat ganti kurikulum harus juga ganti buku (karena sering urutan materi berganti atau pindah ke materi ke kelas lain).    UAN juga main pukul rata, akibatnya jeblok di banyak sekolah.  Akhirnya, standar mutu diturunkan.<br />
Turunnya peringkat Indonesia adalah wajar karena memang implementasi sistem berorientasi kekuasaan.</p>
<p>Mungkin yang paling baik nantinya perlu ganti ke KCP.<br />
Kurikulum Cape Deh&#8230;.</p>
<p>Eh maaf komen kok sinis ya Pak&#8230;.  Kesel dan marah seeh, ratusan milyar dana BGB banyak tersia-sia karena ganti nama untuk sesuatu yang esensinya sama saja&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ThrowInside &#187; 2008 : Saya bangga sebagai orang Indonesia</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/comment-page-1/#comment-2044</link>
		<dc:creator>ThrowInside &#187; 2008 : Saya bangga sebagai orang Indonesia</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 13:37:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comment-2044</guid>
		<description>[...] lebih banyak agar lahir anak-anak negeri yang tidak hanya cerdas karena bakatnya namun juga karena system pendidikan yang baik, ikut serta membangun permata khatulistiwa yang tidak hanya diberi keindahan, kekayaan, namun juga [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] lebih banyak agar lahir anak-anak negeri yang tidak hanya cerdas karena bakatnya namun juga karena system pendidikan yang baik, ikut serta membangun permata khatulistiwa yang tidak hanya diberi keindahan, kekayaan, namun juga [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Kadung Kecebur di Sumur Maya &#171; SANTRI BUNTET</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/comment-page-1/#comment-2062</link>
		<dc:creator>Kadung Kecebur di Sumur Maya &#171; SANTRI BUNTET</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 13:21:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comment-2062</guid>
		<description>[...] Sawali Tuhusetya, blogger ini adalah seorang guru sastra. Pantas saja tulisanya begitu menggoda dan selanjutnya terserah Anda   . Pria berdarah jawa namun sehalus orang sunda ini,  kata-kata yang meluncur sepertinya cepat sekali dari otaknya, seolah otak itu menempati jari-jemarinya. Begitu gampang meluncur dan kaya dengan idealisme. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Sawali Tuhusetya, blogger ini adalah seorang guru sastra. Pantas saja tulisanya begitu menggoda dan selanjutnya terserah Anda   . Pria berdarah jawa namun sehalus orang sunda ini,  kata-kata yang meluncur sepertinya cepat sekali dari otaknya, seolah otak itu menempati jari-jemarinya. Begitu gampang meluncur dan kaya dengan idealisme. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/comment-page-1/#comment-2061</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 10:03:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comment-2061</guid>
		<description>@ edratna:
wah, bener sekali tuh, bu. setiap kali ganti kurikulum pasti ganti buku. jelas merepotkan semua pihak, termasuk penulis buku, di antaranya saya, hehehehe :lol:  buku belum habis dipasarkan mesti nulis buku model kurikulum yang baru.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ edratna:<br />
wah, bener sekali tuh, bu. setiap kali ganti kurikulum pasti ganti buku. jelas merepotkan semua pihak, termasuk penulis buku, di antaranya saya, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />   buku belum habis dipasarkan mesti nulis buku model kurikulum yang baru.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: edratna</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/comment-page-1/#comment-2060</link>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 09:25:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comment-2060</guid>
		<description>Jadi ingat zaman dulu...kalau aljabar pasti bukunya CJ Adler (tulisannya lupa)...jadi buku bisa dipake turun temurun. Ini menguntungkan orang-orang kayak saya, yang hidup pas2an...bayangkan zaman sekarang bukunya ganti melulu.

Saat saya mahasiswa, buku-buku dalam bahasa Inggris, tiap mahasiswa diberi satu, jadi nggak rebutan di perpustakaan. Sekarang, karena mahasiswanya banyak, terpaksa harus fotokopi karena tak cukup lagi.....

Rasanya setiap kali ganti kurikulum ya...maksudnya sih baik, tapi banyak pengajar yang tak sempat mendalami, dan menjadi perdebatan tersendiri di kelas kalau muridnya pinter-pinter (saat anak sulungku SMA, berkali-kali saya dapat panggilan kesekolah, gara-gara anakku suka mendebat....)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi ingat zaman dulu&#8230;kalau aljabar pasti bukunya CJ Adler (tulisannya lupa)&#8230;jadi buku bisa dipake turun temurun. Ini menguntungkan orang-orang kayak saya, yang hidup pas2an&#8230;bayangkan zaman sekarang bukunya ganti melulu.</p>
<p>Saat saya mahasiswa, buku-buku dalam bahasa Inggris, tiap mahasiswa diberi satu, jadi nggak rebutan di perpustakaan. Sekarang, karena mahasiswanya banyak, terpaksa harus fotokopi karena tak cukup lagi&#8230;..</p>
<p>Rasanya setiap kali ganti kurikulum ya&#8230;maksudnya sih baik, tapi banyak pengajar yang tak sempat mendalami, dan menjadi perdebatan tersendiri di kelas kalau muridnya pinter-pinter (saat anak sulungku SMA, berkali-kali saya dapat panggilan kesekolah, gara-gara anakku suka mendebat&#8230;.)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: kurtubi</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/comment-page-1/#comment-2059</link>
		<dc:creator>kurtubi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 12:12:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comment-2059</guid>
		<description>KTSP benar2 membuat guru teman saya itu kelimpungan dibuatnya.  Saya memiliki teman2 begitu sibuknya dan waktu dhabiskan untuk membuat prosedur2 adminsitrasi.  Padahal ngajarnya begitu singkat tapi sekenarionya begitu panjang. Persis seperti adegan film satu scene tapi skenarionya berlembar-lembar...

