<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MGMP BAHASA INDONESIA SMP &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://bindosmp.edublogs.org/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bindosmp.edublogs.org</link>
	<description>Media Berbagi dan Bersilaturahmi antarguru</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Aug 2008 05:37:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Melly Kiong dan Bukunya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 11:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah mendengar nama Melly Kiong? Yups, di kompleks blogosphere, namanya memang kurang nyaring terdengar. Maklum, dia tergolong perempuan yang supersibuk. Selain sebagai perempuan yang dengan amat sadar memilih karier sebagai media perwujudan ”fitrah” keperempuanannya, dia juga sangat peduli pada harmoni kehidupan rumah tangga sebagai perwujudan ”kodrat” keperempuanannya. Bisa dimaklumi kalau dia jarang blogwalking. Blognya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pernah mendengar nama Melly Kiong? Yups, di kompleks blogosphere, namanya memang kurang nyaring terdengar. Maklum, dia tergolong perempuan yang supersibuk. Selain sebagai perempuan yang dengan amat sadar memilih karier sebagai media perwujudan ”fitrah” keperempuanannya, dia juga sangat peduli pada harmoni kehidupan rumah tangga sebagai perwujudan ”kodrat” keperempuanannya. Bisa dimaklumi kalau dia jarang blogwalking. Blognya yang di WP pun sudah lama tidak di-update.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly12.jpg" align="left" />Lantas, mengapa saya tiba-tiba saja tertarik untuk membuat postingan khusus tentang Melly Kiong? Secara pribadi, saya memang belum bertemu secara langsung dengan Mbak Melly –demikian saya biasa menyapanya. Komunikasi hanya sebatas kami lakukan via chatting, SMS, atau telepon. Meski demikian, setidaknya saya bisa mengenal ide-ide dan pemikiran-pemikirannya. Di mata saya, Mbak Melly tergolong perempuan yang memiliki idealisme untuk kemajuan bangsa. Lewat program dan slogannya ”Peduli Anak Bangsa”, betapa sosok Mbak Melly demikian<em> concern</em> dan peduli terhadap dunia pendidikan, meski pekerjaannya tidak terkait langsung dengan masalah pendidikan. Tempaan pengalaman hidupnya yang pahit, sosok ibunya yang <em>smart</em> dan tangguh, serta atmosfer lingkungan rumah tangga yang kondusif, agaknya telah memengaruhi sikap hidup Mbak Melly untuk peduli terhadap dunia pendidikan.</p>
<p align="justify">Pengaruh sosok ibunya dan atmosfer lingkungan keluarga semacam itulah yang telah mengilhami perempuan kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat, 1969 itu, untuk meluncurkan buku perdananya, <em>Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? </em>yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Jakarta. Buku setebal 127 halaman itu memaparkan dan sekaligus juga untuk membuktikan bahwa perempuan karier ternyata bisa juga mendidik anak dengan baik.</p>
<p><span id="more-327"></span></p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly4.jpg" align="right" />Ada sejumlah tokoh yang memberikan <em>endorsement </em>untuk buku ini, seperti Seto Mulyadi (pemerhati anak), Lenny Wongso (pengusaha dan penulis buku), Alexandra Dewi (perempuan karier), atau Santi Bonis (penyiar radio Cosmopolitan FM). Buku ini juga dilengkapi pujian dan apresiasi dari berbagai kalangan, seperti Nining W. Permana (<em>Managing Director Tupperware Indonesia</em>), Sayekti Sulisdiarto (<em>Production Director PT Phapros Tbk</em>), Eni Kusuma (Motivator, mantan TKW di Hongkong, dan penulis buku <em>best seller </em>”Anda Luar Biasa”), Hanna Fransisca (Ibu rumah tangga, pengusaha, dan bloger), dan masih banyak lagi. Saya juga kena sentil untuk ikut-ikutan memberikan apresiasi terhadap buku ini, hehehehe &#8230;</p>
<p align="justify">Apa sesungguhnya yang menarik dari buku perdana Mbak Melly ini? Kalau boleh menilai, buku ini memiliki kelebihan dalam muatan isi dan <em>style </em>pengungkapan. Buku ini mendedahkan pengalaman langsung Mbak Melly bagaimana di tengah kesibukan yang menumpuk, dia masih memiliki kesempatan untuk membimbing secara kreatif terhadap kedua anaknya, Julian (10 tahun) dan Matthew Liem (6 tahun). Diramu dengan beberapa kiat yang pernah dibaca lewat berbagai sumber, Mbak Melly berkesimpulan bahwa perempuan karier bisa juga menjadi sosok ibu yang sukses dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Julian dan Matthew telah merasakan imbas terhadap kiat-kiat praktis yang diterapkan Mbak Melly. Kedua anak ini tumbuh dan berkembang dengan baik, bahkan merasa nyaman meskipun sering ditinggal oleh sang ibu. Hal itu bisa dibaca melalui berbagai lampiran sebagai dokumen portofolio untuk melihat bagaimana Julian dan Matthew menikmati dunianya sehari-hari di lingkungan keluarga dan di sekolah.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly32.jpg" align="left" />Yang menarik, pengalaman-pengalaman praktis Mbak Melly dalam mendidik anak dikemukakan lewat racikan bahasa yang sederhana, jernih, dan mengalir. Tak banyak rujukan teoretis seperti kebanyakan buku ”<em>How To</em>&#8230;” yang lain. Dengan <em>style </em>khasnya. Mbak Melly mampu menyuguhkan sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkret sehingga gampang dicerna pembaca. Yang jelas, buku ini layak dibaca dan dimiliki oleh ibu-ibu yang kebetulan sibuk di ranah publik, tetapi masih memiliki kepedulian untuk sukses dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan ilustrasi pada halaman-halaman tertentu untuk memberikan <em>space </em>bagi pembaca dalam mencerna isi buku dan sekaligus memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mengembangkan imaji-imaji tertentu berdasarkan pengalaman Mbak Melly itu. Kalau toh ada, ilustrasi tersebut ditempatkan pada lampiran khusus sehingga terkesan lepas dari konteks pengalaman nyata yang disuguhkan Mbak Melly. (Mohon maaf Mbak Melly kalau saya terpaksa membidik titik ini sebagai kelemahannya, hehehehe &#8230;. )</p>
<p align="justify">Meski demikian, secara keseluruhan buku ini menampakkan adanya sebuah totalitas pemikiran dan pengalaman yang jitu dari istri Tatang Wijaya ini ke dalam sebuah buku ”<em>How To </em>&#8230;” yang cerdas dan mencerahkan. Bukan hanya layak dibaca oleh kaum perempuan karier. Bapak-bapak pun layak membacanya agar tidak canggung lagi beristrikan seorang permepuan karier.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly22.jpg" align="right" />Agaknya, buku ini juga menjadi bagian dari mimpi dan obsesi Mbak Melly dalam ikut serta membagun dunia pendidikan berbasis ”Program Peduli Anak bangsa” yang sudah lama mengendap dalam layar memorinya. Untuk itulah, belakangan ini dia juga sibuk menggelar berbagai seminar untuk memperkenalkan dan menyosialisasikan program-programnya itu.</p>
<p align="justify">Oke, Mbak Melly. Selamat atas peluncuran buku perdananya. Semoga sukses dan bermanfaat untuk kepentingan membangun karakter bangsa melalui sosok generasi masa depan yang disiplin, sikap moral yang baik, serta mentalitas unggul dengan daya juang tinggi. Kami tunggu buku edisi berikutnya. Semoga mimpi dan obsesi Mbak Melly untuk ikut berkiprah membangun karakter anak-anak bangsa berbasiskan motto: &#8220;Menjadi sebuah lilin yang mampu menyalakan seribu lilin lainnya&#8221; bisa segera terwujud. Salut banget! Namun, hati-hati loh, Mbak Melly, jangan sampai terjebak seperti sebuah lilin yang mampu menerangi kegelapan, tetapi dirinya meleleh dan hancur, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Yang ingin kontak via email ke Mbak Melly silakan hubungi: melly_kiong@yahoo.com atau kunjungi blognya <a href="http://muilie.wordpress.com/">di sini</a>.</p>
<p align="justify">***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F04%2F30%2Fmelly-kiong-dan-bukunya%2F';
  addthis_title  = 'Melly+Kiong+dan+Bukunya';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Guru yang Dikebiri Orang Tua Murid</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 15:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Melly Kiong
(Penulis Buku Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik, tinggal di Jakarta)

&#160;
Sekolah seperti yang kita ketahui adalah lembaga pendidikan yang kita percayakan sebagai rumah kedua yang tak kalah penting perannya dalam mendidik anak-anak kita. Guru adalah pengganti orang tua di sekolah yang menjadi pengajar sekaligus pendidik moral anak-anak kita. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Oleh: Melly Kiong<br />
(Penulis Buku <em>Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik</em>, tinggal di Jakarta)
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sekolah seperti yang kita ketahui adalah lembaga pendidikan yang kita percayakan sebagai rumah kedua yang tak kalah penting perannya dalam mendidik anak-anak kita. Guru adalah pengganti orang tua di sekolah yang menjadi pengajar sekaligus pendidik moral anak-anak kita. Tapi sungguh ironis keadaan yang berkembang sekarang di mana seorang guru untuk berbicara dengan murid saja harus berhati-hati dikarenakan penyampaian dari murid yang salah kepada orang tua bisa berakibat fatal. Jadi, bagaimana seorang guru bisa menjalankan fungsinya sebagai pendidik?</p>
<p align="justify"> Kita kembali melihat bagaimana di zaman China Kuno dulu, untuk mendapatkan seorang guru yang mau menerima anaknya sebagai murid, orang tua harus bersusah-payah mencari dan bahkan menyembah seorang guru. Dan begitu mendengar guru memukul anaknya, si orang tua datang kepada guru tersebut untuk memberi hormat, bahkan hadiah sebagai ucapan terima kasih, karena dianggap guru tersebut telah dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati dalam mendidik serta mengajari anaknya menjadi manusia yang berguna. Toh tidak pernah ada sejarah di mana murid yang pernah mengalami hal tersebut menjadi dendam kepada gurunya. Bahkan, murid sangat menghargai gurunya, karena mereka yakin jasa gurunya untuk keberhasilan hidupnya sangat luar biasa.</p>
<p align="justify"><span id="more-326"></span> Dan hal ini pun pernah saya alami secara pribadi, tapi sudah dengan kapasitas yang berbeda di mana di kota kecil di sebuah sekolah susteran yang menerapkan disiplin yang luar biasa di mana hanya terlambat dalam hitungan menit, kita dihukum harus mencabut sebidang rumput sampai bersih di bawah terik matahari atau membersihkan WC. Pada saat itu rasanya kita kesel sekali dengan cara suster memberikan hukuman. Tapi jujur saja setelah terjun di masyarakat ternyata disiplin yang ditanamkan sangat bermanfaat dan ternyata menjadi nilai positif yang membuat daya juang kita selangkah lebih maju serta <em>mentality  </em>persaingan  kita juga lebih siap.</p>
<p align="justify">Dan terus terang saja saya pribadi sangat berterima kasih kepada Suster yang telah memberikan kontribusi yang luar biasa dalam keberhasilan menanamkan disiplin di dalam hidup saya, dan jujur saja saya sangat berharap sekolah dan guru bisa memberikan pendidikan yang semestinya yang tentunya butuh kerjasama dan dukungan yang baik dari para orang tua murid tentunya.</p>
<p align="justify"> Mari kita  kembalikan peranan guru sebagai pengajar dan pendidik  yang baik bagi anak anak kita. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F04%2F29%2Fperanan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid%2F';
  addthis_title  = 'Peranan+Guru+yang+Dikebiri+Orang+Tua+Murid';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Guru</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/01/03/blog-guru/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/01/03/blog-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 08:49:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[blog guru]]></category>
		<category><![CDATA[karier]]></category>
		<category><![CDATA[kenaikan pangkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2008/01/03/blog-guru/</guid>
		<description><![CDATA[Ini postingan pertama pasca-2007. Tiba-tiba saja saya terusik untuk mengangkat blog guru sebagai topik. Maklum, memasuki liburan semester I ini banyak waktu luang yang bisa saya gunakan untuk memuaskan syahwat hasrat bercinta berselancar dengan kekasih blog saya di dunia maya. *halah* &#8220;Kayak ndak ada kerjaan ajah!&#8221;, ujar Mas Mbelgedez, hehehehe  
Ya, ya, ya, setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ini postingan pertama pasca-2007. Tiba-tiba saja saya terusik untuk mengangkat blog guru sebagai topik. Maklum, memasuki liburan semester I ini banyak waktu luang yang bisa saya gunakan untuk memuaskan <strike>syahwat</strike> hasrat <strike>bercinta</strike> berselancar dengan <strike>kekasih</strike> blog saya di dunia maya. *halah* &#8220;Kayak ndak ada kerjaan ajah!&#8221;, ujar Mas <a href="http://mbelgedez.wordpress.com/" target="_blank">Mbelgedez</a>, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Ya, ya, ya, setelah hampir 6 bulan lamanya bersikutat dengan rutinitas di sekolah, para guru diberi kesempatan untuk libur. Mungkin setiap daerah beda-beda, yak. Sudah otonomi kok. Jadi, terserah kebijakan Pemda/Pemkot masing-masing. Untuk daerah saya (Kendal), sekitar 2 minggu, para guru bisa menghirup udara bebas di luar tembok sekolah. *halah* 14 Januari nanti baru kembali mencium aroma silabus, RPP, agenda mengajar, buku teks, daftar nilai, dan setumpuk tugas sampingan lainnya di sekolah.</p>
