<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MGMP BAHASA INDONESIA SMP &#187; Bahasa</title>
	<atom:link href="http://bindosmp.edublogs.org/category/bahasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bindosmp.edublogs.org</link>
	<description>Media Berbagi dan Bersilaturahmi antarguru</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Aug 2008 05:37:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Diskusi Sastra dan Pembacaan Puisi Karya Dharmadi</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/08/20/diskusi-sastra-dan-pembacaan-puisi-karya-dharmadi/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/08/20/diskusi-sastra-dan-pembacaan-puisi-karya-dharmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 05:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[baca puisi]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[

Teater Semut Kendal kembali menggelar Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan puisi-puisi karya Dharmadi (penyair dari Purwokerto). Pembacaan puisi akan dilakukan oleh sang penyair dan awak Teater Semut secara teatrekal.
Acara tersebut digelar pada:
hari, tanggal: Minggu, 24 Agustus 2008
pukul: 09.00 WIB s.d. selesai
tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 62 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Teater Semut Kendal kembali menggelar Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan puisi-puisi karya Dharmadi (penyair dari Purwokerto). Pembacaan puisi akan dilakukan oleh sang penyair dan awak Teater Semut secara teatrekal.</p>
<p>Acara tersebut digelar pada:</p>
<p>hari, tanggal: Minggu, 24 Agustus 2008</p>
<p>pukul: 09.00 WIB s.d. selesai</p>
<p>tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 62 Kendal</p>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<p><strong>Kontribusi peserta:</strong></p>
<p>a. Guru sebesar Rp30.000,00 perorang (buku, sertifikat, dan kudapan)</p>
<p>b. Pelajar/Umum sebesar Rp15.000,00 perorang (sertifikat dan kudapan)</p>
<p>Pendaftaran dapat dilakukan via kontak person: 081575463844, 085226251543<br />
Usai pentas baca puisi dilanjutkan dengan Diskusi Sastra yang akan mengupas habis tentang penulisan teks puisi secara kreatif. Acara tersebut jelas akan sangat berarti bagi teman-teman sejawat guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kabupaten Kendal dalam upaya memberikan apresiasi sastra kepada sang pengarang sekaligus sebagai bekal menyajikan materi penulisan puisi secara kreatif kepada siswa didik. Segala hal yang berkaitan dengan masalah penulisan puisi akan dikupas habis-habisan oleh sang penulis. Mohon untuk berkenan hadir. Terima kasih.</p>
<p><strong>Salam Budaya,</strong></p>
<p>Sawali Tuhusetya</p>
</div>
</div>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F08%2F20%2Fdiskusi-sastra-dan-pembacaan-puisi-karya-dharmadi%2F';
  addthis_title  = 'Diskusi+Sastra+dan+Pembacaan+Puisi+Karya+Dharmadi';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/08/20/diskusi-sastra-dan-pembacaan-puisi-karya-dharmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembacaan Cerpen Budi Maryono dan Diskusi Sastra</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 14:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[mgmp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[

Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Pembacaan cerpen akan dilakukan oleh sang cerpenis dan awak Teater Semut secara teatrekal.
Acara tersebut digelar pada:
hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008
pukul; 09.00 WIB s.d. selesai
tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Pembacaan cerpen akan dilakukan oleh sang cerpenis dan awak Teater Semut secara teatrekal.</p>
<p>Acara tersebut digelar pada:</p>
<p>hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008</p>
<p>pukul; 09.00 WIB s.d. selesai</p>
<p>tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 42 Kendal</p>
<p>keterangan:</p>
<p>1. kontribusi peserta Rp50.000,00 perorang</p>
<p>2. peserta mendapatkan sertifikat</p>
<p>3. peserta mendapatkan 1 (satu) buah buku kumpulan cerpen</p>
<p>4. kudapan</p>
<p>Usai pentas baca cerpen dilanjutkan dengan Diskusi Sastra yang akan mengupas habis tentang penulisan teks cerpen secara kreatif. Acara tersebut jelas akan sangat berarti bagi teman-teman sejawat guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kabupaten Kendal dalam upaya memberikan apresiasi sastra kepada sang pengarang sekaligus sebagai bekal menyajikan materi penulisan cerpen secara kreatif kepada siswa didik. Segala hal yang berkaitan dengan masalah penulisan cerpen akan dikupas habis-habisan oleh sang penulis. Mohon untuk berkenan hadir. Terima kasih.</p>
<p><strong>Salam Budaya,</strong></p>
<p>Sawali Tuhusetya</p>
</div>
</div>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F07%2F13%2Fpembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra%2F';
  addthis_title  = 'Pembacaan+Cerpen+Budi+Maryono+dan+Diskusi+Sastra';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Wejangan&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 13:29:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan &#8220;pesta&#8221; pergantian tahun, 18 &#8220;cantrik&#8221; dari &#8220;Padepokan&#8221; STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru &#8220;menyepi&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo itu mulai &#8220;bertapa&#8221; sejak Sabtu, 29 Desember hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan &#8220;pesta&#8221; pergantian tahun, 18 &#8220;cantrik&#8221; dari &#8220;Padepokan&#8221; STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru &#8220;menyepi&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo itu mulai &#8220;bertapa&#8221; sejak Sabtu, 29 Desember hingga Senin, 31 Desember 2007. Ada banyak &#8220;jurus&#8221; yang hendak diasah dalam &#8220;kawah candradimuka&#8221; itu, seperti manajemen pertunjukan, imajinasi, refleksi diri, olah tubuh, pernapasan dan vokal, penyutradaraan, keaktoran, make-up, artistik, kepekaan indera, improvisasi gerak dan kata, penciptaan, dan penyajian.</p>
<p align="justify">Ya,  para &#8220;cantrik&#8221; itu adalah beberapa gelintir anak muda yang telah berniat memilih dunia sastra dan teater sebagai bagian dari &#8220;panggilan&#8221; hidup. Sebuah dunia yang (nyaris) tidak banyak diminati oleh anak-anak muda di tengah-tengah gencarnya gerusan nilai materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme. Di bawah gemblengan Aslam Kussatyo, dedengkot teater Kota Kendal, mereka sengaja mengisolir diri menjelang pergantian tahun untuk melakukan refleksi,  berimajinasi,  mengolah daya cipta, dan berlatih jurus-jurus bermain teater.</p>
<div align="justify"><span id="more-308"></span>Saya yang kebetulan didaulat untuk memberikan &#8220;wejangan&#8221; kepada para &#8220;cantrik&#8221; di sebuah &#8220;pertapaan&#8221; yang dkelilingi banyak bukit itu pun tak kuasa menolak.  Di bawah &#8220;ancaman&#8221; cuaca buruk yang membadai, saya langsung memacu sepeda <strike>kumbang</strike> motor *halah* di atas jalan berlubang. Guyuran hujan rintik-rintik dan jalanan yang licin tak menyurutkan nyali saya *halah* untuk segera bertemu dengan para &#8220;cantrik&#8221; yang sedang &#8220;ngangsu kaweruh&#8221; masalah teater dan sastra itu.</div>
<div align="justify"> <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" title="aslam42.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" title="aslam42.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" alt="aslam42.jpg" height="290" width="485" /></a></div>
<p align="center"> Saya dan &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo di depan para &#8220;cantrik&#8221;.</p>
</div>
<div align="justify">   <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" title="aslam7ok.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" title="aslam7ok.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" alt="aslam7ok.jpg" /></a></div>
<p align="center"> Membeberkan *halah* &#8220;wejangan&#8221; sastra di depan para &#8220;cantrik&#8221;.</p>
<p align="center">*Maaf kawan, fotonya kabur, cuaca mendung dan berkabut, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Alasan klise*</p>
</div>
<div align="justify">Inilah &#8220;wejangan&#8221; yang saya &#8220;khotbah&#8221;-kan kepada mereka.</div>
<div align="center"><b>Kreativitas dalam dunia Penciptaan Teks Sastra</b></div>
<p align="justify">“Jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri.”<br />
(Seno Gumira Ajidarma:1997)<br />
***<br />
Kreativitas berkaitan dengan kemampuan daya cipta. Kehidupan berkaitan dengan penafsiran nilai-nilai hidup dan kehidupan yang bermakna dalam upaya meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam dunia penciptaan teks sastra, seorang penulis, mau atau tidak, harus mampu memadukan dua “kekuatan” itu sekaligus dalam teks-teks ciptaannya.
</p>
<p align="justify"> Dunia sastra sangat berkaitan dengan dunia yang tidak kasat mata. Teks sastra menyajikan persoalan hidup dan kehidupan secara fiktif, tetapi secara moral dan logika harus dapat ”dipertanggungjawabkan”. Bisa saja seorang penulis menyajikan konflik perjalanan hidup seorang pencandu narkotika yang tega menyiksa diri dan merusak masa depannya melalui ”pil atau serbuk setan”, misalnya. Namun, peristiwa yang digambarkan tetap harus utuh dan menampakkan kewajaran dari sisi moral dan logika. Jadi, meskipun hanya merupakan karya imajinatif, teks sastra tetap harus menampakkan keutuhannya sebagai teks yang runtut penalarannya.</p>
<p align="justify"> Emha Ainun Najib mengatakan, pekerjaan sastra memang merupakan pekerjaan halus, pekerjaan rohaniah. Namun, bagi yang berminat mengembangkan bakatnya tidak sesulit menekuni olahraga. Jika dalam sepak bola aturan-aturan main harus dipahami sebelum main sepak bola, sedangkan sastra &#8211;meski belum jelas; apakah itu soal kosa kata, dan sebagainya&#8211; tulis saja terus, sambil mencari waktu membaca karya sastra, kemudian karya tersebut disimpan, dibaca lagi, diperbaiki lagi, diendapkan lagi.</p>
<p align="justify"> &#8220;Semua penyair/cerpenis mengalami kesulitan menulis. Kalau tak demikian, tak lahir karya bermutu. Jadi, tulis saja dulu, meski katanya keliru, nanti akan ada komparasi, perbaiki kekeliruan, supaya ada dialektika dengan diri. Puisi menarik karena ia merangsang pikiran. Bisa saja dalam sebuah karya ada analisis sosiologis, antropologis dan sebagainya,&#8221; ungkap Emha. Hal senada juga dikemukakan Wisran Hadi. Menurutnya, bila banyak &#8220;peraturan&#8221; atau teori justru bisa jadi penghambat dalam menulis. Untuk itu, jangan peduli dulu dengan aturan ini-itu, yang penting menulis, dan terus menulis. Nah, bagaimana, menulis teks sastra tak perlu teori, bukan?<br />
***
</p>
<p align="justify">Bagaimana mengawali penulisan teks sastra? Tidak usah mempersulit diri. Apa pun yang ada di sekitar kita bisa dijadikan bahan cerita. Teman yang putus cinta, konflik dengan orang tua, gagal naik kelas, kecelakaan lalu lintas, korban narkoba, dan semacamnya bisa diracik menjadi sebuah teks yang menarik. Jadi, kita mesti jeli mengamati berbagai peristiwa yang berlangsung dalam kehidupan di sekitar kita sehari-hari. Lalu, sajikan peristiwa itu secara menarik dengan menggunakan kata-kata yang ekspresif. Ekspresif artinya mampu menyajikan peristiwa dengan menggunakan kata-kata yang dapat menggambarkan apa yang dilihat, didengar, diraba, dicium, atau dirasakan oleh penulis secara tepat. Hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan ungkapan (idiom), majas, atau ujaran langsung.</p>
<p align="justify"> Coba perhatikan kutipan cerpen berikut!</p>
<p align="justify"><i> “Melati … Melati … harum dan mewangi …”<br />
