<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MGMP BAHASA INDONESIA SMP &#187; multikultur</title>
	<atom:link href="http://bindosmp.edublogs.org/category/multikultur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bindosmp.edublogs.org</link>
	<description>Media Berbagi dan Bersilaturahmi antarguru</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Aug 2008 05:37:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Melly Kiong dan Bukunya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 11:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah mendengar nama Melly Kiong? Yups, di kompleks blogosphere, namanya memang kurang nyaring terdengar. Maklum, dia tergolong perempuan yang supersibuk. Selain sebagai perempuan yang dengan amat sadar memilih karier sebagai media perwujudan ”fitrah” keperempuanannya, dia juga sangat peduli pada harmoni kehidupan rumah tangga sebagai perwujudan ”kodrat” keperempuanannya. Bisa dimaklumi kalau dia jarang blogwalking. Blognya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pernah mendengar nama Melly Kiong? Yups, di kompleks blogosphere, namanya memang kurang nyaring terdengar. Maklum, dia tergolong perempuan yang supersibuk. Selain sebagai perempuan yang dengan amat sadar memilih karier sebagai media perwujudan ”fitrah” keperempuanannya, dia juga sangat peduli pada harmoni kehidupan rumah tangga sebagai perwujudan ”kodrat” keperempuanannya. Bisa dimaklumi kalau dia jarang blogwalking. Blognya yang di WP pun sudah lama tidak di-update.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly12.jpg" align="left" />Lantas, mengapa saya tiba-tiba saja tertarik untuk membuat postingan khusus tentang Melly Kiong? Secara pribadi, saya memang belum bertemu secara langsung dengan Mbak Melly –demikian saya biasa menyapanya. Komunikasi hanya sebatas kami lakukan via chatting, SMS, atau telepon. Meski demikian, setidaknya saya bisa mengenal ide-ide dan pemikiran-pemikirannya. Di mata saya, Mbak Melly tergolong perempuan yang memiliki idealisme untuk kemajuan bangsa. Lewat program dan slogannya ”Peduli Anak Bangsa”, betapa sosok Mbak Melly demikian<em> concern</em> dan peduli terhadap dunia pendidikan, meski pekerjaannya tidak terkait langsung dengan masalah pendidikan. Tempaan pengalaman hidupnya yang pahit, sosok ibunya yang <em>smart</em> dan tangguh, serta atmosfer lingkungan rumah tangga yang kondusif, agaknya telah memengaruhi sikap hidup Mbak Melly untuk peduli terhadap dunia pendidikan.</p>
<p align="justify">Pengaruh sosok ibunya dan atmosfer lingkungan keluarga semacam itulah yang telah mengilhami perempuan kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat, 1969 itu, untuk meluncurkan buku perdananya, <em>Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? </em>yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Jakarta. Buku setebal 127 halaman itu memaparkan dan sekaligus juga untuk membuktikan bahwa perempuan karier ternyata bisa juga mendidik anak dengan baik.</p>
<p><span id="more-327"></span></p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly4.jpg" align="right" />Ada sejumlah tokoh yang memberikan <em>endorsement </em>untuk buku ini, seperti Seto Mulyadi (pemerhati anak), Lenny Wongso (pengusaha dan penulis buku), Alexandra Dewi (perempuan karier), atau Santi Bonis (penyiar radio Cosmopolitan FM). Buku ini juga dilengkapi pujian dan apresiasi dari berbagai kalangan, seperti Nining W. Permana (<em>Managing Director Tupperware Indonesia</em>), Sayekti Sulisdiarto (<em>Production Director PT Phapros Tbk</em>), Eni Kusuma (Motivator, mantan TKW di Hongkong, dan penulis buku <em>best seller </em>”Anda Luar Biasa”), Hanna Fransisca (Ibu rumah tangga, pengusaha, dan bloger), dan masih banyak lagi. Saya juga kena sentil untuk ikut-ikutan memberikan apresiasi terhadap buku ini, hehehehe &#8230;</p>
<p align="justify">Apa sesungguhnya yang menarik dari buku perdana Mbak Melly ini? Kalau boleh menilai, buku ini memiliki kelebihan dalam muatan isi dan <em>style </em>pengungkapan. Buku ini mendedahkan pengalaman langsung Mbak Melly bagaimana di tengah kesibukan yang menumpuk, dia masih memiliki kesempatan untuk membimbing secara kreatif terhadap kedua anaknya, Julian (10 tahun) dan Matthew Liem (6 tahun). Diramu dengan beberapa kiat yang pernah dibaca lewat berbagai sumber, Mbak Melly berkesimpulan bahwa perempuan karier bisa juga menjadi sosok ibu yang sukses dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Julian dan Matthew telah merasakan imbas terhadap kiat-kiat praktis yang diterapkan Mbak Melly. Kedua anak ini tumbuh dan berkembang dengan baik, bahkan merasa nyaman meskipun sering ditinggal oleh sang ibu. Hal itu bisa dibaca melalui berbagai lampiran sebagai dokumen portofolio untuk melihat bagaimana Julian dan Matthew menikmati dunianya sehari-hari di lingkungan keluarga dan di sekolah.