<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MGMP BAHASA INDONESIA SMP &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://bindosmp.edublogs.org/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bindosmp.edublogs.org</link>
	<description>Media Berbagi dan Bersilaturahmi antarguru</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Aug 2008 05:37:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pembacaan Cerpen Budi Maryono dan Diskusi Sastra</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 14:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[mgmp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[

Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Pembacaan cerpen akan dilakukan oleh sang cerpenis dan awak Teater Semut secara teatrekal.
Acara tersebut digelar pada:
hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008
pukul; 09.00 WIB s.d. selesai
tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Pembacaan cerpen akan dilakukan oleh sang cerpenis dan awak Teater Semut secara teatrekal.</p>
<p>Acara tersebut digelar pada:</p>
<p>hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008</p>
<p>pukul; 09.00 WIB s.d. selesai</p>
<p>tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 42 Kendal</p>
<p>keterangan:</p>
<p>1. kontribusi peserta Rp50.000,00 perorang</p>
<p>2. peserta mendapatkan sertifikat</p>
<p>3. peserta mendapatkan 1 (satu) buah buku kumpulan cerpen</p>
<p>4. kudapan</p>
<p>Usai pentas baca cerpen dilanjutkan dengan Diskusi Sastra yang akan mengupas habis tentang penulisan teks cerpen secara kreatif. Acara tersebut jelas akan sangat berarti bagi teman-teman sejawat guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kabupaten Kendal dalam upaya memberikan apresiasi sastra kepada sang pengarang sekaligus sebagai bekal menyajikan materi penulisan cerpen secara kreatif kepada siswa didik. Segala hal yang berkaitan dengan masalah penulisan cerpen akan dikupas habis-habisan oleh sang penulis. Mohon untuk berkenan hadir. Terima kasih.</p>
<p><strong>Salam Budaya,</strong></p>
<p>Sawali Tuhusetya</p>
</div>
</div>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F07%2F13%2Fpembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra%2F';
  addthis_title  = 'Pembacaan+Cerpen+Budi+Maryono+dan+Diskusi+Sastra';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Wejangan&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 13:29:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan &#8220;pesta&#8221; pergantian tahun, 18 &#8220;cantrik&#8221; dari &#8220;Padepokan&#8221; STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru &#8220;menyepi&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo itu mulai &#8220;bertapa&#8221; sejak Sabtu, 29 Desember hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan &#8220;pesta&#8221; pergantian tahun, 18 &#8220;cantrik&#8221; dari &#8220;Padepokan&#8221; STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru &#8220;menyepi&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo itu mulai &#8220;bertapa&#8221; sejak Sabtu, 29 Desember hingga Senin, 31 Desember 2007. Ada banyak &#8220;jurus&#8221; yang hendak diasah dalam &#8220;kawah candradimuka&#8221; itu, seperti manajemen pertunjukan, imajinasi, refleksi diri, olah tubuh, pernapasan dan vokal, penyutradaraan, keaktoran, make-up, artistik, kepekaan indera, improvisasi gerak dan kata, penciptaan, dan penyajian.</p>
<p align="justify">Ya,  para &#8220;cantrik&#8221; itu adalah beberapa gelintir anak muda yang telah berniat memilih dunia sastra dan teater sebagai bagian dari &#8220;panggilan&#8221; hidup. Sebuah dunia yang (nyaris) tidak banyak diminati oleh anak-anak muda di tengah-tengah gencarnya gerusan nilai materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme. Di bawah gemblengan Aslam Kussatyo, dedengkot teater Kota Kendal, mereka sengaja mengisolir diri menjelang pergantian tahun untuk melakukan refleksi,  berimajinasi,  mengolah daya cipta, dan berlatih jurus-jurus bermain teater.</p>
<div align="justify"><span id="more-308"></span>Saya yang kebetulan didaulat untuk memberikan &#8220;wejangan&#8221; kepada para &#8220;cantrik&#8221; di sebuah &#8220;pertapaan&#8221; yang dkelilingi banyak bukit itu pun tak kuasa menolak.  Di bawah &#8220;ancaman&#8221; cuaca buruk yang membadai, saya langsung memacu sepeda <strike>kumbang</strike> motor *halah* di atas jalan berlubang. Guyuran hujan rintik-rintik dan jalanan yang licin tak menyurutkan nyali saya *halah* untuk segera bertemu dengan para &#8220;cantrik&#8221; yang sedang &#8220;ngangsu kaweruh&#8221; masalah teater dan sastra itu.</div>
<div align="justify"> <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" title="aslam42.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" title="aslam42.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" alt="aslam42.jpg" height="290" width="485" /></a></div>
<p align="center"> Saya dan &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo di depan para &#8220;cantrik&#8221;.</p>
</div>
<div align="justify">   <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" title="aslam7ok.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" title="aslam7ok.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" alt="aslam7ok.jpg" /></a></div>
<p align="center"> Membeberkan *halah* &#8220;wejangan&#8221; sastra di depan para &#8220;cantrik&#8221;.</p>
<p align="center">*Maaf kawan, fotonya kabur, cuaca mendung dan berkabut, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Alasan klise*</p>
</div>
<div align="justify">Inilah &#8220;wejangan&#8221; yang saya &#8220;khotbah&#8221;-kan kepada mereka.</div>
<div align="center"><b>Kreativitas dalam dunia Penciptaan Teks Sastra</b></div>
<p align="justify">“Jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri.”<br />
(Seno Gumira Ajidarma:1997)<br />
***<br />
Kreativitas berkaitan dengan kemampuan daya cipta. Kehidupan berkaitan dengan penafsiran nilai-nilai hidup dan kehidupan yang bermakna dalam upaya meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam dunia penciptaan teks sastra, seorang penulis, mau atau tidak, harus mampu memadukan dua “kekuatan” itu sekaligus dalam teks-teks ciptaannya.
</p>
<p align="justify"> Dunia sastra sangat berkaitan dengan dunia yang tidak kasat mata. Teks sastra menyajikan persoalan hidup dan kehidupan secara fiktif, tetapi secara moral dan logika harus dapat ”dipertanggungjawabkan”. Bisa saja seorang penulis menyajikan konflik perjalanan hidup seorang pencandu narkotika yang tega menyiksa diri dan merusak masa depannya melalui ”pil atau serbuk setan”, misalnya. Namun, peristiwa yang digambarkan tetap harus utuh dan menampakkan kewajaran dari sisi moral dan logika. Jadi, meskipun hanya merupakan karya imajinatif, teks sastra tetap harus menampakkan keutuhannya sebagai teks yang runtut penalarannya.</p>
<p align="justify"> Emha Ainun Najib mengatakan, pekerjaan sastra memang merupakan pekerjaan halus, pekerjaan rohaniah. Namun, bagi yang berminat mengembangkan bakatnya tidak sesulit menekuni olahraga. Jika dalam sepak bola aturan-aturan main harus dipahami sebelum main sepak bola, sedangkan sastra &#8211;meski belum jelas; apakah itu soal kosa kata, dan sebagainya&#8211; tulis saja terus, sambil mencari waktu membaca karya sastra, kemudian karya tersebut disimpan, dibaca lagi, diperbaiki lagi, diendapkan lagi.</p>
<p align="justify"> &#8220;Semua penyair/cerpenis mengalami kesulitan menulis. Kalau tak demikian, tak lahir karya bermutu. Jadi, tulis saja dulu, meski katanya keliru, nanti akan ada komparasi, perbaiki kekeliruan, supaya ada dialektika dengan diri. Puisi menarik karena ia merangsang pikiran. Bisa saja dalam sebuah karya ada analisis sosiologis, antropologis dan sebagainya,&#8221; ungkap Emha. Hal senada juga dikemukakan Wisran Hadi. Menurutnya, bila banyak &#8220;peraturan&#8221; atau teori justru bisa jadi penghambat dalam menulis. Untuk itu, jangan peduli dulu dengan aturan ini-itu, yang penting menulis, dan terus menulis. Nah, bagaimana, menulis teks sastra tak perlu teori, bukan?<br />
***
</p>
<p align="justify">Bagaimana mengawali penulisan teks sastra? Tidak usah mempersulit diri. Apa pun yang ada di sekitar kita bisa dijadikan bahan cerita. Teman yang putus cinta, konflik dengan orang tua, gagal naik kelas, kecelakaan lalu lintas, korban narkoba, dan semacamnya bisa diracik menjadi sebuah teks yang menarik. Jadi, kita mesti jeli mengamati berbagai peristiwa yang berlangsung dalam kehidupan di sekitar kita sehari-hari. Lalu, sajikan peristiwa itu secara menarik dengan menggunakan kata-kata yang ekspresif. Ekspresif artinya mampu menyajikan peristiwa dengan menggunakan kata-kata yang dapat menggambarkan apa yang dilihat, didengar, diraba, dicium, atau dirasakan oleh penulis secara tepat. Hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan ungkapan (idiom), majas, atau ujaran langsung.</p>
<p align="justify"> Coba perhatikan kutipan cerpen berikut!</p>
<p align="justify"><i> “Melati … Melati … harum dan mewangi …”<br />
Setiap potongan syair dangdut itu terdengar, para tetangga segera paham, Sarkawi baru saja pulang dari hutan. Ia pasti sedang terlihat leyeh-leyeh, sembari  memeluk kucingnya.<br />
Mulanya para tetangga memang merasa aneh dengan dendang Sarkawi. Ya, selama ini ia lebih dikenal akrab dengan tembang Jawa atau lagu-lagu tayuban, baik dari mulutnya maupun dari radio kotaknya yang besar itu. Tapi, mereka kemudian mengerti juga, syair dangdut itu ternyata bukan pertanda peralihan selera. Bukan. Ia hanya ungkapan sayang bagi momongannya, si Melati.<br />
</i></p>
<p align="justify"><i> Kalau saja punya cucu, Pak Wi, begitu lelaki pencari kayu bakar itu dipanggil, tentu pantas dipanggil kakek. Tapi, jangankan kok cucu, sampai usianya yang menginjak senja, seorang anak pun tak ia miliki. Pernah memang seorang bocah mewarnai kehidupannya, perempuan lagi. Tapi nasib malang merenggut hidup bocah itu ketika belum genap berumur 10 tahun. Sejak itu, Pak Wi dan istrinya tak pernah lagi dikaruniai seorang anak pun. Sebenarnya ada keinginan untuk memungut anak dari famili atau tetangga. Namun, hidupnya yang tak pernah lepas dari kesulitan membuat keinginan itu hanya sebagai keinginan …<br />
</i></p>
<div align="right"> (Dikutip dari cerpen “Melati” karya Mahfud Ikhwan)</div>
</p>
<p align="justify"> Struktur cerpen terbentuk dari lima unsur yang saling berkaitan, yaitu perbuatan, penokohan, latar, sudut pandang, dan alur (plot). Tokoh yang dikisahkan melakukan perbuatan atau tindakan yang terjadi pada waktu dan tempat (latar) tertentu berdasarkan tahapan-tahapan tertentu (plot) dari sudut pandang (pusat pengisahan) penulisnya. Daya pikat sebuah teks cerpen sangat ditentukan oleh keterampilan sang penulis dalam menyatukan unsur-unsur cerita sehingga mampu merangsang minat  pembaca untuk mengetahui jalan cerita selanjutnya.</p>
<p align="justify"> Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah membangun karakter tokoh. Ada banyak cara yang bisa digunakan, di antaranya:</p>
<div align="justify">
<ul>
<li>Melalui ucapan-ucapan si tokoh: Ucapan si tokoh dalam menggambarkan karakternya. Orang yang sopan tentu berbeda cara ngomongnya dengan orang yang bengal. Orang pemarah tentu beda cara ngomongnya dengan orang yang penyabar. Demikian seterusnya.</li>
<li>Melalui pemberian nama: Dalam kehidupan nyata, nama seseorang memang tidak identik dengan sifat dan perilaku orang tersebut. Namun, dalam dunia fiksi, kita bisa memberikan nama-nama tertentu untuk memberikan kesan karakter yang berbeda-beda. Misalnya, nama Dewi cenderung berkesan anggun dan keibuan. Sedangkan, nama Susan cenderung berkesan centil dan genit. Pemberian nama juga hendaknya disesuaikan dengan setting cerita dan karakter etnis dari tokoh tersebut. Misalnya, aneh rasanya jika kamu menceritakan seorang tokoh yang beragama kristen, tetapi dia bernama Abdullah. Atau, kamu menceritakan tentang seorang tokoh yang ber-etnis Jawa, dan sejak lahir hingga dewasa tinggal di Kendal, tetapi dia bernama Michael. Kalaupun kamu harus memberikan nama yang seperti itu, hendaknya kamu memberikan penjelasan yang memadai mengenai hal itu (mengapa orang Jawa yang sejak lahir tinggal di Kendal bisa punya nama Michael, dan sebagainya)</li>
<li>Melalui diskripsi yang disampaikan oleh si penulis: Ini adalah cara yang cukup umum dan gampang. Contohnya: &#8220;Wina adalah gadis yang amat penyabar, ia selalu memulai ucapannya dengan senyuman.&#8221;</li>
<li>Melalui pendapat tokoh-tokoh lainnya di dalam karya tersebut, contoh: <i>Nia berkata, &#8220;Joko itu pelit banget deh. Masa udah ketahuan di dompetnya banyak duit, dia ngaku lagi bokek!&#8221;</i></li>
<li>Melalui sikap atau reaksi si tokoh terhadap kejadian tertentu, contoh: <i>Ketika seorang anak memecahkan gelas, apa yang dilakukan ibunya? Dalam hal ini, kita harus merumuskan dulu secara jelas, bagaimana karakter si ibu. Apakah dia pemarah, penyabar, suka mencaci-maki, dan sebagainya. Jika yang diceritakan adalah seorang ibu yang penyabar dan penuh pengertian, tentu tidak akan membuat kalimat yang menceritakan bahwa si ibu marah besar lalu memaki-maki anaknya.</i></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Jangan sekali-lagi merusak karakter tokoh dengan hal-hal yang kontradiktif. Misalnya: kamu menceritakan tentang tokoh Ali yang penyabar dan selalu santun dalam bicara. Namun dalam sebuah bagian cerita, kamu membuat kalimat seperti ini: Ali sangat terkejut mendengar cerita Hasan. Dadanya bergemuruh, mukanya merah, dan ia menatap Hasan penuh kebencian. &#8220;Bajingan loe!&#8221; teriaknya dengan kasar.<br />
***<br />
Teks sastra yang kamu buat akan menjadi lebih bermakna jika dibaca orang lain. Oleh sebab itu, kamu perlu memublikasikan teks karyamu ke media massa, majalah sekolah/remaja/umum, koran, atau tabloid. Sekarang ini, cerpen/puisi ”dimanjakan” oleh berbagai media. Hampir setiap penerbitan selalu menyediakan rubrik cerpen/puisi. Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ada baiknya, kamu memiliki beberapa alamat redaksi majalah/koran. Lebih bagus lagi jika memiliki alamat e-mail; lebih murah dan praktis.</p>
<p align="justify"> Jangan putus asa kalau gagal dimuat. Resep menjadi penulis sukses tidak mengenal putus asa dalam kamus hidupnya. Yang penting menulis, menulis, dan menulis. Yang tidak kalah penting, kamu harus banyak membaca teks sastra yang dimuat di berbagai koran atau majalah. Kalau mengalami kebuntuan dalam menulis?<br />