<p align="justify"><span id="more-309"></span>Enak betul, yak, jadi guru! Saya kira tidak salah. Dari sisi waktu, guru jelas banyak diuntungkan. Beban kewajiban mengajar guru hanya 24 jam &#8212; berdasarkan <a href="http://www.bsnp-indonesia.org/" target="_blank">Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)</a> &#8212; per minggu  dari total waktu 144 jam.  Ini artinya, masih ada siswa waktu 120 jam per minggu. Selain bisa digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas utama yang lain, seperti menyusun silabus, skenario dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), media/alat bantu,  menyusun soal, koreksi, analisis nilai, menyusun program tindak lanjut, beribadah, beristirahat, berkomunikasi dengan keluarga,  atau melakukan kegiatan-kegiatan sosial, juga bisa digunakan untuk <a href="http://sisca79.wordpress.com/2007/12/28/meningkatkan-potensi-diri/" target="_blank">meningkatkan potensi diri</a>. Membaca dan menulis, menurut hemat saya, sangat tepat dijadikan sebagai aktivitas yang bermakna dalam menunjang kompetensi guru.</p>
<p align="justify">Mengapa dua aktivitas itu penting saya kemukakan? Setidaknya ada dua alasan yang cukup mendasar. <i>Pertama,</i> membaca dan menulis bisa menjadi asupan bergizi dalam *halah* khazanah rohaniah kita yang (nyaris) luput dari sentuhan perhatian keseharian kita. Disadari atau tidak, kita lebih &#8220;memuliakan&#8221; kegemukan lahiriah ketimbang ketambunan rohaniah kita. Kita nekad melakukan demo, bahkan &#8220;perang urat syaraf&#8221; ketika perut kita merasa lapar. Namun, ketika simpul-simpul syaraf otak dan keliaran imajinasi kita butuh dipermak dan dirawat, kita <i>cuek-bebek</i>; membiarkan pikiran dan imaji kita kelaparan hingga lumpuh.</p>
<p align="justify"><i>Kedua</i>, membaca dan menulis masih menjadi fenomena budaya yang langka di negeri ini. Bahkan, bangsa kita sudah lama dikenal sebagai <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/09/11/bangsa-yang-malas-membaca/" target="_blank">bangsa yang malas membaca</a>. Dari budaya praliterasi, bangsa kita langsung meloncat ke budaya posliterasi (media elektronika). Budaya literasi dibiarkan tenggelam, melapuk, dan memfosil dalam sejarah peradaban bangsa dari generasi ke generasi. Kalau budaya membaca (reseptif) saja masih amburadul, apalagi budaya menulis (produktif). *halah sok tahu, yak* Tak heran ketika Menpan menetapkan ketentuan angka kredit pengembangan profesi untuk kenaikan pangkat dari golongan IV-a ke golongan IV-b dan seterusnya melalui penulisan karya ilmiah, banyak guru yang angkat tangan. <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  Banyak yang gagal meraihnya sehingga bejibun jumlah guru yang terpaksa <i>ndongkrok</i> di golongan IV-a.</p>
<p align="justify">Nah, ketika dunia tak lagi mengenal sekat-sekat geografis, bahkan sudah menyatu dalam sebuah perkampungan global, idealnya aktivitas membaca dan menulis bukan lagi menjadi sebuah kewajiban, melainkan sebuah kebutuhan. Seiring dengan itu, anak-anak sekolah pun mulai banyak yang merambah ke dunia internet. Jika kita perhatikan, sudah banyak pelajar yang memiliki blog. Hebat! Blog yang mereka miliki tak hanya sekadar blog biasa. Mereka rutin meng-<i>up date</i>-nya dengan postingan bermutu. Lihat saja blog <a href="http://chaosregion.wordpress.com/">chaosregion</a>, <a href="http://myresource.wordpress.com/">Mas Moer</a>, atau <a href="http://bachtiar.wordpress.com/">bachtiar</a> &#8211;untuk menyebut beberapa nama. Ketiga blog ini masing-masing dikelola oleh anak muda yang usianya belum genap berkepala 2. Luar biasa! Salut!</p>
<p align="justify">Kalau para pelajar seusia SMA saja sudah punya blog yang bagus, bagaimana dengan para gurunya? *halah* Bisa jadi menjadi sebuah ironi apabila para pelajar sudah melintas kencang di tengah-tengah lalu lintas peradaban dunia melalui blog, sementara para guru masih bersikutat di semak-semak peradaban proliterasi. Kita memang perlu bersikap realistis. Kesenjangan kompetensi guru desa-kota selama ini memang masih cukup lebar. Guru-guru yang tinggal di kota hampir setiap hari bisa mengakses dunia maya. Sementara, guru-guru yang tinggal di pelosok-pelosok dusun masih harus akrab dengan kondisi tempat tinggal yang jauh dari sentuhan signal internet. Namun, saya kira hal itu tidak bisa jadi alasan pembenar bagi rekan-rekan sejawat &#8212; terutama yang tinggal di kota&#8211; untuk tindak melakukan aktivitas ngeblog.</p>
<p align="justify">Selain sudah banyak diungkap di blog lain, saya juga pernah memosting beberapa tulisan yang berkaitan dengan pentingnya ngeblog di kalangan guru di tengah-tengah abad gelombang informasi ini.  Simak saja tulisan saya <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/08/16/guru-blog-dan-profesionalisme/" target="_blank">di sini</a>, <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/10/04/mengapa-saya-ngeblog-di-wordpress/" target="_blank">di sini</a>, atau <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/11/12/membudayakan-aktivitas-ngeblog-di-kalangan-guru/" target="_blank">di sini</a>. Kita juga mengenal blog guru &#8211;sekadar menyebut beberapa nama&#8211; seperti <a href="http://suandana.wordpress.com/">Aditya-Suandana,</a> <a href="http://karun99oni.wordpress.com/">akafuji</a>, <a href="http://awan965.wordpress.com/">Awan965</a>, <a href="http://deni3wardana.wordpress.com/">deni3wardana</a>, <a href="http://enggar.net/">enggar</a>, <a href="http://nuritaputranti.wordpress.com/">eNPe</a>, <a href="http://kangguru.wordpress.com/"></a><a href="http://gempur.blogsome.com/" target="_blank">Gempur</a>, <a href="http://kangguru.wordpress.com/">kangguru,</a> <a href="http://pustakamawar.wordpress.com/">Mawardi</a>, <a href="http://nartokendal.wordpress.com/">Narto</a>, <a href="http://rudyhilkya.wordpress.com/" rel="nofollow">rudyhilkya</a>, <a href="http://urip.wordpress.com/">urip,</a> <a href="http://wellnada.wordpress.com/">Welly Arwanto</a>, <a href="http://checep05.wordpress.com/">Yossi</a>, atau  <a href="http://zainurie.wordpress.com/">zainurie</a>. Blog-blog tersebut dikelola oleh bloger yang kebetulan juga berprofesi sebagai guru. Mudah-mudahan langkah mereka segera diikuti oleh rekan-rekan sejawat guru yang lain.</p>
<p align="justify">Saya kira blog yang mereka kelola bukan sebagai ajang untuk pamer diri, cari sensasi, atau ketenaran, melainkan lebih dimaksudkan sebagai upaya untuk menjalin silaturahmi, <i>sharing, </i>dan diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Kehadiran blog guru di dunia maya agaknya juga sangat dibutuhkan untuk kepentingan dunia pendidikan. Lihat saja skrinsut kata-kata kunci pencari dalam situs yang sempat &#8220;tersesat&#8221; <strike>mangslup</strike> masuk dalam blog saya berikut ini.</p>
<p align="justify"> <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2008/01/mesin-pencari.gif" title="mesin-pencari.gif"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2008/01/mesin-pencari.gif" title="mesin-pencari.gif"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2008/01/mesin-pencari.gif" alt="mesin-pencari.gif" /></a></div>
<p align="justify">Alhamdulillah, tidak ada kata-kata kunci, seperti <i>telanjang, video bokep, bugil, </i>atau <i>porno</i> <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  yang nyasar ke sini, karena saya memang tidak punya bakat ke situ, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Saya menduga, kata-kata kunci tersebut dimasukkan ke dalam mesin pencari oleh rekan-rekan sejawat guru atau mereka yang memiliki kepentingan informasi yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Ini artinya, kehadiran blog guru memang dibutuhkan oleh kaum pendidik dan pemerhati dunia pendidikan. Semoga tahun 2008 menjadi awal yang bagus terhadap bangkitnya blog guru di dunia maya. Siapa tahu kelak blog diakui sebagai angka kredit pengembangan profesi guru sehingga bisa ikut memperlancar dan memuluskan jalan dalam menggapai karier yang lebih baik.</p>
<p align="justify">Oh, ya, saat ini di WP juga sudah ada blog yang secara khusus mereview dan meresensi blog guru. Silakan lihat di <a href="http://arahguru.wordpress.com/" target="_blank">sini</a>.  Blog tersebut dikelola oleh <a href="http://arahguru.wordpress.com/about/" target="_blank">Kelik M. Nugroho</a>, jurnalis dan penulis yang bekerja di Jakarta. Dia alumnus Pondok Modern Gontor Ponorogo, IAIN Jogja, dan masih ingin menyelesaikan kuliah S-2 di <i>Islamic College for Advanced Studies,</i> Jakarta. Blog ini didedikasikan untuk kemajuan mutu guru di Indonesia. Terima kasih Pak Kelik atas kepeduliannya untuk terus mengikuti perkembangan blog guru, semoga maksud mulia ini bisa ikut menyebarkan &#8220;virus&#8221; ngeblog di kalangan guru. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F01%2F03%2Fblog-guru%2F';
  addthis_title  = 'Blog+Guru';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/01/03/blog-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Wejangan&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 13:29:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan &#8220;pesta&#8221; pergantian tahun, 18 &#8220;cantrik&#8221; dari &#8220;Padepokan&#8221; STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru &#8220;menyepi&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo itu mulai &#8220;bertapa&#8221; sejak Sabtu, 29 Desember hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan &#8220;pesta&#8221; pergantian tahun, 18 &#8220;cantrik&#8221; dari &#8220;Padepokan&#8221; STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru &#8220;menyepi&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo itu mulai &#8220;bertapa&#8221; sejak Sabtu, 29 Desember hingga Senin, 31 Desember 2007. Ada banyak &#8220;jurus&#8221; yang hendak diasah dalam &#8220;kawah candradimuka&#8221; itu, seperti manajemen pertunjukan, imajinasi, refleksi diri, olah tubuh, pernapasan dan vokal, penyutradaraan, keaktoran, make-up, artistik, kepekaan indera, improvisasi gerak dan kata, penciptaan, dan penyajian.</p>
<p align="justify">Ya,  para &#8220;cantrik&#8221; itu adalah beberapa gelintir anak muda yang telah berniat memilih dunia sastra dan teater sebagai bagian dari &#8220;panggilan&#8221; hidup. Sebuah dunia yang (nyaris) tidak banyak diminati oleh anak-anak muda di tengah-tengah gencarnya gerusan nilai materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme. Di bawah gemblengan Aslam Kussatyo, dedengkot teater Kota Kendal, mereka sengaja mengisolir diri menjelang pergantian tahun untuk melakukan refleksi,  berimajinasi,  mengolah daya cipta, dan berlatih jurus-jurus bermain teater.</p>
<div align="justify"><span id="more-308"></span>Saya yang kebetulan didaulat untuk memberikan &#8220;wejangan&#8221; kepada para &#8220;cantrik&#8221; di sebuah &#8220;pertapaan&#8221; yang dkelilingi banyak bukit itu pun tak kuasa menolak.  Di bawah &#8220;ancaman&#8221; cuaca buruk yang membadai, saya langsung memacu sepeda <strike>kumbang</strike> motor *halah* di atas jalan berlubang. Guyuran hujan rintik-rintik dan jalanan yang licin tak menyurutkan nyali saya *halah* untuk segera bertemu dengan para &#8220;cantrik&#8221; yang sedang &#8220;ngangsu kaweruh&#8221; masalah teater dan sastra itu.</div>
<div align="justify"> <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" title="aslam42.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" title="aslam42.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" alt="aslam42.jpg" height="290" width="485" /></a></div>
<p align="center"> Saya dan &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo di depan para &#8220;cantrik&#8221;.</p>
</div>
<div align="justify">   <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" title="aslam7ok.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" title="aslam7ok.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" alt="aslam7ok.jpg" /></a></div>
<p align="center"> Membeberkan *halah* &#8220;wejangan&#8221; sastra di depan para &#8220;cantrik&#8221;.</p>
<p align="center">*Maaf kawan, fotonya kabur, cuaca mendung dan berkabut, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Alasan klise*</p>
</div>
<div align="justify">Inilah &#8220;wejangan&#8221; yang saya &#8220;khotbah&#8221;-kan kepada mereka.</div>
<div align="center"><b>Kreativitas dalam dunia Penciptaan Teks Sastra</b></div>
<p align="justify">“Jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri.”<br />
(Seno Gumira Ajidarma:1997)<br />
***<br />
Kreativitas berkaitan dengan kemampuan daya cipta. Kehidupan berkaitan dengan penafsiran nilai-nilai hidup dan kehidupan yang bermakna dalam upaya meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam dunia penciptaan teks sastra, seorang penulis, mau atau tidak, harus mampu memadukan dua “kekuatan” itu sekaligus dalam teks-teks ciptaannya.