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly32.jpg" align="left" />Yang menarik, pengalaman-pengalaman praktis Mbak Melly dalam mendidik anak dikemukakan lewat racikan bahasa yang sederhana, jernih, dan mengalir. Tak banyak rujukan teoretis seperti kebanyakan buku ”<em>How To</em>&#8230;” yang lain. Dengan <em>style </em>khasnya. Mbak Melly mampu menyuguhkan sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkret sehingga gampang dicerna pembaca. Yang jelas, buku ini layak dibaca dan dimiliki oleh ibu-ibu yang kebetulan sibuk di ranah publik, tetapi masih memiliki kepedulian untuk sukses dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan ilustrasi pada halaman-halaman tertentu untuk memberikan <em>space </em>bagi pembaca dalam mencerna isi buku dan sekaligus memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mengembangkan imaji-imaji tertentu berdasarkan pengalaman Mbak Melly itu. Kalau toh ada, ilustrasi tersebut ditempatkan pada lampiran khusus sehingga terkesan lepas dari konteks pengalaman nyata yang disuguhkan Mbak Melly. (Mohon maaf Mbak Melly kalau saya terpaksa membidik titik ini sebagai kelemahannya, hehehehe &#8230;. )</p>
<p align="justify">Meski demikian, secara keseluruhan buku ini menampakkan adanya sebuah totalitas pemikiran dan pengalaman yang jitu dari istri Tatang Wijaya ini ke dalam sebuah buku ”<em>How To </em>&#8230;” yang cerdas dan mencerahkan. Bukan hanya layak dibaca oleh kaum perempuan karier. Bapak-bapak pun layak membacanya agar tidak canggung lagi beristrikan seorang permepuan karier.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly22.jpg" align="right" />Agaknya, buku ini juga menjadi bagian dari mimpi dan obsesi Mbak Melly dalam ikut serta membagun dunia pendidikan berbasis ”Program Peduli Anak bangsa” yang sudah lama mengendap dalam layar memorinya. Untuk itulah, belakangan ini dia juga sibuk menggelar berbagai seminar untuk memperkenalkan dan menyosialisasikan program-programnya itu.</p>
<p align="justify">Oke, Mbak Melly. Selamat atas peluncuran buku perdananya. Semoga sukses dan bermanfaat untuk kepentingan membangun karakter bangsa melalui sosok generasi masa depan yang disiplin, sikap moral yang baik, serta mentalitas unggul dengan daya juang tinggi. Kami tunggu buku edisi berikutnya. Semoga mimpi dan obsesi Mbak Melly untuk ikut berkiprah membangun karakter anak-anak bangsa berbasiskan motto: &#8220;Menjadi sebuah lilin yang mampu menyalakan seribu lilin lainnya&#8221; bisa segera terwujud. Salut banget! Namun, hati-hati loh, Mbak Melly, jangan sampai terjebak seperti sebuah lilin yang mampu menerangi kegelapan, tetapi dirinya meleleh dan hancur, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Yang ingin kontak via email ke Mbak Melly silakan hubungi: melly_kiong@yahoo.com atau kunjungi blognya <a href="http://muilie.wordpress.com/">di sini</a>.</p>
<p align="justify">***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F04%2F30%2Fmelly-kiong-dan-bukunya%2F';
  addthis_title  = 'Melly+Kiong+dan+Bukunya';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Guru yang Dikebiri Orang Tua Murid</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 15:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Melly Kiong
(Penulis Buku Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik, tinggal di Jakarta)

&#160;
Sekolah seperti yang kita ketahui adalah lembaga pendidikan yang kita percayakan sebagai rumah kedua yang tak kalah penting perannya dalam mendidik anak-anak kita. Guru adalah pengganti orang tua di sekolah yang menjadi pengajar sekaligus pendidik moral anak-anak kita. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Oleh: Melly Kiong<br />
(Penulis Buku <em>Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik</em>, tinggal di Jakarta)
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sekolah seperti yang kita ketahui adalah lembaga pendidikan yang kita percayakan sebagai rumah kedua yang tak kalah penting perannya dalam mendidik anak-anak kita. Guru adalah pengganti orang tua di sekolah yang menjadi pengajar sekaligus pendidik moral anak-anak kita. Tapi sungguh ironis keadaan yang berkembang sekarang di mana seorang guru untuk berbicara dengan murid saja harus berhati-hati dikarenakan penyampaian dari murid yang salah kepada orang tua bisa berakibat fatal. Jadi, bagaimana seorang guru bisa menjalankan fungsinya sebagai pendidik?</p>
<p align="justify"> Kita kembali melihat bagaimana di zaman China Kuno dulu, untuk mendapatkan seorang guru yang mau menerima anaknya sebagai murid, orang tua harus bersusah-payah mencari dan bahkan menyembah seorang guru. Dan begitu mendengar guru memukul anaknya, si orang tua datang kepada guru tersebut untuk memberi hormat, bahkan hadiah sebagai ucapan terima kasih, karena dianggap guru tersebut telah dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati dalam mendidik serta mengajari anaknya menjadi manusia yang berguna. Toh tidak pernah ada sejarah di mana murid yang pernah mengalami hal tersebut menjadi dendam kepada gurunya. Bahkan, murid sangat menghargai gurunya, karena mereka yakin jasa gurunya untuk keberhasilan hidupnya sangat luar biasa.</p>