Setiap potongan syair dangdut itu terdengar, para tetangga segera paham, Sarkawi baru saja pulang dari hutan. Ia pasti sedang terlihat leyeh-leyeh, sembari  memeluk kucingnya.<br />
Mulanya para tetangga memang merasa aneh dengan dendang Sarkawi. Ya, selama ini ia lebih dikenal akrab dengan tembang Jawa atau lagu-lagu tayuban, baik dari mulutnya maupun dari radio kotaknya yang besar itu. Tapi, mereka kemudian mengerti juga, syair dangdut itu ternyata bukan pertanda peralihan selera. Bukan. Ia hanya ungkapan sayang bagi momongannya, si Melati.<br />
</i></p>
<p align="justify"><i> Kalau saja punya cucu, Pak Wi, begitu lelaki pencari kayu bakar itu dipanggil, tentu pantas dipanggil kakek. Tapi, jangankan kok cucu, sampai usianya yang menginjak senja, seorang anak pun tak ia miliki. Pernah memang seorang bocah mewarnai kehidupannya, perempuan lagi. Tapi nasib malang merenggut hidup bocah itu ketika belum genap berumur 10 tahun. Sejak itu, Pak Wi dan istrinya tak pernah lagi dikaruniai seorang anak pun. Sebenarnya ada keinginan untuk memungut anak dari famili atau tetangga. Namun, hidupnya yang tak pernah lepas dari kesulitan membuat keinginan itu hanya sebagai keinginan …<br />
</i></p>
<div align="right"> (Dikutip dari cerpen “Melati” karya Mahfud Ikhwan)</div>
</p>
<p align="justify"> Struktur cerpen terbentuk dari lima unsur yang saling berkaitan, yaitu perbuatan, penokohan, latar, sudut pandang, dan alur (plot). Tokoh yang dikisahkan melakukan perbuatan atau tindakan yang terjadi pada waktu dan tempat (latar) tertentu berdasarkan tahapan-tahapan tertentu (plot) dari sudut pandang (pusat pengisahan) penulisnya. Daya pikat sebuah teks cerpen sangat ditentukan oleh keterampilan sang penulis dalam menyatukan unsur-unsur cerita sehingga mampu merangsang minat  pembaca untuk mengetahui jalan cerita selanjutnya.</p>
<p align="justify"> Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah membangun karakter tokoh. Ada banyak cara yang bisa digunakan, di antaranya:</p>
<div align="justify">
<ul>
<li>Melalui ucapan-ucapan si tokoh: Ucapan si tokoh dalam menggambarkan karakternya. Orang yang sopan tentu berbeda cara ngomongnya dengan orang yang bengal. Orang pemarah tentu beda cara ngomongnya dengan orang yang penyabar. Demikian seterusnya.</li>
<li>Melalui pemberian nama: Dalam kehidupan nyata, nama seseorang memang tidak identik dengan sifat dan perilaku orang tersebut. Namun, dalam dunia fiksi, kita bisa memberikan nama-nama tertentu untuk memberikan kesan karakter yang berbeda-beda. Misalnya, nama Dewi cenderung berkesan anggun dan keibuan. Sedangkan, nama Susan cenderung berkesan centil dan genit. Pemberian nama juga hendaknya disesuaikan dengan setting cerita dan karakter etnis dari tokoh tersebut. Misalnya, aneh rasanya jika kamu menceritakan seorang tokoh yang beragama kristen, tetapi dia bernama Abdullah. Atau, kamu menceritakan tentang seorang tokoh yang ber-etnis Jawa, dan sejak lahir hingga dewasa tinggal di Kendal, tetapi dia bernama Michael. Kalaupun kamu harus memberikan nama yang seperti itu, hendaknya kamu memberikan penjelasan yang memadai mengenai hal itu (mengapa orang Jawa yang sejak lahir tinggal di Kendal bisa punya nama Michael, dan sebagainya)</li>
<li>Melalui diskripsi yang disampaikan oleh si penulis: Ini adalah cara yang cukup umum dan gampang. Contohnya: &#8220;Wina adalah gadis yang amat penyabar, ia selalu memulai ucapannya dengan senyuman.&#8221;</li>
<li>Melalui pendapat tokoh-tokoh lainnya di dalam karya tersebut, contoh: <i>Nia berkata, &#8220;Joko itu pelit banget deh. Masa udah ketahuan di dompetnya banyak duit, dia ngaku lagi bokek!&#8221;</i></li>
<li>Melalui sikap atau reaksi si tokoh terhadap kejadian tertentu, contoh: <i>Ketika seorang anak memecahkan gelas, apa yang dilakukan ibunya? Dalam hal ini, kita harus merumuskan dulu secara jelas, bagaimana karakter si ibu. Apakah dia pemarah, penyabar, suka mencaci-maki, dan sebagainya. Jika yang diceritakan adalah seorang ibu yang penyabar dan penuh pengertian, tentu tidak akan membuat kalimat yang menceritakan bahwa si ibu marah besar lalu memaki-maki anaknya.</i></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Jangan sekali-lagi merusak karakter tokoh dengan hal-hal yang kontradiktif. Misalnya: kamu menceritakan tentang tokoh Ali yang penyabar dan selalu santun dalam bicara. Namun dalam sebuah bagian cerita, kamu membuat kalimat seperti ini: Ali sangat terkejut mendengar cerita Hasan. Dadanya bergemuruh, mukanya merah, dan ia menatap Hasan penuh kebencian. &#8220;Bajingan loe!&#8221; teriaknya dengan kasar.<br />
***<br />
Teks sastra yang kamu buat akan menjadi lebih bermakna jika dibaca orang lain. Oleh sebab itu, kamu perlu memublikasikan teks karyamu ke media massa, majalah sekolah/remaja/umum, koran, atau tabloid. Sekarang ini, cerpen/puisi ”dimanjakan” oleh berbagai media. Hampir setiap penerbitan selalu menyediakan rubrik cerpen/puisi. Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ada baiknya, kamu memiliki beberapa alamat redaksi majalah/koran. Lebih bagus lagi jika memiliki alamat e-mail; lebih murah dan praktis.</p>
<p align="justify"> Jangan putus asa kalau gagal dimuat. Resep menjadi penulis sukses tidak mengenal putus asa dalam kamus hidupnya. Yang penting menulis, menulis, dan menulis. Yang tidak kalah penting, kamu harus banyak membaca teks sastra yang dimuat di berbagai koran atau majalah. Kalau mengalami kebuntuan dalam menulis?<br />
Salinlah beberapa paragraf atau halaman dari buku kesukaanmu.</p>
<ul>
<li>Tirulah gaya penulis favoritmu.</li>
<li>Berusahalah menulis dengan gaya yang baru bagimu.</li>
<li> Petakan kebuntuanmu menulis dalam bentuk gambar. Gunakan imajinasimu. Gambarlah apa saja. Melalui kegiatan ini “kedua belah otak” kamu bekerja dan merangsang pikiran kreatif.</li>
</ul>
<p align="justify">(Sebagian &#8220;wejangan&#8221; saya &#8220;curi&#8221; dari berbagai sumber yang saya sendiri sudah lupa dari  mana dulu saya &#8220;mencuri&#8221; <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  )</p>
<p align="justify">***</p>
<p align="justify">Tentu saja, mereka tidak puas hanya sekadar mendengarkan &#8220;wejangan-wejangan&#8221; yang tidak jelas juntrungnya itu, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />   Mereka saya beri kebebasan untuk ngomong apa saja. Bertanya dan berdiskusi pun jadilah. Hangat dan menarik. Ada keluguan dan kepolosan. Ada juga kekenesan.</p>
<p align="justify">Walhasil, saya pun meminta mereka untuk menerapkan &#8220;jurus-jurus&#8221; dalam menulis; puisi dan cerpen. Beragam jadinya. Ada yang bicara soal &#8220;Pohon Cinta&#8221;, &#8220;Terlambat&#8221;, &#8220;Putri Malu&#8221;, atau &#8220;Durian&#8221;. Macam-macamlah pokoknya. Tanpa terasa selama 3 jam saya menemani para &#8220;cantrik&#8221; itu. Hasilnya pun belum kelihatan memang. Namun, melihat semangat dan talenta yang mereka miliki, saya punya keyakinan, kelak akan muncul penulis dan penggiat sastra baru dari para &#8220;cantrik&#8221; yang baru saja usai melakukan &#8220;pertapaan&#8221; di Cokrokembang itu. Semoga! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F31%2Fwejangan-di-pertapaan-cokrokembang%2F';
  addthis_title  = '%26%238220%3BWejangan%26%238221%3B+di+%26%238220%3BPertapaan%26%238221%3B+Cokrokembang';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi Kelompok Terbimbing Model Tutor Sebaya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/30/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/30/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 19:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[metode pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasiona]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/30/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/</guid>
		<description><![CDATA[Rendahnya mutu pendidikan Indonesia telah banyak disadari oleh berbagai pihak, terutama oleh para pemerhati pendidikan di Indonesia. Rendahnya mutu pendidikan ini dapat dilihat, antara lain, dari rendahnya rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) untuk semua bidang studi yang di-UN-kan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Berdasarkan kenyataan tersebut perlu ada upaya serius untuk meningkatkan nilai UN agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rendahnya mutu pendidikan Indonesia telah banyak disadari oleh berbagai pihak, terutama oleh para pemerhati pendidikan di Indonesia. Rendahnya mutu pendidikan ini dapat dilihat, antara lain, dari rendahnya rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) untuk semua bidang studi yang di-UN-kan, baik di tingkat nasional maupun daerah.</p>
<p>Berdasarkan kenyataan tersebut perlu ada upaya serius untuk meningkatkan nilai UN agar anak-anak bangsa yang kini tengah gencar menimba ilmu di bangku pendidikan benar-benar dalam kondisi siap untuk menghadapi UN. Para siswa didik, khususnya kelas IX, harus diberikan bekal yang cukup memadai sehingga mampu mengerjakan soal-soal UN dengan baik.</p>
<p>Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya nilai UN yang dicapai oleh SMP. <i>Pertama</i>, kurangnya motivasi siswa didik untuk meraih nilai akademis yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh situasi dan kondisi pendidikan dalam lingkungan keluarga yang kurang mendukung.</p>
<p><span id="more-305"></span><i>Kedua, </i>merebaknya sikap instan yang melanda kehidupan kaum remaja. Hal ini disebabkan oleh kuatnya sikap permisif masyarakat yang cenderung membiarkan berbagai perilaku anomali sosial berlangsung di tengah-tengah panggung kehidupan sosial. Masyarakat yang seharusnya menjadi kekuatan kontrol untuk ikut menanggulangi berbagai persoalan sosial yang kurang sehat cederung bersikap permisif dan masa bodoh. Sikap instan yang ingin meraih sukses tanpa kerja keras pun dinilai sebagai hal yang wajar terjadi.</p>
<p><i>Ketiga</i>, guru dinilai kurang kreatif dalam melakukan inovasi pembelajaran, baik dalam pemilihan materi ajar, metode pembelajaran, maupun media pembelajaran, sehingga siswa didik cenderung pasif dan bosan dalam menghadapi atmosfer pembelajaran di kelas. Suasana kelas bagaikan “kerangkeng penjara” yang pengap dan sumpek; tanpa ada celah “kebebasan” bagi peserta didik untuk menikmati kegiatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Yang lebih mencemaskan, siswa didik diperlakukan bagaikan “tong sampah” ilmu pengetahuan yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu, tanpa memiliki kesempatan untuk melakukan pendalaman, refleksi, dan dialog.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman empiris, kurang kreatifnya guru dalam melakukan inovasi pembelajaran memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kemampuan siswa dalam dalam menguasai kompetensi yang seharusnya dicapai. Metode drill yang dilakukan menjelang pelaksanaan UN, dinilai terlalu banyak memberikan intervensi dan tekanan psikologis kepada siswa. Akibatnya, siswa cenderung hanya mampu menjadi penghafal kelas wahid daripada menjadi seorang pembelajar yang haus ilmu pengetahuan. Mereka diperlakukan secara mekanis bagaikan robot sehingga tidak memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi dan pendalaman materi ajar.</p>
<p>Dalam konteks demikian, diperlukan upaya serius dari para guru pengampu mata pelajaran yang diujikan secara nasional, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, dan IPA untuk melakukan perubahan penggunaan metode drill. Salah satu metode yang diduga mampu membuat suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan ketika siswa mempelajari materi UN adalah metode diskusi kelompok model tutor sebaya. Melalui metode ini, siswa bisa berdialog dan berinteraksi dengan sesama siswa secara terbuka dan interaktif di bawah bimbingan guru sehingga siswa terpacu untuk menguasai bahan ajar yang disajikan sesuai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah ditetapkan.</p>