</p>
<p align="justify"> Dunia sastra sangat berkaitan dengan dunia yang tidak kasat mata. Teks sastra menyajikan persoalan hidup dan kehidupan secara fiktif, tetapi secara moral dan logika harus dapat ”dipertanggungjawabkan”. Bisa saja seorang penulis menyajikan konflik perjalanan hidup seorang pencandu narkotika yang tega menyiksa diri dan merusak masa depannya melalui ”pil atau serbuk setan”, misalnya. Namun, peristiwa yang digambarkan tetap harus utuh dan menampakkan kewajaran dari sisi moral dan logika. Jadi, meskipun hanya merupakan karya imajinatif, teks sastra tetap harus menampakkan keutuhannya sebagai teks yang runtut penalarannya.</p>
<p align="justify"> Emha Ainun Najib mengatakan, pekerjaan sastra memang merupakan pekerjaan halus, pekerjaan rohaniah. Namun, bagi yang berminat mengembangkan bakatnya tidak sesulit menekuni olahraga. Jika dalam sepak bola aturan-aturan main harus dipahami sebelum main sepak bola, sedangkan sastra &#8211;meski belum jelas; apakah itu soal kosa kata, dan sebagainya&#8211; tulis saja terus, sambil mencari waktu membaca karya sastra, kemudian karya tersebut disimpan, dibaca lagi, diperbaiki lagi, diendapkan lagi.</p>
<p align="justify"> &#8220;Semua penyair/cerpenis mengalami kesulitan menulis. Kalau tak demikian, tak lahir karya bermutu. Jadi, tulis saja dulu, meski katanya keliru, nanti akan ada komparasi, perbaiki kekeliruan, supaya ada dialektika dengan diri. Puisi menarik karena ia merangsang pikiran. Bisa saja dalam sebuah karya ada analisis sosiologis, antropologis dan sebagainya,&#8221; ungkap Emha. Hal senada juga dikemukakan Wisran Hadi. Menurutnya, bila banyak &#8220;peraturan&#8221; atau teori justru bisa jadi penghambat dalam menulis. Untuk itu, jangan peduli dulu dengan aturan ini-itu, yang penting menulis, dan terus menulis. Nah, bagaimana, menulis teks sastra tak perlu teori, bukan?<br />
***
</p>
<p align="justify">Bagaimana mengawali penulisan teks sastra? Tidak usah mempersulit diri. Apa pun yang ada di sekitar kita bisa dijadikan bahan cerita. Teman yang putus cinta, konflik dengan orang tua, gagal naik kelas, kecelakaan lalu lintas, korban narkoba, dan semacamnya bisa diracik menjadi sebuah teks yang menarik. Jadi, kita mesti jeli mengamati berbagai peristiwa yang berlangsung dalam kehidupan di sekitar kita sehari-hari. Lalu, sajikan peristiwa itu secara menarik dengan menggunakan kata-kata yang ekspresif. Ekspresif artinya mampu menyajikan peristiwa dengan menggunakan kata-kata yang dapat menggambarkan apa yang dilihat, didengar, diraba, dicium, atau dirasakan oleh penulis secara tepat. Hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan ungkapan (idiom), majas, atau ujaran langsung.</p>
<p align="justify"> Coba perhatikan kutipan cerpen berikut!</p>
<p align="justify"><i> “Melati … Melati … harum dan mewangi …”<br />
Setiap potongan syair dangdut itu terdengar, para tetangga segera paham, Sarkawi baru saja pulang dari hutan. Ia pasti sedang terlihat leyeh-leyeh, sembari  memeluk kucingnya.<br />
Mulanya para tetangga memang merasa aneh dengan dendang Sarkawi. Ya, selama ini ia lebih dikenal akrab dengan tembang Jawa atau lagu-lagu tayuban, baik dari mulutnya maupun dari radio kotaknya yang besar itu. Tapi, mereka kemudian mengerti juga, syair dangdut itu ternyata bukan pertanda peralihan selera. Bukan. Ia hanya ungkapan sayang bagi momongannya, si Melati.<br />
</i></p>
<p align="justify"><i> Kalau saja punya cucu, Pak Wi, begitu lelaki pencari kayu bakar itu dipanggil, tentu pantas dipanggil kakek. Tapi, jangankan kok cucu, sampai usianya yang menginjak senja, seorang anak pun tak ia miliki. Pernah memang seorang bocah mewarnai kehidupannya, perempuan lagi. Tapi nasib malang merenggut hidup bocah itu ketika belum genap berumur 10 tahun. Sejak itu, Pak Wi dan istrinya tak pernah lagi dikaruniai seorang anak pun. Sebenarnya ada keinginan untuk memungut anak dari famili atau tetangga. Namun, hidupnya yang tak pernah lepas dari kesulitan membuat keinginan itu hanya sebagai keinginan …<br />
</i></p>
<div align="right"> (Dikutip dari cerpen “Melati” karya Mahfud Ikhwan)</div>
</p>
<p align="justify"> Struktur cerpen terbentuk dari lima unsur yang saling berkaitan, yaitu perbuatan, penokohan, latar, sudut pandang, dan alur (plot). Tokoh yang dikisahkan melakukan perbuatan atau tindakan yang terjadi pada waktu dan tempat (latar) tertentu berdasarkan tahapan-tahapan tertentu (plot) dari sudut pandang (pusat pengisahan) penulisnya. Daya pikat sebuah teks cerpen sangat ditentukan oleh keterampilan sang penulis dalam menyatukan unsur-unsur cerita sehingga mampu merangsang minat  pembaca untuk mengetahui jalan cerita selanjutnya.</p>
<p align="justify"> Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah membangun karakter tokoh. Ada banyak cara yang bisa digunakan, di antaranya:</p>
<div align="justify">
<ul>
<li>Melalui ucapan-ucapan si tokoh: Ucapan si tokoh dalam menggambarkan karakternya. Orang yang sopan tentu berbeda cara ngomongnya dengan orang yang bengal. Orang pemarah tentu beda cara ngomongnya dengan orang yang penyabar. Demikian seterusnya.</li>
<li>Melalui pemberian nama: Dalam kehidupan nyata, nama seseorang memang tidak identik dengan sifat dan perilaku orang tersebut. Namun, dalam dunia fiksi, kita bisa memberikan nama-nama tertentu untuk memberikan kesan karakter yang berbeda-beda. Misalnya, nama Dewi cenderung berkesan anggun dan keibuan. Sedangkan, nama Susan cenderung berkesan centil dan genit. Pemberian nama juga hendaknya disesuaikan dengan setting cerita dan karakter etnis dari tokoh tersebut. Misalnya, aneh rasanya jika kamu menceritakan seorang tokoh yang beragama kristen, tetapi dia bernama Abdullah. Atau, kamu menceritakan tentang seorang tokoh yang ber-etnis Jawa, dan sejak lahir hingga dewasa tinggal di Kendal, tetapi dia bernama Michael. Kalaupun kamu harus memberikan nama yang seperti itu, hendaknya kamu memberikan penjelasan yang memadai mengenai hal itu (mengapa orang Jawa yang sejak lahir tinggal di Kendal bisa punya nama Michael, dan sebagainya)</li>
<li>Melalui diskripsi yang disampaikan oleh si penulis: Ini adalah cara yang cukup umum dan gampang. Contohnya: &#8220;Wina adalah gadis yang amat penyabar, ia selalu memulai ucapannya dengan senyuman.&#8221;</li>
<li>Melalui pendapat tokoh-tokoh lainnya di dalam karya tersebut, contoh: <i>Nia berkata, &#8220;Joko itu pelit banget deh. Masa udah ketahuan di dompetnya banyak duit, dia ngaku lagi bokek!&#8221;</i></li>
<li>Melalui sikap atau reaksi si tokoh terhadap kejadian tertentu, contoh: <i>Ketika seorang anak memecahkan gelas, apa yang dilakukan ibunya? Dalam hal ini, kita harus merumuskan dulu secara jelas, bagaimana karakter si ibu. Apakah dia pemarah, penyabar, suka mencaci-maki, dan sebagainya. Jika yang diceritakan adalah seorang ibu yang penyabar dan penuh pengertian, tentu tidak akan membuat kalimat yang menceritakan bahwa si ibu marah besar lalu memaki-maki anaknya.</i></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Jangan sekali-lagi merusak karakter tokoh dengan hal-hal yang kontradiktif. Misalnya: kamu menceritakan tentang tokoh Ali yang penyabar dan selalu santun dalam bicara. Namun dalam sebuah bagian cerita, kamu membuat kalimat seperti ini: Ali sangat terkejut mendengar cerita Hasan. Dadanya bergemuruh, mukanya merah, dan ia menatap Hasan penuh kebencian. &#8220;Bajingan loe!&#8221; teriaknya dengan kasar.<br />
***<br />
Teks sastra yang kamu buat akan menjadi lebih bermakna jika dibaca orang lain. Oleh sebab itu, kamu perlu memublikasikan teks karyamu ke media massa, majalah sekolah/remaja/umum, koran, atau tabloid. Sekarang ini, cerpen/puisi ”dimanjakan” oleh berbagai media. Hampir setiap penerbitan selalu menyediakan rubrik cerpen/puisi. Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ada baiknya, kamu memiliki beberapa alamat redaksi majalah/koran. Lebih bagus lagi jika memiliki alamat e-mail; lebih murah dan praktis.</p>
<p align="justify"> Jangan putus asa kalau gagal dimuat. Resep menjadi penulis sukses tidak mengenal putus asa dalam kamus hidupnya. Yang penting menulis, menulis, dan menulis. Yang tidak kalah penting, kamu harus banyak membaca teks sastra yang dimuat di berbagai koran atau majalah. Kalau mengalami kebuntuan dalam menulis?<br />
Salinlah beberapa paragraf atau halaman dari buku kesukaanmu.</p>
<ul>
<li>Tirulah gaya penulis favoritmu.</li>
<li>Berusahalah menulis dengan gaya yang baru bagimu.</li>
<li> Petakan kebuntuanmu menulis dalam bentuk gambar. Gunakan imajinasimu. Gambarlah apa saja. Melalui kegiatan ini “kedua belah otak” kamu bekerja dan merangsang pikiran kreatif.</li>
</ul>
<p align="justify">(Sebagian &#8220;wejangan&#8221; saya &#8220;curi&#8221; dari berbagai sumber yang saya sendiri sudah lupa dari  mana dulu saya &#8220;mencuri&#8221; <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  )</p>
<p align="justify">***</p>
<p align="justify">Tentu saja, mereka tidak puas hanya sekadar mendengarkan &#8220;wejangan-wejangan&#8221; yang tidak jelas juntrungnya itu, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />   Mereka saya beri kebebasan untuk ngomong apa saja. Bertanya dan berdiskusi pun jadilah. Hangat dan menarik. Ada keluguan dan kepolosan. Ada juga kekenesan.</p>
<p align="justify">Walhasil, saya pun meminta mereka untuk menerapkan &#8220;jurus-jurus&#8221; dalam menulis; puisi dan cerpen. Beragam jadinya. Ada yang bicara soal &#8220;Pohon Cinta&#8221;, &#8220;Terlambat&#8221;, &#8220;Putri Malu&#8221;, atau &#8220;Durian&#8221;. Macam-macamlah pokoknya. Tanpa terasa selama 3 jam saya menemani para &#8220;cantrik&#8221; itu. Hasilnya pun belum kelihatan memang. Namun, melihat semangat dan talenta yang mereka miliki, saya punya keyakinan, kelak akan muncul penulis dan penggiat sastra baru dari para &#8220;cantrik&#8221; yang baru saja usai melakukan &#8220;pertapaan&#8221; di Cokrokembang itu. Semoga! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F31%2Fwejangan-di-pertapaan-cokrokembang%2F';