<p align="justify"><span id="more-326"></span> Dan hal ini pun pernah saya alami secara pribadi, tapi sudah dengan kapasitas yang berbeda di mana di kota kecil di sebuah sekolah susteran yang menerapkan disiplin yang luar biasa di mana hanya terlambat dalam hitungan menit, kita dihukum harus mencabut sebidang rumput sampai bersih di bawah terik matahari atau membersihkan WC. Pada saat itu rasanya kita kesel sekali dengan cara suster memberikan hukuman. Tapi jujur saja setelah terjun di masyarakat ternyata disiplin yang ditanamkan sangat bermanfaat dan ternyata menjadi nilai positif yang membuat daya juang kita selangkah lebih maju serta <em>mentality  </em>persaingan  kita juga lebih siap.</p>
<p align="justify">Dan terus terang saja saya pribadi sangat berterima kasih kepada Suster yang telah memberikan kontribusi yang luar biasa dalam keberhasilan menanamkan disiplin di dalam hidup saya, dan jujur saja saya sangat berharap sekolah dan guru bisa memberikan pendidikan yang semestinya yang tentunya butuh kerjasama dan dukungan yang baik dari para orang tua murid tentunya.</p>
<p align="justify"> Mari kita  kembalikan peranan guru sebagai pengajar dan pendidik  yang baik bagi anak anak kita. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F04%2F29%2Fperanan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid%2F';
  addthis_title  = 'Peranan+Guru+yang+Dikebiri+Orang+Tua+Murid';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Wejangan&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 13:29:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan &#8220;pesta&#8221; pergantian tahun, 18 &#8220;cantrik&#8221; dari &#8220;Padepokan&#8221; STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru &#8220;menyepi&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo itu mulai &#8220;bertapa&#8221; sejak Sabtu, 29 Desember hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan &#8220;pesta&#8221; pergantian tahun, 18 &#8220;cantrik&#8221; dari &#8220;Padepokan&#8221; STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru &#8220;menyepi&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo itu mulai &#8220;bertapa&#8221; sejak Sabtu, 29 Desember hingga Senin, 31 Desember 2007. Ada banyak &#8220;jurus&#8221; yang hendak diasah dalam &#8220;kawah candradimuka&#8221; itu, seperti manajemen pertunjukan, imajinasi, refleksi diri, olah tubuh, pernapasan dan vokal, penyutradaraan, keaktoran, make-up, artistik, kepekaan indera, improvisasi gerak dan kata, penciptaan, dan penyajian.</p>
<p align="justify">Ya,  para &#8220;cantrik&#8221; itu adalah beberapa gelintir anak muda yang telah berniat memilih dunia sastra dan teater sebagai bagian dari &#8220;panggilan&#8221; hidup. Sebuah dunia yang (nyaris) tidak banyak diminati oleh anak-anak muda di tengah-tengah gencarnya gerusan nilai materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme. Di bawah gemblengan Aslam Kussatyo, dedengkot teater Kota Kendal, mereka sengaja mengisolir diri menjelang pergantian tahun untuk melakukan refleksi,  berimajinasi,  mengolah daya cipta, dan berlatih jurus-jurus bermain teater.</p>
<div align="justify"><span id="more-308"></span>Saya yang kebetulan didaulat untuk memberikan &#8220;wejangan&#8221; kepada para &#8220;cantrik&#8221; di sebuah &#8220;pertapaan&#8221; yang dkelilingi banyak bukit itu pun tak kuasa menolak.  Di bawah &#8220;ancaman&#8221; cuaca buruk yang membadai, saya langsung memacu sepeda <strike>kumbang</strike> motor *halah* di atas jalan berlubang. Guyuran hujan rintik-rintik dan jalanan yang licin tak menyurutkan nyali saya *halah* untuk segera bertemu dengan para &#8220;cantrik&#8221; yang sedang &#8220;ngangsu kaweruh&#8221; masalah teater dan sastra itu.</div>
<div align="justify"> <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" title="aslam42.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" title="aslam42.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" alt="aslam42.jpg" height="290" width="485" /></a></div>
<p align="center"> Saya dan &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo di depan para &#8220;cantrik&#8221;.</p>
</div>
<div align="justify">   <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" title="aslam7ok.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" title="aslam7ok.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" alt="aslam7ok.jpg" /></a></div>
<p align="center"> Membeberkan *halah* &#8220;wejangan&#8221; sastra di depan para &#8220;cantrik&#8221;.</p>
<p align="center">*Maaf kawan, fotonya kabur, cuaca mendung dan berkabut, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Alasan klise*</p>
</div>
<div align="justify">Inilah &#8220;wejangan&#8221; yang saya &#8220;khotbah&#8221;-kan kepada mereka.</div>
<div align="center"><b>Kreativitas dalam dunia Penciptaan Teks Sastra</b></div>
<p align="justify">“Jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri.”<br />
(Seno Gumira Ajidarma:1997)<br />
***<br />
Kreativitas berkaitan dengan kemampuan daya cipta. Kehidupan berkaitan dengan penafsiran nilai-nilai hidup dan kehidupan yang bermakna dalam upaya meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam dunia penciptaan teks sastra, seorang penulis, mau atau tidak, harus mampu memadukan dua “kekuatan” itu sekaligus dalam teks-teks ciptaannya.