<p>Diskusi kelompok terbimbing dengan model tutur sebaya merupakan kelompok diskusi yang beranggotakan 5-6 siswa pada setiap kelas di bawah bimbingan guru mata pelajaran dengan menggunakan tutor sebaya. Tutur sebaya adalah siswa di kelas tertentu yang memiliki kemampuan di atas rata-rata anggotanya yang memiliki tugas untuk membantu kesulitan anggota dalam memahami materi ajar. Dengan menggunakan model tutor sebaya diharapkan setiap anggota lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yang dihadapi sehingga siswa yang bersangkutan terpacu semangatnya untuk mempelajari materi ajar dengan baik.</p>
<p><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/tutot-sebaya.jpg" title="tutot-sebaya.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/tutot-sebaya.jpg" title="tutot-sebaya.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/tutot-sebaya.jpg" alt="tutot-sebaya.jpg" height="415" width="574" /></a></div>
<p>Untuk menghidupkan suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Oleh karena itu, selain aktivitas anggota kelompok, peran ketua kelompok atau tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari materi ajar yang disajikan. Ketua kelompok dipilih secara demokratis oleh seluruh siswa. Misalnya, jika di suatu kelas terdapat 46 siswa, berarti ada 9 kelompok dengan catatan ada satu kelompok yang terdiri atas 6 siswa. Sebelum diskusi kelompok terbentuk, siswa perlu mengajukan calon tutor. Seorang tutor hendaknya memiliki kriteria: (1) memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata siswa satu kelas; (2) mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa; (3) memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik; (4) memiliki sikap toleransi dan tenggang rasa dengan sesama; (5) memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik; (6) bersikap rendah hati, pemberani, dan bertanggung jawab; dan (7) suka membantu sesamanya yang mengalami kesulitan.</p>
<p>Tutor atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: (1) memberikan tutorial kepada anggota terhadap materi ajar yang sedang dipelajari; (2) mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis; (3) menyampaikan permasalahan kepada guru pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai; (4) menyusun jadwal diskusi bersama anggota kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, secara rutin dan insidental untuk memecahkan masalah yang dihadapi; (4) melaporkan perkembangan akademis kelompoknya kepada guru pembimbing pada setiap materi yang dipelajari.</p>
<p>Peran guru dalam metode diskusi kelompok terbimbing model tutor sebaya hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa.</p>
<p>SKL dan ruang lingkup materi yang didiskusikan:</p>
<table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td width="41%">
<p><b>Standar Kompetensi Lulusan (SKL) </b></p>
</td>
<td width="58%">
<p><b>Ruang Lingkup Materi </b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="41%">
<p>Siswa mampu membaca dan memahami berbagai jenis wacana, baik secara tersurat maupun tersirat, menganalisis informasi dan gagasan; memberikan komentar, menyeleksi dan mensintesiskan informasi dari berbagai sumber (tabel, diagram, tajuk, berita). </p>
</td>
<td valign="top" width="58%">
<p>1. Menjawab pertanyaan isi tersurat wacana yang berupa   tabel, diagram, tajuk, berita paragraf, ensiklopedi, buku ilmiah populer. </p>
<p>2. Menyimpulkan isi tersirat teks berupa tabel,   diagram, tajuk, berita. </p>
<p>3. Menanggapi isi wacana yang dibaca. </p>
<p>4. Menentukan gagasan pokok dan gagasan penjelas dari   teks yang berupa tabel, diagram, tajuk, berita. </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="41%">
<p>Siswa mampu menulis karangan nonsastra dengan menggunakan kosakata yang bervariasi dan efektif dalam bentuk paragraf narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, surat resmi, kamus kecil, hasil wawancara,   teks pidato, resensi, rangkuman, memo, laporan. </p>
</td>
<td valign="top" width="58%">
<p>5. Menyusun kerangka isi dan mengurutkan paragraf   bentuk paragraf narasi, deskripsi, eksposisi, persuasi, argumentasi, surat resmi, kamus   kecil, hasil wawancara, teks pidato, resensi, rangkuman, memo, laporan,   poster/imbauan. </p>
<p>6. Mengembangkan secara utuh paragraf bentuk paragraf   narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, surat resmi, kamus kecil, hasil wawancara,   teks pidato, resensi, rangkuman, memo, laporan, poster/imbauan. </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="41%">
<p>Siswa mampu menyunting isi (ketepatan isi, urutan isi), menyunting bahasa dan mekanik (berbagai kata, istilah, gabungan kata, berbagai struktur kalimat, kepaduan/kelengkapan paragraf, serta penggunaan ejaan dan tanda baca) dalam berbagai jenis wacana (argumentasi, berbagai surat resmi, rancangan   kerja, hasil wawancara, laporan pengamatan/ percobaan, resensi, rangkuman). </p>
</td>
<td valign="top" width="58%">
<p>7. Mengidentifikasi kesalahan isi (ketepatan isi,   urutan isi). </p>
<p>8. Mengidentifikasi kesalahan bahasa dan mekanik (penggunaan berbagai kata, istilah, gabungan kata, berbagai struktur kalimat, kepaduan/ kelengkapan paragraf, serta penggunaan ejaan dan tanda baca. </p>
<p>9. Memperbaiki kesalahan isi dan penggunaan bahasa   dalam berbagai wacana. </p>
<p>10. Memperbaiki kesalahan berbagai kata, istilah, gabungan kata, struktur kalimat, ungkapan, peri bahasa, majas, serta penggunaan ejaan dan tanda baca. </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="41%">
<p>Siswa mampu membaca nyaring, dan membaca sekilas   untuk menemukan informasi dan memahami sekilas suatu wacana. </p>
</td>
<td valign="top" width="58%">
<p>11. Menemukan informasi secara cepat. </p>
<p>12. Menemukan gagasan pokok secara cepat. </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="41%">
<p>Siswa mampu mengapresiasi karya sastra yang berupa puisi, prosa fiksi, dan drama untuk memahami isi serta menemukan nilai-nilai di dalamnya (moral, sosial, budaya, dll). </p>
</td>
<td valign="top" width="58%">
<p>13. Menemukan unsur intrinsik berbagai karya sastra   berupa puisi, prosa fiksi, dan drama. </p>
<p>14. Menemukan nilai-nilai di dalam sastra (moral,   sosial, budaya, dll)</p>
</td>
</tr>
</table>
<p>Berdasarkan data yang diperoleh berdasarkan hasil ujian nasional selama tiga tahun terakhir (2004/2005, 2005/2006, dan 2006/2007) di sekolah tempat saya bertugas, penggunaan metode diskusi model tutor sebaya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kegiatan les menjelang ujian nasional dapat meningkatkan rata-rata nilai ujian siswa. Hal ini bisa terjadi karena pada setiap kelompok diskusi terjadi suasana kompetitif untuk menjadi yang terbaik pada setiap kelas sehingga terpacu semangat setiap kelompok untuk memahami setiap materi ajar yang didiskusikan. Selain itu, tutor setiap kelompok dipilih secara demokratis oleh para siswa sehingga mampu mewujudkan suasana yang akrab dan harmonis di antara sesama anggota kelompok dan tutor. Kondisi semacam ini sangat diperlukan ketika para siswa harus mempelajari banyak materi ujian.</p>
<p>Mungkin ada rekan-rekan sejawat guru yang memiliki metode dan strategi lain dalam menyiapkan siswa didik menghadapi ujian nasional? ***</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Postingan ini sekaligus menjawab umpan PR yang dilemparkan oleh <a href="http://mathematicse.wordpress.com/">Pak Al-Jupri</a> dan <a href="http://fira.wordpress.com/">Mbak Fira.</a> Mohon maaf, yak, apabila tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F30%2Fdiskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya%2F';
  addthis_title  = 'Diskusi+Kelompok+Terbimbing+Model+Tutor+Sebaya';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/30/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjara</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 19:27:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[korup]]></category>
		<category><![CDATA[penjara]]></category>
		<category><![CDATA[sodomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Pelupuk mata Badrun mengerjap-ngerjap seperti klilipan. Berat dan pedas. Sudut-sudut matanya masih digerayangi sisa-sisa mimpi. Ia tidak tahu, sudah jam berapa sekarang. Sel tempat ia disekap memang sangat tidak memungkinkan untuk mengetahui dengan pasti pergantian setiap detik, menit, jam, bahkan hari. Ia pun tak ingat lagi, sudah berapa lama menjadi penghuni penjara terkutuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Pelupuk mata Badrun mengerjap-ngerjap seperti klilipan. Berat dan pedas. Sudut-sudut matanya masih digerayangi sisa-sisa mimpi. Ia tidak tahu, sudah jam berapa sekarang. Sel tempat ia disekap memang sangat tidak memungkinkan untuk mengetahui dengan pasti pergantian setiap detik, menit, jam, bahkan hari. Ia pun tak ingat lagi, sudah berapa lama menjadi penghuni penjara terkutuk yang sumpek, pengap, dan bau ini.</p>
<p align="justify">Yang menjengkelkan, ia harus sering bergaul dengan para penghuni penjara berperangai kasar. Ia sering dijadikan sasaran amarah dan ledakan emosi para pesakitan yang sudah kebelet ingin mencium bau kebebasan di luar tembok penjara. Gertakan, makian, sumpah-serapah, ancaman, pukulan, bahkan ludah bacin tak jarang harus ia terima, tanpa perlawanan. Sangat konyol jika harus melawan mereka. Di penjara ini, hanya okol dan nyali yang berbicara. Makin kuat okol dan nyalinya, mereka malah disegani dan bisa dengan bebas memperlakukan napi lain seenak perutnya.</p>
<p align="justify"><span id="more-289"></span>Yang lebih menjengkelkan, tak jarang Badrun dipaksa melayani nafsu birahi para pendosa yang sudah lama tak pernah mencium ketiak perempuan itu. Perlakuan mereka sungguh kasar bagaikan kuda liar. Melakukan sodomi tanpa kenal waktu. Ia benar-benar merasa jijik dan muak, tapi tak mampu berbuat apa-apa.</p>
<p align="justify">Badrun mengambil napas. Bau kotoran dan air kencing segera menyergap hidungnya. Jlamprang –teman satu selnya yang bertubuh kekar dan penuh tato— masih tidur mendengkur, tengkurap di atas tikar lusuh. Badrun melangkah berat menuju lubang bilik berjeruji besi. Di luar sana, ekor matanya segera hinggap pada lalu-lalang para sipir berseragam yang sibuk mengepulkan asap rokok. Sesekali tampak menggerombol, berbincang-bincang, tertawa-tawa, lantas menyebar ke bilik-bilik, menatap para napi dengan wajah garang dan tak bersahabat.</p>
<p align="justify">Huh! Benar-benar menjengkelkan, rutuknya dalam hati. Ulah para sipir penjara pun ternyata tak kalah brengseknya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia sering menyaksikan beberapa sipir dengan sikap licik tega “menjual” tugasnya demi uang, tak tahan rayuan napi berkantong tebal yang ingin segera bebas dari sekapan bilik penjara. Dengan berpura-pura mengejar napi yang melarikan diri, sebenarnya mereka sedang berupaya untuk meloloskannya dari kepungan. Berkali-kali peristiwa itu terjadi. Tapi para pejabat teras penjara menganggapnya sebagai risiko sebuah pekerjaan, tanpa ada kemauan untuk mengendalikan dan “memenjarakan” mental bawahannya yang korup. Kalau mental para sipir seperti itu terus dibiarkan, mana mungkin penjara ini mampu menjadi tempat pertobatan bagi para pendosa? Tanya Badrun pada dirinya sendiri.<br />
***
</p>
<p align="justify">Badrun sebenarnya bukanlah seorang penjahat. Sebelum menjadi penghuni penjara ini, ia bekerja sebagai buruh pabrik tekstil. Ia amat senang dan bahagia dengan pekerjaannya itu. Selain banyak teman sekampungnya yang bekerja di sana, para buruh juga diantarjemput oleh bus pabrik. Penghasilannya kecil memang, tapi itu dianggapnya lebih baik ketimbang harus menjadi “bromocorah” yang suka bikin susah sesamanya. Yang jadi masalah, Sumarni, istrinya, tampaknya sangat tersiksa dengan cara hidup seperti itu. Setiap kali kalender jatuh di angka 20 ke atas, isterinya terus uring-uringan. Berwajah suntrut, sampai-sampai tak berkenan tidur di atas ranjang bersamanya.</p>