Salinlah beberapa paragraf atau halaman dari buku kesukaanmu.</p>
<ul>
<li>Tirulah gaya penulis favoritmu.</li>
<li>Berusahalah menulis dengan gaya yang baru bagimu.</li>
<li> Petakan kebuntuanmu menulis dalam bentuk gambar. Gunakan imajinasimu. Gambarlah apa saja. Melalui kegiatan ini “kedua belah otak” kamu bekerja dan merangsang pikiran kreatif.</li>
</ul>
<p align="justify">(Sebagian &#8220;wejangan&#8221; saya &#8220;curi&#8221; dari berbagai sumber yang saya sendiri sudah lupa dari  mana dulu saya &#8220;mencuri&#8221; <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  )</p>
<p align="justify">***</p>
<p align="justify">Tentu saja, mereka tidak puas hanya sekadar mendengarkan &#8220;wejangan-wejangan&#8221; yang tidak jelas juntrungnya itu, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />   Mereka saya beri kebebasan untuk ngomong apa saja. Bertanya dan berdiskusi pun jadilah. Hangat dan menarik. Ada keluguan dan kepolosan. Ada juga kekenesan.</p>
<p align="justify">Walhasil, saya pun meminta mereka untuk menerapkan &#8220;jurus-jurus&#8221; dalam menulis; puisi dan cerpen. Beragam jadinya. Ada yang bicara soal &#8220;Pohon Cinta&#8221;, &#8220;Terlambat&#8221;, &#8220;Putri Malu&#8221;, atau &#8220;Durian&#8221;. Macam-macamlah pokoknya. Tanpa terasa selama 3 jam saya menemani para &#8220;cantrik&#8221; itu. Hasilnya pun belum kelihatan memang. Namun, melihat semangat dan talenta yang mereka miliki, saya punya keyakinan, kelak akan muncul penulis dan penggiat sastra baru dari para &#8220;cantrik&#8221; yang baru saja usai melakukan &#8220;pertapaan&#8221; di Cokrokembang itu. Semoga! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F31%2Fwejangan-di-pertapaan-cokrokembang%2F';
  addthis_title  = '%26%238220%3BWejangan%26%238221%3B+di+%26%238220%3BPertapaan%26%238221%3B+Cokrokembang';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warni Ingin Pulang</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 18:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[patriarkhi]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Warni tercenung di kamarnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Benaknya jatuh ke tempat yang jauh. Ia rindu Emak, Bapak, dan adik lelaki satu-satunya di tanah Jawa, yang sudah hampir sepuluh tahun ditinggalkannya. Kenekadan Warni untuk menerima tugas sebagai guru di luar Jawa seakan bebar-benar telah memutuskan hubungan darah dengan keluarganya. Ia sudah berkali-kali mencoba mengirim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Warni tercenung di kamarnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Benaknya jatuh ke tempat yang jauh. Ia rindu Emak, Bapak, dan adik lelaki satu-satunya di tanah Jawa, yang sudah hampir sepuluh tahun ditinggalkannya. Kenekadan Warni untuk menerima tugas sebagai guru di luar Jawa seakan bebar-benar telah memutuskan hubungan darah dengan keluarganya. Ia sudah berkali-kali mencoba mengirim surat ke Jawa, tapi belum pernah sekali pun mendapatkan balasan. Warni tidak tahu, apakah surat yang dikirim memang tidak pernah sampai ke alamat yang dituju atau surat itu sampai ke tangan keluarganya, tapi sengaja tidak dibalas, yang bisa diartikan ia sudah tidak lagi dianggap sebagai anggota keluarga.</p>
<p align="justify">“Kamu hanya perempuan, Warni. Buat apa jauh-jauh meninggalkan kampung halaman hanya untuk memburu <i>duit</i>? Tanpa harus bekerja pun ayah sanggup menanggung hidupmu, bahkan sampai kelak kamu hidup berumah tangga!” kata-kata ayahnya menari-nari di lorong ingatannya.</p>
<p align="justify"><span id="more-302"></span>Ayah Warni memang tergolong orang kaya yang terpandang di kampung. Sawahnya berpetak-petak. Rumahnya paling besar dan megah. Sebagai seorang mantan kepala desa, ayah Warni begitu dihormati para penduduk. Namun, Warni tidak sepenuhnya setuju dengan sebagian sikap yang ditunjukkan oleh ayahnya yang dianggap tidak adil dalam memperlakukan dirinya. Dalam soal jodoh, misalnya, ayahnya bersikap otoriter. Warni tidak diberi kesempatan untuk memilih. Oleh ayahnya, Warni hendak dijodohkan dengan Joko, putra Pak Mantri Darpan. Tapi, Warni tidak suka dengan Joko yang pemalas dan congkak, sering membangga-banggakan kekayaan orang tuanya. Oleh sebab itu, ketika ia memperoleh nota tugas sebagai guru dan ditempatkan di luar Jawa, Warni amat senang. Paling tidak, hal itu bisa dijadikan dalih untuk menghindari Joko.</p>
<p align="justify">“Maaf, Ayah! Soal tugas adalah soal tanggung jawab. Bukan perkara lelaki atau perempuan! Lagi pula kenapa, sih, Ayah masih saja membedakan perempuan dan lelaki. Lantas bedanya di mana?” berontak Warni.</p>
<p align="justify">“Warni! Apa pun alasanmu, perempuan itu dalam kehidupan rumah tangga kelak tetap di bawah lelaki. Dan ingat, secara moral kamu sudah punya ikatan dengan Joko, putra Pak Mantri itu!”</p>
<p align="justify">“Itulah yang membuat saya tidak setuju! Di zaman yang sudah modern ini, Ayah masih saja memaksakan jodoh. Kalau cocok, sih, enggak masalah. Tapi kalau enggak, apa ada jaminan aku bisa hidup bahagia?” berondong Warni.</p>
<p align="justify">“Sudah, aku tidak mau berdebat. Sekarang tinggal pilih, tetap nekad atau mengikuti kemauan Bapak!”</p>
<p align="justify">Dua buah pilihan yang sama-sama sulit bagi Warni. Kalau harus mengikuti kemauan ayahnya, itu berarti ia menolak panggilan hidupnya sebagai seorang guru dan harus siap hidup berumah tangga dengan Joko yang tidak dicintainya. Itu sama saja ia telah ikut mengembangkan budaya patriarki yang selama ini ditentangnya. Warni memang bukan tipe feminis, tapi ia amat tidak sependapat kalau kaum perempuan selalu dimitoskan sebagai <i>kanca wingking,</i> yang hanya diserahi tugas mengurus <i>dapur, sumur, </i>dan<i> kasur</i>. Namun, jika ia tidak mengikuti keinginan ayahnya, itu sama artinya telah melempar telur busuk ke wajah ayahnya yang begitu dihormati oleh orang-orang kampung.</p>
<p align="justify">Beberapa hari lamanya, warni hanya ngendon di kamar. Ada segumpal mendung yang menggelayuti pikirannya. Sulit mengambil keputusan. Apalagi Ayah, Emak, dan adiknya selalu memasang wajah cemberut yang agaknya sudah sulit diajak kompromi. Namun, nota tugas yang ada dalam genggaman tangannya seperti sudah mengisyaratkan kalau ia harus secepatnya menunaikan tugas suci itu. Dalam kondisi seperti itu hanya pamannya, Om Rajimo yang cukup toleran, dapat memahami keinginannya.</p>
<p align="justify">“Warni, kalau itu sudah menjadi keyakinanmu, berangkatlah. Om merestuimu. Om hanya berpesan, hati-hati membawa diri di kampung orang. Apalagi di sana nanti tak ada sanak saudara,” kata pamannya lembut dan penuh pengertian. Kata-kata pamannya seperti mampu menyibak mendung yang bergelayut di benaknya, memantapkan langkahnya untuk segera menunaikan panggilan nuraninya, menjadi seorang pendidik di daerah yang jauh.</p>
<p align="justify">Akhirnya, Warni menetapkan pilihan menjadi seorang guru. Ketika hendak pamitan dengan keluarganya, ia sudah tak sanggup berkata-kata. Semua perasaannya ditumpahkan lewat surat yang dititipkan kepada Om Ramijo untuk disampaikan pada ayahnya. Dalam surat itu, Warni dengan gamblang menjelaskan bahwa kepergiannya bukan dimaksudkan menentang kehendak orang tua. Namun, semata-mata memenuhi panggilan suci sebagai seorang pendidik yang mesti dijalaninya. Selain itu, Warni dengan tegas memohon pengertian ayahnya agar tidak diskriminatif. Sudah saatnya kaum perempuan diberi hak yang sama dengan kaum lelaki. Bebas menentukan pilihan hidup sesuai dengan fitrah dan hati nuraninya.</p>
<p align="justify">Warni tidak tahu bagaimana reaksi ayahnya setelah membaca surat itu. Ia hanya tahu, saat ia dilepas ayahnya dengan wajah dingin dan sorot mata memancarkan amarah. Beruntung, Warni masih merasakan sikap arif dan kelembutan dari emaknya. Meski tidak setuju atas kepergiannya ke luar Jawa, Warni masih merasakan sisa-sisa perhatian dan kasih sayang di rongga hati emaknya. Dipeluknya erat-erat tubuh emaknya. Desah napas dan getaran hati mereka menyatu dalam keharuan. Warni serasa tak sanggup menahan arus air mata yang deras menjebol bendungan pelupuk matanya. Demikian juga ketika berpamitan dengan Totok, adiknya. Kedua bola mata adiknya itu tampak berkaca-kaca. Terasa amat berat melepas kepergiannya. Akhirnya, Warni benar-benar terbang ke daerah yang jauh, tempat yang diharapkan dapat menyematkan pengabdiannya untuk kepentingan sesama.<br />
     ***</p>
<p align="justify">Di tempat tugasnya, Warni diterima dengan ramah dan sambutan hangat dari kepala sekolah dan rekan-rekan gurunya yang sudah lama bertugas. Rumah dinas pun sudah disediakan, berada di kompleks sebuah gedung SLTP yang tampak kokoh dan megah.</p>
<p align="justify">Sebagian besar, rekan-rekan gurunya adalah kaum pendatang. Dari berita yang ia dengar, penduduk asli daerah itu masih terbilang kolot. Kehidupan mereka masih amat tergantung pada alam. Berladang dan berburu merupakan mata pencaharian utama mereka. Memang ada beberapa perkebunan kopi yang menghampar luas, tapi itu pun dikuasai oleh para pemilik modal dari luar. Kesadaran penduduk asli akan pentingnya pendidikan tampaknya belum tumbuh. Anak-anak mereka masih enggan duduk di bangku sekolah. Sejak kecil, anak-anak sudah diperkenalkan dengan pola hidup sederhana oleh orang tua mereka masing-masing. Magang di lahan dan di hutan, setelah besar menikah, lantas membangun permukiman liar di sekitar hutan. Tampaknya, mereka belum bisa hidup menyatu dengan kaum pendatang. Mereka lebih suka hidup di pinggir-pinggir hutan, menyatu dengan alam. Hanya sebagian kecil penduduk asli yang mau hidup membaur dengan kaum pendatang, terutama mereka yang bekerja sebagai pegawai pemerintah.</p>
<p align="justify">Waktu terus berlalu. Pembawaannya yang lincah dan sikapnya yang luwes membuat Warni mudah diterima dalam pergaulan. Tak ada hambatan yang ia rasakan selama bertugas. Semuanya berjalan lancar. Hanya terkadang ia harus berhadapan dengan siswanya yang tergolong nakal.</p>
<p align="justify">Naluri sebagai pendidik membikin Warni sering gelisah melihat anak-anak penduduk asli yang nyaris tak pernah tersentuh kemajuan. Hidup mereka seperti tersekap dalam lorong yang gelap dan sunyi. Terisolir. Warni berkeinginan membuka mata hati mereka akan pentingnya pendidikan. Ia ingin mengajari mereka baca tulis dan menghitung. Keinginan itu ternyata tak disetujui Pak Harahap, kepala sekolah. Menurutnya terlalu riskan kalau itu harus dilakukan. Apalagi, mereka belum bisa hidup menyatu dengan para penduduk yang lain. Bisa-bisa timbul kesalahpahaman. Namun, hasrat Warni agaknya sulit dibendung. Gagal mengajak Pak Harahap bekerja sama, Warni bergegas menemui Pak Matilda, camat setempat yang sudah ia kenal baik. Oleh Pak Matilda, gagasan Warni disambut dengan baik.</p>
<p align="justify">Sebenarnya, jarak antara rumah dinas Warni dengan permukiman penduduk asli tidak terlalu jauh. Hanya dipisahkan sebuah bukit kecil setelah melintasi sebuah hamparan kebun kopi yang agak luas. Namun, lantaran tidak ada jalinan komunikasi, jarak yang dekat itu terasa jauh. Oleh Pak Matilda, Warni diperkenalkan kepada para penduduk. Ia tak tahu persis bahasa yang mereka ucapkan. Warni hanya bersikap seramah mungkin dan selalu tersenyum. Para penduduk yang berkumpul tampak mengangguk-angguk. Terasa benar Pak Matilda berhasil berkomunikasi dengan mereka. Sementara itu, puluhan anak kecil sibuk dengan dunianya, bermain pedang-pedangan. Riuh.</p>
<p align="justify">Agak merinding juga menatap wajah-wajah penduduk asli yang tampak dingin dan acuh melihat kehadiran dirinya. Namun, Pak Matilda sering menghiburnya. Konon, hal itu sudah menjadi ciri khas penduduk setempat dalam menyambut kehadiran orang asing. Pak Matilda terus memberikan dorongan. Lama-lama, Warni terbiasa bergaul dengan para penduduk, hingga akhirnya ia berhasil mengajak anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Warni betul-betul menikmati misinya itu di sela-sela tugas utamanya sebagai guru di sebuah SLTP. Para penduduk mulai bisa menerima kehadirannya.</p>
<p align="justify">Misi pendidikan Warni ternyata membawa hikmah tersendiri. Entah bagaimana alur ceritanya, tiba-tiba saja warni terpikat oleh kehadiran Leode, seorang pendatang yang sukses sebagai pengusaha perkebunan kopi. Orangnya masih muda, tampan, dan berkulit bersih. Namun, bukan semata-mata itu yang membikin hati Warni terpikat, melainkan perhatian Leode yang cukup besar untuk mengentaskan penduduk asli dari keterbelakangan. Dengan kekayaannya, Laode sering memberikan bantuan kepada mereka. Bahkan, pemuda itu bersedia membangun sebuah gedung sekolah di tengah-tengah pemukiman para penduduk. Hati Warni semakin terpikat. Oleh sebab itu, Warni tak kuasa menolak ketika Laode meminang dirinya sebagai pendamping hidup.<br />
     ***<br />
Tanpa terasa, sudah sembilan tahun Warni meninggalkan kampung halamannya. Kini, ia sudah dikaruniai dua anak yang sehat, hasil perkawinannya dengan Laode yang simpatik dan penuh pengertian itu. Warni benar-benar bahagia. Tekad dan keyakinan yang kuat untuk mengentaskan penduduk setempat dari kebodohan dan keterbelakangan membuat dirinya begitu disegani dan dihormati oleh berbagai kalangan. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.</p>
<p align="justify">Memasuki tahun kesepuluh, sebuah peristiwa besar terjadi. Saat itu, di Jakarta pecah demonstrasi besar-besaran menuntut rezim yang lama lengser dari panggung kekuasaan. Tak lama kemudian, bola reformasi menggelinding ke seluruh penjuru Tanah Air. Rakyat yang selama ini tertekan tiba-tiba berubah bagaikan kuda liar, larut dalam eforia. Rakyat merasa bebas untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri.</p>
<p align="justify">Imbas reformasi menembus ke tempat Warni bertugas. Penduduk asli yang selama ini merasa dirampas kekayaannya oleh kaum pendatang tiba-tiba saja menuntut keadilan secara sepihak. Entah dihasut siapa, warga asli tiba-tiba berubah. Secara berkelompok mereka beramai-ramai mendatangi pemukiman para pendatang sambil membawa senjata tajam. Gedung-gedung milik pemerintah dibakar, gedung sekolah dihancurkan, toko-toko dijarah, pemiliknya dianiaya. Termasuk juga kebun kopi milik Laode yang siap dipanen, dijarah beramai-ramai. Kebaikan Laode dan pengorbanan Warni terhadap penduduk setempat sudah tidak dianggap. Berkali-kali keluarganya diteror.</p>