</p>
<p align="justify"> Dunia sastra sangat berkaitan dengan dunia yang tidak kasat mata. Teks sastra menyajikan persoalan hidup dan kehidupan secara fiktif, tetapi secara moral dan logika harus dapat ”dipertanggungjawabkan”. Bisa saja seorang penulis menyajikan konflik perjalanan hidup seorang pencandu narkotika yang tega menyiksa diri dan merusak masa depannya melalui ”pil atau serbuk setan”, misalnya. Namun, peristiwa yang digambarkan tetap harus utuh dan menampakkan kewajaran dari sisi moral dan logika. Jadi, meskipun hanya merupakan karya imajinatif, teks sastra tetap harus menampakkan keutuhannya sebagai teks yang runtut penalarannya.</p>
<p align="justify"> Emha Ainun Najib mengatakan, pekerjaan sastra memang merupakan pekerjaan halus, pekerjaan rohaniah. Namun, bagi yang berminat mengembangkan bakatnya tidak sesulit menekuni olahraga. Jika dalam sepak bola aturan-aturan main harus dipahami sebelum main sepak bola, sedangkan sastra &#8211;meski belum jelas; apakah itu soal kosa kata, dan sebagainya&#8211; tulis saja terus, sambil mencari waktu membaca karya sastra, kemudian karya tersebut disimpan, dibaca lagi, diperbaiki lagi, diendapkan lagi.</p>
<p align="justify"> &#8220;Semua penyair/cerpenis mengalami kesulitan menulis. Kalau tak demikian, tak lahir karya bermutu. Jadi, tulis saja dulu, meski katanya keliru, nanti akan ada komparasi, perbaiki kekeliruan, supaya ada dialektika dengan diri. Puisi menarik karena ia merangsang pikiran. Bisa saja dalam sebuah karya ada analisis sosiologis, antropologis dan sebagainya,&#8221; ungkap Emha. Hal senada juga dikemukakan Wisran Hadi. Menurutnya, bila banyak &#8220;peraturan&#8221; atau teori justru bisa jadi penghambat dalam menulis. Untuk itu, jangan peduli dulu dengan aturan ini-itu, yang penting menulis, dan terus menulis. Nah, bagaimana, menulis teks sastra tak perlu teori, bukan?<br />
***
</p>
<p align="justify">Bagaimana mengawali penulisan teks sastra? Tidak usah mempersulit diri. Apa pun yang ada di sekitar kita bisa dijadikan bahan cerita. Teman yang putus cinta, konflik dengan orang tua, gagal naik kelas, kecelakaan lalu lintas, korban narkoba, dan semacamnya bisa diracik menjadi sebuah teks yang menarik. Jadi, kita mesti jeli mengamati berbagai peristiwa yang berlangsung dalam kehidupan di sekitar kita sehari-hari. Lalu, sajikan peristiwa itu secara menarik dengan menggunakan kata-kata yang ekspresif. Ekspresif artinya mampu menyajikan peristiwa dengan menggunakan kata-kata yang dapat menggambarkan apa yang dilihat, didengar, diraba, dicium, atau dirasakan oleh penulis secara tepat. Hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan ungkapan (idiom), majas, atau ujaran langsung.</p>
<p align="justify"> Coba perhatikan kutipan cerpen berikut!</p>
<p align="justify"><i> “Melati … Melati … harum dan mewangi …”<br />
Setiap potongan syair dangdut itu terdengar, para tetangga segera paham, Sarkawi baru saja pulang dari hutan. Ia pasti sedang terlihat leyeh-leyeh, sembari  memeluk kucingnya.<br />
Mulanya para tetangga memang merasa aneh dengan dendang Sarkawi. Ya, selama ini ia lebih dikenal akrab dengan tembang Jawa atau lagu-lagu tayuban, baik dari mulutnya maupun dari radio kotaknya yang besar itu. Tapi, mereka kemudian mengerti juga, syair dangdut itu ternyata bukan pertanda peralihan selera. Bukan. Ia hanya ungkapan sayang bagi momongannya, si Melati.<br />
</i></p>
<p align="justify"><i> Kalau saja punya cucu, Pak Wi, begitu lelaki pencari kayu bakar itu dipanggil, tentu pantas dipanggil kakek. Tapi, jangankan kok cucu, sampai usianya yang menginjak senja, seorang anak pun tak ia miliki. Pernah memang seorang bocah mewarnai kehidupannya, perempuan lagi. Tapi nasib malang merenggut hidup bocah itu ketika belum genap berumur 10 tahun. Sejak itu, Pak Wi dan istrinya tak pernah lagi dikaruniai seorang anak pun. Sebenarnya ada keinginan untuk memungut anak dari famili atau tetangga. Namun, hidupnya yang tak pernah lepas dari kesulitan membuat keinginan itu hanya sebagai keinginan …<br />
</i></p>
<div align="right"> (Dikutip dari cerpen “Melati” karya Mahfud Ikhwan)</div>
</p>
<p align="justify"> Struktur cerpen terbentuk dari lima unsur yang saling berkaitan, yaitu perbuatan, penokohan, latar, sudut pandang, dan alur (plot). Tokoh yang dikisahkan melakukan perbuatan atau tindakan yang terjadi pada waktu dan tempat (latar) tertentu berdasarkan tahapan-tahapan tertentu (plot) dari sudut pandang (pusat pengisahan) penulisnya. Daya pikat sebuah teks cerpen sangat ditentukan oleh keterampilan sang penulis dalam menyatukan unsur-unsur cerita sehingga mampu merangsang minat  pembaca untuk mengetahui jalan cerita selanjutnya.</p>
<p align="justify"> Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah membangun karakter tokoh. Ada banyak cara yang bisa digunakan, di antaranya:</p>
<div align="justify">
<ul>
<li>Melalui ucapan-ucapan si tokoh: Ucapan si tokoh dalam menggambarkan karakternya. Orang yang sopan tentu berbeda cara ngomongnya dengan orang yang bengal. Orang pemarah tentu beda cara ngomongnya dengan orang yang penyabar. Demikian seterusnya.</li>
<li>Melalui pemberian nama: Dalam kehidupan nyata, nama seseorang memang tidak identik dengan sifat dan perilaku orang tersebut. Namun, dalam dunia fiksi, kita bisa memberikan nama-nama tertentu untuk memberikan kesan karakter yang berbeda-beda. Misalnya, nama Dewi cenderung berkesan anggun dan keibuan. Sedangkan, nama Susan cenderung berkesan centil dan genit. Pemberian nama juga hendaknya disesuaikan dengan setting cerita dan karakter etnis dari tokoh tersebut. Misalnya, aneh rasanya jika kamu menceritakan seorang tokoh yang beragama kristen, tetapi dia bernama Abdullah. Atau, kamu menceritakan tentang seorang tokoh yang ber-etnis Jawa, dan sejak lahir hingga dewasa tinggal di Kendal, tetapi dia bernama Michael. Kalaupun kamu harus memberikan nama yang seperti itu, hendaknya kamu memberikan penjelasan yang memadai mengenai hal itu (mengapa orang Jawa yang sejak lahir tinggal di Kendal bisa punya nama Michael, dan sebagainya)</li>