<p align="justify">“Mbok ya cari sampingan apa gitu toh, Kang! Masak <em>Sampeyan</em> tega membiarkan nasib kita terus-terusan seperti ini! Coba, Kang, <em>Sampeyan</em> pikir! Utang kita di warung Bu Karni makin menumpuk, sementara uang sekolah si Darpono sudah nunggak lima bulan! Ini kemarin dapat surat dari sekolah!&#8221; Berondong istrinya dengan mata melotot. Badrun tergeragap.</p>
<p align="justify">Diambilnya surat yang tergeletak di atas meja berdebu. Tangan Badrun gemetar. Dahinya berkerut. Bola matanya berkaca-kaca ketika membaca isi surat itu. Sepengetahuannya, uang sekolah anak sulungnya itu selalu ia beresi setiap awal bulan sebelum seluruh penghasilannya jatuh ke tangan isterinya. Ia curiga, jangan-jangan Darpono telah menyalahgunakannya. Tiba-tiba saja darahnya berdesir. Giginya gemeletuk, menahan amarah. Dadanya naik-turun. Ia segera berjingkat menuju bilik anaknya dengan perasaan tak menentu. Di atas kasur tua lusuh, ia melihat Darpono, anak sulungnya, masih meringkuk di balik sarungnya. Dengan amarah yang memuncak, dibangunkan anaknya dengan paksa. Darpono geragapan. Sembari mengucak-ngucak pelupuk mata, bocah yang baru beranjak remaja itu melihat ayahnya seperti monster yang menakutkan.</p>
<p align="justify">“Ayo, jawab dengan jujur! Kamu gunakan untuk apa uang sekolah yang ayah berikan, hem?&#8221; Bentak Badrun sambil mengguncang-guncang bahu Darpono yang duduk termangu. </p>
<p align="justify">“Ayo, jawab!” Tak ada jawaban. Darpono mematung. Di luar sana, sesekali melintas deru kendaraan, samar-samar, lantas lenyap ditelan kabut pagi. Sepi. Hanya terdengar rengekan anak bungsunya dan suara isterinya yang ngedumel dari arah dapur.</p>
<p align="justify">Dada Badrun bergemuruh. Wajahnya memerah. Ia merasa telah dipermainkan. Plak! Plak! Plak! Tanpa disadari, telapak tangannya telah menari-nari di wajah anaknya. Darpono merasa kesakitan, terjerembab mencium lantai tanah. Hidungnya mengucurkan darah. Dari arah belakang, istrinya buru-buru menerobos bilik yang sumpek itu sambil menggendong si bungsu yang masih terus merengek-rengek.</p>
<p align="justify">“<em>Sampeyan</em> jangan gila, Kang! Kalau sampai terjadi apa-apa, apa tidak Sampeyan sendiri yang rugi?” sergahnya sambil meredam amarah suaminya. Dengan kelembutan naluri seorang ibu yang masih tersisa, perempuan kurus bermata cekung itu bergegas membelai wajah Darpono yang terguguk di lantai.</p>
<p align="justify">“Biar saja! Itulah upah seorang anak yang mulai belajar jadi penipu!” sahut Badrun ketus. </p>
<p align="justify">“Wong diminta Emak, kkk&#8230; katanya untuk mbayar utang Bu Karni, kok!” jawab Darpono gagap. Badrun tersentak. Kepalanya segera berpaling menatap wajah isterinya yang tiba-tiba memucat. Salah tingkah. </p>
<p align="justify">“Itu juga salah Sampeyan, jadi lelaki nggak becus ngurus kebutuhan keluarga!” sergah Sumarni merasa tidak bersalah.</p>
<p align="justify">“Eee&#8230; eee! Sudah jelas salah masih bisa cari-cari alasan! Aku sudah banting tulang setiap hari, semuanya untuk keluarga! Tak pernah sepeser pun aku mengantongi uang! Kalau sampai nggak cukup, mestinya kamu yang ngaca, becus nggak ngurus uang belanja?” sahut Badrun sewot, tidak seperti biasanya yang selalu mengalah. Ia merasa, kesabarannya telah habis.</p>
<p align="justify">Pertengkaran Badrun dan isterinya makin memuncak. Rumah reot itu seperti diselubungi kabut. Beberapa orang tetangga tampak ikut menguping sambil mengobral gunjingan miring. Badrun merasa risih. Tanpa pamit, ia bergegas menerobos pintu, menyahut pakaian seragam pabrik, lantas menembus jalan raya dengan perasaan amat masygul.</p>
<p align="justify">Setiba di pabrik, benak Badrun makin kacau, memikirkan nasib hidup keluarganya yang belum juga bergeser dari lumpur kemiskinan. Tiba-tiba saja gendang telinganya menangkap gemuruh demonstrasi ratusan buruh yang menuntut kenaikan upah. Dengan spanduk seadanya, mereka mengecam bos pabrik yang dianggap tidak pernah memperhatikan kesejahteraan para buruh. Mereka merasa, selama ini hanya dijadikan sebagai “sapi perah”. Badrun mengambil serangkum napas, lantas bergabung bersama para pengunjuk rasa. Di bawah siraman terik matahari, para buruh terus meneriakkan yel-yel. Dengan penuh semangat, Badrun ikut-ikutan menuntut kenaikan upah. Mulutnya terus berteriak-teriak. Kedua tangannya mengepal ke udara seperti hendak meninju langit. Siapa tahu, dengan cara seperti ini nasibnya akan berubah, pikirnya.</p>
<p align="justify">Para pengunjuk rasa makin bertambah dan terus bertambah. Di bawah terik matahari, mereka terus bersemangat meneriakkan yel-yel, menuntut agar upah dinaikkan 200%. Jika tidak dituruti, mereka mengancam akan melakukan mogok kerja total. Aksi mereka didukung oleh beberapa kelompok LSM.</p>
<p align="justify">Namun, unjuk rasa itu gagal membuahkan hasil. Tuntutan kenaikan upah itu dinilai pihak pabrik tidak masuk akal dan bersikukuh untuk menaikkan upah hanya sebesar 10%. Merasa tak digubris, para buruh mewujudkan ancamannya. Mereka melakukan mogok kerja total. Tapi, kejadian itu tak mengubah keputusan pihak pabrik. Malah berakibat fatal bagi para buruh pabrik. Sebagian pengunjuk rasa yang gencar menyuarakan tuntutan –termasuk Badrun—dipecat tanpa diberi pesangon. </p>
<p align="justify">Badrun benar-benar sial. Ia harus pontang-panting ke sana kemari memburu nasib. Sudah hampir sebulan ia mengacak-acak seantero kota, nasib baik belum juga berpihak kepadanya. Pekerjaan belum juga ia dapatkan, hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang lelaki separuh baya berperut buncit dan berpipi gembul di bawah reruntuhan gedung yang habis dibakar para pengunjuk rasa yang kalap. Dengan santun, lelaki separuh baya itu menawari sebuah pekerjaan mudah dengan imbalan yang cukup menggiurkan. Satu juta rupiah sekali kerja. Wajah Badrun berbinar. Setumpuk dhuwit melayang-layang di layar benaknya. Tanpa banyak alasan, Badrun menyanggupi pekerjaan yang ditawarkan lelaki yang tidak dikenalnya itu. Ia benar-benar merasa beruntung. Tanpa harus mengeluarkan banyak keringat, beberapa lembar ratusan ribu sudah jatuh ke tangannya. Badrun pun dengan jitu berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.</p>
<p align="justify">Namun, alangkah terkejutnya ketika Badrun baru berjalan dalam langkah seratus meter, gendang telinganya tiba-tiba mendengar ledakan dahsyat, diikuti suara berderak-derak dan jeritan histeris bersambung-sambungan. Ketika menoleh ke belakang, bola matanya membelalak. Mulutnya menganga. Ia tidak percaya terhadap pemandangan di hadapannya. Sebuah gedung plaza yang megah, yang barusan ia tinggalkan itu dalam sekejap telah porak-poranda. Beberapa sosok tubuh bergelimpangan meregang nyawa. Para pengunjung berlarian lintang-pukang ditingkah jerit dan pekik histeris. Terdengar pula raungan sirine mobil patroli aparat kepolisian mebelah kepanikan orang-orang. Suasana kacau.</p>
<p align="justify">Badrun tidak tahu, apa yang menjadi penyebab meledaknya pusat perbelanjaan masyarakat kota itu. Mungkinkah benda dalam plastik kresek yang tadi ia taruh di sebuah sudut etalase? Belum sempat ia memperoleh jawaban, tiga orang anggota polisi bertubuh tegap telah memborgolnya. Badrun tergeragap bagaikan rusa masuk kampung.</p>
<p align="justify">“Heh, ayo pijit!” Jangan bengong di situ!” seru sebuah suara yang besar dan berat. Badrun menoleh, tersentak. Rupanya, Jlamprang telah bangun. Itu artinya, ia harus siap melayani semua keinginan penjahat bertubuh kekar penuh tato yang konon sudah pernah membunuh belasan orang tak berdosa. Badrun tak menduga kalau harus menjalani hidup di penjara, bergaul dengan para pendosa yang tangannya sudah terbiasa berlumuran darah. Entah! Sampai kapan ia harus menjadi penghuni bilik berbau busuk itu! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F14%2Fpenjara%2F';
  addthis_title  = 'Penjara';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlukah Kontrol Bahasa di Ruang Publik?</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/02/perlukah-kontrol-bahasa-di-ruang-publik/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/02/perlukah-kontrol-bahasa-di-ruang-publik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2007 17:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[gaya tutur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/02/perlukah-kontrol-bahasa-di-ruang-publik/</guid>
		<description><![CDATA[Menurut rencana, RUU Bahasa akan disahkan pada tahun 2007. Namun, hingga saat ini tanda-tanda ke arah itu belum tampak. Bahkan, tahap sosialisasi kepada publik belum juga usai. Terkesan alot dan berbelit-belit. Padahal, RUU itu sudah disusun sejak awal 2006. Alotnya pengesahan UU Bahasa memang bisa dipahami. Berbahasa sangat erat kaitannya dengan  kebebasan berekspresi. Kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Menurut rencana, RUU Bahasa akan disahkan pada tahun 2007. Namun, hingga saat ini tanda-tanda ke arah itu belum tampak. Bahkan, <a href="http://www.kompas.com/ver1/Dikbud/0711/16/184959.htm">tahap sosialisasi kepada publik belum juga usai</a>. Terkesan alot dan berbelit-belit. Padahal, RUU itu sudah disusun sejak awal 2006. Alotnya pengesahan UU Bahasa memang bisa dipahami. Berbahasa sangat erat kaitannya dengan  kebebasan berekspresi. Kalau orang berbahasa mesti harus diatur segala oleh undang-undang, bisa &#8220;mati kutu&#8221;. Orang tak bisa lagi mengekspresikan pikiran dan perasaannya sesuai dengan gaya, kebiasaan, dan latar belakang kulturalnya.</p>
<p align="justify">Beberapa pasal dalam RUU yang terdiri dari 10 bab dan 22 pasal ini memang bisa ditafsirkan menghambat kreativitas publik dalam berbahasa, lebih-lebih bagi kalangan pers dan dunia usaha yang mendapatkan perhatian khusus dalam RUU ini. Bahkan, seorang pejabat pun bisa &#8220;kena batu&#8221;-nya. Dalam RUU yang dibuat oleh Pusat Bahasa Depdiknas ini &#8211;konon&#8211; disebutkan pula pasal-pasal tentang penggunaan bahasa, termasuk sanksi hukuman penjara dan denda yang akan diterima pihak yang dinilai telah melanggar peraturan dalam berbahasa.</p>
<p><a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/01/tgl/06/time/150057/idnews/513971/idkanal/10"><span id="more-284"></span>Berikut ini adalah beberapa pasal dalam RUU Bahasa yang dinilai menjadi biang penyebab alotnya pengesahan UU Bahasa.</a></p>
<ul>
<li> Pidato kenegaraan, termasuk naskah pidato, baik yang disampaikan di dalam negeri maupun di luar negeri, harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (pasal 9 ayat 2)</li>
</ul>
<ul>
<li>Media massa, baik cetak maupun elektronik wajib menggunakan bahasa Indonesia. Demikian juga film, sinetron, dan produk multimedia dari negara lain harus dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dalam bentuk sulih suara atau terjemahan. (pasal 11)</li>
</ul>
<ul>
<li>Merek dagang, iklan, nama perusahaan, nama bangunan/gedung, dan petunjuk penggunaan barang harus menggunakan bahasa Indonesia. (pasal 12)</li>
</ul>
<ul>
<li>Pejabat negara dan pejabat publik diwajibkan mempunyai kemahiran berbahasa Indonesia hingga tingkat tertentu. (pasal 13)</li>
</ul>
<p align="justify">Menyikapi pasal-pasal dalam RUU Bahasa yang demikian krusial, reaksi yang keras justru muncul dari kalangan linguis. <a href="http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/kolom/artikel.php?aid=22853">Jos Daniel Parera</a>, mantan dosen IKIP Jakarta, misalnya, menilai RUU Bahasa dan Kebahasaan bisa membunuh kreativitas dan inovasi masyarakat dalam bahasa dan berbahasa. Bahasa dan berbahasa adalah fenomena alam. Oleh karena itu, tidak ada seorang manusia pun yang berhak mengatur bahasa dan orang berbahasa. Pakar linguistik yang selalu kritis terhadap keberadaan Pusat Bahasa ini justru mengusulkan agar Pusat Bahasa dibubarkan dan dibentuk satu lembaga bahasa yang bersifat independen.</p>