  addthis_title  = '%26%238220%3BWejangan%26%238221%3B+di+%26%238220%3BPertapaan%26%238221%3B+Cokrokembang';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi Kelompok Terbimbing Model Tutor Sebaya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/30/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/30/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 19:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[metode pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasiona]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/30/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/</guid>
		<description><![CDATA[Rendahnya mutu pendidikan Indonesia telah banyak disadari oleh berbagai pihak, terutama oleh para pemerhati pendidikan di Indonesia. Rendahnya mutu pendidikan ini dapat dilihat, antara lain, dari rendahnya rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) untuk semua bidang studi yang di-UN-kan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Berdasarkan kenyataan tersebut perlu ada upaya serius untuk meningkatkan nilai UN agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rendahnya mutu pendidikan Indonesia telah banyak disadari oleh berbagai pihak, terutama oleh para pemerhati pendidikan di Indonesia. Rendahnya mutu pendidikan ini dapat dilihat, antara lain, dari rendahnya rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) untuk semua bidang studi yang di-UN-kan, baik di tingkat nasional maupun daerah.</p>
<p>Berdasarkan kenyataan tersebut perlu ada upaya serius untuk meningkatkan nilai UN agar anak-anak bangsa yang kini tengah gencar menimba ilmu di bangku pendidikan benar-benar dalam kondisi siap untuk menghadapi UN. Para siswa didik, khususnya kelas IX, harus diberikan bekal yang cukup memadai sehingga mampu mengerjakan soal-soal UN dengan baik.</p>
<p>Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya nilai UN yang dicapai oleh SMP. <i>Pertama</i>, kurangnya motivasi siswa didik untuk meraih nilai akademis yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh situasi dan kondisi pendidikan dalam lingkungan keluarga yang kurang mendukung.</p>
<p><span id="more-305"></span><i>Kedua, </i>merebaknya sikap instan yang melanda kehidupan kaum remaja. Hal ini disebabkan oleh kuatnya sikap permisif masyarakat yang cenderung membiarkan berbagai perilaku anomali sosial berlangsung di tengah-tengah panggung kehidupan sosial. Masyarakat yang seharusnya menjadi kekuatan kontrol untuk ikut menanggulangi berbagai persoalan sosial yang kurang sehat cederung bersikap permisif dan masa bodoh. Sikap instan yang ingin meraih sukses tanpa kerja keras pun dinilai sebagai hal yang wajar terjadi.</p>
<p><i>Ketiga</i>, guru dinilai kurang kreatif dalam melakukan inovasi pembelajaran, baik dalam pemilihan materi ajar, metode pembelajaran, maupun media pembelajaran, sehingga siswa didik cenderung pasif dan bosan dalam menghadapi atmosfer pembelajaran di kelas. Suasana kelas bagaikan “kerangkeng penjara” yang pengap dan sumpek; tanpa ada celah “kebebasan” bagi peserta didik untuk menikmati kegiatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Yang lebih mencemaskan, siswa didik diperlakukan bagaikan “tong sampah” ilmu pengetahuan yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu, tanpa memiliki kesempatan untuk melakukan pendalaman, refleksi, dan dialog.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman empiris, kurang kreatifnya guru dalam melakukan inovasi pembelajaran memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kemampuan siswa dalam dalam menguasai kompetensi yang seharusnya dicapai. Metode drill yang dilakukan menjelang pelaksanaan UN, dinilai terlalu banyak memberikan intervensi dan tekanan psikologis kepada siswa. Akibatnya, siswa cenderung hanya mampu menjadi penghafal kelas wahid daripada menjadi seorang pembelajar yang haus ilmu pengetahuan. Mereka diperlakukan secara mekanis bagaikan robot sehingga tidak memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi dan pendalaman materi ajar.</p>
<p>Dalam konteks demikian, diperlukan upaya serius dari para guru pengampu mata pelajaran yang diujikan secara nasional, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, dan IPA untuk melakukan perubahan penggunaan metode drill. Salah satu metode yang diduga mampu membuat suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan ketika siswa mempelajari materi UN adalah metode diskusi kelompok model tutor sebaya. Melalui metode ini, siswa bisa berdialog dan berinteraksi dengan sesama siswa secara terbuka dan interaktif di bawah bimbingan guru sehingga siswa terpacu untuk menguasai bahan ajar yang disajikan sesuai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah ditetapkan.</p>
<p>Diskusi kelompok terbimbing dengan model tutur sebaya merupakan kelompok diskusi yang beranggotakan 5-6 siswa pada setiap kelas di bawah bimbingan guru mata pelajaran dengan menggunakan tutor sebaya. Tutur sebaya adalah siswa di kelas tertentu yang memiliki kemampuan di atas rata-rata anggotanya yang memiliki tugas untuk membantu kesulitan anggota dalam memahami materi ajar. Dengan menggunakan model tutor sebaya diharapkan setiap anggota lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yang dihadapi sehingga siswa yang bersangkutan terpacu semangatnya untuk mempelajari materi ajar dengan baik.</p>
<p><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/tutot-sebaya.jpg" title="tutot-sebaya.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/tutot-sebaya.jpg" title="tutot-sebaya.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/tutot-sebaya.jpg" alt="tutot-sebaya.jpg" height="415" width="574" /></a></div>
<p>Untuk menghidupkan suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Oleh karena itu, selain aktivitas anggota kelompok, peran ketua kelompok atau tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari materi ajar yang disajikan. Ketua kelompok dipilih secara demokratis oleh seluruh siswa. Misalnya, jika di suatu kelas terdapat 46 siswa, berarti ada 9 kelompok dengan catatan ada satu kelompok yang terdiri atas 6 siswa. Sebelum diskusi kelompok terbentuk, siswa perlu mengajukan calon tutor. Seorang tutor hendaknya memiliki kriteria: (1) memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata siswa satu kelas; (2) mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa; (3) memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik; (4) memiliki sikap toleransi dan tenggang rasa dengan sesama; (5) memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik; (6) bersikap rendah hati, pemberani, dan bertanggung jawab; dan (7) suka membantu sesamanya yang mengalami kesulitan.</p>
<p>Tutor atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: (1) memberikan tutorial kepada anggota terhadap materi ajar yang sedang dipelajari; (2) mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis; (3) menyampaikan permasalahan kepada guru pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai; (4) menyusun jadwal diskusi bersama anggota kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, secara rutin dan insidental untuk memecahkan masalah yang dihadapi; (4) melaporkan perkembangan akademis kelompoknya kepada guru pembimbing pada setiap materi yang dipelajari.</p>
<p>Peran guru dalam metode diskusi kelompok terbimbing model tutor sebaya hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa.</p>
<p>SKL dan ruang lingkup materi yang didiskusikan:</p>
<table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td width="41%">
<p><b>Standar Kompetensi Lulusan (SKL) </b></p>
</td>
<td width="58%">
<p><b>Ruang Lingkup Materi </b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="41%">
<p>Siswa mampu membaca dan memahami berbagai jenis wacana, baik secara tersurat maupun tersirat, menganalisis informasi dan gagasan; memberikan komentar, menyeleksi dan mensintesiskan informasi dari berbagai sumber (tabel, diagram, tajuk, berita). </p>
</td>
<td valign="top" width="58%">
<p>1. Menjawab pertanyaan isi tersurat wacana yang berupa   tabel, diagram, tajuk, berita paragraf, ensiklopedi, buku ilmiah populer. </p>
<p>2. Menyimpulkan isi tersirat teks berupa tabel,   diagram, tajuk, berita. </p>
<p>3. Menanggapi isi wacana yang dibaca. </p>
<p>4. Menentukan gagasan pokok dan gagasan penjelas dari   teks yang berupa tabel, diagram, tajuk, berita. </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="41%">
<p>Siswa mampu menulis karangan nonsastra dengan menggunakan kosakata yang bervariasi dan efektif dalam bentuk paragraf narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, surat resmi, kamus kecil, hasil wawancara,   teks pidato, resensi, rangkuman, memo, laporan. </p>
</td>
<td valign="top" width="58%">
<p>5. Menyusun kerangka isi dan mengurutkan paragraf   bentuk paragraf narasi, deskripsi, eksposisi, persuasi, argumentasi, surat resmi, kamus   kecil, hasil wawancara, teks pidato, resensi, rangkuman, memo, laporan,   poster/imbauan. </p>
<p>6. Mengembangkan secara utuh paragraf bentuk paragraf   narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, surat resmi, kamus kecil, hasil wawancara,   teks pidato, resensi, rangkuman, memo, laporan, poster/imbauan. </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="41%">
<p>Siswa mampu menyunting isi (ketepatan isi, urutan isi), menyunting bahasa dan mekanik (berbagai kata, istilah, gabungan kata, berbagai struktur kalimat, kepaduan/kelengkapan paragraf, serta penggunaan ejaan dan tanda baca) dalam berbagai jenis wacana (argumentasi, berbagai surat resmi, rancangan   kerja, hasil wawancara, laporan pengamatan/ percobaan, resensi, rangkuman). </p>
</td>
<td valign="top" width="58%">
<p>7. Mengidentifikasi kesalahan isi (ketepatan isi,   urutan isi). </p>
<p>8. Mengidentifikasi kesalahan bahasa dan mekanik (penggunaan berbagai kata, istilah, gabungan kata, berbagai struktur kalimat, kepaduan/ kelengkapan paragraf, serta penggunaan ejaan dan tanda baca. </p>
<p>9. Memperbaiki kesalahan isi dan penggunaan bahasa   dalam berbagai wacana. </p>