<li>Melalui diskripsi yang disampaikan oleh si penulis: Ini adalah cara yang cukup umum dan gampang. Contohnya: &#8220;Wina adalah gadis yang amat penyabar, ia selalu memulai ucapannya dengan senyuman.&#8221;</li>
<li>Melalui pendapat tokoh-tokoh lainnya di dalam karya tersebut, contoh: <i>Nia berkata, &#8220;Joko itu pelit banget deh. Masa udah ketahuan di dompetnya banyak duit, dia ngaku lagi bokek!&#8221;</i></li>
<li>Melalui sikap atau reaksi si tokoh terhadap kejadian tertentu, contoh: <i>Ketika seorang anak memecahkan gelas, apa yang dilakukan ibunya? Dalam hal ini, kita harus merumuskan dulu secara jelas, bagaimana karakter si ibu. Apakah dia pemarah, penyabar, suka mencaci-maki, dan sebagainya. Jika yang diceritakan adalah seorang ibu yang penyabar dan penuh pengertian, tentu tidak akan membuat kalimat yang menceritakan bahwa si ibu marah besar lalu memaki-maki anaknya.</i></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Jangan sekali-lagi merusak karakter tokoh dengan hal-hal yang kontradiktif. Misalnya: kamu menceritakan tentang tokoh Ali yang penyabar dan selalu santun dalam bicara. Namun dalam sebuah bagian cerita, kamu membuat kalimat seperti ini: Ali sangat terkejut mendengar cerita Hasan. Dadanya bergemuruh, mukanya merah, dan ia menatap Hasan penuh kebencian. &#8220;Bajingan loe!&#8221; teriaknya dengan kasar.<br />
***<br />
Teks sastra yang kamu buat akan menjadi lebih bermakna jika dibaca orang lain. Oleh sebab itu, kamu perlu memublikasikan teks karyamu ke media massa, majalah sekolah/remaja/umum, koran, atau tabloid. Sekarang ini, cerpen/puisi ”dimanjakan” oleh berbagai media. Hampir setiap penerbitan selalu menyediakan rubrik cerpen/puisi. Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ada baiknya, kamu memiliki beberapa alamat redaksi majalah/koran. Lebih bagus lagi jika memiliki alamat e-mail; lebih murah dan praktis.</p>
<p align="justify"> Jangan putus asa kalau gagal dimuat. Resep menjadi penulis sukses tidak mengenal putus asa dalam kamus hidupnya. Yang penting menulis, menulis, dan menulis. Yang tidak kalah penting, kamu harus banyak membaca teks sastra yang dimuat di berbagai koran atau majalah. Kalau mengalami kebuntuan dalam menulis?<br />
Salinlah beberapa paragraf atau halaman dari buku kesukaanmu.</p>
<ul>
<li>Tirulah gaya penulis favoritmu.</li>
<li>Berusahalah menulis dengan gaya yang baru bagimu.</li>
<li> Petakan kebuntuanmu menulis dalam bentuk gambar. Gunakan imajinasimu. Gambarlah apa saja. Melalui kegiatan ini “kedua belah otak” kamu bekerja dan merangsang pikiran kreatif.</li>
</ul>
<p align="justify">(Sebagian &#8220;wejangan&#8221; saya &#8220;curi&#8221; dari berbagai sumber yang saya sendiri sudah lupa dari  mana dulu saya &#8220;mencuri&#8221; <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  )</p>
<p align="justify">***</p>
<p align="justify">Tentu saja, mereka tidak puas hanya sekadar mendengarkan &#8220;wejangan-wejangan&#8221; yang tidak jelas juntrungnya itu, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />   Mereka saya beri kebebasan untuk ngomong apa saja. Bertanya dan berdiskusi pun jadilah. Hangat dan menarik. Ada keluguan dan kepolosan. Ada juga kekenesan.</p>
<p align="justify">Walhasil, saya pun meminta mereka untuk menerapkan &#8220;jurus-jurus&#8221; dalam menulis; puisi dan cerpen. Beragam jadinya. Ada yang bicara soal &#8220;Pohon Cinta&#8221;, &#8220;Terlambat&#8221;, &#8220;Putri Malu&#8221;, atau &#8220;Durian&#8221;. Macam-macamlah pokoknya. Tanpa terasa selama 3 jam saya menemani para &#8220;cantrik&#8221; itu. Hasilnya pun belum kelihatan memang. Namun, melihat semangat dan talenta yang mereka miliki, saya punya keyakinan, kelak akan muncul penulis dan penggiat sastra baru dari para &#8220;cantrik&#8221; yang baru saja usai melakukan &#8220;pertapaan&#8221; di Cokrokembang itu. Semoga! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F31%2Fwejangan-di-pertapaan-cokrokembang%2F';
  addthis_title  = '%26%238220%3BWejangan%26%238221%3B+di+%26%238220%3BPertapaan%26%238221%3B+Cokrokembang';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quo Vadis Kurikulum Pendidikan Kita (Sebuah Refleksi Akhir Tahun)</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 21:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[akhir tahun]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[plesetan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tulisan saya mengenai  &#8220;Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP&#8220;, saya memplesetkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi: (1) Kurikulum Tidak Siap Pakai, (2) Kurikulum Tetap Sama Produknya, dan (3) Kalau Tidak Siap Pensiun.  Namanya saja plesetan, selain &#8220;nyleneh&#8221; juga bernada slengekan, hehehehe   Agaknya, ada seorang pengunjung yang terusik.   Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Dalam tulisan saya mengenai  &#8220;<a href="http://sawali.info/2007/08/25/tiga-bahasa-plesetan-tentang-ktsp/" target="_blank">Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP</a>&#8220;, saya memplesetkan <b>K</b>urikulum <b>T</b>ingkat <b>S</b>atuan <b>P</b>endidikan (KTSP) menjadi: (1) <b>K</b>urikulum <b>T</b>idak <b>S</b>iap <b>P</b>akai, (2) <b>K</b>urikulum <b>T</b>etap <b>S</b>ama <b>P</b>roduknya, dan (3) <b>K</b>alau <b>T</b>idak <b>S</b>iap <b>P</b>ensiun.  Namanya saja plesetan, selain &#8220;nyleneh&#8221; juga bernada <i>slengekan</i>, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Agaknya, ada seorang pengunjung yang terusik.   Dia berkomentar:</p>
<blockquote><p>pak jgn buat plesetan yg tdk mendidik, maka dukunglah tetang KTSP tersebut ok makasih ya.</p></blockquote>