<p align="justify"><a href="http://www.mail-archive.com/ppi@freelists.org/msg26392.html">Sainul Hermawan</a>, pengajar Ilmu Budaya Dasar FKIP UNLAM, Banjarmasin, menilai bahwa UU Bahasa akan senasib dengan UU yang lain, seperti UU Kekerasan dalam Rumah Tangga yang berbenturan dengan kultur keluarga di Indonesia yang malu menceritakan aib dalam keluarga. Atau, juga tak jauh berbeda dengan nasib UU Lalu Lintas dan UU Hak Cipta yang tidak lebih dari sebuah pajangan. Yang bermain adalah tangan-tangan kekuasaan tunggal dan tradisi bungkam serta saling memanfaatkan.</p>
<p align="justify"> Sementara itu, <a href="http://" target="_blank">Ariel Heryanto</a>, menyatakan kalau RUU Bahasa lebih didorong oleh keprihatinan atas jumlah dan cara pemakaian istilah-istilah Inggris secara obral dan serampangan, UU Bahasa agaknya bisa diterima sebagai perwujudan sikap nasionalis. Namun, kalau motifnya sebagai media &#8220;pengekangan&#8221; terhadap kebebasan seseorang dalam berekspresi, yak, tunggu dulu! Bisa jadi masih banyak pendapat lain yang tidak setuju apabila UU Bahasa disahkan. *Aduh, repot juga, nih!*</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/letstalk_graphic1.png" alt="letstalk_graphic1.png" align="right" height="222" width="222" /> Menyikapi berbagai reaksi yang muncul, guru Besar Linguistik Universitas Indonesia, Harimurti Kridalaksana, mengatakan, <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/02/19/brk,20070219-93669,id.html">undang-undang bahasa nantinya hanya mengatur penggunaan bahasa dalam tingkat pemerintahan</a>. Menurutnya, aturan bahasa di masyarakat tak akan berlaku efektif karena masyarakat bisa mengatur sendiri penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pernyataan ini berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh <a href="http://news.okezone.com/index.php/news/detail/2007/11/13/1/60459">Mustakim, Kepala Bidang Pembinaan Pusat Bahasa Depdiknas.</a> Dia mengatakan bahwa nantinya akan ada sanksi bagi penggunaan bahasa asing di tempat umum dan sekolah standar internasional yang menggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar. *Walah, makin repot dan mana nih pernyataan yang benar? <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  *</p>
<p align="justify">Berbahasa sangat erat kaitannya dengan kebebasan seseorang dalam berekspresi. Ekspresi inheren dengan gaya dan kepribadian seseorang yang sangat personal sifatnya. Kalau kebebasan berekspresi yang bersifat personal itu lantas diatur dan dibatasi oleh UU, lantas di mana lagi hakikat manusia sebagai makhluk sosial mesti diposisikan? Bukankah (hampir) setiap ruang dan waktu kita butuh berkomunikasi dengan sesama? Berbahasa pun sangat erat kaitannya dengan kultur dan kebiasaan seseorang. Jangan-jangan, rakyat Indonesia nanti kehilangan sikap ramah dan cenderung menjadi pendiam setelah UU Bahasa disahkan. <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  Daripada terkena sanksi?</p>
<p align="justify">Okelah, kalau memang sikap nasionalisme kita akan lebih dipertajam lewat UU Bahasa. Agaknya anak-anak bangsa negeri ini memang perlu diingatkan bahwa sejarah kita telah mencatat bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sejak 79 tahun yang silam. Kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa nasional perlu terus dibangkitkan dan dihidupkan dari generasi ke generasi. Meskipun demikian, tidak lantas berarti kita kehilangan kearifan dengan menghalang-halangi seseorang untuk bebas berekspresi dan bertutur sesuai dengan kultur mereka.</p>
<p align="justify">UU Bahasa agaknya akan lebih bermakna jika digunakan untuk mengatur hal-hal yang lebih khusus, seperti berbahasa di lingkungan formal, berbahasa di lingkungan elite pejabat, atau di tempat dan ruang tertentu yang bisa melunturkan kecintaan dan kebanggaan seseorang terhadap bahasa Indonesia apabila bertutur dengan bahasa &#8220;gado-gado&#8221;. Selebihnya, berikan kebebasan kepada siapa pun yang menjadi penghuni negeri ini untuk bertutur sesuai dengan kebiasaan dan kultur mereka masing-masing.</p>
<p align="justify">Kalau setiap berbahasa di ruang publik mesti dikontrol, lantas siapakah nanti yang akan menjadi pengawasnya? Kalau memang ada, siapkah mereka bertugas 24 jam <em>non-stop</em> untuk mengontrol dan mengawasi setiap tuturan yang meluncur di ruang publik?</p>
<p align="justify">Pengalaman selama rezim Orde Baru berkuasa menunjukkan, justru yang miskin memberikan keteladanan dalam berbahasa di ruang publik adalah para elite pejabat. Mereka yang seharusnya menjadi &#8220;patron&#8221; teladan bagi rakyat dalam berbahasa justru terkesan seenaknya dalam berbahasa. Ironisnya, hal itu ditiru dengan sikap latah oleh bawahannya sebagai bentuk penghormatan kepada atasan. Sebuah contoh sikap  yang masih menggejala di tengah-tengah lingkungan masyarakat paternalistis.</p>
<p align="justify">Sebelum disahkan, sebaiknya RUU Bahasa dikaji lebih cermat. Jika perlu, lakukan uji publik dengan melibatkan berbagai komponen bangsa agar kelak UU Bahasa benar-benar menjadi milik bangsa. Nah, bagaimana? ***</p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" alt="AddThis Social Bookmark Button" border="0" height="16" width="125" /></a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F02%2Fperlukah-kontrol-bahasa-di-ruang-publik%2F';
  addthis_title  = 'Perlukah+Kontrol+Bahasa+di+Ruang+Publik%3F';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/02/perlukah-kontrol-bahasa-di-ruang-publik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Langit Makin Mendung&#8221;: Cerpen Multiwajah yang Kontroversial</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/16/langit-makin-mendung-cerpen-multiwajah-yang-kontroversial/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/16/langit-makin-mendung-cerpen-multiwajah-yang-kontroversial/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 16:37:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/16/langit-makin-mendung-cerpen-multiwajah-yang-kontroversial/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah membaca cerpen &#8220;Langit Makin Mendung&#8221; (LMM) karya Kipandjikusmin? Bagaimana kesan Sampeyan? Benci, geram, atau justru diam-diam mengaguminya? Ya, cerpen itulah yang pernah membikin &#8220;heboh&#8221; jagad sastra Indonesia karena dinilai telah melanggar batas kepantasan sebagai sebuah teks cerpen yang ingin mengungkap persoalan-persoalan religi. Cerpen yang pernah dimuat di majalah Sastra No. 8 (edisi Agustus) tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pernah membaca cerpen &#8220;Langit Makin Mendung&#8221; (LMM) karya Kipandjikusmin? Bagaimana kesan<em> Sampeyan</em>? Benci, geram, atau justru diam-diam mengaguminya? Ya, cerpen itulah yang pernah membikin &#8220;heboh&#8221; jagad sastra Indonesia karena dinilai telah melanggar batas kepantasan sebagai sebuah teks cerpen yang ingin mengungkap persoalan-persoalan religi. Cerpen yang pernah dimuat di majalah <em>Sastra </em>No. 8 (edisi Agustus)<em> </em>tahun 1968 itu telah mengundang reaksi umat Islam. Ratusan eksemplar majalah <em>Sastra</em> di berbagai toko, agen dan pengecer di kota Medan disita oleh Pihak Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Kantor majalah <em>Sastra </em>diberangus dan dicoreti dindingnya dengan berbagai hujatan dan hinaan. Redaktur majalah <em>Sastra</em>, H.B. Jassin harus berurusan dengan pihak yang berwajib, bahkan <a href="http://www.wahidinstitute.org/indonesia/images/stories/factsheet/factsheet-03.pdf" target="_blank">divonis</a> satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun karena dianggap melakukan penodaan agama (pasal 156a KUHP).</p>
<p align="justify">39 tahun sudah &#8220;heboh sastra&#8221; itu berlangsung. Namun, LMM dan Kipandjikusmin tetap saja menjadi sebuah fenomena dalam dinamika sejarah sastra Indonesia.</p>
<p align="justify"><span id="more-270"></span>Tulisan ini saya angkat sebagai topik tanpa memiliki tendensi apa-apa. Apalagi, bermaksud mengungkit-ungkit &#8220;luka lama&#8221; tentang polemik antara kubu yang pro dan kontra terhadap keberadaan LMM. Toh sejarah sastra Indonesia juga telah mencatatnya  dalam &#8220;dokumen hitam&#8221; sebagai wujud &#8220;konflik&#8221; yang (nyaris) tak pernah berujung antara kebenaran &#8220;imajinasi&#8221; dalam teks sastra dan kebenaran objektif dalam realitas kehidupan. Saya juga tak bermaksud mengaitkannya dengan &#8220;heboh nabi baru&#8221; dalam isu mutakhir Indonesia saat ini yang juga disinggung-singgung dalam LMM. Anggap saja tulisan ini sebagai nostalgia &#8220;tragik&#8221; yang menimpa seorang penulis berbakat &#8211;Kipandjikusmin&#8211; yang akhirnya harus terdepak dari &#8220;singgasana&#8221; sastra Indonesia akibat &#8220;menghamba&#8221; pada liarnya imajinasi dan ke-&#8221;kenes&#8221;-annya dalam mengangkat persoalan-persoalan religi yang peka dan rentan konflik.</p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/pleidoi-sastra1.jpg" title="pleidoi-sastra1.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/pleidoi-sastra1.jpg" alt="pleidoi-sastra1.jpg" height="298" width="418" /></a></p>
<p align="justify">Tak banyak yang tahu siapa sesungguhnya Kipandjikusmin itu. Ada yang menduga &#8211;melihat kegigihan H.B. Jassin dalam membela LMM dan Kipandjikusmin di pengadilan&#8211; Kipandjikusmin adalah pseudonim H.B. Jassin sendiri. Namun, <a href="http://www.mail-archive.com/ppiindia@yahoogroups.com/msg01433.html" target="_blank">dugaan itu keliru</a> setelah majalah <em>Ekpress </em>pimpinan Goenawan Mohammad (1970) berhasil mewawancarainya. Kepada Usamah &#8211;redaktur pelaksana <em>Ekspress</em>&#8211; penulis misterius itu mengaku bahwa nama aslinya adalah Soedihartono yang menempuh pendidikan di Akademi Pelayaran Nasional. Selama 6 tahun menjalani wajib dinas di Jakarta. Hanya itu. Dua tahun sebelumnya, melalui harian <em>Kami </em>(22 Oktober 1968), Kipandjikusmin juga pernah menyatakan bahwa dia tidak bermaksud menghina agama Islam. Tujuan sebenarnya adalah semata-mata hasrat pribadinya untuk mengadakan komunikasi langsung dengan Tuhan, Nabi Muhammad S.A.W, sorga, dll. selain menertawakan kebodohan di masa rezim Soekarno.</p>
<p align="justify"><a href="http://www.ruangbaca.com/resensi/?action=b3Blbg==&amp;linkto=NzE=.&amp;when=MjAwNTEwMTQ">LMM bertutur</a> tentang Nabi Muhammad yang turun kembali ke bumi. Muhammad diizinkan turun oleh Tuhan setelah memberi argumen bahwa hal itu merupakan keperluan mendesak untuk mencari sebab kenapa akhir-akhir ini umatnya lebih banyak yang dijebloskan ke neraka. Upacara pelepasan pun diadakan di sebuah lapangan terbang. Nabi Adam yang dianggap sebagai <em>pinisepuh </em>swargaloka didapuk memberi pidato pelepasan. Dengan menunggangi buroq dan didampingi Jibril, meluncurlah Muhammad. Di angkasa biru, mereka berpapasan dengan pesawat <em>sputnik</em> Rusia yang sedang berpatroli. Tabrakan pun tak terhindar. Sputnik hancur lebur tak keruan. Sedangkan, Muhammad dan Jibril terpelanting ke segumpal awan yang empuk. Tak disangka, awan empuk itu berada di langit-langit.  Untuk menghindari kemungkinan tak terduga, Muhammad dan Jibril menyamar sebagai elang. Dalam penyamaran itulah, Muhammad berkeliling dan mengawasi tingkah polah manusia dengan bertengger di puncak Monas (yang dalam cerpen itu disebut “puncak menara emas bikinan pabrik Jepang”) dan juga di atas lokalisasi pelacuran di daerah Senen.</p>