<p align="justify">Aparat pemerintah dan keamanan gagal mengendalikan ulah beringas penduduk setempat. Keadaan itu membikin kaum pendatang geram. Mereka bertekad menyatukan diri untuk membalas tindakan penduduk setempat yang dinilai sudah di luar batas. Kaum pendatang mempersenjatai diri. Pertikaian terbuka tak dapat dihindari. Korban berjatuhan di sana-sini. Kaum pendatang dan penduduk setempat sama-sama kalap. Akal sehat dan nurani terbang entah ke mana.</p>
<p align="justify">Suasana perkampungan benar-benar mencekam. Denting senjata tajam, suara tangis, dan jeritan histeris membahana, membelah langit, membelah hati nurani. Setiap hari selalu saja ada korban yang terbunuh atau terluka parah, meregang nyawa terkena sabetan senjata tajam. Darah segar tercecer di mana-mana, di depan pintu rumah, di perkebunan, di ladang, di tepi hutan, bahkan di tempat ibadah. Sudah puluhan nyawa melayang, menjadi korban pertikaian sia-sia.</p>
<p align="justify">Warni terguguk di kamarnya. Hatinya pedih teriris-iris. Laode, suaminya, kini entah berada di mana. Warni hanya bisa mengurung diri di rumah dengan kedua anaknya, tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Tiba-tiba saja Warni ingin pulang ke Jawa. Ia sudah demikian rindu hidup di kampung halamannya yang tenteram. Menyatu bersama orang tua dan sanak saudaranya. Namun, ia sangsi, apakah ia masih bisa diterima di tengah-tengah keluarganya, terutama ayahnya.</p>
<p align="justify">Sementara itu, di luar rumah, kecamuk pertikaian masih terus berlanjut. Bau anyir darah terbang menusuk hidung. Warni gusar. Ia makin panik ketika pintu rumahnya mendadak digedor-gedor orang dengan paksa, ditingkah langkah-langkah kaki dan teriakan orang memanggil-manggil nama suaminya dengan kasar. Entah, tiba-tiba saja Warni merasakan rumahnya diselubungi hawa kematian. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F24%2Fwarni-ingin-pulang%2F';
  addthis_title  = 'Warni+Ingin+Pulang';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjara</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 19:27:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[korup]]></category>
		<category><![CDATA[penjara]]></category>
		<category><![CDATA[sodomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Pelupuk mata Badrun mengerjap-ngerjap seperti klilipan. Berat dan pedas. Sudut-sudut matanya masih digerayangi sisa-sisa mimpi. Ia tidak tahu, sudah jam berapa sekarang. Sel tempat ia disekap memang sangat tidak memungkinkan untuk mengetahui dengan pasti pergantian setiap detik, menit, jam, bahkan hari. Ia pun tak ingat lagi, sudah berapa lama menjadi penghuni penjara terkutuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Pelupuk mata Badrun mengerjap-ngerjap seperti klilipan. Berat dan pedas. Sudut-sudut matanya masih digerayangi sisa-sisa mimpi. Ia tidak tahu, sudah jam berapa sekarang. Sel tempat ia disekap memang sangat tidak memungkinkan untuk mengetahui dengan pasti pergantian setiap detik, menit, jam, bahkan hari. Ia pun tak ingat lagi, sudah berapa lama menjadi penghuni penjara terkutuk yang sumpek, pengap, dan bau ini.</p>
<p align="justify">Yang menjengkelkan, ia harus sering bergaul dengan para penghuni penjara berperangai kasar. Ia sering dijadikan sasaran amarah dan ledakan emosi para pesakitan yang sudah kebelet ingin mencium bau kebebasan di luar tembok penjara. Gertakan, makian, sumpah-serapah, ancaman, pukulan, bahkan ludah bacin tak jarang harus ia terima, tanpa perlawanan. Sangat konyol jika harus melawan mereka. Di penjara ini, hanya okol dan nyali yang berbicara. Makin kuat okol dan nyalinya, mereka malah disegani dan bisa dengan bebas memperlakukan napi lain seenak perutnya.</p>
<p align="justify"><span id="more-289"></span>Yang lebih menjengkelkan, tak jarang Badrun dipaksa melayani nafsu birahi para pendosa yang sudah lama tak pernah mencium ketiak perempuan itu. Perlakuan mereka sungguh kasar bagaikan kuda liar. Melakukan sodomi tanpa kenal waktu. Ia benar-benar merasa jijik dan muak, tapi tak mampu berbuat apa-apa.</p>
<p align="justify">Badrun mengambil napas. Bau kotoran dan air kencing segera menyergap hidungnya. Jlamprang –teman satu selnya yang bertubuh kekar dan penuh tato— masih tidur mendengkur, tengkurap di atas tikar lusuh. Badrun melangkah berat menuju lubang bilik berjeruji besi. Di luar sana, ekor matanya segera hinggap pada lalu-lalang para sipir berseragam yang sibuk mengepulkan asap rokok. Sesekali tampak menggerombol, berbincang-bincang, tertawa-tawa, lantas menyebar ke bilik-bilik, menatap para napi dengan wajah garang dan tak bersahabat.</p>
<p align="justify">Huh! Benar-benar menjengkelkan, rutuknya dalam hati. Ulah para sipir penjara pun ternyata tak kalah brengseknya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia sering menyaksikan beberapa sipir dengan sikap licik tega “menjual” tugasnya demi uang, tak tahan rayuan napi berkantong tebal yang ingin segera bebas dari sekapan bilik penjara. Dengan berpura-pura mengejar napi yang melarikan diri, sebenarnya mereka sedang berupaya untuk meloloskannya dari kepungan. Berkali-kali peristiwa itu terjadi. Tapi para pejabat teras penjara menganggapnya sebagai risiko sebuah pekerjaan, tanpa ada kemauan untuk mengendalikan dan “memenjarakan” mental bawahannya yang korup. Kalau mental para sipir seperti itu terus dibiarkan, mana mungkin penjara ini mampu menjadi tempat pertobatan bagi para pendosa? Tanya Badrun pada dirinya sendiri.<br />
***
</p>
<p align="justify">Badrun sebenarnya bukanlah seorang penjahat. Sebelum menjadi penghuni penjara ini, ia bekerja sebagai buruh pabrik tekstil. Ia amat senang dan bahagia dengan pekerjaannya itu. Selain banyak teman sekampungnya yang bekerja di sana, para buruh juga diantarjemput oleh bus pabrik. Penghasilannya kecil memang, tapi itu dianggapnya lebih baik ketimbang harus menjadi “bromocorah” yang suka bikin susah sesamanya. Yang jadi masalah, Sumarni, istrinya, tampaknya sangat tersiksa dengan cara hidup seperti itu. Setiap kali kalender jatuh di angka 20 ke atas, isterinya terus uring-uringan. Berwajah suntrut, sampai-sampai tak berkenan tidur di atas ranjang bersamanya.</p>
<p align="justify">“Mbok ya cari sampingan apa gitu toh, Kang! Masak <em>Sampeyan</em> tega membiarkan nasib kita terus-terusan seperti ini! Coba, Kang, <em>Sampeyan</em> pikir! Utang kita di warung Bu Karni makin menumpuk, sementara uang sekolah si Darpono sudah nunggak lima bulan! Ini kemarin dapat surat dari sekolah!&#8221; Berondong istrinya dengan mata melotot. Badrun tergeragap.</p>
<p align="justify">Diambilnya surat yang tergeletak di atas meja berdebu. Tangan Badrun gemetar. Dahinya berkerut. Bola matanya berkaca-kaca ketika membaca isi surat itu. Sepengetahuannya, uang sekolah anak sulungnya itu selalu ia beresi setiap awal bulan sebelum seluruh penghasilannya jatuh ke tangan isterinya. Ia curiga, jangan-jangan Darpono telah menyalahgunakannya. Tiba-tiba saja darahnya berdesir. Giginya gemeletuk, menahan amarah. Dadanya naik-turun. Ia segera berjingkat menuju bilik anaknya dengan perasaan tak menentu. Di atas kasur tua lusuh, ia melihat Darpono, anak sulungnya, masih meringkuk di balik sarungnya. Dengan amarah yang memuncak, dibangunkan anaknya dengan paksa. Darpono geragapan. Sembari mengucak-ngucak pelupuk mata, bocah yang baru beranjak remaja itu melihat ayahnya seperti monster yang menakutkan.</p>
<p align="justify">“Ayo, jawab dengan jujur! Kamu gunakan untuk apa uang sekolah yang ayah berikan, hem?&#8221; Bentak Badrun sambil mengguncang-guncang bahu Darpono yang duduk termangu. </p>
<p align="justify">“Ayo, jawab!” Tak ada jawaban. Darpono mematung. Di luar sana, sesekali melintas deru kendaraan, samar-samar, lantas lenyap ditelan kabut pagi. Sepi. Hanya terdengar rengekan anak bungsunya dan suara isterinya yang ngedumel dari arah dapur.</p>
<p align="justify">Dada Badrun bergemuruh. Wajahnya memerah. Ia merasa telah dipermainkan. Plak! Plak! Plak! Tanpa disadari, telapak tangannya telah menari-nari di wajah anaknya. Darpono merasa kesakitan, terjerembab mencium lantai tanah. Hidungnya mengucurkan darah. Dari arah belakang, istrinya buru-buru menerobos bilik yang sumpek itu sambil menggendong si bungsu yang masih terus merengek-rengek.</p>
<p align="justify">“<em>Sampeyan</em> jangan gila, Kang! Kalau sampai terjadi apa-apa, apa tidak Sampeyan sendiri yang rugi?” sergahnya sambil meredam amarah suaminya. Dengan kelembutan naluri seorang ibu yang masih tersisa, perempuan kurus bermata cekung itu bergegas membelai wajah Darpono yang terguguk di lantai.</p>
<p align="justify">“Biar saja! Itulah upah seorang anak yang mulai belajar jadi penipu!” sahut Badrun ketus. </p>
<p align="justify">“Wong diminta Emak, kkk&#8230; katanya untuk mbayar utang Bu Karni, kok!” jawab Darpono gagap. Badrun tersentak. Kepalanya segera berpaling menatap wajah isterinya yang tiba-tiba memucat. Salah tingkah. </p>
<p align="justify">“Itu juga salah Sampeyan, jadi lelaki nggak becus ngurus kebutuhan keluarga!” sergah Sumarni merasa tidak bersalah.</p>
<p align="justify">“Eee&#8230; eee! Sudah jelas salah masih bisa cari-cari alasan! Aku sudah banting tulang setiap hari, semuanya untuk keluarga! Tak pernah sepeser pun aku mengantongi uang! Kalau sampai nggak cukup, mestinya kamu yang ngaca, becus nggak ngurus uang belanja?” sahut Badrun sewot, tidak seperti biasanya yang selalu mengalah. Ia merasa, kesabarannya telah habis.</p>
<p align="justify">Pertengkaran Badrun dan isterinya makin memuncak. Rumah reot itu seperti diselubungi kabut. Beberapa orang tetangga tampak ikut menguping sambil mengobral gunjingan miring. Badrun merasa risih. Tanpa pamit, ia bergegas menerobos pintu, menyahut pakaian seragam pabrik, lantas menembus jalan raya dengan perasaan amat masygul.</p>
<p align="justify">Setiba di pabrik, benak Badrun makin kacau, memikirkan nasib hidup keluarganya yang belum juga bergeser dari lumpur kemiskinan. Tiba-tiba saja gendang telinganya menangkap gemuruh demonstrasi ratusan buruh yang menuntut kenaikan upah. Dengan spanduk seadanya, mereka mengecam bos pabrik yang dianggap tidak pernah memperhatikan kesejahteraan para buruh. Mereka merasa, selama ini hanya dijadikan sebagai “sapi perah”. Badrun mengambil serangkum napas, lantas bergabung bersama para pengunjuk rasa. Di bawah siraman terik matahari, para buruh terus meneriakkan yel-yel. Dengan penuh semangat, Badrun ikut-ikutan menuntut kenaikan upah. Mulutnya terus berteriak-teriak. Kedua tangannya mengepal ke udara seperti hendak meninju langit. Siapa tahu, dengan cara seperti ini nasibnya akan berubah, pikirnya.</p>
<p align="justify">Para pengunjuk rasa makin bertambah dan terus bertambah. Di bawah terik matahari, mereka terus bersemangat meneriakkan yel-yel, menuntut agar upah dinaikkan 200%. Jika tidak dituruti, mereka mengancam akan melakukan mogok kerja total. Aksi mereka didukung oleh beberapa kelompok LSM.</p>
<p align="justify">Namun, unjuk rasa itu gagal membuahkan hasil. Tuntutan kenaikan upah itu dinilai pihak pabrik tidak masuk akal dan bersikukuh untuk menaikkan upah hanya sebesar 10%. Merasa tak digubris, para buruh mewujudkan ancamannya. Mereka melakukan mogok kerja total. Tapi, kejadian itu tak mengubah keputusan pihak pabrik. Malah berakibat fatal bagi para buruh pabrik. Sebagian pengunjuk rasa yang gencar menyuarakan tuntutan –termasuk Badrun—dipecat tanpa diberi pesangon. </p>
<p align="justify">Badrun benar-benar sial. Ia harus pontang-panting ke sana kemari memburu nasib. Sudah hampir sebulan ia mengacak-acak seantero kota, nasib baik belum juga berpihak kepadanya. Pekerjaan belum juga ia dapatkan, hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang lelaki separuh baya berperut buncit dan berpipi gembul di bawah reruntuhan gedung yang habis dibakar para pengunjuk rasa yang kalap. Dengan santun, lelaki separuh baya itu menawari sebuah pekerjaan mudah dengan imbalan yang cukup menggiurkan. Satu juta rupiah sekali kerja. Wajah Badrun berbinar. Setumpuk dhuwit melayang-layang di layar benaknya. Tanpa banyak alasan, Badrun menyanggupi pekerjaan yang ditawarkan lelaki yang tidak dikenalnya itu. Ia benar-benar merasa beruntung. Tanpa harus mengeluarkan banyak keringat, beberapa lembar ratusan ribu sudah jatuh ke tangannya. Badrun pun dengan jitu berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.</p>
<p align="justify">Namun, alangkah terkejutnya ketika Badrun baru berjalan dalam langkah seratus meter, gendang telinganya tiba-tiba mendengar ledakan dahsyat, diikuti suara berderak-derak dan jeritan histeris bersambung-sambungan. Ketika menoleh ke belakang, bola matanya membelalak. Mulutnya menganga. Ia tidak percaya terhadap pemandangan di hadapannya. Sebuah gedung plaza yang megah, yang barusan ia tinggalkan itu dalam sekejap telah porak-poranda. Beberapa sosok tubuh bergelimpangan meregang nyawa. Para pengunjung berlarian lintang-pukang ditingkah jerit dan pekik histeris. Terdengar pula raungan sirine mobil patroli aparat kepolisian mebelah kepanikan orang-orang. Suasana kacau.</p>
<p align="justify">Badrun tidak tahu, apa yang menjadi penyebab meledaknya pusat perbelanjaan masyarakat kota itu. Mungkinkah benda dalam plastik kresek yang tadi ia taruh di sebuah sudut etalase? Belum sempat ia memperoleh jawaban, tiga orang anggota polisi bertubuh tegap telah memborgolnya. Badrun tergeragap bagaikan rusa masuk kampung.</p>
<p align="justify">“Heh, ayo pijit!” Jangan bengong di situ!” seru sebuah suara yang besar dan berat. Badrun menoleh, tersentak. Rupanya, Jlamprang telah bangun. Itu artinya, ia harus siap melayani semua keinginan penjahat bertubuh kekar penuh tato yang konon sudah pernah membunuh belasan orang tak berdosa. Badrun tak menduga kalau harus menjalani hidup di penjara, bergaul dengan para pendosa yang tangannya sudah terbiasa berlumuran darah. Entah! Sampai kapan ia harus menjadi penghuni bilik berbau busuk itu! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F14%2Fpenjara%2F';
  addthis_title  = 'Penjara';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imajinasi &#8220;Sang Pembunuh&#8221; dan &#8220;Kebusukan&#8221; Penjara</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/04/imajinasi-sang-pembunuh-dan-kebusukan-penjara/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/04/imajinasi-sang-pembunuh-dan-kebusukan-penjara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Dec 2007 13:28:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[narapidana]]></category>