Namanya juga bikin film pak jadi pendidikan yang tergolong rendah diantara 128 negara itu wajar lah. Namun dibalik itu semua, rakyat Indonesia berharap banyak pada dunia pendidikan agar lahir sebuah sistem yang bisa mengantarkan generasi muda Indonesia yang tranpil, pragmatis, ideologis dan kreatif.. ya gak usah jauh2 deh, seperti pak Sawali ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>KTSP benar2 membuat guru teman saya itu kelimpungan dibuatnya.  Saya memiliki teman2 begitu sibuknya dan waktu dhabiskan untuk membuat prosedur2 adminsitrasi.  Padahal ngajarnya begitu singkat tapi sekenarionya begitu panjang. Persis seperti adegan film satu scene tapi skenarionya berlembar-lembar&#8230;</p>
<p>Namanya juga bikin film pak jadi pendidikan yang tergolong rendah diantara 128 negara itu wajar lah. Namun dibalik itu semua, rakyat Indonesia berharap banyak pada dunia pendidikan agar lahir sebuah sistem yang bisa mengantarkan generasi muda Indonesia yang tranpil, pragmatis, ideologis dan kreatif.. ya gak usah jauh2 deh, seperti pak Sawali ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/comment-page-1/#comment-2058</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 09:57:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comment-2058</guid>
		<description>@ za:
ok, makasih, salam kenal mas za, yak. salam ngeblog.

@ akafuji:
oh, berkaitan dengan gaji guru, ya, Bu. tapi kalo niatnya emang dah mau jadi guru *halah* beban berat akan jadi ringan, loh. bener nggak, bu, hehehehe :lol:

@ Gyl:
bisa jdi bener, mas Gyil. butuh kerja kolektif untuk melakukan perubahan. jangan sampai perubahan hanya retorika belaka. harus ada aksi nyata utk mewujudkannya.

@ suandana:
hal itu bisa terjadi karena guru belum banyak yang paham. kenapa? karena memang tidak diperkenalkan dg konsep dan pemahaman kurikulum yg baru secara benar. pemerintah sih inginnya serba instan. padahal, jumlah guru di indonesia kan banyak sekali dan beragam kompetensinya. yak, ide2 pak gempur yang inovatif memang layak utk kita pakai, pak adit.

@ gempur:
hahahaha :lol:  itulah risikonya jadi guru di tengah2 kultur pendidikan kita yang status quo, pak gempur. ketika kita ingin melakukan sebuah perubahan dan melakukan inovasi, banyak temen kita sendiri yg belum siap menerimanya. ironis, yak.

@ Herianto:
bener, pak heri. saya juga sepakat.  faktor pelaksana kurikulum (guru) menjadi penentu berhasil atau tidaknya tujuan pendidikan itu tercapai. makasih juga trackbacknya, pak.
walah, pak heri jadi ikut2an hetrik nih, hehehehe :lol:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ za:<br />
ok, makasih, salam kenal mas za, yak. salam ngeblog.</p>
<p>@ akafuji:<br />
oh, berkaitan dengan gaji guru, ya, Bu. tapi kalo niatnya emang dah mau jadi guru *halah* beban berat akan jadi ringan, loh. bener nggak, bu, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@ Gyl:<br />
bisa jdi bener, mas Gyil. butuh kerja kolektif untuk melakukan perubahan. jangan sampai perubahan hanya retorika belaka. harus ada aksi nyata utk mewujudkannya.</p>
<p>@ suandana:<br />
hal itu bisa terjadi karena guru belum banyak yang paham. kenapa? karena memang tidak diperkenalkan dg konsep dan pemahaman kurikulum yg baru secara benar. pemerintah sih inginnya serba instan. padahal, jumlah guru di indonesia kan banyak sekali dan beragam kompetensinya. yak, ide2 pak gempur yang inovatif memang layak utk kita pakai, pak adit.</p>
<p>@ gempur:<br />
hahahaha <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />   itulah risikonya jadi guru di tengah2 kultur pendidikan kita yang status quo, pak gempur. ketika kita ingin melakukan sebuah perubahan dan melakukan inovasi, banyak temen kita sendiri yg belum siap menerimanya. ironis, yak.</p>
<p>@ Herianto:<br />
bener, pak heri. saya juga sepakat.  faktor pelaksana kurikulum (guru) menjadi penentu berhasil atau tidaknya tujuan pendidikan itu tercapai. makasih juga trackbacknya, pak.<br />
walah, pak heri jadi ikut2an hetrik nih, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Herianto</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/comment-page-1/#comment-2056</link>
		<dc:creator>Herianto</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 03:22:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comment-2056</guid>
		<description>He he... ternyata hetrik dengan track backnya ...
HOREE  ....   :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>He he&#8230; ternyata hetrik dengan track backnya &#8230;<br />
HOREE  &#8230;.   <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Herianto</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/comment-page-1/#comment-2055</link>
		<dc:creator>Herianto</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 03:21:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comment-2055</guid>
		<description>Di alinea terakhir Gur maksudnya Guru pak ...   :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Di alinea terakhir Gur maksudnya Guru pak &#8230;   <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