<p>10. Memperbaiki kesalahan berbagai kata, istilah, gabungan kata, struktur kalimat, ungkapan, peri bahasa, majas, serta penggunaan ejaan dan tanda baca. </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="41%">
<p>Siswa mampu membaca nyaring, dan membaca sekilas   untuk menemukan informasi dan memahami sekilas suatu wacana. </p>
</td>
<td valign="top" width="58%">
<p>11. Menemukan informasi secara cepat. </p>
<p>12. Menemukan gagasan pokok secara cepat. </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="41%">
<p>Siswa mampu mengapresiasi karya sastra yang berupa puisi, prosa fiksi, dan drama untuk memahami isi serta menemukan nilai-nilai di dalamnya (moral, sosial, budaya, dll). </p>
</td>
<td valign="top" width="58%">
<p>13. Menemukan unsur intrinsik berbagai karya sastra   berupa puisi, prosa fiksi, dan drama. </p>
<p>14. Menemukan nilai-nilai di dalam sastra (moral,   sosial, budaya, dll)</p>
</td>
</tr>
</table>
<p>Berdasarkan data yang diperoleh berdasarkan hasil ujian nasional selama tiga tahun terakhir (2004/2005, 2005/2006, dan 2006/2007) di sekolah tempat saya bertugas, penggunaan metode diskusi model tutor sebaya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kegiatan les menjelang ujian nasional dapat meningkatkan rata-rata nilai ujian siswa. Hal ini bisa terjadi karena pada setiap kelompok diskusi terjadi suasana kompetitif untuk menjadi yang terbaik pada setiap kelas sehingga terpacu semangat setiap kelompok untuk memahami setiap materi ajar yang didiskusikan. Selain itu, tutor setiap kelompok dipilih secara demokratis oleh para siswa sehingga mampu mewujudkan suasana yang akrab dan harmonis di antara sesama anggota kelompok dan tutor. Kondisi semacam ini sangat diperlukan ketika para siswa harus mempelajari banyak materi ujian.</p>
<p>Mungkin ada rekan-rekan sejawat guru yang memiliki metode dan strategi lain dalam menyiapkan siswa didik menghadapi ujian nasional? ***</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Postingan ini sekaligus menjawab umpan PR yang dilemparkan oleh <a href="http://mathematicse.wordpress.com/">Pak Al-Jupri</a> dan <a href="http://fira.wordpress.com/">Mbak Fira.</a> Mohon maaf, yak, apabila tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F30%2Fdiskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya%2F';
  addthis_title  = 'Diskusi+Kelompok+Terbimbing+Model+Tutor+Sebaya';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/30/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quo Vadis Kurikulum Pendidikan Kita (Sebuah Refleksi Akhir Tahun)</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 21:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[akhir tahun]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[plesetan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tulisan saya mengenai  &#8220;Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP&#8220;, saya memplesetkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi: (1) Kurikulum Tidak Siap Pakai, (2) Kurikulum Tetap Sama Produknya, dan (3) Kalau Tidak Siap Pensiun.  Namanya saja plesetan, selain &#8220;nyleneh&#8221; juga bernada slengekan, hehehehe   Agaknya, ada seorang pengunjung yang terusik.   Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Dalam tulisan saya mengenai  &#8220;<a href="http://sawali.info/2007/08/25/tiga-bahasa-plesetan-tentang-ktsp/" target="_blank">Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP</a>&#8220;, saya memplesetkan <b>K</b>urikulum <b>T</b>ingkat <b>S</b>atuan <b>P</b>endidikan (KTSP) menjadi: (1) <b>K</b>urikulum <b>T</b>idak <b>S</b>iap <b>P</b>akai, (2) <b>K</b>urikulum <b>T</b>etap <b>S</b>ama <b>P</b>roduknya, dan (3) <b>K</b>alau <b>T</b>idak <b>S</b>iap <b>P</b>ensiun.  Namanya saja plesetan, selain &#8220;nyleneh&#8221; juga bernada <i>slengekan</i>, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Agaknya, ada seorang pengunjung yang terusik.   Dia berkomentar:</p>
<blockquote><p>pak jgn buat plesetan yg tdk mendidik, maka dukunglah tetang KTSP tersebut ok makasih ya.</p></blockquote>
<p align="justify">Saya sangat menghargai komentar pengunjung tersebut. Ini artinya, kurikulum pendidikan kita masih mendapatkan sentuhan perhatian yang cukup dari publik. Lalu, saya meresponnya dengan pernyataan bahwa saya hanya merekam dan memberikan kesaksian terhadap apa yang saya lihat dan saya dengar. Namanya juga otokritik. Dunia pendidikan kita harus selalu siap untuk menerima kritik dari berbagai kalangan agar terus berkembang secara dinamis sehingga mutu pendidikan yang sudah lama didambakan dapat terwujud.</p>
<p align="justify"><span id="more-304"></span></p>
<p align="justify">Sebagai seorang guru, jelas saya mendukung KTSP, apalagi sudah disahkan penggunaannya di sekolah berdasarkan Permendiknas No. 22, 23, dan 24 tahun 2006. Ini artinya, mau atau tidak, siap atau tidak, guru sebagai &#8220;loko&#8221; pendidikan, harus melaksanakannya. Meskipun demikian, tidak lantas berarti bahwa guru tidak boleh bersuara. Gurulah yang menyusun rencana, melakukan aksi, evaluasi, analisis, dan tindak lanjut sebagai wujud implementasi kurikulum. Kalau suara guru dibungkam, lantas siapa yang akan memberikan masukan dan kritik terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan. Guru itu bukan penentu kebijakan. Mereka seperti &#8220;tukang&#8221; yang harus membuat produk yang diinginkan oleh pemesan. Apakah seorang tukang tidak boleh memberikan masukan dan kritik terhadap desain sebuah produk yang diinginkan oleh pemesan kalau memang dinilai kurang bagus? Cukupkah sebuah kebijakan yang menyangkut kepentingan publik, bahkan akan ikut menentukan nasib masa depan bangsa, hanya dirumuskan dari belakang meja <i>sonder </i>mendengarkan suara-suara lain yang justru sangat berkepentingan dengan implementasi sebuah kebijakan?</p>
<p align="justify">Selain sertifikasi guru, KTSP agaknya juga menjadi &#8220;isu&#8221; yang menarik diperbincangkan di sepanjang tahun 2007. Gaungnya tidak hanya bergema di gedung-gedung elit kaum birokrat pendidikan atau di forum-forum seminar, tetapi juga di warung-warung kopi. Hal ini bisa dipahami lantaran bangsa kita dikenal suka bongkar-pasang kurikulum, tetapi dinilai belum memberikan imbas yang cukup berarti bagi peningkatan mutu pendidikan. Dari tahun ke tahun, dunia pendidikan kita dinilai banyak kalangan hanya &#8220;jalan di tempat&#8221;, bahkan mengalami <i>set-back.</i></p>
<p align="justify"><a href="http://jipkendal.blogspot.com/2007/12/peringkat-pendidikan-turun-dari-58-ke.html" target="_blank">Berdasarkan laporan UNESCO</a>, yang dirilis Kamis (29/11/07), peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari 58 menjadi 62 di antara 130 negara di dunia. <i>Education Development Index </i>(EDI) Indonesia hanya 0.935 yang berada di bawah negeri jiran kita Malaysia (0.945) dan Brunei Darussalam (0.965).  Indeks ini perlu menjadi &#8220;warning&#8221; bagi segenap komponen bangsa untuk bersama-sama melakukan sebuah perubahan secara kolektif. Jangan sampai negeri lain sudah melaju kencang di atas tol, tetapi bangsa kita masih terus bersikutat di balik semak-semak.</p>
<p align="justify">Sekarang, kita mencoba kembali melakukan kilas balik terhadap perubahan kurikulum di negeri ini. Setidaknya sudah <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/perubahan-kurikulum-di-tengah-mitos-globalisasi/" target="_blank">tujuh kali perubahan kurikulum</a> tercatat dalam sejarah, yakni Kurikulum 1962, 1968, 1975, 1984, 1994, KBK, dan KTSP. Namun, apa dampaknya terhadap kemajuan peradaban bangsa? Sudahkah pendidikan di negeri ini mampu melahirkan anak-anak bangsa yang visioner; yang mampu membawa bangsa ini berdiri sejajar dan terhormat dengan negara lain di kancah global? Sudahkah “rahim” dunia pendidikan kita melahirkan generasi bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial?</p>
<p align="justify">Yang lebih menyedihkan, tidak sedikit anak bangsa negeri ini yang menjadi objek sentimen nasionalisme bangsa lain. Saudara-saudara kita yang mengadu nasib di negeri orang tak jarang menerima perlakuan-perlakuan yang kurang manusiawi. Tak heran kalau pada akhirnya bangsa kita di mata dunia hanya dikenal sebagai bangsa &#8220;kuli&#8221;.</p>
<p align="justify">Pertanyaan yang muncul, sudah demikian parahkah dunia pendidikan kita sehingga gagal melahirkan tenaga-tenaga ahli dan sosok pekerja yang terampil dan andal? Ada apa dengan kurikulum pendidikan kita sehingga (nyaris) tak pernah berhasil mengangkat nama dan martabat bangsa ini menjadi begitu terhormat di tengah-tengah kancah peradaban global? Quo vadis kurikulum pendidikan kita kalau gagal melahirkan manusia-manusia berkarakter, cerdas, kreatif, terampil, bermoral, berbudaya, dan luhur budi? Bukankah dunia pendidikan kita sudah berkali-kali mengalami perubahan kurikulum?</p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/p8200134.jpg" title="p8200134.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/p8200134.jpg" title="p8200134.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/p8200134.jpg" alt="p8200134.jpg" /></a></div>
<p align="justify">Kini, pertanyaan itu menjadi penting untuk dijawab setelah KTSP mulai diimplementasikan. Mampukah KTSP mengantisipasi perubahan dan gerak dinamika zaman ketika semua negara di dunia sudah menjadi sebuah perkampungan global? Mampukah KTSP mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas? </p>
<p>Mari kita bicara blak-blakan sebagai refleksi akhir tahun. Secara jujur harus diakui, implementasi KTSP masih jauh dari harapan. Kesenjangan informasi  antardaerah, keragaman kompetensi guru, atau sarana-prasarana sekolah menjadi &#8220;cacat&#8221; utama. Ketika &#8220;lonceng&#8221; KTSP dipukul, idealnya semua &#8220;properti&#8221; dan sumber daya manusia-nya sudah dalam kondisi siap. Sosialisasi harus lebih dini dilakukan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Meski sudah diluncurkan oleh Menteri, masih banyak sekolah, lebih-lebih yang ada di daerah, yang masih simpang-siur dalam memahami KTSP. KTSP yang seharusnya berlangsung mulus seiring dengan kebijakan otonomi sekolah agaknya juga stagnan.