		<category><![CDATA[penjara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/04/imajinasi-sang-pembunuh-dan-kebusukan-penjara/</guid>
		<description><![CDATA[Sejujurnya, saya tersentak ketika membaca komentar Bu Amanda terhadap cerpen saya &#8220;Sang Pembunuh&#8221;. Mohon maaf sebelumnya kepada Bu Amanda kalau komentar Ibu saya jadikan sebagai topik tulisan. Hal ini penting lantaran menyangkut kreativitas dan &#8220;keliaran&#8221; imajinasi saya yang sedang belajar menulis cerpen. Apalagi, cerpen tersebut dinilai oleh Bu Amanda &#8220;tidak mungkin murni dari bayangan atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sejujurnya, saya tersentak ketika membaca komentar Bu Amanda terhadap cerpen saya &#8220;Sang Pembunuh&#8221;. Mohon maaf sebelumnya kepada Bu Amanda kalau komentar Ibu saya jadikan sebagai topik tulisan. Hal ini penting lantaran menyangkut kreativitas dan &#8220;keliaran&#8221; imajinasi saya yang sedang belajar menulis cerpen. Apalagi, cerpen tersebut dinilai oleh Bu Amanda &#8220;tidak mungkin murni dari bayangan atau ide kreatifitas semata tanpa ditunjang beberapa fakta-fakta yang nyata. Kenapa? Karena cerita tersebut sarat dengan elemen-elemen fakta nyata yang hanya bisa diketahui dan diresapi oleh seseorang yang memang benar-benar telah melalui sebuah masa dibalik jeruji besi.&#8221; *Aduh, garuk-garuk kepala.*</p>
<p align="justify"><span id="more-285"></span>Berikut ini komentar Bu Amanda selengkapnya.</p>
<blockquote><p> Dengan Hormat,<br />
Saya sangat terkesan dengan tulisan “Sang Pembunuh”. Maafkan asumsi saya yang mengatakan bahwa ide cerita tersebut tidak mungkin murni dari bayangan atau ide kreatifitas semata tanpa ditunjang beberapa fakta-fakta yang nyata. Kenapa? Karena cerita tersebut sarat dengan elemen-elemen fakta nyata yang hanya bisa diketahui dan diresapi oleh seseorang yang memang benar-benar telah melalui sebuah masa dibalik jeruji besi.</p>
<p>Kebetulan sudah empat bulan ini saya menjadi istri napi. Dan gambaran yang disodorkan kepada pembaca melalui cerita “Sang Pembunuh” memang benar adanya sehingga membuat saya miris karena begitu mendekati realita.</p>
<p>Sejujurnya, saya tidak pernah tahu mengapa saya setuju menikahi seorang napi. Mungkin karena saya percaya bahwa napi adalah manusia yang tetap memiliki hak hidup dan hak untuk diberlakukan layaknya manusia pada umumnya terlepas dari apapun kejahatan yang telah dilakukannya. Dan penjalanan hukuman kemungkinan besar tidak salah bila diartikan sebagai sebuah bentuk rasa tanggung-jawabnya untuk “menebus” kesalahan.</p>
<p>Namun, tampaknya, gambaran bahwa napi bukan manusia, yang bisa dengan seenaknya dilecehkan dan diperlakukan semena-mena oleh mereka-mereka yang berlindung dibalik seragam aparat semakin jelas terpapar. Penganiayaan napi sudah semakin menjadi-jadi.</p>
<p>Saya menanti karya tulis Bapak dalam memaparkan sebuah cerita “sejenis” cerita “Sang Pembunuh” namun dalam sudut pandang yangberbeda. Mungkin dari segi pandang penantian seorang istri napi, atau justru mungkin dari sudut cerita yang sama sekali berbeda – bagaimana perasaan para sipir penjara yang “terpaksa” menyiksa, menganiaya dan mengintimidasi napi atas suruhan KPLP atau KaLapasnya.</p>
<p>Tulisan Bapak sedemikian hidup. Jauh lebih hidup dari buku-buku beberapa penulis ternama yang berhasil menjual ratusan buku cerita dengan modal nama tenar semata. Mulai saat ini, Bapak merupakan icon saya. Icon penulis yang mengerti betul apa itu menulis.</p>
<p>Salam kenal dari saya, seorang istri napi.</p></blockquote>
<p align="justify">Secara spontan, saya pun merespon balik komentar Bu Amanda berikut ini.</p>
<blockquote><p> Waduh, saya jadi ge-er nih Bu Amanda. Memang, cerita yang saya paparkan tidak murni dari olahan imajinasi. Ada beberapa fakta menarik yang membuat saya ingin mengungkapkannya dalam bentuk fiksi. Dari berbagai berita sudah sering saya baca bahwa para napi mendapatkan perlakuan yang kurang simpatik dari aparat. Nah, ini yang menarik buat saya. Tentu saja sebagai sebuah fiksi, saya tidak hanya mengalihkan fakta2 manrik itu apa adanya, sebab tugas semacam itu sudah dijalankan oleh para jurnalis atau wartawan. Sebagai orang yang sedang belajar menulis, saya ingin mengungkap fakta dari sudut pandang imajinasi saya, mengamatinya dari susut pandang *halah* hati nurani dan kemanusiaan. Saya sedih terhadap opini yang berkembang di tengah2 masyarakat bahwa Napi identik dengan pesakitan yang layak disingkirkan dan diisolir dari pergaulan. Saya ingin menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yan sempurna. Tidak bisa kita nilai seseorang secara hitam putih bahwa mantan napi pasti jelek, sebaliknya orang yang selama ini dinilai baik pasti tidak memiliki cacat.<br />
Terima kasih Bu Amanda atas apresiasinya, semoga Ibu sabar dan tabah menghadapi persoalan yang Ibu hadapi. Tuhan pasti bersama orang-orang yang sabar.</p></blockquote>
<p align="justify">(Cerpen &#8220;Sang Pembunuh&#8221; dan komentar Bu Amanda bisa dilihat <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/sang-pembunuh/" target="_blank">di sini</a>. )</p>
<p align="justify">Komentar itu meluncur secara spontan dan saya sama sekali tidak kenal siapa Bu Amanda yang sesungguhnya. Keesokan harinya, ketika jam istirahat sekolah, saya iseng membuka blog. Ternyata sudah ada respon balik dari Bu Amanda dengan menggunakan nama <font color="red">Ipan Irtsi</font><font color="#000000">. Berikut komentarnya:</font></p>
<blockquote><p> Mohon pendapat Bapak tentang situs ini: harian-istri-napi.blogspot.com</p></blockquote>
<p align="justify">Akhirnya, saya pun segera meluncur <a href="http://harian-istri-napi.blogspot.com/">ke sini</a>. Dari blog yang belum lama dibuat itu &#8211;bisa dilihat berdasarkan arsip postingan&#8211; saya benar-benar bungkam. Tak sanggup berkata apa-apa, apalagi meninggalkan komentar. Suara anak-anak yang riuh di luar sana tak lagi masuk dalam gendang telinga saya. Mouse terus saya pegang, meluncur dari kata per kata, kalimat per kalimat, postingan per postingan. Aduh, tubuh saya bergetar, membayangkan seorang istri yang tengah berjuang sendirian dalam upaya memastikan nasib suaminya yang kini tengah terombang-ambing, bahkan mendapatkan perlakuan yang kurang manusiawi di penjara. Lobi ke lobi tak henti-hentinya dilakukan, tak mengenal ruang dan waktu. Bu Amanda terus menembus batas-batas kesetiaan sebagai seorang isteri.</p>
<p align="justify">Saya makin trenyuh ketika perjuangan Bu Amanda (nyaris) tak ada yang meresponnya. Terlepas dari masalah yang sedang menimpa suami Bu Amanda, ada sisi kemanusiaan kita yang sedang terusik. Sedemikian burukkah stigma yang menempel di tubuh seorang nara pidana sehingga tak sedikit orang yang memalingkan muka ketika beradu jidat dengan keluarga sang napi? Bukankah hidup manusia juga akan terus berubah seiring dengan detak zaman dan peradaban yang terus bergulir dalam <a href="http://www.unclegoop.wordpress.com/" target="_blank">lipatan waktu</a>?</p>
<p align="justify">Saking hanyutnya, saya lupa tidak meninggalkan komentar apa pun di blog <a href="http://harian-istri-napi.blogspot.com/" target="_blank">Bu Amanda</a>. Ketika tiba di rumah (pukul 15.00 WIB), saya kembali membuka blog Bu Amanda. Kembali saya bungkam. Haruskah saya &#8220;menjual&#8221; pepatah-petitih tentang moral dan sikap empati secara verbal? Aduh, dengan permohonan maaf, akhirnya saya putuskan untuk membuat tulisan ini.</p>
<p align="justify">Mohon maaf, Bu Amanda, kalau saya terlalu berlebihan. Cerpen &#8220;<a href="http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/sang-pembunuh/" target="_blank">Sang Pembunuh</a>&#8221; hanyalah sebuah teks fiksi. Memang, ada fakta yang saya hadirkan di sana. Namun, saya tak hanya sekadar mengalihkan fakta ke sebuah teks. Tugas semacam itu sudah dilaksanakan dengan baik oleh para jurnalis. &#8220;<a href="http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/sang-pembunuh/" target="_blank">Sang Pembunuh</a>&#8221; sudah melewati penjelajahan batin dan transpirasi batas-batas penulisan cerpen bagi saya yang sedang belajar menulis sebuah cerpen. Bahkan, &#8220;busuk&#8221;-nya penjara itu sudah &#8220;tercium&#8221; oleh kepekaan intuisi saya sejak saya belajar di SPG sekitar tahun 1980-an yang kebetulan saat itu ada saudara saya yang sedang berada di penjara.</p>
<p align="justify">Perlakuan yang kurang manusiawi ketika para napi berada di penjara juga banyak diberitakan di berbagai media. Itulah yang akhirnya memantapkan langkah saya untuk sekadar mengabadikannya menjadi sebuah cerpen. Hanya itu. Bisa jadi, suasana penjara juga akan terus mengusik para penulis untuk memotretnya ke dalam teks-teks lain yang lebih liar dan imajinatif.</p>
<p align="justify">Selamat berjuang <a href="http://harian-istri-napi.blogspot.com/" target="_blank">Bu Amanda</a> dalam menembus batas-batas kesetiaan sebagai seorang istri napi, semoga ibu bangga dengan predikat semacam itu. Salam hormat. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F04%2Fimajinasi-sang-pembunuh-dan-kebusukan-penjara%2F';
  addthis_title  = 'Imajinasi+%26%238220%3BSang+Pembunuh%26%238221%3B+dan+%26%238220%3BKebusukan%26%238221%3B+Penjara';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/04/imajinasi-sang-pembunuh-dan-kebusukan-penjara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jagal Abilawa</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/26/jagal-abilawa/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/26/jagal-abilawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Nov 2007 15:50:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[jagal abilawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/26/jagal-abilawa/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Sudah hampir sebulan ini aku dipusingkan oleh ulah Sumi, istriku, yang tengah hamil. Menurut para tetangga, istriku lagi nyidham, hal yang wajar dialami oleh perempuan yang sedang menjalani kodratnya. Dia minta dicarikan seorang tokoh dalam jagad pewayangan, Jagal Abilawa, salah satu kerabat Pandawa yang amat dikagumi lantaran keberanian dan ketegaran hatinya dalam menegakkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Sudah hampir sebulan ini aku dipusingkan oleh ulah Sumi, istriku, yang tengah hamil. Menurut para tetangga, istriku lagi<em> nyidham</em>, hal yang wajar dialami oleh perempuan yang sedang menjalani kodratnya. Dia minta dicarikan seorang tokoh dalam jagad pewayangan, Jagal Abilawa, salah satu kerabat Pandawa yang amat dikagumi lantaran keberanian dan ketegaran hatinya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.</p>
<p align="justify">Kalau sembarangan Jagal Abilawa, bagiku tak masalah. Aku bersahabat baik dengan banyak dalang dan perajin wayang kulit. Tentu, mereka dengan senang hati akan membantuku. Namun, yang diinginkan istriku, Jagal Abilawa yang usianya sudah mencapai usia ratusan tahun. Aku menganggap permintaan istriku merupakan sesuatu yang mustahil. Mana ada wayang kulit yang sanggup bertahan hingga umur ratusan tahun? Kalau toh ada, pasti sudah jatuh ke tangan para kolektor barang antik yang berkantong tebal. Tetapi, istriku tak peduli. Dia terus mendesakkan keinginannya untuk bisa dipertemukan dengan ksatria Jodipati yang perkasa itu.</p>
<p align="justify"><span id="more-275"></span>Ketika hasratnya mulai mendekati kemustahilan, istriku mulai berubah. Dingin dan acuh. Lidahnya tak pernah mau bersentuhan dengan makanan. Tubuhnya tampak kurus. Wajahnya yang cantik berubah pucat dan kuyu. Hampir setiap malam tak pernah tidur. Benaknya menerawang entah ke mana, diserbu hasrat yang menelikung batinnya.</p>
<p align="justify">Aku mulai cemas. Kalau istriku terus-terusan seperti itu, jelas akan berpengaruh tidak baik terhadap janin yang dikandungnya. Dan, aku tak mau mengharapkan hal itu terjadi, apalagi ini anak pertama yang sangat kami dambakan setelah lima tahun hidup berumah tangga.</p>
<p align="justify">Berminggu-minggu aku menjelajah dan mengubek-ubek berbagai kampung dan kota. Sudah belasan Jagal Abilawa kupersembahkan kepada istriku, tapi tak satu pun berkenan di hatinya. Semuanya ditolak dengan tatapan wajah yang suntrut. Keadaan istriku makin payah dan memprihatinkan. Aku terus mengembara, naik gunung turun jurang, hingga akhirnya aku terdampar di sebuah desa terpencil, jauh dari hiruk-pikuk keramaian.</p>
<p align="justify">Di desa sunyi yang diapit dua bukit gundul ini, aku bertemu dengan Ki Jantur Branjangan, dalang tua yang saat jayanya dikenal memiliki kemampuan memainkan wayang lewat perpaduan antara keterampilan sabet dan kekuatan magis. Konon, saat adegan perang, Ki Jantur Branjangan mampu membikin anak-anak wayang bertarung sendiri tanpa sentuhan tangannya di tengah pakeliran. Hebat, atraktif, dan fantastis. Para penonton dibuat tersentak sekaligus terkagum-kagum.</p>
<p align="justify">Aku sendiri tidak tahu, kenapa mantan dalang kondang itu bisa terlempar di dusun yang nyaris tak pernah mencium bau asap kendaraan ini. Kehidupannya pun amat menyedihkan. Tinggal di gubuk reot dan tak terawat. Di kanan kirinya penuh rerumputan liar hingga menjalar di atap gubugnya. Yang membuat aku heran, lelaki tua itu mampu menebak maksud kehadiranku. Dengan napas sengal, ia bercerita bahwa sudah sebulan ini kotak wayangnya sering berbunyi sendiri, seperti ada wayang yang ingin keluar dari persembunyiannya di tengah malam. Dan, itu dipahami, ada seseorang yang menginginkan salah satu wayang yang tersimpan di kotak tua itu.</p>
<p align="justify">“Aku yakin, kedatangan <em>Sampeyan</em> pasti menginginkan wayang itu!” katanya dengan suara bergetar, tapi wibawa. Aku tersentak.</p>
<p align="justify">“Betul, Ki!” jawabku tergagap.</p>
<p align="justify">Sembari menyeret langkah, Ki Jantur Branjangan beranjak dari kursi tuanya, menuju kotak wayang yang tertimbun debu berlapis-lapis. Ketika dibuka, aku terperanjat. Ada salah satu wayang yang berdiri di atas tumpukan wayang lain. Dengan tangan gemetar, Ki Jantur Branjangan sangat hati-hati mengambil wayang itu.</p>
<p align="justify">“Inilah wayang yang kumaksudkan itu, Nak! Jagal Abilawa!”</p>
<p align="justify">“Jagal Abilawa?”</p>
<p align="justify">“Ia hendak keluar mencari jodohnya!”</p>
<p align="justify">Seketika ingatanku jatuh pada Sumi, istriku. Tentu, Jagal Abilawa milik Ki Jantur Branjangan inilah yang diinginkannya. Setelah meninggalkan beberapa lembar lima puluhan ribu, aku bergegas pulang dengan perasaan lega. Plong.<br />