<p align="justify"> Lewat dialog antara Muhammad dan Jibril maupun lewat fragmen-fragmen yang berdiri sendiri, Kipandjikusmin memotret wajah bopeng tanah air masa itu: negeri yang meski 90 persen Muslim, tetapi justru segala macam perilaku lacur, nista, maksiat, dan kejahatan tumbuh subur. Lewat cerpen ini, Kipandjikusmin menyindir elite politik dengan cara culas. Soekarno disebutnya sebagai “nabi palsu yang hampir mati”. Soebandrio yang saat itu menjabat Menteri Luar Negeri disindirnya sebagai “Durno” sekaligus “Togog”.</p>
<p align="justify">Cerpen diakhiri dengan sebuah sindiran halus tapi pedas; sebuah sindiran yang persis menancap di ulu hati kepribadian manusia negeri ini. Begini bunyinya: “Rakyat  rata-rata memang pemaaf serta baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan lapang dada. Hati mereka bagai mentari, betapapun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi.”</p>
<p align="justify">Sebuah cerpen yang sungguh-sungguh &#8220;liar&#8221; imajinasi, bukan? Dalam penafsiran awam saya,  LMM bisa dibilang sebagai sebuah cerpen multiwajah. Ada banyak dimensi yang ingin dihadirkan di sana. Politik, ekonomi, agama, sosial, budaya, bahkan juga militer, tampak benar bagaikan mozaik yang saling bertempelan; membangun sebuah desain cerpen yang liar, menegangkan, sekaligus menghanyutkan. Lewat gaya bertuturnya yang kenes, satire, dan sarat kritik, LMM mampu membombardir imajinasi pembaca  dan hanyut dalam emosi purba; &#8220;gemas&#8221;, bahkan mungkin juga geram.</p>
<p align="justify">Paragraf pembukanya saja sudah cukup mampu membangkitkan &#8220;aura fanatisme&#8221; keagamaan bagi pembaca yang terbiasa membaca teks-teks sastra konvensional. Simak saja beberapa penuturannya berikut ini!</p>
<blockquote><p>LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.</p>
<p>“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti.”</p>
<p>Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw&#8230;</p></blockquote>
<p align="justify">(Tuhan dipersonifikasikan dengan gaya bertuturnya yang kenes: &#8220;menggeleng-gelengkan kepala &#8230;&#8221;)</p>
<blockquote><p>Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng Spesial diundang.</p>
<p>Patih-patih dan menteri-menterinya tak mau kalah gaya. Tinggal hulubalang-hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.</p></blockquote>
<p align="justify">(Kritik terhadap rezim Orde Lama yang suka bernafsi-nafsi dan memanjakan nafsu hedonis, tak peduli terhadap nasib rakyat yang dijerat kemiskinan dan kelaparan).</p>
<blockquote><p>Di bawah-bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang –lagi palang merah– kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta mengisap nanah. Senja terkapar menurun, diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, masih main akrobat di ranjang reot.</p></blockquote>
<p align="justify">(Satire bagi kalangan wong cilik yang suka mengumbar nafsu birahi, tanpa memikirkan risiko penyakit kelamin).</p>
<blockquote><p>Di depan toko buku ‘Remaja’ suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak memimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah ke mana.</p></blockquote>
<p align="justify">(Suasana main hakim sendiri sebagai potret ketidakpercayaan rakyat terhadap supremasi hukum).</p>
<p align="justify">Masih banyak ungkapan dan idiom menarik dalam LMM yang terkesan vulgar, tetapi juga subtil; mampu membawa imajinasi pembaca pada suasana &#8220;tragis&#8221; yang berlangsung ketika negeri ini dipimpin oleh Panglima Besar Revolusi (PBR) Soekarno. Perilaku para elite penguasa yang dinilai korup dan culas tak luput dari bidikan Kipandjikusmin lewat gaya ucapnya yang khas; lugas dan apa adanya.</p>
<p align="justify">Cerpen LMM selengkapnya, silakan baca <a href="http://sawali.info/?page_id=274" target="_blank">di sini</a> atau <a href="http://kangpanut.wordpress.com/2007/11/20/langit-makin-mendung/">di sini</a>.</p>
<p align="justify">Terlepas dari kontroversi yang telah memancing emosi &#8220;fanatisme&#8221; umat Islam, LMM secara literer bisa dibilang sebagai teks sastra yang kaya ide. Penuturan-penuturannya lugas dan tidak terjebak pada narasi yang melingkar-lingkar. Sesuatu yang abstrak bisa dikonkretkan lewat diksi yang bernas dan jernih. Sayang, &#8220;talenta&#8221; Kipandjikusmin telah terbunuh sebelum benar-benar mampu bertahta dalam singgasana sastra Indonesia. Kekayaan ide, imajinasinya yang liar dan mencengangkan, bisa jadi akan mampu menahbiskan Kipandjikusmin sebagai sastrawan &#8220;papan atas&#8221; seandainya tidak sembrono dan gegabah dalam mempersonifikasikan Tuhan, Muhammad, atau Jibril. Nah, bagaimana? ***</p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" alt="AddThis Social Bookmark Button" border="0" height="16" width="125" /></a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F11%2F16%2Flangit-makin-mendung-cerpen-multiwajah-yang-kontroversial%2F';
  addthis_title  = '%26%238220%3BLangit+Makin+Mendung%26%238221%3B%3A+Cerpen+Multiwajah+yang+Kontroversial';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/16/langit-makin-mendung-cerpen-multiwajah-yang-kontroversial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teks Fiksi dan Kehadiran Dokumentator</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/06/teks-fiksi-dan-kehadiran-dokumentator/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/06/teks-fiksi-dan-kehadiran-dokumentator/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 12:35:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/06/teks-fiksi-dan-kehadiran-dokumentator/</guid>
		<description><![CDATA[Paling tidak dalam paro dekade terakhir, muncul fenomena baru dalam jagad kesusastraan Indonesia mutakhir, yakni memburu legitimasi kesastrawanan melalui antologi. Seseorang baru layak disebut sastrawan apabila dari tangannya telah lahir sebuah antologi (baik puisi maupun cerpen). Sebaliknya, mereka yang belum memiliki antologi, meski sudah bertahun-tahun intens menggeluti dunia kesastraan, belum layak menyandang predikat sastrawan. Begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Paling tidak dalam paro dekade terakhir, muncul fenomena baru dalam jagad kesusastraan Indonesia mutakhir, yakni memburu legitimasi kesastrawanan melalui antologi. Seseorang baru layak disebut sastrawan apabila dari tangannya telah lahir sebuah antologi (baik puisi maupun cerpen). Sebaliknya, mereka yang belum memiliki antologi, meski sudah bertahun-tahun intens menggeluti dunia kesastraan, belum layak menyandang predikat sastrawan. Begitu pentingkah sebuah antologi bagi seorang penulis sehingga perlu terus berjuang untuk mewujudkannya?</p>
<p align="justify">Ya, ya, ya! Antologi memang bisa menjadi alat dan media untuk mengukuhkan legitimasi kesastrawanan seseorang. Apalagi, seseorang yang memilih dunia kesastraan sebagai bagian dari &#8220;panggilan&#8221; hidup, tetaplah butuh sebuah pengakuan. Kehadiran sebuah antologi bisa jadi akan makin mengukuhkannya sebagai sastrawan. Namun, persoalan akan menjadi lain ketika antologi menjadi sebuah tujuan.</p>
<p align="justify"><span id="more-263"></span>Menggeluti dunia sastra pada hakikatnya memahami hidup dan kehidupan sebagai bagian dari dinamika kebudayaan yang berujung pada upaya pemuliaan hidup dan martabat kemanusiaan. Teks-teks kreatif yang lahir dari tangan sastrawan mesti dipahami sebagai perwujudan dan pengejawantahan &#8220;kebajikan&#8221; hidup untuk memberikan penafsiran dan penerjemahan kompleksitas denyut kehidupan sehingga memberikan &#8220;katharsis&#8221; dan pencerahan hidup dari berbagai macam pembonsaian nilai-nilai kemanusiaan.</p>
<p align="justify">Karena menggeluti dunia sastra adalah panggilan hidup untuk memuliakan nilai dan martabat kemausiaan, kreativitas sastrawan akan senantiasa diuji oleh zaman dan dinamika peradaban. Artinya, kematangan dan kedewasaan kreativitas seorang sastrawan tidak semata-mata ditentukan oleh kehadiran sebuah antologi, tetapi lebih oleh gairah dan kesuntukan dalam menggeluti kesastraan sebagai panggilan hidup. Kalau toh hadir sebuah antologi yang menampung teks-teks sastra kreatifnya, itu mesti dimaknai sebagai imbas, efek samping, atau bolehlah disebut sebagai &#8220;tonggak sejarah&#8221; yang benar-benar melegitimasi derajat kesastrawanannya.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/antologi.jpg" alt="antologi.jpg" align="right" />Persoalannya, hidup di tengah-tengah zaman yang kian menghamba pada selera kaum kapitalis ini tidaklah mudah untuk menerbitkan antologi sastra. Untung-rugi selalu menjadi  pertimbangan utama.  Sebuah penerbit biasanya tidak akan berbuat konyol dengan menerbitkan buku-buku sastra (termasuk antologi) kalau akhirnya buku-buku tersebut &#8220;mati&#8221; di pasaran.</p>
<p align="justify">Ya, para penulis memang masih bisa berkiprah meluncurkan teks kreatif melalui media massa cetak atau blog di dunia maya. Namun, umumnya hanya singgah sebentar dalam imaji publik untuk kemudian segera dilupakan; tidak semua mampu &#8220;memfosil&#8221; dan menyejarah dalam wilayah apresiasi. Hanya beberapa di antara mereka yang mampu membangun kolaborasi dengan penerbit sehingga mempunyai sebuah antologi.</p>
<p align="justify">Lantas, bagaimana dengan karya-karya penulis yang secara literer tidak kalah hebat dari teks-teks sastra yang telah terantologi, tetapi tak terjamah oleh penerbit buku?</p>
<p align="justify">Kalau kebetulan kita melakukan <em>blogwalking</em>, kita akan menemukan banyak teks fiksi bertaburan di dunia maya yang layak dikategorikan sebagai teks sastra. Karya-karya &#8220;mengagumkan&#8221; semacam itu memang memiliki jangkauan pembacaan yang &#8220;nyaris&#8221; tak terbatas. Siapa  pun bisa mengapresiasinya. Namun, seringkali karya-karya bagus semacam itu  hanya singgah sebentar dalam imaji publik untuk kemudian terlupakan.</p>
<p align="justify">Secara jujur harus diakui, kehadiran sebuah buku belum tergantikan oleh media apa pun dalam upaya mengabadikan pemikiran dan  geliat batin seorang penulis. Buku mampu menyuguhkan beragam menu yang bergizi sehingga mampu memberikan asupan batin yang mencerahkan dan sekaligus menyehatkan rohaniah pembacanya. Banyak buku hebat yang mampu membuka dimensi baru dalam dunia pemikiran pembaca sehingga tidak gampang tereduksi untuk melakukan tindakan tak terpuji, menyesatkan, dan terjerat dalam ulah anomali sosial.</p>
<p align="justify">Saya menemukan banyak blog yang mampu menjalankan peran semacam itu. (Saya yakin, para pengunjung blog juga bisa memberikan penilaian, sehingga tak perlu *halah* saya sebutkan link-nya). Postingan-postingannya mampu memberikan pencerahan baru melalui gaya ucap yang enak dan komunikatif. Tidak suka mengumbar sensasi dan sebanyak-banyaknya berupaya membangun peradaban yang lebih bermoral, beradab, berbudaya, dan religius.</p>
<p align="justify">Karena demikian pentingnya kehadiran sebuah buku dalam upaya membangun peradaban yang lebih bermoral, beradab, berbudaya, dan religius, paling tidak dibutuhkan kehadiran seorang dokumentator yang dengan cermat, suntuk, dan intens senantiasa mengikuti perkembangan dan dinamika tulisan yang terpublikasikan di blog, untuk selanjutnya membedah dan menganalisis tanpa harus menggunakan perangkat teori yang muluk-muluk dan bombastis.</p>
<p align="justify">Persoalannya sekarang, adakah seorang dokumentator yang berkenan dengan suka rela menjalankan tugas kemanusiaannya untuk mengumpulkan teks-teks fiksi terbaik yang terpublikasikan di media blog untuk selanjutnya diterbitkan menjadi sebuah buku?  Saya yakin, bahkan haqqul yakin, pada saatnya nanti akan muncul dokumentator berhati jujur, mulia, tanpa pamrih, dan berusaha sebanyak-banyaknya merangkul teman-teman blogger untuk selanjutnya diajak beraksi bersama melakukan sebuah perubahan melalui buku. Nah, bagaimana? ***</p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" width="125" height="16" border="0" alt="AddThis Social Bookmark Button" /></a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F11%2F06%2Fteks-fiksi-dan-kehadiran-dokumentator%2F';