<p align="justify">Saya sangat menghargai komentar pengunjung tersebut. Ini artinya, kurikulum pendidikan kita masih mendapatkan sentuhan perhatian yang cukup dari publik. Lalu, saya meresponnya dengan pernyataan bahwa saya hanya merekam dan memberikan kesaksian terhadap apa yang saya lihat dan saya dengar. Namanya juga otokritik. Dunia pendidikan kita harus selalu siap untuk menerima kritik dari berbagai kalangan agar terus berkembang secara dinamis sehingga mutu pendidikan yang sudah lama didambakan dapat terwujud.</p>
<p align="justify"><span id="more-304"></span></p>
<p align="justify">Sebagai seorang guru, jelas saya mendukung KTSP, apalagi sudah disahkan penggunaannya di sekolah berdasarkan Permendiknas No. 22, 23, dan 24 tahun 2006. Ini artinya, mau atau tidak, siap atau tidak, guru sebagai &#8220;loko&#8221; pendidikan, harus melaksanakannya. Meskipun demikian, tidak lantas berarti bahwa guru tidak boleh bersuara. Gurulah yang menyusun rencana, melakukan aksi, evaluasi, analisis, dan tindak lanjut sebagai wujud implementasi kurikulum. Kalau suara guru dibungkam, lantas siapa yang akan memberikan masukan dan kritik terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan. Guru itu bukan penentu kebijakan. Mereka seperti &#8220;tukang&#8221; yang harus membuat produk yang diinginkan oleh pemesan. Apakah seorang tukang tidak boleh memberikan masukan dan kritik terhadap desain sebuah produk yang diinginkan oleh pemesan kalau memang dinilai kurang bagus? Cukupkah sebuah kebijakan yang menyangkut kepentingan publik, bahkan akan ikut menentukan nasib masa depan bangsa, hanya dirumuskan dari belakang meja <i>sonder </i>mendengarkan suara-suara lain yang justru sangat berkepentingan dengan implementasi sebuah kebijakan?</p>
<p align="justify">Selain sertifikasi guru, KTSP agaknya juga menjadi &#8220;isu&#8221; yang menarik diperbincangkan di sepanjang tahun 2007. Gaungnya tidak hanya bergema di gedung-gedung elit kaum birokrat pendidikan atau di forum-forum seminar, tetapi juga di warung-warung kopi. Hal ini bisa dipahami lantaran bangsa kita dikenal suka bongkar-pasang kurikulum, tetapi dinilai belum memberikan imbas yang cukup berarti bagi peningkatan mutu pendidikan. Dari tahun ke tahun, dunia pendidikan kita dinilai banyak kalangan hanya &#8220;jalan di tempat&#8221;, bahkan mengalami <i>set-back.</i></p>
<p align="justify"><a href="http://jipkendal.blogspot.com/2007/12/peringkat-pendidikan-turun-dari-58-ke.html" target="_blank">Berdasarkan laporan UNESCO</a>, yang dirilis Kamis (29/11/07), peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari 58 menjadi 62 di antara 130 negara di dunia. <i>Education Development Index </i>(EDI) Indonesia hanya 0.935 yang berada di bawah negeri jiran kita Malaysia (0.945) dan Brunei Darussalam (0.965).  Indeks ini perlu menjadi &#8220;warning&#8221; bagi segenap komponen bangsa untuk bersama-sama melakukan sebuah perubahan secara kolektif. Jangan sampai negeri lain sudah melaju kencang di atas tol, tetapi bangsa kita masih terus bersikutat di balik semak-semak.</p>
<p align="justify">Sekarang, kita mencoba kembali melakukan kilas balik terhadap perubahan kurikulum di negeri ini. Setidaknya sudah <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/perubahan-kurikulum-di-tengah-mitos-globalisasi/" target="_blank">tujuh kali perubahan kurikulum</a> tercatat dalam sejarah, yakni Kurikulum 1962, 1968, 1975, 1984, 1994, KBK, dan KTSP. Namun, apa dampaknya terhadap kemajuan peradaban bangsa? Sudahkah pendidikan di negeri ini mampu melahirkan anak-anak bangsa yang visioner; yang mampu membawa bangsa ini berdiri sejajar dan terhormat dengan negara lain di kancah global? Sudahkah “rahim” dunia pendidikan kita melahirkan generasi bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial?</p>
<p align="justify">Yang lebih menyedihkan, tidak sedikit anak bangsa negeri ini yang menjadi objek sentimen nasionalisme bangsa lain. Saudara-saudara kita yang mengadu nasib di negeri orang tak jarang menerima perlakuan-perlakuan yang kurang manusiawi. Tak heran kalau pada akhirnya bangsa kita di mata dunia hanya dikenal sebagai bangsa &#8220;kuli&#8221;.</p>
<p align="justify">Pertanyaan yang muncul, sudah demikian parahkah dunia pendidikan kita sehingga gagal melahirkan tenaga-tenaga ahli dan sosok pekerja yang terampil dan andal? Ada apa dengan kurikulum pendidikan kita sehingga (nyaris) tak pernah berhasil mengangkat nama dan martabat bangsa ini menjadi begitu terhormat di tengah-tengah kancah peradaban global? Quo vadis kurikulum pendidikan kita kalau gagal melahirkan manusia-manusia berkarakter, cerdas, kreatif, terampil, bermoral, berbudaya, dan luhur budi? Bukankah dunia pendidikan kita sudah berkali-kali mengalami perubahan kurikulum?</p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/p8200134.jpg" title="p8200134.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/p8200134.jpg" title="p8200134.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/p8200134.jpg" alt="p8200134.jpg" /></a></div>
<p align="justify">Kini, pertanyaan itu menjadi penting untuk dijawab setelah KTSP mulai diimplementasikan. Mampukah KTSP mengantisipasi perubahan dan gerak dinamika zaman ketika semua negara di dunia sudah menjadi sebuah perkampungan global? Mampukah KTSP mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas? </p>
<p>Mari kita bicara blak-blakan sebagai refleksi akhir tahun. Secara jujur harus diakui, implementasi KTSP masih jauh dari harapan. Kesenjangan informasi  antardaerah, keragaman kompetensi guru, atau sarana-prasarana sekolah menjadi &#8220;cacat&#8221; utama. Ketika &#8220;lonceng&#8221; KTSP dipukul, idealnya semua &#8220;properti&#8221; dan sumber daya manusia-nya sudah dalam kondisi siap. Sosialisasi harus lebih dini dilakukan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Meski sudah diluncurkan oleh Menteri, masih banyak sekolah, lebih-lebih yang ada di daerah, yang masih simpang-siur dalam memahami KTSP. KTSP yang seharusnya berlangsung mulus seiring dengan kebijakan otonomi sekolah agaknya juga stagnan.