***</p>
<p align="justify">Dilihat dari bentuknya, wayang Jagal Abilawa ini sudah tidak menarik. Warnanya kusam. Di sana-sini sudah geripis, seperti dimakan rayap. Tampil dengan wujud setengah telanjang, hanya mengenakan busana sekadar penutup aurat. Rambutnya yang gondrong hanya diikat selembar kain hitam. Namun, masih menampakkan sisa-sisa keperkasaan. Dadanya bidang. Otot perutnya bertonjolan. Sorot matanya tajam. Kuku pancanaka yang melekat di jempol tangannya tampak kukuh dan kuat.</p>
<p align="justify">Ketika wayang itu kusodorkan kepada istriku, ia tampak seperti anak kecil yang telah lama merindukan barang mainannya yang telah lama hilang. Senyumnya mengembang. Lantas, memeluk erat-erat Jagal Abilawa dengan kemesraan yang sempurna.</p>
<p align="justify">Aku senang, istriku sudah menemukan dunianya. Gairah hidupnya tumbuh berlipat-lipat. Wajahnya bercahaya. Menjelang tidur, tak lupa istriku memainkan sebentar Jagal Abilawa itu dengan gerakan yang kaku, lalu memeluknya erat-erat di atas dadanya yang padat. Terkadang aku merasa iri, bahkan lebih tepat dibilang cemburu setiap kali melihat Jagal Abilawa berada di atas perut istriku yang makin membuncit. Di mataku, Jagal Abilawa itu seperti wujud yang sesungguhnya, melakukan gerakan-gerakan di atas tubuh istriku seperti orang bersetubuh. Sejak kehadiran wayang itu di rumah ini, aku seperti disingkirkan dari kehidupan Sumi. Merasa asing dan tak dipedulikan lagi.</p>
<p align="justify">Istriku memang pengagum berat pertunjukan wayang kulit. Saat kami masih pacaran, Sumi sering memaksaku untuk menemaninya nonton hingga <em>tancep kayon</em>. Di tempat-tempat tetangga yang punya hajat, di balai desa, di kantor kecamatan, bahkan hingga di pendapa kabupaten, setiap kali ada pergelaran wayang kulit, Sumi selalu merajuk untuk menonton.</p>
<p align="justify">Ia sering menangis sesenggukan ketika sang dalang dengan dramatis menggambarkan kehidupan Jagal Abilawa bersama Drupadi dan keempat saudaranya yang lain hidup dalam penyamaran di negeri Wiratha. Dengan mulut <em>ngedumel</em>, ia mengumpat perilaku para Kurawa yang tega menyingkirkan Pandawa dengan cara yang amat menyakitkan. </p>
<p align="justify">Namun, ia berbalik jingkrak-jingkrak ketika Jagal Abilawa berhasil menggasak musuh-musuhnya. Secara refleks, ia mencium dan memelukku di tengah kerumunan para penonton. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga kami membangun rumah tangga.</p>
<p align="justify">Sejak Jagal Abilawa hadir di rumah ini, aku mulai menangkap keanehan. Istriku acuh dan tak mau lagi melayaniku. Ia memperlakukan wayang “terkutuk” itu terlalu berlebihan. Ia tetap bergeming ketika dengan cara yang sedikit kasar aku memaksanya untuk melayaniku di atas ranjang.</p>
<p align="justify">Ia tak peduli. Jagal Abilawa itu tetap bertengger di atas perutnya, didekap dan dipeluk dengan kehangatan dan kemesraan yang sempurna. Ketika istriku terlena, ingin rasanya aku membuang jauh-jauh wayang keparat itu, atau mengembalikannya ke tempat Ki Jantur Branjangan. Tapi, Jagal Abilawa itu seperti lengket dan menyatu dengan tubuh istriku. Brengsek!<br />
***</p>
<p align="justify">Perut istriku makin membesar. Usianya sudah lebih sembilan bulan. Dengan perasaan mendongkol yang masih menyergap dada, aku segera menggantung Jagal Abilawa di atas tempat tidur seperti permintaan istriku. Tiba-tiba saja, istriku mengerang. Perutnya bergerak-gerak.</p>
<p align="justify">“Sum, sudah tiba saatnya kamu <em>babaran</em>! Kubawa ke rumah Bu Bidan, ya?”</p>
<p align="justify">“Tidak usah cemas, Mas! Anak kita akan lahir dengan sendirinya!”</p>
<p align="justify">Aku benar-benar dibikin tak berkutik. Bagaimana mungkin istriku mampu melahirkan tanpa bantuan orang lain? Mataku menyapu seisi kamar. Kulihat perabot-perabot kamar tak berubah. Namun, ketika mataku jatuh ke sosok Jagal Abilawa yang tergantung di atas tubuh istriku, kembali aku tersentak. Wayang kulit itu tiba-tiba saja mengeluarkan asap. Aromanya anyir seperti bau darah. Asap terus bergulung-gulung memenuhi kamar. Lantas, menyatu membentuk sosok Jagal Abilawa yang sesungguhnya. Tubuhnya tinggi dan besar, berotot, berkuku tajam, perkasa. Sosok itu tersenyum. Dengan kecepatan yang sulit kuduga, sosok Jagal Abilawa itu tiba-tiba menghilang seperti tertelan perut bumi.</p>
<p align="justify">Bersamaan dengan hilangnya Jagal Abilawa, telingaku mendengar suara tangis bayi. Ternyata benar kata istriku, anakku lahir dengan sendirinya. Tanpa harus mengalami perjuangan yang berat, istriku telah mampu menunaikan tugsanya sebagai seorang istri dengan begitu sempurna. Aku bergegas melihat anakku. Montok dan sehat. Rasa dongkolku berubah jadi haru dan bahagia. Aku telah menjadi seorang ayah. Segera kucium dan kupeluk istriku dengan luapan kebahagiaan.</p>
<p align="justify">“Anak kita laki-laki, Sum!” bisikku di telinga istriku. Ia tersenyum.</p>
<p align="justify">“Namakan dia Jagal Abilawa, Mas!” pintanya. Seperti dihantam godam, dadaku terasa sakit dan sesak. Setiap kali mendengar nama Jagal Abilawa, aku seperti menatap monster ganas yang hendak memisahkan aku dari kehidupan Sumi. Sembari menahan perasaan tak menentu, kuiyakan saja permintaan Sumi.<br />
***</p>
<p align="justify">Belum genap sepekan anakku menjadi penghuni rumah ini, dan belum resmi ia kuberi nama Jagal Abilawa, muncul keanehan pada dirinya. Tidak seperti layaknya seorang bayi, ia begitu rakus dan melahap makanan apa saja yang disodorkan kepadanya. Tubuhnya jadi bongsor dan melebihi ukuran tubuh anak usia lima tahun. Yang membuatku terkejut, ia demikian bernafsu menyedot tetek ibunya. Aku jadi risih terhadap berbagai komentar yang meluncur dari mulut para tetangga.</p>
<p align="justify">Tenggorokanku tercekat ketika suatu malam istriku merintih-rintih. Aku bergegas menuju ke kamar. Di luar, banyak tetangga yang masih begadang. Aku terkesiap saat melihat anakku menetek ibunya seperti anak seekor kerbau yang kehausan, berjam-jam lamanya. Istriku terus merintih-rintih. Aku melihat tubuh istriku makin melemah. Loyo. Pucat.</p>
<p align="justify">Aku yakin, anakku tak sekadar menyedot air susu, tapi juga darah ibunya. Dengan gerakan kilat aku berjingkat melepaskan anakku dari sisi Sumi. Namun, cengkeraman mulutnya begitu kuat. Aku tak sanggup melepaskannya. Istriku makin tak berdaya.</p>
<p align="justify">Aku berteriak minta tolong. Ketika gendang telingaku menangkap derap langkah kaki menuju ke kamar, aku melihat anakku melepaskan tetek ibunya, lantas menyergapku dengan kecepatan tak terduga. Aku tergeragap. Belum sempat menghindar, anakku yang mendadak menjadi sosok mengerikan itu, mencengkeramkan mulutnya ke leherku.</p>
<p align="justify">Darahku berdesir. Leherku terasa seperti digigit gugusan gigi yang kuat dan tajam dengan kekuatan penuh. Aku terus berteriak, tapi cengkeraman itu makin dahsyat menggasakku. Telingaku hanya mampu menangkap teriakan histeris para tetangga dengan samar-samar, hingga akhirnya aku tak tahu apa-apa lagi. Gelap. Kulihat Malaikat Maut menari-nari di depanku. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F11%2F26%2Fjagal-abilawa%2F';
  addthis_title  = 'Jagal+Abilawa';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/26/jagal-abilawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kang Panut</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/07/kang-panut/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/07/kang-panut/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Nov 2007 16:27:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/07/kang-panut/</guid>
		<description><![CDATA[Nada tangis pilu memecah perkampungan, mengiris atap-atap rumah, mengusik mimpi-mimpi yang membadai di layar bawah sadar para penduduk. Fajar baru saja menggeliat dari kepungan malam yang busuk. Sambil mengucak-ucak pelupuk mata, beberapa penduduk berjingkat dari pembaringan, menerobos pintu, menyibak kabut dingin.
&#8220;Ada yang meninggal, ya, Kang?&#8221; tanya seseorang.
&#8220;Mungkin!&#8221; sahut yang lain.
&#8220;Kira-kira siapa yang meninggal, ya, Kang?&#8221;
&#8220;Mana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Nada tangis pilu memecah perkampungan, mengiris atap-atap rumah, mengusik mimpi-mimpi yang membadai di layar bawah sadar para penduduk. Fajar baru saja menggeliat dari kepungan malam yang busuk. Sambil mengucak-ucak pelupuk mata, beberapa penduduk berjingkat dari pembaringan, menerobos pintu, menyibak kabut dingin.</p>
<p align="justify">&#8220;Ada yang meninggal, ya, Kang?&#8221; tanya seseorang.</p>
<p align="justify">&#8220;Mungkin!&#8221; sahut yang lain.</p>
<p align="justify">&#8220;Kira-kira siapa yang meninggal, ya, Kang?&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Mana aku tahu? Tapi kalau ndak salah tangisan itu dari rumah Kang Panut!&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Tapi setahu saya keluarga Kang Panut sehat-sehat saja, kok!&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Yah, semoga tidak ada apa-apa!&#8221;</p>
<p align="justify">Mereka terus berjalan menyusuri jalan desa yang dingin dan berkabut. Tergesa-gesa. Suara tangis makin menyayat-nyayat. Para penduduk makin tak sabar. Ketika tiba di rumah Kang Panut, mereka menyaksikan kesibukan yang berlangsung di gubug reot berdinding bambu itu.</p>
<p align="justify"><span id="more-264"></span>&#8220;Urut pergelangan kakinya!&#8221; seru seseorang.</p>
<p align="justify">&#8220;Bikinkan kopi, cepat!&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Tekan jempol kakinya!&#8221;</p>
<p align="justify">Suara penduduk kampung yang riuh berbaur dengan bau mulut, suara batuk, suara tangis, suara kokok ayam. Di kejauhan sana suara azan subuh menggema, menampar dinding bukit, menggoyang lembah hantu dan demit, menggetarkan kaki langit. Di atas pembaringan, Kang Panut tergolek tak berdaya. Bola matanya mendelik dahsyat. Wajahnya pasi, kehilangan cahaya kehidupan. Napasnya berat dan sesak. Kerongkongan dan rongga dadanya seperti tersumbat beban yang mahaberat. Beberapa penduduk sibuk mengurusnya. Namun, agaknya Tuhan telah berkehendak lain. Lelaki kurus itu tiba-tiba meronta dahsyat, lalu diam, tak berkutik. Sekujur tubuhnya kaku dan dingin. Mati. Seorang perempuan kurus memekik histeris; roboh dan tersungkur ke lantai. Kabut duka bergulung-gulung menyelimuti gubug reot itu.</p>
<p align="justify">Tak seorang pun menduga, Kang Panut bakal meninggal secepat itu. Kemarin, para penduduk masih sempat menyaksikan lelaki kurus bermata juling itu bekerja sebagai tukang masak air di rumah Pak Lurah Kimpul yang sedang punya hajat mantu. Dengan celana kolor hitam dan kaos oblong lusuh, Kang Panut bergelut dengan api dan asap dapur. Memasak air untuk suguhan para tamu. Wajahnya tampak lelah. Namun, Kang Panut tak menghiraukan. Dia terus bekerja sampai hajat usai.</p>
<p align="justify">Agaknya Kang Panut menikmati betul pekerjaannya itu. Hanya dengan upah lima ribu rupiah, dia sambut tawaran setiap penduduk yang membutuhkan tenaganya dengan senang hati. Yu Ginem, isterinya pun tak pernah berontak. Dari dalam gubugnya yang reot itu hampir tak pernah terdengar percek-cokan. Hanya sesekali terdengar tangis kedua anaknya yang saling berebut makanan atau nasi kenduri dari tetangga. Selebihnya, gubug reot itu senantiasa sunyi, tersisih di sudut perkampungan yang tak pernah terjamah suara radio atau televisi. Jika malam tiba, dari balik gubug itu menggema suara jangkrik atau gangsir yang bersembunyi di sela-sela gundukan cacing tanah yang lembab dan kotor.<br />
***</p>
<p align="justify">Berita kematian Kang Panut bagaikan terbawa angin, menyebar dengan cepat ke seantero desa. Para penduduk berdatangan secara bergelombang. Maklumlah. Hampir semua penduduk desa dari ujung barat hingga ujung timur mengenalnya. Dia dianggap telah berjasa menghidupkan hajat banyak orang. Seandainya tidak ada Kang Panut, pasti akan sering terjadi keributan. Para tamu yang hadir merasa tidak dihargai lantaran tak disuguhi minuman. Kasak-kusuk dengan mudah dan cepat berkecamuk di setiap kepala. Memang hanya sekadar minuman. Namun, bisa menjadi persoalan besar lantaran menyangkut harga diri dan kehormatan.</p>
<p align="justify">Para pelayat membludak. Gubug reot itu seolah-olah mau ambruk; tak kuasa menampung pelayat yang berjejal-jelal. Sebagian yang lain menyingkir ke emper rumah-rumah tetangga. Pak Lurah Kimpul pun menyempatkan hadir. Bola matanya berkaca-kaca. Entah, pikiran apa yang tengah berkecamuk di rongga kepalanya.</p>
<p align="justify">&#8220;Huh! Dasar koruptor! Untuk apa ikut-ikutan layat?&#8221; gerutu seorang pemuda di tengah kerumunan pelayat yang berjubel.</p>
<p align="justify">&#8220;Hus! Jangan keras-keras! Ini bukan saatnya mengobral umpatan! Ndak baik!&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Alah! Memang takut?&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Ini bukan soal takut atau tidak takut, tapi soal kepantasan! Pantaskah kita mengumpat-umpat di tengah suasana duka seperti ini?&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Oh, Sampean ingin membela lurah yang jelas-jelas menilap tanah bandha desa itu, hem?&#8221; </p>
<p align="justify">Suasana tiba-tiba tegang. Para pelayat saling bertatapan. Orang-orang yang semula menunduk takzim di sekeliling jasat Kang Panut terusik; bergegas keluar gubug dengan kepala diserbu tanda tanya.</p>
<p align="justify">&#8220;Hei! Jangan seenaknya menuduh orang, ya?&#8221; Plak! Sebuah bogem mentah meluncur. Terjadi keributan. Saling pukul. Para pelayat berebutan melerai. Pak Lurah Kimpul menyibak kerumunan, mengucak-ucak bola mata di balik kaca mata minusnya yang tebal. Jidatnya berkilat-kilat ditimpa cahaya matahari.</p>
<p align="justify">&#8220;Kalian ini gimana toh? Pantaskah ribut-ribut dalam suasana seperti ini? Bukannya mendoakan Kang Panut, tapi malah bikin keonaran. Dasar!&#8221; sergah Pak Lurah Kimpul dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Para pelayat kembali saling bertatapan.</p>
<p align="justify">&#8220;Hei, Pak Lurah! Apa hak Sampean melarang-larang orang! Jangan sok menasihati! Berkacalah Sampean!&#8221; sahut pemuda yang tadi kena bogem mentah dengan nada gemetaran. Jari-jarinya mengusap darah yang menetes dari belahan bibirnya yang pecah. Pak Lurah Kimpul terkejut. Bola matanya membelalak. Para pelayat kembali bertatapan untuk ke sekian kalinya, saling berbisik. Suasana berubah riuh seperti kerumunan lebah mencari sarang.</p>