  addthis_title  = 'Teks+Fiksi+dan+Kehadiran+Dokumentator';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/06/teks-fiksi-dan-kehadiran-dokumentator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Topeng</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/27/topeng/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/27/topeng/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Oct 2007 21:11:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/27/topeng/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Entah! Setiap kali memandangi topeng itu lekat-lekat, Barman merasakan sebuah kekuatan aneh muncul secara tiba-tiba dari bilik goresan dan lekukannya. Ada semilir angin lembut yang mengusik gendang telinganya, ditingkah suara-suara ganjil yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Perasaan Barman jadi kacau. Kepalanya terasa pusing. Sorot matanya tersedot pelan-pelan ke dalam sebuah arus gaib [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Entah! Setiap kali memandangi topeng itu lekat-lekat, Barman merasakan sebuah kekuatan aneh muncul secara tiba-tiba dari bilik goresan dan lekukannya. Ada semilir angin lembut yang mengusik gendang telinganya, ditingkah suara-suara ganjil yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Perasaan Barman jadi kacau. Kepalanya terasa pusing. Sorot matanya tersedot pelan-pelan ke dalam sebuah arus gaib yang terus memancar dari balik topeng. Dalam keadaan demikian, Barman tak mampu berbuat apa-apa. Terpaku dan mematung. Getaran-getaran aneh terasa menjalari seluruh tubuhnya. Barman benar-benar berada dalam pengaruh topeng itu.</p>
<p align="justify">Memang hanya sebuah topeng. Bentuknya pun mungkin sudah tidak menarik. Permukaannya kasar. Dahinya lebar. Hidung pesek dengan kedua pipi menonjol. Goresan dan lekuknya terkesan disamarkan, tidak tegas. Warnanya pun sudah kusam, menandakan ketuaan. Orang-orang kampung menyebutnya topeng tembem. Tapi dengan topeng itulah nama ayah Barman, Marmo, pernah melambung sebagai pemain reog yang dikagumi pada masa jayanya.</p>
<p align="justify"><span id="more-254"></span>Konon, topeng itu dibikin sendiri oleh ayah Barman almarhum. Untuk mendapatkan bahannya, ayah Barman ketika itu harus mengacak-acak seisi kuburan, lantas melakukan puasa mutih &#8211;makan nasi tanpa sayur dan garam&#8211; selama 40 hari. Dengan cara demikian, menurut penuturan orang-orang, tangan ayah Barman akan terbimbing oleh sesuatu yang gaib sehingga mampu menghasilkan topeng yang sempurna.</p>
<p align="justify">Topeng ayah Barman, akhir-akhir memang benar-benar sempurna. Bukan lantaran bentuknya, melainkan kekuatannya yang mampu menyihir para penonton. Lucu, memikat, dan menghanyutkan. Para penonton benar-benar dibikin terpesona setiap kali ayah Barman bermain reog dengan mengenakan topeng itu. Grup reognya kisan berkibar. Harganya tinggi, tapi selalu laris ditanggap orang. Bahkan, sering diundang pentas menyambut tamu penting di pendapa kabupaten.</p>
<p align="justify">Bila mengenakan topeng itu, ayah Barman benar-benar menjelma jadi tembem, badut kocak yang mampu mengocok perut penonton lewat gerakan-gerakannya yang sulit dan mustahil: indah dan atraktif. Tarian-tariannya menyatu dan hanyut bersama irama gamelan dan terompet reog yang khas. Para penonton berdecak kagum. Begitu sempurnanya ayah Barman dalam memainkan topeng tembem, sampai-sampai para pengagumnya memanggilnya dengan sebutan Marmo Tembem. Dan ayah Barman merasa bangga dengan dengan panggilannya itu.</p>
<p align="justify">Namun, rupanya ayah Barman belum siap untuk menjadi pemain reog yang menyandang nama besar. Uang hasil pentasnya sering dihambur-hamburkan untuk memanjakan perempuan nakal; dan memelihara “gundik”, bahkan sering ludes di meja judi. Rezekinya jarang <em>nyanthol</em> di rumah. Seiring dengan itu, seni reog mulai tergusur oleh berbagai hiburan modern yang terus bermuculan. Jarang, lebih tepat dibilang langka, orang yang mau menanggap reog lagi. Pelan-pelan nama Marmo Tembem pun semakin tenggelam oleh arus zaman yang gencar menawarkan perubahan-perubahan.</p>
<p align="justify">Hingga meninggal, Marmo Tembem tak meninggalkan warisan secuil pun. Satu-satunya harta peninggalan, yakni sepetak sawah yang dibeli saat jayanya, sudah jatuh ke tangan Mak Karni, istri simpanannya yang berakal bulus.</p>
<p align="justify">Barman masih terpaku dan mematung di depan topeng tembem. Tiba-tiba saja muncul hasratnya untuk mencoba mengenakannya. Tapi setiap kali jari-jarinya menyentuh permukaannya yang kasar, kekuatan aneh yang muncul dari balik topeng itu semakin dahsyat menyedot kekuatannya, Barman menyurutkan langkah ke belakang. Sepasang bola matanya mendelik. Keringat dingin meleleh di sekujur tubuhnya. Barman memekik dahsyat ketika menatap sepasang mata topeng itu membelalak lebar dan bergerak-gerak.</p>
<p align="justify">“Ada apa, Kang?” tanya Saritem, istrinya yang tampak seperti perempuan yang baru kejatuhan cicak.  </p>
<p align="justify">“Tem, coba tatap topeng itu, Tem!&#8221; sahut Barman cemas.</p>
<p align="justify">“Memangnya kenapa?”</p>
<p align="justify">“Matanya!”</p>
<p align="justify">Serentak, perempuan bermata juling itu menjatuhkan pandangannya ke arah topeng yang lekat terpajang di dinding. Tapi begitu sepasang matanya hinggap di sana, perempuan itu malah tertawa. Barman tersipu. Topeng itu memang tak lebih dari sebuah topeng badut usang yang kaku dan beku. Lekukan dan goresan matanya yang nampak samar, tak lagi membelalak dan bergerak-gerak. Barman geleng-geleng.</p>
<p align="justify">“Sudahlah, Kang? Kakang terlalu capek! Sebaiknya Kakang istirahat saja, bukankah besok harus menghadiri undangan di balai desa?” kata istrinya sambil beringsut dari depan suaminya. Barman termangu. Benaknya seperti disentakkan oleh sebuah arus yang tidak bisa dipahaminya.</p>
<p align="justify">     ***</p>
<p align="justify">UDARA pagi di kampung tak berubah. Dingin. Kabut dari pinggang bukit terus menyembur-nyembur menyelimuti perkampungan. Mata Barman masih diserang kantuk. Pelan-pelan, lelaki gempal itu beringsut dari pembaringan, mengambil segelas air putih dan meneguknya. Sisanya disemburkan ke lantai. Sayup-sayup gendang telinganya menangkap kesibukan kampung yang mulai menggeliat. Suara deru motor, lengkingan tangis bocah, yang ditingkah hiruk-pikuk suara ternak piaraan.</p>
<p align="justify">Barman menyambut surat undangan yang tergeletak di atas meja. Sambil merapatkan sarung, Barman membacanya berulang kali di atas dipan, seakan hendak memperoleh kepastian tentang kebenaran isi surat itu.</p>
<p align="justify">Mata Barman berbinar-binar. Benaknya menerawang. Tiba-tiba saja ia mampu mengucapkan rasa syukur yang demikian tulusnya. Ia merasa benar-benar tersanjung dan begitu dihormati. Ia diundang dengan hormat ke balai desa untuk menerima penghargaan dari pemerintah atas jasa-jasa almarhum ayahnya melestarikan kesenian tradisional, reog. </p>
<p align="justify">Di mata Barman, tiba-tiba ayahnya muncul begitu agung dan berwibawa. Tabiat ayahnya yang <em>keranjingan</em> judi dan perempuan seolah-olah tenggelam di balik surat undangan yang tengah dibaca dan dipahaminya. Berulang-ulang Barman menarik napas lega. Dadanya ditimbuni harapan, penghargaan itu setidaknya akan sanggup menggeser nasib hidupnya yang kurang beruntung. Lebih-lebih setelah belakangan ini perubahan musim mulai tak menentu, hasil panen sepetak sawahnya tak mampu lagi menutup kebutuhan rumah tangganya yang membengkak.</p>
<p align="justify">Tapi harapan indah itu pun pupus di balai desa ketika ia hanya menerima selembar kertas yang diserahkan dengan bangganya oleh Pak Lurah atas nama pemerintah daerah. Saat itu memang ia tidak sendirian, para awak pemain reog yang kini masih hidup dan para ahli waris teman-teman seangkatan ayahnya juga menerima penghargaan yang sama. Tak henti-hentinya kepala Barman dicecar pertanyaan, kenapa penghargaan mesti diwujudkan dalam selembar kertas? Apakah tidak ada bentuk penghargaan lain yang lebih pantas dan manusiawi, dengan duit, misalnya? Dengan langkah tak bersemangat, Barman mengepit selembar kertas itu, lantas menyodorkannya di depan hidung istrinya. Istrinya melengos. Uring-uringan.<br />
     ***</p>
<p align="justify">TIBA-TIBA saja, sepasang mata Barman kembali terusik untuk memandangi topeng tembem yang lekat terpajang di dinding. Kekuatan aneh itu muncul kembali dari balik topeng, lewat goresan dan lekuknya. Tubuh Barman bergetar seperti ada sebuah arus kuat yang menjalar bersama aliran darahnya. Gendang telinganya menangkap sayup-sayup suara yang tak dikenalnya. Suara yang muncul dari sebuah ketersiksaan dan penderitaan. Mengerang dan merintih-rintih sekujur tubuhnya.</p>
<p align="justify">Suara-suara ganjil itu terus mendesing-desing di telinganya, memekakkan. Bersamaan dengan itu, Barman menyaksikan kedua mata topeng itu membelalak lebar dan bergerak-gerak, tapi sejurus kemudian mengatup rapat. Dan kini mendadak sepasang mata topeng itu mengeluarkan air mata. Semula hanya satu-dua tetes, tapi lama-lama menderas dan mengucur bagaikan pancuran. Dan yang lebih menyentakkannya, air mata itu pelan-pelan berubah memerah seperti darah. Seketika itu pula bau anyir darah menyerang hidungnya.</p>
<p align="justify">Tubuh Barman lemas. Kekuatannya seperti dibelejeti oleh sebuah kekuatan aneh yang tak dipahaminya. Sementara itu, suara mengerang dan merintih, suara yang muncul dari sebuah ketersiksaan dan penderitaan itu terus membombardir telinganya.</p>
<p align="justify">Gila! Secara tiba-tiba pula topeng itu terlepas dari dinding. Seperti melesatnya anak panah dari busur, topeng itu secepat kilat menancap dan menyatu dengan wajah Barman sedemikian kuat mencengkeramnya. Barman meronta dan dan memekik dahsyat. Setelah itu ia merasakan tubuhnya melayang entah ke mana. Istrinya bingung. Di matanya, wajah Barman benar-benar telah berubah, berganti rupa menjadi wajah topeng peninggalan almarhum mertuanya. Sepontan perempuan itu menjerit histeris memecah perkampungan.</p>
<p align="justify">Kampung gempar. Para penduduk berdatangan. Desahan, gumam, teriakan, dan berbagai komentar tumpah campur aduk, bersambung-sambungan.</p>
<p align="justify">“Barman jadi tembem!”  </p>
<p align="justify">“Hiii &#8230; ngeri!”</p>
<p align="justify">“Jangan ada yang mendekat, Barman bisa ngamuk!”</p>
<p align="justify">“Celaka!”</p>
<p align="justify">Para penduduk tak ada yang memberikan pertolongan ketika tubuh Saritem ambruk di kaki Barman.  ***<br />
<br />
<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" width="125" height="16" border="0" alt="AddThis Social Bookmark Button" /></a> </p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F10%2F27%2Ftopeng%2F';