</p>
<p align="justify">Untuk menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) saja mesti mengacu pada produk Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Memang seharusnya hanya sekadar menjadi model. Namun, tampaknya silabus model BSNP telah menjadi acuan baku untuk dilaksanakan di seluruh penjuru tanah air. Akibatnya, KTSP yang seharusnya berbeda di setiap daerah, bahkan di setiap sekolah, yang terjadi justru telah terjadi penyeragaman. Budaya kopi-paste berlangsung sukses. Flash-disk pun laris-manis bak pisang goreng. KTSP pun menjadi <b>K</b>urikulum yang <b>T</b>etap <b>S</b>ama <b>P</b>roduk-nya. </p>
<p align="justify">Tahun 2008 hanya tinggal hitungan hari, bahkan jam. Momen tersebut perlu dijadikan sebagai tonggak untuk melakukan sebuah perubahan. Implementasi kurikulum dalam dunia pendidikan kita harus dibarengi perubahan sistem pembelajaran dengan memberikan ruang gerak kepada siswa didik untuk mengembangkan potensi dirinya. Anak-anak negeri ini perlu memiliki basis kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang andal agar tidak sekadar menjadi &#8220;kacung&#8221; dan &#8220;tukang&#8221;, tetapi juga menjadi <i>enterprenur-</i><i>enterprenur</i> sejati yang siap menghadapi tantangan di tengah peradaban global. Jangan sampai terjadi, secara lahiriah kurikulum kita menggunakan &#8220;branding&#8221; kurikulum baru, tetapi sejatinya masih menggunakan “roh” kurikulum yang lama. </p>
<p align="justify">Kita berharap, implementasi kurikulum tidak lagi terjebak ke dalam praktik semu di mana perubahan kurikulum hanya sekadar jadi momentum “adu konsep”, sedangkan dimensi proses dan hasil-hasilnya sama sekali tak terurus. Jangan sampai terjadi, dunia persekolahan kita hanya menjadi ladang “kelinci percobaan” yang pada akhirnya hanya akan melahirkan generasi-generasi “setengah jadi” yang gagap menyelesaikan persoalan-persoalan riil yang sedang dihadapinya.</p>
<p align="justify">Yang tidak kalah penting, implementasi kurikulum harus diimbangi dengan intensifnya peran pendidikan dalam lingkungan keluarga. Berbagai kajian empiris membuktikan bahwa peranan keluarga dan orang tua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar anak. Hal ini penting dikemukakan, sebab globalisasi, disadari atau tidak, telah membawa perubahan dan pergeseran gaya hidup dalam lingkungan keluarga. Kuatnya gerusan gaya hidup konsumtif, materialistis, dan hedonis ke dalam ruang keluarga seringkali menimbulkan dampak memudarnya komunikasi antaranggota keluarga. Orang tua sibuk di luar rumah, sedangkan anak-anak yang luput mendapatkan perhatian dan kasih sayang seringkali menghabiskan waktunya dengan cara yang sesuai dengan naluri agresivitas mereka sendiri.</p>
<p align="justify">Dalam upaya menghadapi “penjajahan” kultur yang dominan sebagai imbas globalisasi, keluarga harus menjadi “barikade” yang mampu menciptakan “imunisasi” terhadap anasir-anasir negatif. Anak-anak tetap berperan aktif dalam lingkungan global, tetapi pendidikan dalam keluarga memberinya kekebalan terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari globalisasi. Dengan kata lain, dari ranah keluarga anak-anak bangsa negeri ini perlu diarahkan secara optimal untuk meraih manfaat dan nilai positif dari segala macam bentuk pengaruh globalisasi yang demikian liar membombardir keutuhan keluarga. </p>
<p align="justify">Sudah terlalu lama bangsa kita merindukan lahirnya generasi bangsa yang “utuh dan paripurna”; berimtak tinggi, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hanya potret generasi semacam ini yang akan mampu membawa bangsa ini menjadi terhormat dan bermartabat sekaligus sanggup bersaing di tengah kancah peradaban global yang demikian kompetitif. Nah, apakah perubahan kurikulum mampu menjadi momentum bangkitnya kemajuan dunia pendidikan dan peradaban bangsa kita? Agaknya, kita harus sabar menunggu, yak! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F29%2Fquo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun%2F';
  addthis_title  = 'Quo+Vadis+Kurikulum+Pendidikan+Kita+%28Sebuah+Refleksi+Akhir+Tahun%29';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Buat Mak di Kampung</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/21/surat-buat-mak-di-kampung/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/21/surat-buat-mak-di-kampung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 09:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/21/surat-buat-mak-di-kampung/</guid>
		<description><![CDATA[Mak, saya tahu kalau Mak nggak mungkin baca surat ini. Selain luput dari sentuhan bebas 3 buta (baca, tulis, dan hitung), di kampung nggak ada internet. Saya juga tahu kalau hari ini Mak sedang bercengkerama dengan alam desa yang masih ramah, belum tercemar limbah dan polusi pabrik. Saya juga tahu kalau Mak belakangan ini lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Mak, saya tahu kalau Mak nggak mungkin baca surat ini. Selain luput dari sentuhan bebas 3 buta (baca, tulis, dan hitung), di kampung nggak ada internet. Saya juga tahu kalau hari ini Mak sedang bercengkerama dengan alam desa yang masih ramah, belum tercemar limbah dan polusi pabrik. Saya juga tahu kalau Mak belakangan ini lebih banyak duduk di depan kotak ajaib. Menghabiskan siswa waktu di kala anak dan cucumu mengadu nasib di perantauan. Saya juga bisa memahami kalau Mak sedang kesepian. Ingin selalu bersama, hidup dalam satu atap bersama anak, menantu, dan cucu. Tapi apa boleh buat, Mak. Tuhan sudah memiliki skenario kehidupan bagi setiap hamba-Nya. Mohon maaf, Mak, kalau sudah hampir seperempat abad ini, aku tidak lagi bisa mendampingi dan menemani Mak. Tidak bisa seperti ketika Mak menyaksikan kenakalanku waktu SD dan SMP.</p>
<p align="justify">Mak, saya jadi ingat ketika Mak harus bersusah-payah mencari pinjaman hutang untuk biaya sekolahku waktu kuliah di sebuah institusi yang disebut-sebut sebagai lembaga pencetak calon guru. Waktu itu, keluarga kita benar-benar sedang hancur. Ayah sakit keras. Tak berdaya melawan virus kelumpuhan yang terus menggorogoti tubuhnya. Hingga sekarang, aku juga tidak tahu, virus apa yang bersarang di tubuhnya, hingga akhirnya Ayah tak kuasa melawannya. Ayah harus berpulang menghadap ke haribaan-Nya. (Semoga Ayah tenang di alam-Nya sana, diterima semua amal baiknya, dan diampuni segala dosanya.) Aku juga tahu kalau Mak saat itu sedang dalam keadaan bingung. Tapi, kalau harus berhenti kuliah, aku juga tidak sanggup melakukannya. Cita-cita untuk memenuhi dunia panggilan sebagai seorang guru sudah merajam darah dan jiwaku. Alhamdulillah, berkat jerih-payah Mak, akhirnya kuliahku selesai juga.</p>
<p align="justify"><span id="more-300"></span>Mak, aku sudah sangat rindu untuk bertemu. Sekadar bisa mengambilkan segelas air putih, mencarikan handuk, atau mengganti channel TV yang Mak suka. Tapi, aku belum bisa melakukannya. Mohon maaf, kalau itu hanya bisa kulakukan setahun sekali ketika lebaran tiba.</p>
<p align="justify">Mak, aku pingin sedikit bercerita tentang peran dan fungsi keluarga pada zaman sekarang yang sering disebut-sebut orang dengan istilah globalisasi alias kesejagatan. Mak, agaknya sekarang ini sudah banyak keluarga yang mengalami pergeseran nilai dalam memaknai fungsi keluarga.</p>
<p align="justify">Yang pernah aku baca dari berbagai buku, sosok Ibu adalah orang yang pertama kali memperkenalkan, menyosialisasikan, menanamkan, dan mengakarkan nilai-nilai agama, budaya, moral, kemanusiaan, pengetahuan, dan keterampilan dasar, serta nilai-nilai luhur lainnya kepada seorang anak. Dengan kata lain, peran ibu sebagai pencerah peradaban, &#8216;&#8221;pusat&#8221; pembentukan nilai, atau &#8220;&#8216;pancer&#8221; penafsiran makna kehidupan, tak seorang pun menyangsikannya. Hanya Malin Kundang saja yang arogan dan menihilkan peran seorang ibu dalam membesarkan dan &#8220;memanusiakan&#8221; dirinya. Dan itu sudah Mak lakukan dengan sempurna. </p>
<p align="justify">Tapi Mak, seiring gerak roda peradaban, peran ibu sebagai pencerah peradaban semakin berat tantangannya. Setidaknya ada dua tantangan mendasar yang harus dihadapi oleh seorang ibu di tengah dinamika peradaban global. Pertama, tantangan dari dalam lingkungan keluarga yang harus tetap menjadi sosok feminin yang lembut, penuh perhatian dan kasih sayang, serta sarat sentuhan cinta yang tulus kepada suami dan anak-anak. Kedua, tantangan di luar “pagar” rumah tangga seiring tuntutan zaman yang semakin terbuka terhadap masuknya nilai-nilai mondial dan global yang menuntut dirinya untuk bersikap maskulin.</p>
<p align="justify">Nah, lho, Mak. Berat sekali tantangan Ibu-ibu pada zaman sekarang, kan? Mereka diharapkan dapat menyikapi dan menyiasati dua tantangan mendasar itu. Mereka jelas dituntut untuk semakin memaksimalkan perannya, memberdayakan potensi dirinya sehingga mampu tampil feminin dan maskulin sekaligus dalam menerjemahkan dan menginternalisasi selera zaman yang mustahil dihindarinya sebagai seorang ibu yang hidup pada era kesejagatan. Ini artinya, fitrah seorang ibu tidak hanya &#8220;dicairkan&#8221; dalam lingkup domestik, tetapi juga harus ditebarkan pada ranah publik, seiring dengan semakin kompleks dan rumitnya masalah-masalah yang harus diatasi.</p>
<p align="justify">Maaf, Mak. Istilah-istilah semacam itu mungkin banyak yang tidak Mak pahami. Tapi, itu perlu aku kemukakan agar juga bisa menjadi bahan renungan bagi Ibu-ibu yang lain. Yang masih aku ingat, seorang Ibu menjadi &#8220;ruh&#8221; keluarga yang akan menjadi penentu &#8221;mati hidupnya” sebuah paguyuban batih (keluarga), menjadi &#8220;pelepas anak panah&#8221; keluarga sesuai sasaran bidik yang dituju. Paling tidak, seperti yang dikemukakan oleh Yaumil Agus Achir, ada delapan fungsi keluarga, yakni fungsi sosial budaya, cinta kasih, perlindungan/proteksi, reproduksi, sosialisasi, pendidikan, ekonomi, dan fungsi pembinaan lingkungan. Meskipun tidak mutlak menjadi tanggung jawab ibu sepenuhnya, kedelapan fungsi keluarga tersebut akan terwujud dalam tataran praktik hidup apabila diimbangi dengan kesiapan, kemampuan, dan kesanggupan seorang ibu dalam menjalankan fitrahnya di lingkup domestik.</p>
<p align="justify">Tapi, Mak, arus modernisasi yang demikian gencar menawarkan pergeseran dan perubahan pranata-pranata hidup dan nilai-nilai luhur baku, agaknya memiliki imbas yang cukup kuat terhadap masyarakat dalam menginternalisasi dan mengapresiasi fungsi keluarga. Keagungan sebuah keluarga sebagai entitas sosial dalam menyosialisasikan nilai-nilai luhur kepada para anggotanya, dinilai mulai semakin luntur. Para anggota masyarakat dalam mengapresiasi fungsi keluarga mengalami pergeseran dan perubahan. Keluarga tidak lagi dipandang sebagai &#8220;institusi&#8221; dan yang menjadi satu-satunya wadah yang cukup akomodatif dan adaptif terhadap selera dan atmosfer zaman yang sulit diduga.</p>
<p align="justify">Kondisi tersebut, mungkin ya Mak, juga dipengaruhi oleh pergeseran peran orangtua, yang semula diyakini sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap upaya pewarisan nilai dan tradisi, kini telah tereduksi sebagai pihak yang secara biologis sekadar menghadirkan seorang anak ke muka bumi. Bahkan, dalam banyak hal, orangtua sekadar dipahami sebagai pihak yang hanya memiliki otoritas ekonomi dalam rentang waktu tertentu hingga anak dinilai dewasa.</p>
<p align="justify">Seiring dengan itu, Mak, pandangan anak terhadap orangtua pun tidak lagi &#8220;sakral&#8221; dengan bentuk penghormatan yang optimal dan proporsional. Hubungan anak dengan orangtua melulu sebagai hubungan darah &#8220;kekerabatan&#8221; yang kehilangan basis moral dan spiritualnya. Tidaklah mengherankan kalau generasi masa kini menjadi sulit menerima petuah dan nasihat luhur orangtua. Mereka telah memiliki &#8220;referensi&#8221; tersendiri yang cocok dengan gejolak naluri purbanya.</p>
<p align="justify">&#8220;Anak buah&#8221; teknologi yang begitu canggih mentransfer berbagai bentuk kemasan informasi dan hiburan, menyebabkan anak-anak menjadi rentan terhadap imaji kekerasan, kemanjaan, kemunafikan, dan hipokrit. Anak menjadi kehilangan kepekaan terhadap makna kearifan hidup. Sikap sabar, tawakal, tabah, telaten, dan tahan uji telah menjelma ke dalam sikap hidup instan, kehilangan naluri &#8220;proses&#8221; dalam mendapatkan sesuatu. Kota-kota besar yang sarat gebyar materi akhirnya menjadi &#8220;ladang&#8221; subur bagi tumbuhnya generasi-generasi zaman yang menanggalkan sikap responsifnya terhadap iklim spiritual. Terjadi proses dereliginasi (pendangkalan agama), pembonsaian nilai-nilai kemanusiaan, dan involusi budaya di kalangan generasi muda. Bukan hal yang mustahil kalau sudah tak terbilang lagi jumlah remaja kita yang terjebak ke dalam lembah seks bebas, pesta &#8220;pilsetan”, penyalahgunaan obat terlarang, tindak kekerasan, dan kriminal, atau ulah amoral lainnya.</p>
<p align="justify">Fenomena yang penuh pengingkaran terhadap ajaran agama dan moral tersebut jelas membutuhkan intensitas peran ibu sebagai pencerah peradaban dalam lingkup keluarga, yang pada gilirannya nanti akan benar-benar mampu melahirkan generasi-generasi bangsa yang unggul dan pinunjul, maju, mandiri dan tahan uji, sehingga kelak sanggup menghadapi kerasnya tantangan peradaban di era global.</p>
<p>Mak, kadang-kadang aku juga cemas menyaksikan fenomena banyaknya kaum ibu yang berbondong-bondong meninggalkan rumah, menggeluti peran publiknya sebagai perempuan karier. Mampukah mereka memaksimalkan perannya di ranah domestik atau keluarga, ya, Mak? Sanggupkah sang ibu mengembalikan fungsi keluarga yang ideal di tengah kesibukannya menggeluti profesinya?