<p align="justify">&#8220;Edan! Sinthing! Gendheng! Berani-beraninya ngomong seperti itu di depan Pak Lurah?&#8221; Seorang lelaki tua berikat kepala hitam menyeruak kerumunan dan mencengkeram krah baju si pemuda dengan kekuatan penuh, lantas disentakkan dengan keras. Si pemuda terjengkang.</p>
<p align="justify">&#8220;Sampean semua yang gendheng! Sudah kena tipu sama si Lurah brengsek itu!&#8221; sahut si pemuda dengan tubuh sempoyongan. Telunjuknya menuding wajah lelaki tua berikat kepala hitam dan wajah Pak Lurah Kimpul. Lantas, beranjak menjauhi kerumunan. Darah lelaki tua berikat kepala hitam berdesir. Rongga dadanya serasa diserbu puluhan kalajengking. Perih dan nyeri. Bola mata Pak Lurah Kimpul berkeriyap dari balik kaca mata minus tebalnya. Jantungnya bergetar hebat. Keringat meluncur deras di dahinya. Berkilat-kilat. Ulu hatinya serasa dihantam godam bertubi-tubi. Cahaya matahari seolah berubah bagaikan kilatan pedang yang siap merajam tubuhnya. Baru kali ini dia diperlakukan sekasar itu oleh warganya sendiri. Dia tidak tahu harus berbuat apa menghadapi pemuda sundal itu.</p>
<p align="justify">&#8220;Sudahlah, Pak Lurah! Anggap saja dia orang gila. Buat apa diurusi? Sekarang, mari segera kita urus jenasah Kang Panut!&#8221; rajuk lelaki tua berikat kepala hitam sambil tersenyum. Hambar. Pak Lurah Kimpul termangu. Pikirannya menerawang entah ke mana.</p>
<p align="justify">Sementara itu, para pelayat juga tak habis pikir dengan sikap si pemuda yang dianggap keterlaluan. Dalam sejarah desa di bibir hutan jati itu, baru kali ini ada seorang pemuda yang demikian nekat dan berani mengumbar kata-kata kasar di depan hidung seorang pemimpin.</p>
<p align="justify">Tanpa tahu sebab yang pasti, dari balik gubug duka tiba-tiba terdengar suara gaduh. Para pelayat berlarian. Berjejal-jejal.</p>
<p align="justify">&#8220;Kang Panut hidup lagi!&#8221; teriak seorang penduduk mengabarkan.</p>
<p align="justify">&#8220;Ha? Hidup lagi?&#8221; Mulut para pelayat menganga.</p>
<p align="justify">&#8220;Ah, tidak mungkin!&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Lihat saja sendiri!&#8221; Para pelayat makin tak sabar.</p>
<p align="justify">Bagai tersihir, para pelayat terpaku menyaksikan Kang Panut duduk bersila di atas meja. Mulutnya menyeringai, menyemburkan hawa busuk. Tampak deretan giginya yang kuning dan kotor. Orang-orang sibuk menutup lubang hidung.</p>
<p align="justify">&#8220;Kang? Sampean hidup lagi, Kang?&#8221; tanya Yu Ginem sambil merangkul Kang Panut. Sepasang mata perempuan kurus itu berkaca-kaca seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kang Panut tak menjawab. Mulutnya terus menyeringai, menyemburkan hawa busuk. Namun, di rongga hidung Yu Ginem bagaikan aroma bunga dari sorga. &#8220;Puji syukur Ya Allah, suamiku hidup kembali!&#8221; lanjutnya sembari membungkus tubuh suaminya dengan sarung dan kaos oblong lusuh. Yu Ginem serasa bermimpi. Tubuhnya gemetar saking senangnya. Para pelayat masih termangu sembari menutup hidung rapat-rapat.</p>
<p align="justify">&#8220;Nem, ini anugerah dari Sing Nggawe Urip. Kamu harus bersyukur, suamimu telah kembali! Mungkin belum saatnya suamimu menghadap Gusti Allah!&#8221; kata lelaki tua berikat kepala hitam sambil mendekati Yu Ginem dan Kang Panut. Pak Lurah membuntutinya sambil menutup hidung rapat-rapat.</p>
<p align="justify">&#8220;Ya, Mbah!&#8221; jawab Yu Ginem sambil mengangguk-angguk.</p>
<p align="justify">&#8220;Nut, Panut!&#8221; sapa lelaki berikat kepala hitam. &#8220;Kamu masih mengenalku, toh?&#8221; Tak ada reaksi. Kang Panut hanya menyeringai. Hawa busuk menyembur-nyembur. Perut Pak Lurah tiba-tiba terasa mual seperti digerayangi ratusan cacing pita. Dan dia tak kuat lagi menahan isi perut yang terus menyodok-nyodok kerongkongannya. Lelaki tambun itu muntah-muntah. Para pelayat berpandangan.</p>
<p align="justify">&#8220;Pak Lurah sakit?&#8221; tanya lelaki tua berikat kepala hitam.</p>
<p align="justify">&#8220;Iya, Mbah! Maaf, aku pulang dulu, ya?&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Iya, mangga! Sebaiknya begitu!&#8221;</p>
<p align="justify">Terdengar deru kendaraan memecah perkampungan. Mata para penduduk mengikuti laju Pak Lurah Kimpul hingga hilang di tikungan.</p>
<p align="justify">&#8220;Para sedulur!&#8221; kata lelaki tua berikat kepala hitam sambil berdiri di samping Kang Panut yang tak henti-hentinya menyeringai. Yu Ginem tampak menyisir rambut Kang Panut yang acak-acakan dan berbau. &#8220;Kita sudah sama-sama melihat, Panut dalam keadaan segar-bugar. Gusti Allah masih menghendaki dia bersama kita! Nah, sekarang, anggap tidak pernah terjadi apa-apa! Para sedulur boleh pulang!&#8221; Para penduduk berbisik-bisik. Riuh. Sambil menutup hidung, mereka berdesakan meninggalkan gubug reot itu.<br />
***</p>
<p align="justify">Kabar hidupnya kembali Kang Panut dengan cepat tersebar ke desa-desa tetangga, meluas ke kecamatan, kabupaten, bahkan hingga ke kota-kota terdekat. Para wartawan media cetak dan elektronik saling berlomba meliput peristiwa menghebohkan itu. Orang-orang kesehatan merasa tertantang untuk melakukan riset khusus. Rombongan orang dari berbagai kalangan terusik untuk membuktikan kebenaran cerita yang berkembang dari mulut ke mulut. Desa di bibir hutan jati yang biasanya sunyi itu pun mendadak ramai dan sibuk.</p>
<p align="justify">Para wartawan, orang-orang kesehatan, dan mereka yang berdatangan dari berbagai kota ingin sekali mendengar penuturan langsung dari Kang Panut. Apa sebenarnya yang dia alami ketika berada dalam alam kematian. Namun, sia-sia. Kang Panut hanya bisa menyeringai, menyemburkan hawa busuk. Tak sepatah kata pun meluncur dari bibirnya yang selalu dikerumuni lalat dan serangga. Mereka yang semula penasaran tiba-tiba merasa jijik dan takut.</p>
<p align="justify">Waktu terus berlalu. Kehadiran Kang Panut tiba-tiba menjadi masalah besar. Setiap malam, kabarnya dia suka keluyuran, mendatangi rumah penduduk secara tak terduga, menyeringai, meninggalkan hawa busuk. Pernah suatu malam, Kang Panut mendatangi rumah penduduk yang sedang menggelar pesta hajat mantu. Di atas panggung, para biduan dangdut sedang hangat-hangatnya menghibur para penonton. Tiba-tiba tercium bau busuk. Makin lama makin menusuk-nusuk hidung. Tanpa diduga, Kang Panut sudah berada di depan tungku perapian seperti yang sering dia lakukan sebelum mati suri. Keruan saja, para penonton bubar. Rombongan pemain musik dan biduannya kabur menyelamatkan diri. Tuan rumah pingsan.</p>
<p align="justify">Konon, pada siang hari Kang Panut selalu mendekam di dalam gubug reotnya. Ada yang bilang, dia tak sekadar tertidur, tetapi benar-benar mati. Anehnya, pada malam hari dia kembali beraksi; datang ke rumah-rumah penduduk secara tiba-tiba. Desa seperti diselubungi bau mayat yang amat busuk. Para penduduk benar-benar tersiksa.</p>
<p align="justify">&#8220;Kita harus ambil tindakan secepatnya, Pak Lurah!&#8221; kata lelaki tua berikat kepala hitam di rumah Pak Lurah Kimpul yang besar dan megah. Para penduduk yang mendampinginya mengangguk-angguk. &#8220;Kalau tidak, desa kita bakalan dikucilkan desa-desa tetangga!&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Lalu, apa rencana Sampean?&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Kita singkirkan saja dia!&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Caranya?&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Serahkan saja kepada saya dan anak-anak!&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Baik, aku setuju!&#8221;</p>
<p align="justify">Maka, keesokan harinya, di bawah komando lelaki tua berikat kepala hitam, para penduduk dengan wajah beringas berbondong-bondong menggrebeg gubug Kang Panut. Namun, belum sempat rencana penyingkiran Kang Panut terwujud, seorang pemuda menghalang-halanginya.</p>
<p align="justify">&#8220;Keliru besar kalau kalian hendak menyingkirkan Kang Panut!&#8221; kata si pemuda berkacak pinggang.</p>
<p align="justify">&#8220;Hei, pemuda keparat! Menyingkirlah sebelum pedang-pedang itu membabat lehermu!&#8221; sergah lelaki tua berikat kepala hitam dengan gusar.</p>
<p align="justify">&#8220;Tunggu dulu, Pak Tua! Sebenarnya yang lebih pantas disingkirkan itu Pak Lurah Kimpul yang jelas-jelas menilap tanah bandha desa! Bukan Kang Panut yang tidak bersalah! Tubuh Kang Panut memang busuk, tapi mental Lurah Kimpul jauh lebih busuk!&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Anak-anak, habisi saja dia!&#8221; komando lelaki tua berikat kepala hitam. Namun, tak ada reaksi. Para penduduk tiba-tiba tersungkur seperti daun-daun berguguran. Dari dalam gubug reot, tiba-tiba menyembur hawa busuk yang jauh lebih dahsyat; menggetarkan seisi desa. ***</p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" width="125" height="16" border="0" alt="AddThis Social Bookmark Button" /></a> </p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F11%2F07%2Fkang-panut%2F';
  addthis_title  = 'Kang+Panut';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/07/kang-panut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Topeng</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/27/topeng/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/27/topeng/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Oct 2007 21:11:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/27/topeng/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Entah! Setiap kali memandangi topeng itu lekat-lekat, Barman merasakan sebuah kekuatan aneh muncul secara tiba-tiba dari bilik goresan dan lekukannya. Ada semilir angin lembut yang mengusik gendang telinganya, ditingkah suara-suara ganjil yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Perasaan Barman jadi kacau. Kepalanya terasa pusing. Sorot matanya tersedot pelan-pelan ke dalam sebuah arus gaib [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Entah! Setiap kali memandangi topeng itu lekat-lekat, Barman merasakan sebuah kekuatan aneh muncul secara tiba-tiba dari bilik goresan dan lekukannya. Ada semilir angin lembut yang mengusik gendang telinganya, ditingkah suara-suara ganjil yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Perasaan Barman jadi kacau. Kepalanya terasa pusing. Sorot matanya tersedot pelan-pelan ke dalam sebuah arus gaib yang terus memancar dari balik topeng. Dalam keadaan demikian, Barman tak mampu berbuat apa-apa. Terpaku dan mematung. Getaran-getaran aneh terasa menjalari seluruh tubuhnya. Barman benar-benar berada dalam pengaruh topeng itu.</p>
<p align="justify">Memang hanya sebuah topeng. Bentuknya pun mungkin sudah tidak menarik. Permukaannya kasar. Dahinya lebar. Hidung pesek dengan kedua pipi menonjol. Goresan dan lekuknya terkesan disamarkan, tidak tegas. Warnanya pun sudah kusam, menandakan ketuaan. Orang-orang kampung menyebutnya topeng tembem. Tapi dengan topeng itulah nama ayah Barman, Marmo, pernah melambung sebagai pemain reog yang dikagumi pada masa jayanya.</p>
<p align="justify"><span id="more-254"></span>Konon, topeng itu dibikin sendiri oleh ayah Barman almarhum. Untuk mendapatkan bahannya, ayah Barman ketika itu harus mengacak-acak seisi kuburan, lantas melakukan puasa mutih &#8211;makan nasi tanpa sayur dan garam&#8211; selama 40 hari. Dengan cara demikian, menurut penuturan orang-orang, tangan ayah Barman akan terbimbing oleh sesuatu yang gaib sehingga mampu menghasilkan topeng yang sempurna.</p>
<p align="justify">Topeng ayah Barman, akhir-akhir memang benar-benar sempurna. Bukan lantaran bentuknya, melainkan kekuatannya yang mampu menyihir para penonton. Lucu, memikat, dan menghanyutkan. Para penonton benar-benar dibikin terpesona setiap kali ayah Barman bermain reog dengan mengenakan topeng itu. Grup reognya kisan berkibar. Harganya tinggi, tapi selalu laris ditanggap orang. Bahkan, sering diundang pentas menyambut tamu penting di pendapa kabupaten.</p>
<p align="justify">Bila mengenakan topeng itu, ayah Barman benar-benar menjelma jadi tembem, badut kocak yang mampu mengocok perut penonton lewat gerakan-gerakannya yang sulit dan mustahil: indah dan atraktif. Tarian-tariannya menyatu dan hanyut bersama irama gamelan dan terompet reog yang khas. Para penonton berdecak kagum. Begitu sempurnanya ayah Barman dalam memainkan topeng tembem, sampai-sampai para pengagumnya memanggilnya dengan sebutan Marmo Tembem. Dan ayah Barman merasa bangga dengan dengan panggilannya itu.</p>
<p align="justify">Namun, rupanya ayah Barman belum siap untuk menjadi pemain reog yang menyandang nama besar. Uang hasil pentasnya sering dihambur-hamburkan untuk memanjakan perempuan nakal; dan memelihara “gundik”, bahkan sering ludes di meja judi. Rezekinya jarang <em>nyanthol</em> di rumah. Seiring dengan itu, seni reog mulai tergusur oleh berbagai hiburan modern yang terus bermuculan. Jarang, lebih tepat dibilang langka, orang yang mau menanggap reog lagi. Pelan-pelan nama Marmo Tembem pun semakin tenggelam oleh arus zaman yang gencar menawarkan perubahan-perubahan.</p>
<p align="justify">Hingga meninggal, Marmo Tembem tak meninggalkan warisan secuil pun. Satu-satunya harta peninggalan, yakni sepetak sawah yang dibeli saat jayanya, sudah jatuh ke tangan Mak Karni, istri simpanannya yang berakal bulus.</p>
<p align="justify">Barman masih terpaku dan mematung di depan topeng tembem. Tiba-tiba saja muncul hasratnya untuk mencoba mengenakannya. Tapi setiap kali jari-jarinya menyentuh permukaannya yang kasar, kekuatan aneh yang muncul dari balik topeng itu semakin dahsyat menyedot kekuatannya, Barman menyurutkan langkah ke belakang. Sepasang bola matanya mendelik. Keringat dingin meleleh di sekujur tubuhnya. Barman memekik dahsyat ketika menatap sepasang mata topeng itu membelalak lebar dan bergerak-gerak.</p>
<p align="justify">“Ada apa, Kang?” tanya Saritem, istrinya yang tampak seperti perempuan yang baru kejatuhan cicak.  </p>
<p align="justify">“Tem, coba tatap topeng itu, Tem!&#8221; sahut Barman cemas.</p>
<p align="justify">“Memangnya kenapa?”</p>
<p align="justify">“Matanya!”</p>
<p align="justify">Serentak, perempuan bermata juling itu menjatuhkan pandangannya ke arah topeng yang lekat terpajang di dinding. Tapi begitu sepasang matanya hinggap di sana, perempuan itu malah tertawa. Barman tersipu. Topeng itu memang tak lebih dari sebuah topeng badut usang yang kaku dan beku. Lekukan dan goresan matanya yang nampak samar, tak lagi membelalak dan bergerak-gerak. Barman geleng-geleng.</p>