  addthis_title  = 'Topeng';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/27/topeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revitalisasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/03/revitalisasi-pembelajaran-bahasa-indonesia-di-sekolah/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/03/revitalisasi-pembelajaran-bahasa-indonesia-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 17:34:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[linguistik]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/03/revitalisasi-pembelajaran-bahasa-indonesia-di-sekolah/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai bahasa resmi (negara), usia bahasa Indonesia sudah mencapai bilangan ke-62 tahun. Bahkan, dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia sudah berusia 79 tahun. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, dalam rentang usia tersebut idealnya sudah mampu mencapai tingkat “kematangan” dan “kesempurnaan” hidup, sebab sudah banyak merasakan liku-liku dan pahit-getirnya perjalanan sejarah. Untuk menggetarkan gaung penggunaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sebagai bahasa resmi (negara), usia bahasa Indonesia sudah mencapai bilangan ke-62 tahun. Bahkan, dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia sudah berusia 79 tahun. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, dalam rentang usia tersebut idealnya sudah mampu mencapai tingkat “kematangan” dan “kesempurnaan” hidup, sebab sudah banyak merasakan liku-liku dan pahit-getirnya perjalanan sejarah. Untuk menggetarkan gaung penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar pun pemerintah telah menempuh &#8220;politik kebahasaan&#8221; dengan menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa.</p>
<p align="justify">Namun, seiring dengan bertambahnya usia, bahasa Indonesia justru dihadang banyak masalah. Pertanyaan bernada pesimis pun bermunculan. Mampukah bahasa Indonesia menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan punya prestise tersendiri di tengah-tengah dahsyatnya arus globalisasi? Mampukah bahasa Indonesia bersikap luwes dan terbuka dalam mengikuti derap peradaban yang terus gencar menawarkan perubahan dan dinamika? Masih setia dan banggakah para penuturnya dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif di tengah-tengah perubahan dan dinamika itu?</p>
<p align="justify"><span id="more-230"></span><a href="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:-lAveRKjdomyAM:http://www.tabloidparle.com/images/karikatur.gif" target="_blank"><img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:-lAveRKjdomyAM:http://www.tabloidparle.com/images/karikatur.gif" alt="karikatur.gif" align="right" height="155" width="125" /></a>Sementara itu, jika kita melihat kenyataan di lapangan, secara jujur harus diakui, bahasa Indonesia belum difungsikan secara baik dan benar. Para penuturnya masih dihinggapi sikap<em> inferior </em>(rendah diri) sehingga merasa lebih modern, terhormat, dan terpelajar jika dalam peristiwa tutur sehari-hari, baik dalam ragam lisan maupun tulis, menyelipkan setumpuk istilah asing –padahal sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.</p>
<p align="justify">Agaknya pemahaman, penghayatan, dan penghargaan kita terhadap bahasa nasional dan negara sendiri belum tumbuh secara maksimal dan proporsional. Padahal, tak henti-hentinya pemerintah menganjurkan untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahkan, juga telah menunjukkan perhatian yang cukup besar dan serius dalam upaya menumbuhkembangkan bahasa Indonesia. Melalui “tangan panjang”-nya, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (P3B), pemerintah telah meluncurkan beberapa kaidah kebahasaan baku agar dapat dijadikan sebagai acuan segenap lapisan masyarakat dalam berbahasa Indonesia, seperti <em>Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan </em>(EYD), <em>Pedoman Umum pembentukan Istila</em>h (PUPI), <em>Tata Bahasa Indonesia Baku</em> (TBIB), maupun <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> (KBBI).</p>
<p align="justify">Akan tetapi, beberapa kaidah yang telah dikodifikasi dengan susah-payah itu tampaknya belum banyak mendapatkan perhatian masyarakat luas. Akibatnya bisa ditebak. Pemakaian bahasa Indonesia bermutu rendah: kalimatnya rancu dan kacau, kosakatanya payah, dan secara semantik sulit dipahami maknanya. Anjuran untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar seolah-olah hanya bersifat sloganistis, tanpa tindakan nyata dari penuturnya.</p>
<p align="justify"><strong>Bahasa Kedua</strong><br />
Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa masyarakat seolah-olah cuek dan masa bodoh terhadap segala macam kaidah kebahasaan yang telah ditetapkan sebagai acuan?
</p>
<p align="justify">Menurut hemat penulis, setidaknya dilatarbelakangi oleh dua sebab yang cukup mendasar. <em>Pertama</em>, dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Indonesia hanyalah merupakan bahasa kedua setelah bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Keadaan semacam ini, paling tidak ikut memengaruhi rendahnya pemahaman, penghayatan, dan penghargaan penutur terhadap bahasa Indonesia, sebab mereka telah terbiasa bertutur dengan menggunakan kerangka berpikir bahasa daerah, sehingga menjadi “gagap” ketika mereka harus menggunakan bahasa Indonesia secara langsung.</p>
<p align="justify"><em>Kedua,</em> kesalahan dalam berbahasa Indonesia lolos dari jerat hukum. Tampaknya tak ada sebuah ayat pun dalam hukum kita yang memberikan perhatian terhadap para penutur yang dengan sengaja “merusak” bahasa. Akibatnya, mereka bisa leluasa dalam mempermainkan dan memanipulasi bahasa sesuai dengan selera dan kepentingannya, tanpa ada rasa takut terkena denda atau sanksi apa pun.</p>
<p align="justify">Kedua sebab mendasar tersebut diperparah lagi dengan masih banyaknya tokoh masyarakat tertentu yang seharusnya menjadi anutan, tetapi nihil perhatiannya terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam situasi masyarakat <em>paternalistik </em>seperti di negeri kita, keadaan semacam itu jelas sangat tidak menguntungkan, sebab masyarakat akan ikut latah, beramai-ramai meniru bahasa tutur tokoh anutannya sebagai bentuk penghormatan dalam versi lain.</p>
<p align="justify"><strong>Revitalisasi</strong><br />
Selain kondisi yang kurang kondusif semacam itu, bobot dan mutu pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah pun tak henti-hentinya dipertanyakan. Hal ini memang beralasan, lantaran sekolah diyakini sebagai institusi yang diharapkan mampu melahirkan generasi bangsa yang memiliki kebanggaan terhadap bahasa nasional dan negaranya, berkedisiplinan dan berkesadaran tinggi untuk berbahasa yang baik dan benar, serta punya penghargaan yang memadai terhadap bahasa Indonesia.
</p>
<p align="justify">Namun, yang terjadi hingga saat ini, pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dinilai belum menunjukkan hasil optimal seperti yang diharapkan. Proses pembelajarannya berlangsung timpang; seadanya, tanpa bobot, dan monoton sehingga peserta didik terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku dan membosankan. Singkatnya, pembelajaran bahasa Indonesia masih memprihatinkan hasilnya. Keterampilan berbahasa siswa rendah sehingga tidak mampu mengungkapkan gagasan dan pikirannya secara logis, runtut, dan mudah dipahami.</p>
<p align="justify">Keadaan semacam itu jelas sangat memprihatinkan kita semua, sebab –seperti dikemukakan <a href="http://www.pusatbahasa.depdiknas.go.id/showpenuh.php?info=tokoh&amp;actionTree=open&amp;id=2&amp;infocmd=show&amp;infoid=8&amp;row=3" target="_blank">J.S. Badudu</a> (1994)&#8211; bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang sangat penting bukan saja karena bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang terpenting dalam masyarakat, melainkan juga karena penguasaan bahasa Indonesia yang baik akan sangat membantu siswa dalam memahami mata pelajaran lain yang menggunakan bahasa Indonesia. Bagaimana mungkin seorang siswa mampu belajar fisika, matematika, biologi, atau kimia, kalau penguasaan bahasanya nol.</p>
<p align="justify">Kondisi pembelajaran bahasa Indonesia yang demikian memprihatinkan, mau atau tidak, mengharuskan kita untuk melakukan langkah “revitalisasi”, yaitu dengan menghidupkan dan menggairahkan kembali proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah didukung semangat guru yang profesional dan gairah siswa yang terus meningkat intensitasnya dalam belajar dan berlatih berbahasa.</p>
<p align="justify">Langkah “revitalisasi” yang mesti ditempuh, di antaranya, <em>pertama</em>, menciptakan dan mengembangkan profesionalisme guru. Upaya menciptakan profesionalisme hendaknya dimulai sejak calon guru menempuh pendidikan di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan) agar kelak setelah benar-benar menjadi guru tidak asing lagi dengan dunianya dan siap pakai. Jelas, tuntutan ideal semacam ini bukan tugas yang ringan bagi LPTK, sebab selain harus mampu mencetak lulusan yang punya kemampuan akademik tinggi, juga harus memiliki integritas kepribadian yang kuat dan keterampilan mengajar yang andal.</p>
<p align="justify"><em>Kedua</em>, guru hendaknya tidak terlalu banyak dibebani oleh tuntutan kurikulum yang dapat “memasung” kreativitasnya dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran bahasa bukanlah untuk menjadikan siswa sebagai ahli bahasa, melainkan sebagai seorang yang dapat menggunakan bahasa untuk keperluannya sendiri, dapat memanfaatkan sebanyak-banyaknya apa yang ada di luar dirinya dari mendengar, membaca, dan mengalami, serta mampu berkomunikasi dengan orang di sekitarnya tentang pengalaman dan pengetahuannya. Ini artinya, guru harus diberikan keleluasaan untuk mengekspresikan kreativitas mengajarnya di kelas sehingga mampu menciptakan atmosfer pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Hal ini bisa terwujud jika kurikulum tidak semata-mata dijadikan sebagai &#8220;kitab suci&#8221; yang secara &#8220;zakelijk&#8221; harus diterapkan di kelas, tetapi juga perlu dikembangkan dan dieksplorasi secara kreatif sehingga pembelajaran benar-benar bermakna bagi siswa didik.</p>
<p align="justify"><em>Ketiga</em>, buku paket yang “wajib” dipakai hendaknya diupayakan untuk dicarikan buku ajar yang sesuai dengan tingkat kematangan jiwa dan latar belakang sosial-budaya siswa. Hal ini perlu dipikirkan, sebab bahan ajar yang ada dalam buku paket dinilai belum sepenuhnya mampu menarik minat dan gairah siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.</p>
<p align="justify">Dan<em> keempat</em>, guru bahasa bahasa hendaknya diberi kebebasan untuk mengembangkan kreativitasnya di sekolah secara bebas dan leluasa, tanpa harus diindoktrinasi dengan berbagai macam bentuk tekanan tertentu yang justru akan menjadi kendala dalam mewujudkan situasi pembelajaran yang ideal.</p>
<p align="justify">“Revitalisasi” tersebut hendaknya juga diimbangi pula dengan peran-serta masyarakat agar bisa menciptakan sauasana kondusif yang mampu merangsang siswa untuk belajar dan berlatih berbahasa Indonesia secara baik dan benar, dengan cara memberikan teladan yang baik dalam peristiwa tutur sehari-hari. Demikian pula media massa (cetak/elektronik) hendaknya juga menaruh kepedulian yang tinggi untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah kebahasan yang berlaku.</p>
<p align="justify">Jika langkah “revitalisasi” di atas dapat terwujud, tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah bukan mustahil diraih, anjuran pemerintah untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar kepada seluruh masyarakat pun tidak akan bersifat sloganistis. Bahkan, mungkin pada gilirannya nanti bahasa Indonesia benar-benar akan menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang wibawa dan punya prestise tersendiri di era globalisasi, luwes dan terbuka, dan para penuturnya akan tetap bangga dan setia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif di tengah derap peradaban zaman. Sebab, jutaan generasi yang memiliki kebanggaan dan kecintaan terhadap bahasa nasional dan negaranya akan lahir dari sekolah. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F10%2F03%2Frevitalisasi-pembelajaran-bahasa-indonesia-di-sekolah%2F';
  addthis_title  = 'Revitalisasi+Pembelajaran+Bahasa+Indonesia+di+Sekolah';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/03/revitalisasi-pembelajaran-bahasa-indonesia-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