</p>
<p align="justify">Untuk menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) saja mesti mengacu pada produk Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Memang seharusnya hanya sekadar menjadi model. Namun, tampaknya silabus model BSNP telah menjadi acuan baku untuk dilaksanakan di seluruh penjuru tanah air. Akibatnya, KTSP yang seharusnya berbeda di setiap daerah, bahkan di setiap sekolah, yang terjadi justru telah terjadi penyeragaman. Budaya kopi-paste berlangsung sukses. Flash-disk pun laris-manis bak pisang goreng. KTSP pun menjadi <b>K</b>urikulum yang <b>T</b>etap <b>S</b>ama <b>P</b>roduk-nya. </p>
<p align="justify">Tahun 2008 hanya tinggal hitungan hari, bahkan jam. Momen tersebut perlu dijadikan sebagai tonggak untuk melakukan sebuah perubahan. Implementasi kurikulum dalam dunia pendidikan kita harus dibarengi perubahan sistem pembelajaran dengan memberikan ruang gerak kepada siswa didik untuk mengembangkan potensi dirinya. Anak-anak negeri ini perlu memiliki basis kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang andal agar tidak sekadar menjadi &#8220;kacung&#8221; dan &#8220;tukang&#8221;, tetapi juga menjadi <i>enterprenur-</i><i>enterprenur</i> sejati yang siap menghadapi tantangan di tengah peradaban global. Jangan sampai terjadi, secara lahiriah kurikulum kita menggunakan &#8220;branding&#8221; kurikulum baru, tetapi sejatinya masih menggunakan “roh” kurikulum yang lama. </p>
<p align="justify">Kita berharap, implementasi kurikulum tidak lagi terjebak ke dalam praktik semu di mana perubahan kurikulum hanya sekadar jadi momentum “adu konsep”, sedangkan dimensi proses dan hasil-hasilnya sama sekali tak terurus. Jangan sampai terjadi, dunia persekolahan kita hanya menjadi ladang “kelinci percobaan” yang pada akhirnya hanya akan melahirkan generasi-generasi “setengah jadi” yang gagap menyelesaikan persoalan-persoalan riil yang sedang dihadapinya.</p>
<p align="justify">Yang tidak kalah penting, implementasi kurikulum harus diimbangi dengan intensifnya peran pendidikan dalam lingkungan keluarga. Berbagai kajian empiris membuktikan bahwa peranan keluarga dan orang tua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar anak. Hal ini penting dikemukakan, sebab globalisasi, disadari atau tidak, telah membawa perubahan dan pergeseran gaya hidup dalam lingkungan keluarga. Kuatnya gerusan gaya hidup konsumtif, materialistis, dan hedonis ke dalam ruang keluarga seringkali menimbulkan dampak memudarnya komunikasi antaranggota keluarga. Orang tua sibuk di luar rumah, sedangkan anak-anak yang luput mendapatkan perhatian dan kasih sayang seringkali menghabiskan waktunya dengan cara yang sesuai dengan naluri agresivitas mereka sendiri.</p>
<p align="justify">Dalam upaya menghadapi “penjajahan” kultur yang dominan sebagai imbas globalisasi, keluarga harus menjadi “barikade” yang mampu menciptakan “imunisasi” terhadap anasir-anasir negatif. Anak-anak tetap berperan aktif dalam lingkungan global, tetapi pendidikan dalam keluarga memberinya kekebalan terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari globalisasi. Dengan kata lain, dari ranah keluarga anak-anak bangsa negeri ini perlu diarahkan secara optimal untuk meraih manfaat dan nilai positif dari segala macam bentuk pengaruh globalisasi yang demikian liar membombardir keutuhan keluarga. </p>
<p align="justify">Sudah terlalu lama bangsa kita merindukan lahirnya generasi bangsa yang “utuh dan paripurna”; berimtak tinggi, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hanya potret generasi semacam ini yang akan mampu membawa bangsa ini menjadi terhormat dan bermartabat sekaligus sanggup bersaing di tengah kancah peradaban global yang demikian kompetitif. Nah, apakah perubahan kurikulum mampu menjadi momentum bangkitnya kemajuan dunia pendidikan dan peradaban bangsa kita? Agaknya, kita harus sabar menunggu, yak! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F29%2Fquo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun%2F';