<p align="justify">“Sudahlah, Kang? Kakang terlalu capek! Sebaiknya Kakang istirahat saja, bukankah besok harus menghadiri undangan di balai desa?” kata istrinya sambil beringsut dari depan suaminya. Barman termangu. Benaknya seperti disentakkan oleh sebuah arus yang tidak bisa dipahaminya.</p>
<p align="justify">     ***</p>
<p align="justify">UDARA pagi di kampung tak berubah. Dingin. Kabut dari pinggang bukit terus menyembur-nyembur menyelimuti perkampungan. Mata Barman masih diserang kantuk. Pelan-pelan, lelaki gempal itu beringsut dari pembaringan, mengambil segelas air putih dan meneguknya. Sisanya disemburkan ke lantai. Sayup-sayup gendang telinganya menangkap kesibukan kampung yang mulai menggeliat. Suara deru motor, lengkingan tangis bocah, yang ditingkah hiruk-pikuk suara ternak piaraan.</p>
<p align="justify">Barman menyambut surat undangan yang tergeletak di atas meja. Sambil merapatkan sarung, Barman membacanya berulang kali di atas dipan, seakan hendak memperoleh kepastian tentang kebenaran isi surat itu.</p>
<p align="justify">Mata Barman berbinar-binar. Benaknya menerawang. Tiba-tiba saja ia mampu mengucapkan rasa syukur yang demikian tulusnya. Ia merasa benar-benar tersanjung dan begitu dihormati. Ia diundang dengan hormat ke balai desa untuk menerima penghargaan dari pemerintah atas jasa-jasa almarhum ayahnya melestarikan kesenian tradisional, reog. </p>
<p align="justify">Di mata Barman, tiba-tiba ayahnya muncul begitu agung dan berwibawa. Tabiat ayahnya yang <em>keranjingan</em> judi dan perempuan seolah-olah tenggelam di balik surat undangan yang tengah dibaca dan dipahaminya. Berulang-ulang Barman menarik napas lega. Dadanya ditimbuni harapan, penghargaan itu setidaknya akan sanggup menggeser nasib hidupnya yang kurang beruntung. Lebih-lebih setelah belakangan ini perubahan musim mulai tak menentu, hasil panen sepetak sawahnya tak mampu lagi menutup kebutuhan rumah tangganya yang membengkak.</p>
<p align="justify">Tapi harapan indah itu pun pupus di balai desa ketika ia hanya menerima selembar kertas yang diserahkan dengan bangganya oleh Pak Lurah atas nama pemerintah daerah. Saat itu memang ia tidak sendirian, para awak pemain reog yang kini masih hidup dan para ahli waris teman-teman seangkatan ayahnya juga menerima penghargaan yang sama. Tak henti-hentinya kepala Barman dicecar pertanyaan, kenapa penghargaan mesti diwujudkan dalam selembar kertas? Apakah tidak ada bentuk penghargaan lain yang lebih pantas dan manusiawi, dengan duit, misalnya? Dengan langkah tak bersemangat, Barman mengepit selembar kertas itu, lantas menyodorkannya di depan hidung istrinya. Istrinya melengos. Uring-uringan.<br />
     ***</p>
<p align="justify">TIBA-TIBA saja, sepasang mata Barman kembali terusik untuk memandangi topeng tembem yang lekat terpajang di dinding. Kekuatan aneh itu muncul kembali dari balik topeng, lewat goresan dan lekuknya. Tubuh Barman bergetar seperti ada sebuah arus kuat yang menjalar bersama aliran darahnya. Gendang telinganya menangkap sayup-sayup suara yang tak dikenalnya. Suara yang muncul dari sebuah ketersiksaan dan penderitaan. Mengerang dan merintih-rintih sekujur tubuhnya.</p>
<p align="justify">Suara-suara ganjil itu terus mendesing-desing di telinganya, memekakkan. Bersamaan dengan itu, Barman menyaksikan kedua mata topeng itu membelalak lebar dan bergerak-gerak, tapi sejurus kemudian mengatup rapat. Dan kini mendadak sepasang mata topeng itu mengeluarkan air mata. Semula hanya satu-dua tetes, tapi lama-lama menderas dan mengucur bagaikan pancuran. Dan yang lebih menyentakkannya, air mata itu pelan-pelan berubah memerah seperti darah. Seketika itu pula bau anyir darah menyerang hidungnya.</p>
<p align="justify">Tubuh Barman lemas. Kekuatannya seperti dibelejeti oleh sebuah kekuatan aneh yang tak dipahaminya. Sementara itu, suara mengerang dan merintih, suara yang muncul dari sebuah ketersiksaan dan penderitaan itu terus membombardir telinganya.</p>
<p align="justify">Gila! Secara tiba-tiba pula topeng itu terlepas dari dinding. Seperti melesatnya anak panah dari busur, topeng itu secepat kilat menancap dan menyatu dengan wajah Barman sedemikian kuat mencengkeramnya. Barman meronta dan dan memekik dahsyat. Setelah itu ia merasakan tubuhnya melayang entah ke mana. Istrinya bingung. Di matanya, wajah Barman benar-benar telah berubah, berganti rupa menjadi wajah topeng peninggalan almarhum mertuanya. Sepontan perempuan itu menjerit histeris memecah perkampungan.</p>
<p align="justify">Kampung gempar. Para penduduk berdatangan. Desahan, gumam, teriakan, dan berbagai komentar tumpah campur aduk, bersambung-sambungan.</p>
<p align="justify">“Barman jadi tembem!”  </p>
<p align="justify">“Hiii &#8230; ngeri!”</p>
<p align="justify">“Jangan ada yang mendekat, Barman bisa ngamuk!”</p>
<p align="justify">“Celaka!”</p>
<p align="justify">Para penduduk tak ada yang memberikan pertolongan ketika tubuh Saritem ambruk di kaki Barman.  ***<br />
<br />
<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" width="125" height="16" border="0" alt="AddThis Social Bookmark Button" /></a> </p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F10%2F27%2Ftopeng%2F';
  addthis_title  = 'Topeng';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/27/topeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Primadona</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/21/sang-primadona/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/21/sang-primadona/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 19:25:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/21/sang-primadona/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Dada Tarmi naik-turun. Napasnya tiba-tiba terasa sesak. Kehadiran Surtini benar-benar membikin hatinya gerah. Sudah hampir sepuluh tahun ia malang melintang di dunia ketoprak tobong, belum pernah seorang pun yang mampu menggeser perannya sebagai rol dalam sebuah lakon. Yang membikin hatinya makin masygul, tidak ada seorang pun yang berupaya melakukan pembelaan-pembelaan. Betapa tidak sakit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Dada Tarmi naik-turun. Napasnya tiba-tiba terasa sesak. Kehadiran Surtini benar-benar membikin hatinya gerah. Sudah hampir sepuluh tahun ia malang melintang di dunia ketoprak tobong, belum pernah seorang pun yang mampu menggeser perannya sebagai rol dalam sebuah lakon. Yang membikin hatinya makin masygul, tidak ada seorang pun yang berupaya melakukan pembelaan-pembelaan. Betapa tidak sakit hati kalau tiba-tiba saja ia dicampakkan begitu saja, dibuang ke tong sampah.</p>
<p align="justify">Terbayang setiap kali pentas, ia bisa menghibur dirinya di tengah himpitan hidup yang berat dan sumpek. Ia bisa dengan mudah melupakan segala thethek-bengek urusan hidup yang serba ruwet. Baginya, panggung pertunjukan adalah istana yang mampu melambungkan mimpi-mimpi hidup yang serba enak dan menghanyutkan. Ia bisa dengan mudah memerankan permaisuri raja yang agung, putri istana yang cantik dan dimanjakan, pahlawan wanita yang dipuja banyak orang, pendekar yang dikagumi, atau bidadari yang dikelilingi banyak dayang. Tapi, kini kebahagiaan itu raib sudah. Tarmi menyedot napas panjang. Terasa benar, tenggorokannya amat berat seperti terganjal beban yang menyumbatnya.</p>
<p align="justify"><span id="more-245"></span>Mengandalkan hidup sebagai pemain ketoprak tobong memang sangat tidak menjanjikan. Upah lima ribu rupiah sekali pentas hanya cukup sekadar pengganjal perut. Itu pun tidak setiap hari bisa didapatkannya. Bangku penonton sering sepi. Hanya diisi oleh beberapa gelintir orang yang rata-rata berusia tua. Menjamurnya hiburan murah di layar televisi telah membikin para penduduk malas beranjak keluar rumah. Para orang tua lebih suka memanjakan anaknya dengan imaji kemewahan dan kekerasan lewat tokoh-tokoh film, sinetron, atau telenovela yang kurang “membumi”.</p>
<p align="justify">***</p>
<p align="justify">Pentas ketoprak tobong benar-benar hampir sekarat. Loket karcis nyaris tak pernah dijamah sentuhan tangan para penduduk, kotor oleh timbunan debu. Triplek tobong sudah banyak yang bolong-bolong, banyak tiang penyangga yang hampir ambruk. Panggung pertunjukan pun sudah tidak layak untuk jingkrak-jingkrak para pemain. Sudah terlalu sering panggung dan tobong itu mengalami bongkar-pasang, dihajar panas dan hujan, beralih dari satu desa ke desa yang lain, dari satu kota ke kota yang lain. Makin lama makin keropos.</p>
<p align="justify">Meskipun demikian, semangat dan darah kesenian agaknya terus mengalir ke dalam tubuh para pemain. Mereka tak pernah surut dalam menghidupkan roh pementasan. Ditonton penduduk atau tidak, pertunjukan jalan terus. Apalagi, Bos Sadeli terus memutar otak untuk menghidupi pementasan dan perut para pemainnya. Lelaki separuh baya itu memang betul-betul memiliki kesetiaan luar biasa terhadap kelestarian seni ketoprak. Hampir sebagian besar keuntungan usaha mebelnya dikucurkan untuk membantu kelangsungan pementasan grup ketoprak yang sudah berusia hampir dua dasawarsa itu. Meski Bu Tarti, istrinya, pernah marah-marah, tapi Bos Sadeli tetap bergeming. Dengan segenap kelincahan dan kecerdikannya, ia berhasil menundukkan keangkuhan istrinya yang masih tampak sintal itu. Bahkan, kini istrinya mendukung penuh langkah suaminya dalam menghidupkan pertunjukan.</p>
<p align="justify">Dukungan istri Bos Sadeli ternyata membikin warna pertunjukan berubah. Para pemain lama yang dinilai sudah tidak layak pentas digeser, diganti pendatang baru yang dinilai mampu menarik penonton. Dagelan yang sukses mengocok perut penonton direkrutnya. Para niyaga dan waranggana dilatih rutin untuk mampu tampil maksimal dalam mengatur irama pertunjukan. Sutradara dan penulis naskah pun tak luput dari perhatian Bos Sadeli. Alur cerita dan penggarapan kisahnya menjadi lebih menyetuh perasaan penonton. Selain itu, layar yang menjadi setting pertunjukan diganti lebih gemerlap, berlapis-lapis. Dan yang cukup mencengangkan, Bos Sadeli telah berhasil mendirikan gedung pertunjukan yang kokoh dan mentereng.</p>
<p align="justify">Kini, para pemain tidak lagi direpotkan harus pontang-panting, pindah dari satu tempat ke tempat lain. Untuk tinggal, mereka dibuatkan asrama sederhana di belakang gedung pertunjukan. Sebuah perubahan drastis yang jarang terjadi.</p>
<p align="justify">Gedung pertunjukan yang memadai, penggarapan kisah yang menarik, pemain yang berkarakter, dagelan yang kocak, panggung pertunjukan yang kokoh, garapan gending yang rancak dan berirama manis, maupun properti yang komplit, ternyata mampu menyedot animo penonton. Hampir setiap pentas, bangku penonton terisi penuh. Loket antre. Keuntungan terus mengalir ke kantong Bos Sadeli. Suasana gedung pertunjukan menjadi hidup. Apalagi, ketika mereka menyaksikan akting Surtini yang menggemaskan. Perempuan pendatang baru itu benar-benar tengah menjadi sang primadona. Ia seperti memancarkan pamor yang menerangi panggung. Lakon apa saja berhasil ia perankan dengan akting dan vokal yang nyaris sempurna. Rambutnya yang panjang tergerai, tubuhnya yang sintal semampai, wajah bulat telur dengan dagunya yang indah menggantung di bawah lesung pipitnya seakan mampu menaburkan aroma wangi yang menyembur-nyembur di bangku para penonton. Menghanyutkan.</p>
<p align="justify">Perubahan itu membikin hati Tarmi cemas. Nasibnya di grup itu makin tidak menentu. Perempuan yang suka tampil menor dengan taburan make-up berlebihan itu sering didapuk sebagai emban dengan peran seadanya. Ia merasa iri sekaligus dipinggirkan. Impiannya untuk menjadi seorang primadona yang diberi aplaus penonton, yang bisa menghidupkan gairah dan darah seninya di atas panggung seakan-akan telah berakhir.</p>
<p align="justify">Bos Sadeli dianggap telah berbuat tidak adil. Ketika grupnya terancam gulung tikar, Tarmi begitu setia meski dijadikan “sapi perah” untuk memikat hati penonton. Tapi ketika grup ini mampu menyedot penonton, tiba-tiba saja ia dibuang ke tong sampah. Huh, ini benar-benar tidak adil, protesnya dalam hati. Ia sering mengobral pergunjingan dengan sesama temannya, tapi mereka bersikap dingin. Cuek. Ia merasa tidak lagi dianggap sebagai pemain yang pantas diperhatikan. Untuk mengadu langsung kepada Bos Sadeli, sama sekali ia tidak memiliki keberanian. Hanya Mak Ginah, perempuan yang mulai tua dimakan usia yang selalu didapuk sebagai emban, yang dianggap memperhatikan dirinya. Itu pun hanya sebatas nasihat untuk pasrah menerima nasib.</p>
<p align="justify">“Sudahlah, Tarmi, kalau kita hanya cocok berperan sebagai <em>emban</em>, kenapa kita harus protes? Setiap orang punya peran sendiri-sendiri. Banyak orang yang ingin berperan sebagai raja atau ratu, toh tidak semuanya berhasil. Malah sering mengacaukan pertunjukan. Biar kita hanya sebagai emban, kalau kita perankan dengan segenap hati dan perasaan, pertunjukan bisa menjadi lebih hidup! Emban itu tak kalah menarik diperankan meski dibandingkan dengan permaisuri!”</p>
<p align="justify">“Tapi, Mak! Pak Sadeli telah berlaku tidak adil. Aku sudah bertahun-tahun menjadi rol dengan imbalan seadanya, lha kok tiba-tiba diturunkan begitu saja justru ketika ramai penonton! Apa tidak <em>keblinger</em> itu?”</p>
<p align="justify">Mak Ginah dapat memahami perasaan Tarmi, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menatap wajah Tarmi yang suntrut dan berkabut.<br />
***</p>
<p align="justify">Malam itu penonton kembali berjubel. Tepuk tangan dan suit-suit penonton tak henti-hentinya bergema, menggoyang gedung. Apalagi lakonnya mengangkat kisah percintaan Rara Mendut dan Pranacitra yang melegenda itu. Para penonton tampak hanyut mengikuti alur cerita. Mereka makin terpesona saat menyaksikan akting Surtini. Perempuan muda bertubuh sintal itu seperti benar-benar menjelma menjadi Rara Mendut yang sesungguhnya. Gerakan bibirnya yang merekah saat menyedot rokok, liukan tubuhnya yang lentur dan lincah saat menolak rayuan Tumenggung Wiraguna, atau vokalnya yang menggemaskan saat mendendangkan gending-gending asmara bersama Pranacitra, melambungkan khayal penonton ke tempat yang jauh. Aplaus dan tepuk tangan berkali-kali membahana. Namun, semua itu seperti ledakan bom yang meluluhlantakkan hati dan perasaan Tarmi.</p>