</p>
<p align="justify">Mak, aku juga pernah dengar dari para pejuang feminisme, kalau kaum Ibu juga dituntut untuk memberdayakan potensi dirinya, mewujudkan kebutuhan akan prestasi, dan mengaktualisasikan motivasi intelektualnya. </p>
<p align="justify">Kalau menurut pendapat awamku, Mak, kaum ibu idealnya menjadi sosok androgini; bisa tampil maskulin di ranah publik dengan capaian prestasi yang seimbang dengan kaum pria, sekaligus tidak menanggalkan sifat femininnya di ranah domestik yang tetap menjaga kelembutan, sikap keibuan, dan ketulusan kasih sayang terhadap suami dan anak-anak. Dengan sosok androgini ini, kaum ibu tetap akan mampu memaksimalkan perannya sebagai pencerah peradaban; peran luhur dan mulia yang sudah teruji lewat sejarah peradaban yang panjang, walaupun sang ibu sibuk meniti karier di panggung publik. Hanya saja, kaum pria mestinya tidak bersikap “arogan&#8221;, mempersempit ruang gerak kaum ibu di sektor publik, serta mau memberikan legitimasi terhadap kemampuan dan &#8220;kekuatan&#8221; internal kaum ibu. </p>
<p align="justify">Mitos <i>konco wingking </i>yang memosisikan kaum perempuan (ibu) sebagai makhluk kelas dua harus dibebaskan. Perlu keberanian kaum pria untuk mengakui posisi dan martabat kaum perempuan sebagai mitra yang benar-benar sejajar dengan dirinya. Sudah bukan saatnya lagi pembagian peran semata-mata didasarkan pada bias gender dan jenis kelamin <i>minded</i>, melainkan pada tingkat kapabilitas dan kredibilitasnya dalam mengakses peran. Dan alhamdulillah, semua peran itu telah Mak lakukan dengan sempurna, meski Mak bisa dibilang tak paham apa itu sosok androgini.</p>
<p align="justify">Mohon maaf, Mak, kalau surat ini terlalu panjang. Hanya sebatas inilah yang bisa aku lakukan untuk mengenang jasa dan pengorbananmu yang tak mungkin bisa aku balas, bahkan dengan darah dan nyawaku sekalipun. Terima kasih, Mak, dan mohon Mak berkenan menerima sembah sujud dan sungkemku dari jauh. Dirgahayu Hari Ibu, Mak!</p>
<p align="justify">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p align="justify">Tulisan ini saya publikasikan dalam rangka memeringati Hari Ibu, 22 Desember 2007.</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F21%2Fsurat-buat-mak-di-kampung%2F';
  addthis_title  = 'Surat+Buat+Mak+di+Kampung';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/21/surat-buat-mak-di-kampung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesetiakawanan Sosial dan Pengorbanan Ismail</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 15:52:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[Kesetiakawanan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir saja lupa kalau tanggal 20 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial. Sebuah momen penting yang diabadikan berdasarkan peristiwa bersejarah ketika terjalin kemanunggalan TNI dan rakyat persis sehari setelah agresi militer Belanda, 19 Desember 1948. Kekuatan sipil dan militer &#8220;berkolaborasi&#8221; ke dalam sebuah aksi patriorik yang terus menjalar dari kampung ke kampung, hingga akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Hampir saja lupa kalau tanggal 20 Desember telah ditetapkan sebagai <a href="http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=14">Hari Kesetiakawanan Sosial</a>. Sebuah momen penting yang diabadikan berdasarkan peristiwa bersejarah ketika terjalin kemanunggalan TNI dan rakyat persis sehari setelah agresi militer Belanda, 19 Desember 1948. Kekuatan sipil dan militer &#8220;berkolaborasi&#8221; ke dalam sebuah aksi patriorik yang terus menjalar dari kampung ke kampung, hingga akhirnya mampu mengenyahkan kekuatan kaum kolonial. Rakyat memberikan apa saja yang mereka punya untuk mendukung militer. Rakyat dari semua golongan turut bertempur, menolong, dan merawat para prajurit yang terbunuh maupun terluka. Sementara itu, kaum militer dengan  amat sadar membangun dan mengawal kesetiaan nurani untuk selalu dekat dan mengayomi rakyat.</p>
<p align="justify">59 tahun sudah momen historis itu berlalu. Ibu pertiwi telah melahirkan anak-anak bangsa dari generasi ke generasi. Peristiwa demi peristiwa pun terus bergulir membentuk mozaik kehidupan. Seiring dengan itu, masyarakat kita yang dulu begitu kuyup dengan nilai-nilai kesetiakawanan sosial, disadari atau tidak, makin abai, bahkan cenderung cuek terhadap nilai-nilai komunal. Serbuan egoisme dinilai telah menghanguskan kebersamaan dan kesetiaan dalam menjalin komunitas. Bagaimana tidak? Tahu kalau negeri ini masih dihuni oleh jutaan rakyat yang dililit kemelaratan, masih ada juga oknum yang tega menilap Raskin (Beras untuk Rakyat Miskin). Tahu kalau para korban bencana alam amat butuh uluran tangan, ketika bantuan datang, eh, diembat juga. *Aduh!*</p>
<p align="justify"><span id="more-292"></span>Masih adakah ruang dan <i>space</i> di negeri ini bagi nilai-nilai kesetiakawanan sosial untuk bersemayam? Masih bergetarkah gendang nurani kita saat melihat saudara-saudara kita yang terpaksa harus mengais sisa-sisa nasi di tong sampah karena tikaman nasib?</p>
<p align="justify">*Refleksi mode on*</p>
<p align="justify"><b><font color="#0000ff">(Saya sangat berterima kasih kepada sahabat saya yang sangat saya hormati, * tetapi maaf tidak perlu saya kemukakan identitasnya, yang telah berkenan menegur kebiasaan makan saya yang jelek yang masih suka menyisakan nasi di piring. Bener-bener saya terharu.  Merinding. Saat itu juga, dalam layar memori saya berkelebat jutaan petani yang bermandi keringat dibakar terik matahari untuk &#8220;menghidupi&#8221; perut kita. Juga saudara-saudara kita yang tak henti-hentinya mengais sisa-sisa nasi di tong-tong sampah. Pengalaman itu saya ceritakan kepada istri dan ketiga anak saya, juga saya tularkan kepada murid-murid saya. Saya lihat mata mereka memerah, menahan rasa haru. Betapa teguran sahabat saya itu telah mampu membuka mata hati saya, keluarga saya, dan mungkin juga murid-murid saya untuk selanjutnya kelak saya berharap mereka menuturkannya juga kepada anak cucu.)</font></b></p>
<p align="justify">*Refleksi mode off*</p>
<p align="justify">Masih berpura-pura tidak tahukah kita ketika banyak saudara kita yang harus berbulan-bulan mengungsi lantaran tempat huniannya ditenggelamkan oleh lumpur Lapindo? Masih tegakah kita mengeluarkan janji-janji untuk memenuhi uang ganti rugi, sementara kita dengan seenaknya memarkir uang di bank demi kita tilap bunga dan buahnya?</p>
<p align="justify">Sementara itu, pada tanggal yang sama, 20 Desember 2007, kita juga diingatkan kisah pengorbanan Ismail yang telah memfosil dan menyejarah dalam benak kita yang kemudian diabadikan sebagai Hari Raya Qurban.</p>
<p align="justify">Meminjam tulisan <a href="http://migas-indonesia.net/download/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=106&amp;Itemid=35" target="_blank">Swastioko Budhi Suryanto</a>, dalam Surat Ash Shaffat ayat 104-107 dijelaskan bahwa ibadah qurban berawal dari sebuah mimpi Nabi Ibrahim Alaihi Salam yang menggambarkan dirinya menyembelih putra tercintanya, Ismail sebagai bentuk persembahan dan bukti cinta kepada Allah SWT. Ibrahim sangat cemas, tetapi sang putra justru sangat bersemangat dan ikhlas bersedia menjadi qurban untuk disembelih. Meski pada akhirnya Allah tidak memperkenankan pengorbanan manusia, dan Ismail diganti dengan seekor domba yang dibawa langsung oleh Malaikat Jibril.</p>
<p align="justify">Dalam pemahaman  awam saya, jatuhnya momentum bersejarah dalam waktu yang bersamaan, bisa jadi sebagai &#8220;teguran&#8221; Sang Pencipta terhadap bangsa kita yang selama ini sudah telanjur asyik-masyuk dalam lingkaran hipokrisi, kepura-puraan, bahkan kebohongan. Kita sedemikian mudahnya berpura-pura miskin ketika beradu kening dengan seorang pengemis dan kaum dhuafa. Bahkan, jika perlu menghardiknya dengan umpatan-umpatan vulger. Sebaliknya, kita bisa dengan pongahnya berpura-pura kaya ketika menjalin relasi dengan orang-orang berkantong tebal. ***</p>
<p align="justify">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p align="justify">Mohon maaf, saya sedang belajar menulis postingan pendek, kawan, tanpa sisipan <i>image</i>. Untuk selanjutnya, silakan menerjemahkan lebih lanjut tentang makna kesetiakawanan sosial dan pengorbanan Ismail ini sebagai bahan refleksi di hari Natal dan Tahun Baru 2008.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>Selamat Hari Raya Idhul Adha 1428 H</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>Semoga semangat pengurbanan Ismail AS tetap bersemayam</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>dalam hati nurani kita untuk kembali merajut tali kesetiakawanan sosial</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>yang sempat terkoyak .</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff">****<br />
</font></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F19%2Fkesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail%2F';
  addthis_title  = 'Kesetiakawanan+Sosial+dan+Pengorbanan+Ismail';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru yang Dibenci Sekaligus Dirindukan</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/17/guru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/17/guru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 08:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/17/guru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan/</guid>
		<description><![CDATA[Saya seperti diingatkan Mas Moer. Saat blogwalking, saya temukan postingan terbaru  yang menarik dan menggelitik &#8220;Orasi didepan Guru Dungu&#8221;. Menarik karena ditulis oleh seorang siswa sebuah sekolah kejuruan yang usianya belum genap berkepala 2. Menggelitik lantaran bersifat reflektif, sehingga bisa menjadi &#8220;warning&#8221; bagi segenap komponen pendidikan untuk bersama-sama melakukan sebuah perubahan. Bahkan, postingan tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Saya seperti diingatkan Mas <a href="http://myresource.wordpress.com/" target="_blank">Moer</a>. Saat <em>blogwalking</em>, saya temukan postingan terbaru  yang menarik dan menggelitik &#8220;<a href="http://myresource.wordpress.com/2007/12/16/orasi-didepan-guru-dungu/" rel="bookmark">Orasi didepan Guru Dungu&#8221;</a>. Menarik karena ditulis oleh seorang siswa sebuah sekolah kejuruan yang usianya belum genap berkepala 2. Menggelitik lantaran bersifat reflektif, sehingga bisa menjadi &#8220;warning&#8221; bagi segenap komponen pendidikan untuk bersama-sama melakukan sebuah perubahan. Bahkan, postingan tersebut juga dilengkapi sebuah banner &#8220;<a href="http://myresource.files.wordpress.com/2007/12/banner-kekerasan.jpg?w=350&amp;h=145" target="_blank">Stop Kekerasan dalam mengajar!</a>&#8221;  (Lihat bannner karya Mas Moer yang saya pasang di bar samping! Gimana, keren, nggak? Hehehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  ) Sebuah &#8220;keberanian&#8221; yang layak diapresiasi. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana reaksi guru-gurunya ketika membaca postingan tersebut. Geram, tersipu, atau justru diam-diam mengagumi sikap kritis Mas <a href="http://myresource.wordpress.com/" target="_blank">Moer</a>.</p>
<p align="justify">Secara tersirat, Mas <a href="http://myresource.wordpress.com/" target="_blank">Moer</a> mengungkapkan kegelisahannya terhadap aksi kekerasan yang berlangsung di sekolah. Dia tidak sedang membual. Dia mengalami sendiri ditendang seorang guru gara-gara nongkrong di atas bangku untuk membetulkan tali sepatunya. *Halah, tragis amat.*</p>
<p align="justify"><span id="more-291"></span>Pada saat yang (hampir) bersamaan, saya mendapatkan <em>tracback </em>dari Bang <a href="http://guhpraset.wordpress.com/" target="_blank">Guhpraset</a>.   Postingannya &#8220;<a href="http://guhpraset.wordpress.com/2007/12/17/guru-digugu-ditiru-digugat-diburu/" title="GuRu, diGugu ditiRu diGugat dibuRu">GuRu, diGugu ditiRu diGugat dibuRu</a>&#8221; masih membicarakan seputar guru. *Halah, sosok guru ternyata masih menarik juga yak untuk diomongkan, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  * Dengan gaya khasnya, &#8220;sederhana, tulus, jujur&#8221;, Bang  <a href="http://guhpraset.wordpress.com/" target="_blank">Guhpraset</a> mengungkapkan kesan-kesan &#8220;apa adanya&#8221; tentang sosok guru yang pernah ditemui sepanjang sejarah kehidupannya. Ada Ibu Guru SD yang mengancam akan menjewer kupingnya jika tidak hapal perkalian 1 sampai 10, ada guru kesenian yang pernah menamparnya berkali-kali, ada Ibu Guru ngaji yang memprogram dan mencuci otaknya untuk membenci ajaran dan penganut agama-agama lain, bahkan ada juga guru Bahasa Indonesia yang suka berbicara dengan melecehkan. *Walah, banyak juga, yak!&#8221;</p>
<p align="justify">Sepanjang sejarah peradaban umat manusia, kehadiran guru agaknya menjadi sebuah keniscayaan. Kehadirannya diharapkan dapat mewarnai &#8220;kanvas&#8221; zaman. Di situlah tugas-tugas kemanusiaan dipertaruhkan. Dinamikanya pun mengalami pasang-surut. Kadang-kadang dibenci, tetapi sekaligus juga dirindukan.</p>
<p align="justify">Ketika masyarakat dunia menjadi satu atap dalam sebuah peradaban global, guru dihadapkan pada kondisi &#8220;anomie&#8221; &#8211;pinjam istilahnya Durkheim. Pada satu sisi, guru harus menanamkan nilai-nilai luhur hakiki, tetapi pada sisi yang lain, guru juga harus lentur dan fleksibel menghadapi perubahan. Perubahan sudah demikian nyata terjadi di depan mata. Bendera konsumtivisme, materialisme, bahkan juga hedonisme berkibar di setiap sudut dan lapisan masyarakat. Masyarakat makin abai terhadap persoalan-persoalan moral. Bahkan, cenderung bersikap permisif terhadap maraknya penyakit sosial yang berlangsung vulgar dan telanjang di depan mata. Perilaku korup, manipulasi, tawuran antarpelajar, pesta pil setan, atau ulah anomali sosial lainnya sudah dianggap sebagai hal yang wajar.</p>
<p align="justify">&#8220;Halah, moral itu kan urusan guru di sekolah! Buat apa sih repot-repot ikut ngurusin? Nanti guru ndak ada kerjaan!&#8221;  Hehehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />   Bisa jadi pertanyaan semacam itulah yang sempat meluncur dalam layar memori kita.</p>
<p align="justify"> <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/cuci-otak-siswa.gif" title="cuci-otak-siswa.gif"></a></p>
<p><a href="http://www.payer.de/religionskritik/karikaturK349.gif" target="_blank"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/cuci-otak-siswa.gif" alt="cuci-otak-siswa.gif" height="275" width="266" /></a></p>
<p align="justify">Disadari atau tidak, kini makin banyak keluarga yang ditindih berbagai macam kesibukan. Orang tua dinilai hanya sekadar menjalankan tugas-tugas biologisnya; melahirkan, membesarkan, atau mencarikan pasangan hidup kelak setelah dewasa. Selebihnya, tugas kultural dan kemanusiaan diserahkan guru sepenuhnya. Dalam kondisi demikian, seringkali nilai yang ditanamkan guru di sekolah tidak klop dengan kenyataan yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Guru menanamkan nilai-nilai kejujuran, kerendahhatian, keadilan, moral, atau budi pekerti. Namun, apa yang dilihat oleh anak-anak di tengah kehidupan masyarakat sungguh bertentangan secara diametral. Korupsi, arogansi kekuasaan, ketidakadilan, amoral, atau perilaku vandalistis lainnya marak terjadi. Aduh, guru seringkali &#8220;stress&#8221;, sehingga acapkali tidak sabar dan gagal membendung emosi. Tak ayal lagi, praktik kekerasan seorang guru kepada muridnya pun tak jarang terjadi, atau juga sebaliknya.</p>
<p align="justify">Kalau kondisi semacam itu terus berlangsung,  idiom &#8220;sekolah sebagai agen kebudayaan&#8221; bisa dipastikan hanya akan terapung-apung dalam slogan belaka. Semua komponen bangsa harus bersama-sama melakukan perubahan secara kolektif. Apa pun alasannya, motif-motif kekerasan mestinya pantang berlangsung dalam dunia persekolahan. Secara reflektif,  Dorothy Law Nolthe, mengingatkan:</p>
<blockquote><p> Jika anak dibesarkan dengan <font color="#ff0000">Celaan</font>, ia belajar <font color="#ff0000">Memaki</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#ff0000">Permusuhan</font>, ia belajar <font color="#ff0000">Berkelahi</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#ff0000">Cemoohan</font>, ia belajar <font color="#ff0000">Rendah Diri</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#ff0000">Penghinaan</font>, ia belajar <font color="#ff0000">Menyesali diri</font></p>
<p>Jika anak dibesarkan dengan <font color="#0000ff">Toleransi</font>, ia belajar <font color="#0000ff">Menahan Diri</font><br />
Jika anakdibesarkan dengan <font color="#0000ff">Dorongan</font>, ia belajar <font color="#0000ff">Percaya diri</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#0000ff">Pujian</font>, ia belajar <font color="#0000ff">Menghargai</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#0000ff">Sebaik-baik perlakuan</font>, ia belajar<font color="#0000ff"> Keadilan</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan<font color="#0000ff"> Rasa aman</font>, ia belajar <font color="#0000ff">Menaruh Kepercayaan</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#0000ff">Dukungan</font>, ia belajar <font color="#0000ff">Menyenangi Dirinya</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#0000ff">Kasih sayang &amp; Persahabatan</font>, ia belajar menemukan<font color="#0000ff"> Cinta</font> dalam Kehidupannya</p></blockquote>
<p align="justify">Semoga akhir tahun 2007 memberikan banyak pengalaman berharga bagi insan pendidikan sehingga mampu merumuskan misi 2008 secara visioner. Untuk selanjutnya, diimplementasikan secara nyata. Semoga! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F17%2Fguru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan%2F';
  addthis_title  = 'Guru+yang+Dibenci+Sekaligus+Dirindukan';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/17/guru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Perlu Bersikap Reaktif!</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/09/tak-perlu-bersikap-reaktif/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/09/tak-perlu-bersikap-reaktif/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2007 10:05:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[nasionalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/09/tak-perlu-bersikap-reaktif/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari belakangan ini banyak teman bloger yang terusik oleh kehadiran blog I hate Indon. Pasalnya, kehadiran blog ini dianggap makin memperkeruh suasana panas yang sudah lama terpicu oleh arogansi negeri jiran kita yang sudah berkali-kali menjadi tukang stempel budaya kita dengan branding Malingsia. Walhasil, tensi kita yang sudah lama memuncak ke ubun-ubun makin tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Beberapa hari belakangan ini banyak teman bloger yang terusik oleh kehadiran blog <a href="http://ihateindon.blogspot.com/" target="_blank">I hate Indon.</a> Pasalnya, kehadiran blog ini dianggap makin memperkeruh suasana panas yang sudah lama terpicu oleh arogansi negeri jiran kita yang sudah berkali-kali menjadi tukang stempel budaya kita dengan <em>branding</em> Malingsia. Walhasil, tensi kita yang sudah lama memuncak ke ubun-ubun makin tak sabar untuk melakukan tindakan emosional berbau dendam &#8211;juga dibalut sikap nasionalisme&#8211; sebagai bukti bahwa kita bukan bangsa &#8220;bekicot&#8221; yang gampang dipermainkan. Hampir tak ada sisa 1/1000 space pun bagi <a href="http://ihateindon.blogspot.com/" target="_blank">I hate Indon</a> untuk sedikit berbaik hati dengan bangsa kita. Simbol-simbol negara semacam Sang <a href="http://ihateindon.blogspot.com/2007/12/ganyang-indon-teriak-polandia.html" target="_blank">Saka Merah Putih atau Burung Garuda</a> pun diembatnya juga. Bahkan, juga mengaitkannya dengan Polandia yang &#8211;bisa jadi&#8211; dimaksudkan untuk menghasut bangsa berbendera putih-merah itu. Berikut ini skrinsut-nya.</p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/ganyang-indon.gif" title="ganyang-indon.gif"></a></p>
<p><a href="http://ihateindon.blogspot.com/2007/12/ganyang-indon-teriak-polandia.html" target="_blank"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/ganyang-indon.gif" alt="ganyang-indon.gif" /></a></p>
<p align="justify">*Makin mendidih darah di ubun-ubun.*</p>
<p align="justify"><span id="more-287"></span>Iseng-iseng, saya pun tanya <a href="http://www.google.co.id/search?q=i+hate+indon&amp;ie=utf-8&amp;oe=utf-8&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;client=firefox-a" target="_blank">Om Google</a>.  Ada banyak tulisan yang membahas kehadiran <a href="http://ihateindon.blogspot.com/" target="_blank">I hate Indon</a>. Salah satu di antaranya adalah blog Bung <a href="http://inipunyapaw.wordpress.com/2007/12/07/i-hate-indon/" target="_blank"><strong>Prasetyo Andy Wicaksono</strong></a><strong>. </strong>Menurut analisis Bung Pras, pemilik <a href="http://ihateindon.blogspot.com/" target="_blank">I hate Indon</a> adalah orang Indonesia sendiri yang besar di Jakarta. Alasannya?</p>
<blockquote>
<p align="justify">Karena pada beberapa postingan yang dia tulis sendiri [karena ada beberapa yang merupakan saduran dari website2 berita Malaysia, yang sepertinya sudah diubah-ubah biar yang baca tambah panas], dia menggunakan bahasa gaul Indonesia dengan sangat fasih.</p>
</blockquote>
<p>Itulah analisis Bung Pras. Lantas, saya pun kembali iseng untuk melihat profil pemilik <a href="http://ihateindon.blogspot.com/" target="_blank">I hate Indon</a>. Berikut ini skrinsutnya.</p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/i-hate-indon.gif" title="i-hate-indon.gif"></a></p>
<p><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/i-hate-indon.gif" alt="i-hate-indon.gif" /></p>
<p align="justify">Ternyata, pemilik <a href="http://ihateindon.blogspot.com/" target="_blank">I hate Indon</a> adalah seorang konsultan yang tinggal di Jakarta, Bekasi, Indonesia. Benar atau tidak profil yang ditampilkan oleh sang pemilik, itulah yang masih menjadi tanda tanya. Tapi, agaknya tulisan Mas <a href="http://musadiqmarhaban.wordpress.com/2007/12/07/malaysia-malay-sial/" target="_blank">Muhammad Musadiq Marhaban</a> makin membuktikan bahwa orang-orang Malaysia masih banyak yang waras juga. <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Mudah-mudahan benar adanya. Di tengah-tengah memanasnya situasi semacam itu, agaknya memang diragukan kebenarannya kalau pemilik <a href="http://ihateindon.blogspot.com/" target="_blank">I hate Indon</a> benar-benar orang Malingsia.</p>
<p align="justify">*Tensi mulai menurun.*</p>
<p align="justify">Ya, ya, yah, kita berharap, mudah-mudahan &#8220;perang&#8221; itu tak terjadi. Bagaimanapun juga, antara Indonesia dan Malaysia pernah membangun sejarah peradaban sebagai bangsa bertetangga yang ikut berkiprah dalam membangun peradaban dunia yang *halah* rukun dan damai melalui <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Association_of_Southeast_Asian_Nations" target="_blank">ASEAN</a>. Ini artinya, kita tak perlu &#8211;menurut hemat saya&#8211; bersikap reaktif dan terprovokasi oleh kehadiran sebuah blog yang &#8211;mungkin&#8211; sengaja dibuat untuk menambah panasnya situasi.</p>
<p align="justify">Persoalannya sekarang, kalau pemilik <a href="http://ihateindon.blogspot.com/" target="_blank">I hate Indon</a> itu memang bukan orang Malaysia, lantas siapa? Kalau memang benar ulah bangsa kita sendiri, lantas siapakah dia sesungguhnya? Barangkali ada bloger &#8220;detektif&#8221; &#8212; seperti <a href="http://mbelgedez.wordpress.com/" target="_blank">Mas Mbelgedez</a> yang dulu &#8220;sukses&#8221; nguber-uber si Ratu Bloger &#8212; yang berkenan untuk menyelidikinya? *Halah, kayak ndak ada kerjaan sajah!!!*</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F09%2Ftak-perlu-bersikap-reaktif%2F';
  addthis_title  = 'Tak+Perlu+Bersikap+Reaktif%21';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/09/tak-perlu-bersikap-reaktif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