<p align="justify">Tidak seperti biasanya, kali ini Tarmi didapuk menjadi istri Tumenggung Wiraguna. Ketika tampil di panggung, pikirannya terpecah. Di layar benaknya hanya muncul bayangan Surtini yang dianggap telah merampas kebesaran namanya. Tapi, tepuk tangan penonton makin riuh ketika ia melabrak Surtini dengan amarah dan emosi yang memuncak. Ia dianggap berhasil memerankan istri Tumenggung Wiraguna dengan baik.</p>
<p align="justify">Panggung tiba-tiba berubah muram dan tegang. Penonton terhenyak. Mereka melihat adegan istri Tumenggung Wiraguna dengan emosi yang meledak-ledak menjambak rambut Rara Mendut yang panjang tergerai. Surtini mengaduh kesakitan, tapi sia-sia. Tarmi makin kuat menjambaknya. Bahkan, ia memaki-maki dengan kata-kata kotor, menyumpah-nyumpah.</p>
<p align="justify">Tarmi makin kalap. Rambut panjang Surtini dipilin-pilin, lantas dengan kekuatan penuh tubuh Surtini dibanting, terjerembab di atas panggung. Surtini terpekik dahsyat. Tarmi masih terus berakting. Wajahnya garang dan liar. Dengan bola mata menyala-nyala, tiba-tiba Tarmi melolos sebuah pisau, lantas dengan kecepatan tak terduga dihunjamkan ke perut Surtini. Darah segar menyembur-nyembur membasahi panggung. Penonton menjerit, riuh, kacau. Beberapa orang berlari menuju panggung, menjinakkan keganasan Tarmi yang masih terus menghunjamkan pisaunya ke tubuh Surtini.</p>
<p align="justify">Alur kisah berlangsung di luar skenario. Kematian Rara Mendut bukan lantaran bunuh diri, melainkan dihabisi oleh istri Tumenggung Wiraguna. Tubuhnya tergeletak mengenaskan di atas panggung dengan luka arang keranjang. ***</p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" width="125" height="16" border="0" alt="AddThis Social Bookmark Button" /></a> </p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F10%2F21%2Fsang-primadona%2F';
  addthis_title  = 'Sang+Primadona';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/10/21/sang-primadona/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepala di Bilik Sarkawi</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/09/29/kepala-di-bilik-sarkawi/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/09/29/kepala-di-bilik-sarkawi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Sep 2007 11:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/09/29/kepala-di-bilik-sarkawi/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Bilik Sarkawi yang sumpek, singup, dan gelap diselimuti asap dupa. Baunya yang khas berbaur aroma kembang telon dan minyak serimpi menyedak hidung. Sarkawi merasakan pikirannya hanyut dan tenggelam dalam arus percumbuan yang ganjil. Melayang-layang. Sepotong kepala yang tergantung dalam bilik itu tampak menjelma bagai wajah bidadari. Anggun, cantik, memesona, putih bercahaya, memancarkan aura [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Bilik Sarkawi yang sumpek, singup, dan gelap diselimuti asap dupa. Baunya yang khas berbaur aroma kembang telon dan minyak serimpi menyedak hidung. Sarkawi merasakan pikirannya hanyut dan tenggelam dalam arus percumbuan yang ganjil. Melayang-layang. Sepotong kepala yang tergantung dalam bilik itu tampak menjelma bagai wajah bidadari. Anggun, cantik, memesona, putih bercahaya, memancarkan aura kegaiban. Sarkawi merasakan kenikmatan yang luar biasa.</p>
<p align="justify">Diusapnya sepotong kepala itu lembut. Mesra. Darah Sarkawi berdesir. Ada sebuah kekuatan aneh yang tiba-tiba muncul dari balik kepala itu, lantas merayap-rayap dan menjalar bersama aliran darah Sarkawi. Lelaki kurus itu tersenyum penuh makna. Ia paham, sinyal itu memberi isyarat bahwa ia harus segera bersiap memasuki pengembaraan batinnya.</p>
<p align="justify">Sembari duduk bersila takzim, mulut Sarkawi mulai komat-kamit merapal mantra. Tidak jelas benar apa yang meluncur dari balik bibirnya yang pucat itu. Lantas dengan gerak refleks, ia segera melolos sisir dari balik saku baju kumalnya. Sekali lagi, dengan lembut dan mesra, wajah sepotong kepala dibelainya seperti memperlakukan seorang kekasih. Rambut sepotong kepala yang menjuntai ke bawah itu disisirnya pelan-pelan. Sarkawi tersentak.</p>
<p align="justify"><span id="more-229"></span>“Di mana gembungku? Ayo kembalikan!”</p>
<p align="justify">Suara itu bergaung di gendang telinga Sarkawi menghiba-hiba, menggetarkan sukma. Suara rintihan yang meluncur dari sebuah penderitaan dan ketersiksaan. Entah! Tiba-tiba saja tubuh Sarkawi bergetar. Dadanya berdebar-debar. Keringat dingin meleleh di sekujur tubuh. Namun demikian, jemari tangannya masih terus mempermainkan sisir di sepotong kepala itu. Bersamaan dengan itu, suara-suara yang merintih penuh luapan penderitaan dan ketersiksaan terus membombardir gendang telinganya. Bersambung-sambungan.</p>
<p align="justify">Kini, tubuh Sarkawi menggigil dahsyat. Sepotong kepala yang tengah disisir rambutnya itu mendadak menjelma menjadi berpuluh-puluh potong kepala yang berserakan di lantai biliknya. Seperti digerakkan sesuatu yang gaib, secepat kilat, berpuluh-puluh potong kepala itu menyerbu Sarkawi. Ada yang menjilati daun telinga, bibir, dada, perut. Tidak luput, daerah kemaluannya pun diserbu juga. Tubuh Sarkawi tampak tertutup rapat oleh puluhan potong kepala.</p>
<p align="justify">Sementara itu, suara rintihan yang penuh penderitaan dan ketersiksaan terus-terusan mendesing di gendang telainganya, bahkan semakin menghebat. Baju kumal yang menempel di tubuhnya basah oleh keringat dingin. Samar-samar, telinganya menangkap suara yang begitu wibawa dari mulut Ki Maruto, dukun yang pernah menjanjikan harapan hidup bagi dirinya.</p>
<p align="justify">“Kosongkan pikiranmu, Ngger! Apa pun yang terjadi di sekelilingmu, kamu harus tabah! Lakukan terus seperti yang pernah aku jelaskan!”</p>
<p align="justify">Suara Ki Maruto dengan cepat menghilang di balik kegelapan. Sarkawi mencoba bergeming. Ia biarkan puluhan potong kepala itu menggigit dan menjilati sekujur tubuhnya. Jemarinya terus mempermainkan sisir di atas sepotong kepala yang tergantung di depan hidungnya. Namun demikian, telinganya belum sanggup menepiskan suara-suara rintihan yang memberondong dinding nuraninya. Bahkan, puluhan potong kepala itu semakin cepat dan kuat menggigit dan menjilati sekujur tubuhnya.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Sarkawi memang lelaki malang. Usianya yang sudah hampir menginjak kepala empat, ia belum bermimpi untuk hidup berumah tangga. Bukannya tidak mau, tapi Sarkawi tahu diri. Dalam kondisi hidup yang serba kesrakat, perempuan mana yang sanggup hidup bersama dirinya? Apalagi, secara fisik, ia memiliki tubuh yang kurang sempurna. Kakinya pincang, besar sebelah. Telapak tangan kirinya buntung, tanpa jari. Bola mata kirinya tertutup rapat seonggok daging yang menggelambir tepat di keningnya. Tidak mengherankan kalau Sarkawi selalu berada di pihak yang dikalahkan setiap kali bergaul dengan teman-teman sekampungnya. Jadi bahan olok-olok dan ledekan.</p>
<p align="justify">Sarkawi sakit hati. Ia benar-benar merasa menjadi orang yang tersingkir dan disingkirkan. Kadang ia menggugat Tuhan yang dianggap tidak adil memperlakukan dirinya. Sebuah tindakan yang mendekati keputusasaan.</p>
<p align="justify">Seumur-umur, hanya almarhum ayahnya yang dianggap gencar mengayomi Sarkawi dari hujatan dan cercaan orang-orang. Ayahnya bisa tampil garang kalau ada orang yang mencoba mempermainkan Sarkawi. Sarkawi benar-benar tersanjung dan “dimanjakan” di mata ayahnya. Tapi sayang, sang ayah keburu dijemput maut saat Sarkawi masih butuh banyak pembelaan dan pengayoman.</p>
<p align="justify">Batin Sarkawi benar-benar terpukul. Ia seperti berada di sebuah tepi jurang yang terjal. Terpeleset sedikit saja, ia akan tersungkur, jatuh. Beruntunglah ia bertemu Ki Maruto, seorang dukun yang menjanjikan harapan hidup bagi dirinya.</p>
<p align="justify">“Setiap manusia diberi wewenang mbudi-daya, Ngger!” ujar Ki Maruto suatu ketika, penuh wibawa. “Tubuhmu yang cacat bukan halangan untuk hidup lebih baik.” Kata-kata Ki Maruto menyejukkan nurani Sarkawi. Ia betul-betul terkesan dengan lelaki tua renta bertubuh cebol itu. Jadilah Sarkawi “cantrik” Ki Maruto. Lewat sentuhan “gaib”-nya, Sarkawi digembleng dengan berbagai pelatihan olah batin dan tirakat. Sarkawi sering diajak Ki Maruto menepi ke tempat-tempat yang wingit dan angker. </p>
<p align="justify">Bermalam di tengah kuburan merupakan rutinitasnya. Sarkawi juga disuruh untuk melakukan puasa mutih – makan nasi tanpa garam—selama empat puluh hari. Dan pada hari yang terakhir, Sarkawi harus melakukan patigeni –menepi di tempat gelap yang tidak tertembus sinar matahari.</p>
<p align="justify">Laku yang berat memang. Namun, tekadnya yang bulat untuk dapat mengubah garis hidup telah membikin Sarkawi tebal nyalinya. Hingga suatu ketika, ia disuruh mencuri sepotong kepala mayat perempuan tetangganya yang meninggal hari Selasa Kliwon. Caranya pun aneh. Sarkawi tidak boleh melakukannya sembarangan, tapi harus membuat lorong bawah tanah, mulai dari biliknya sampai ke tempat mayat itu dikubur. Gila! Ternyata Sarkawi dapat demikian mudah melakukannya. Seperti “petunjuk” Ki Maruto, sepotong kepala itu harus digantung dalam bilik yang tertutup rapat, gelap, dan tak tertembus sinar matahari.</p>
<p align="justify">“Itulah srana untuk dapat cepat kaya, Ngger!” bisik Ki Maruto secara gaib di telinga Sarkawi. “Yang perlu diingat, saben malam Jumat, kamu harus rutin memandikannya dengan asap kemenyan, kembang telon, dan minyak srimpi! Kalau ia menangis mencari gembungnya, suruhlah ia memenuhi dulu bilikmu dengan bertumpuk-tumpuk dhuwit!”</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Para penduduk kampung tercengang melihat perubahan drastis hidup Sarkawi. Lelaki cacat-kesrakat yang pernah jadi bahan olok-olok dan ledekan itu kini kaya mendadak. Dalam tempo singkat, ia berhasil membangun rumah gedong megah berlantai keramik. Perabotnya tergolong mewah. Ia pun tak segan-segan menyumbangkan sebagian dhuwitnya untuk keperluan kampung, membangun masjid, atau memperbaiki jembatan. Karuan saja, nama Sarkawi menjadi perbincangan hangat di mana-mana.</p>
<p align="justify">Namun demikian, perubahan mendadak itu membikin orang-orang kampung penasaran. Mereka ingin tahu, dari mana Sarkawi memperoleh kekayaannya. Orang-orang kampung mulai kasak-kusuk. Berbagai prasangka jelek mulai meluncur.</p>
<p align="justify">“Ah, mokal toh, Kang! Sarkawi itu kerjanya apa, hem? Kalau tidak cari pesugihan dari mana dia bisa kaya mendadak?” celetuk Pargun serius di sela-sela kerumunan warga kampung di gardu poskamling. Mereka saling bertatapan. </p>
<p align="justify">“Ya, jangan terus berprasangka buruk seperti itu, toh! Siapa tahu, dia menjual tanah warisan!” sahut Ramijo tak kalah seriusnya.</p>
<p align="justify">“Alah! Warisan apa? Ayahnya itu tak mewarisi apa-apa! Kayak kita nggak tahu saja!&#8221; Timpal Pargun bersungut-sungut. Yang lain menimpali. Riuh. Perbincangan semakin hangat, bahkan kadang memanas. Warga kampung kian tenggelam dalam alur perdebatan hingga larut malam, sampai akhirnya mereka kehabisan alasan untuk berdebat.</p>
<p align="justify">Sementara itu, malam mulai larut. Tak ada yang berubah di kampung itu. Gelap. Sepi. Letaknya yang terpencil, tampaknya telah membuat desa di tepi hutan jati itu nyaris tak tersentuh kemajuan. Nglangut. Namun demikian, malam ini seantero kampung seperti tersihir ketakutan. Lolongan serigala, tidak seperti biasanya, seperti memanggil-manggil arwah gentayangan dari tengah hutan jati sana. Sesekali, melintas rombongan binatang malam yang terbang di atas rumah-rumah penduduk. Cuaca dingin membeku. Suara serangga malam berirama aneh, membangkitkan bulu kuduk. Jubah malaikat maut seperti tengah dikembangkan memayungi perkampungan.</p>
<p align="justify">Tiba-tiba saja bau bangkai yang busuk menyembur-nyembur. Merayap-rayap di sela-sela dinding rumah penduduk. Serentak, orang-orang kampung terbangun. Seisi rumah saling bertatapan, saling tanya, memastikan apakah hidung mereka juga mencium bau busuk? Semakin lama, bau busuk itu kian menusuk-nusuk hidung. Sebagian penghuni rumah sibuk memburu sumber bau busuk itu di kolong-kolong tempat tidur kalau-kalau ada bangkai tikus atau kodok. Namun, mereka tak mendapatkan apa-apa.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Fajar memecah di ufuk Timur. Bau busuk kian dahsyat menyengat hidung. Antartetangga saling curiga dan saling tuduh, dianggap tak becus menjaga kebersihan lantaran membiarkan bangkai binatang mengendon di rumahnya. Namun, mereka juga saling mengelak. Kampung gempar. Para penduduk beramai-ramai memburu sumber bau busuk itu. Masing-masing menajamkan kepekaan indra penciumnya. Sambil mengucak-ucak mata yang masih lekat dengan sisa-sisa mimpi, para penduduk berbondong-bondong bagaikan kerumunan manusia purba yang hendak menantikan hukuman para dewa. Seperti dibimbing oleh tangan-tangan gaib, para penduduk menuju ke rumah gedong Sarkawi yang megah. Aneh! Bau busuk itu kian mendesing-desing di lubang hidung. Sebagian penduduk yang tidak tahan langsung muntah-muntah.</p>
<p align="justify">Para penduduk berjubel di sekitar rumah Sarkawi sambil menutup rapat-rapat lubang hidungnya. Mereka yakin, di rumah Sarkawi itulah sumber bau busuk menyembur-nyembur. Di rumah gedong itu tampak tak ada tanda-tanda kehidupan. Sarkawi yang biasa bangun pagi juga tidak tampak batang hidungnya.</p>
<p align="justify">“Sarkawi, ayo keluar Sampeyan!” teriak penduduk beramai-ramai. Tak ada sahutan. Pintu rumah gedong itu tetap terkunci rapat.</p>
<p align="justify">Akhirnya, para penduduk menjebol pintu rumah Sarkawi. Seperti disentakkan, para penduduk beramai-ramai menyerbu rumah Sarkawi. Semua pintu kamar dijebol. Ketika beberapa penduduk menjebol daun pintu bilik paling belakang, mereka berteriak histeris. Mereka melihat tubuh Sarkawi telah terbujur kaku. Dari lubang hidung, telinga, dan mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan ratusan cacing tanah yang terus menggeliat menutupi sekujur tubuhnya. Sementara itu, dalam bilik yang gelap itu tergantung sepotong kepala yang telah berubah jadi tengkorak.</p>
<p align="justify">Para penduduk berlarian lintang-pukang. Entah! Khayalan apa yang berada di balik kepala mereka. ***</p>
<p align="justify">(Catatan: Cerpen ini pernah dimuat di Suara Merdeka, 15 Agustus 1999)</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F09%2F29%2Fkepala-di-bilik-sarkawi%2F';
  addthis_title  = 'Kepala+di+Bilik+Sarkawi';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/09/29/kepala-di-bilik-sarkawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