  addthis_title  = 'Quo+Vadis+Kurikulum+Pendidikan+Kita+%28Sebuah+Refleksi+Akhir+Tahun%29';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/29/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warni Ingin Pulang</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 18:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[patriarkhi]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Warni tercenung di kamarnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Benaknya jatuh ke tempat yang jauh. Ia rindu Emak, Bapak, dan adik lelaki satu-satunya di tanah Jawa, yang sudah hampir sepuluh tahun ditinggalkannya. Kenekadan Warni untuk menerima tugas sebagai guru di luar Jawa seakan bebar-benar telah memutuskan hubungan darah dengan keluarganya. Ia sudah berkali-kali mencoba mengirim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Warni tercenung di kamarnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Benaknya jatuh ke tempat yang jauh. Ia rindu Emak, Bapak, dan adik lelaki satu-satunya di tanah Jawa, yang sudah hampir sepuluh tahun ditinggalkannya. Kenekadan Warni untuk menerima tugas sebagai guru di luar Jawa seakan bebar-benar telah memutuskan hubungan darah dengan keluarganya. Ia sudah berkali-kali mencoba mengirim surat ke Jawa, tapi belum pernah sekali pun mendapatkan balasan. Warni tidak tahu, apakah surat yang dikirim memang tidak pernah sampai ke alamat yang dituju atau surat itu sampai ke tangan keluarganya, tapi sengaja tidak dibalas, yang bisa diartikan ia sudah tidak lagi dianggap sebagai anggota keluarga.</p>
<p align="justify">“Kamu hanya perempuan, Warni. Buat apa jauh-jauh meninggalkan kampung halaman hanya untuk memburu <i>duit</i>? Tanpa harus bekerja pun ayah sanggup menanggung hidupmu, bahkan sampai kelak kamu hidup berumah tangga!” kata-kata ayahnya menari-nari di lorong ingatannya.</p>
<p align="justify"><span id="more-302"></span>Ayah Warni memang tergolong orang kaya yang terpandang di kampung. Sawahnya berpetak-petak. Rumahnya paling besar dan megah. Sebagai seorang mantan kepala desa, ayah Warni begitu dihormati para penduduk. Namun, Warni tidak sepenuhnya setuju dengan sebagian sikap yang ditunjukkan oleh ayahnya yang dianggap tidak adil dalam memperlakukan dirinya. Dalam soal jodoh, misalnya, ayahnya bersikap otoriter. Warni tidak diberi kesempatan untuk memilih. Oleh ayahnya, Warni hendak dijodohkan dengan Joko, putra Pak Mantri Darpan. Tapi, Warni tidak suka dengan Joko yang pemalas dan congkak, sering membangga-banggakan kekayaan orang tuanya. Oleh sebab itu, ketika ia memperoleh nota tugas sebagai guru dan ditempatkan di luar Jawa, Warni amat senang. Paling tidak, hal itu bisa dijadikan dalih untuk menghindari Joko.</p>
<p align="justify">“Maaf, Ayah! Soal tugas adalah soal tanggung jawab. Bukan perkara lelaki atau perempuan! Lagi pula kenapa, sih, Ayah masih saja membedakan perempuan dan lelaki. Lantas bedanya di mana?” berontak Warni.</p>
<p align="justify">“Warni! Apa pun alasanmu, perempuan itu dalam kehidupan rumah tangga kelak tetap di bawah lelaki. Dan ingat, secara moral kamu sudah punya ikatan dengan Joko, putra Pak Mantri itu!”</p>
<p align="justify">“Itulah yang membuat saya tidak setuju! Di zaman yang sudah modern ini, Ayah masih saja memaksakan jodoh. Kalau cocok, sih, enggak masalah. Tapi kalau enggak, apa ada jaminan aku bisa hidup bahagia?” berondong Warni.</p>
<p align="justify">“Sudah, aku tidak mau berdebat. Sekarang tinggal pilih, tetap nekad atau mengikuti kemauan Bapak!”</p>
<p align="justify">Dua buah pilihan yang sama-sama sulit bagi Warni. Kalau harus mengikuti kemauan ayahnya, itu berarti ia menolak panggilan hidupnya sebagai seorang guru dan harus siap hidup berumah tangga dengan Joko yang tidak dicintainya. Itu sama saja ia telah ikut mengembangkan budaya patriarki yang selama ini ditentangnya. Warni memang bukan tipe feminis, tapi ia amat tidak sependapat kalau kaum perempuan selalu dimitoskan sebagai <i>kanca wingking,</i> yang hanya diserahi tugas mengurus <i>dapur, sumur, </i>dan<i> kasur</i>. Namun, jika ia tidak mengikuti keinginan ayahnya, itu sama artinya telah melempar telur busuk ke wajah ayahnya yang begitu dihormati oleh orang-orang kampung.</p>
<p align="justify">Beberapa hari lamanya, warni hanya ngendon di kamar. Ada segumpal mendung yang menggelayuti pikirannya. Sulit mengambil keputusan. Apalagi Ayah, Emak, dan adiknya selalu memasang wajah cemberut yang agaknya sudah sulit diajak kompromi. Namun, nota tugas yang ada dalam genggaman tangannya seperti sudah mengisyaratkan kalau ia harus secepatnya menunaikan tugas suci itu. Dalam kondisi seperti itu hanya pamannya, Om Rajimo yang cukup toleran, dapat memahami keinginannya.</p>
<p align="justify">“Warni, kalau itu sudah menjadi keyakinanmu, berangkatlah. Om merestuimu. Om hanya berpesan, hati-hati membawa diri di kampung orang. Apalagi di sana nanti tak ada sanak saudara,” kata pamannya lembut dan penuh pengertian. Kata-kata pamannya seperti mampu menyibak mendung yang bergelayut di benaknya, memantapkan langkahnya untuk segera menunaikan panggilan nuraninya, menjadi seorang pendidik di daerah yang jauh.</p>
<p align="justify">Akhirnya, Warni menetapkan pilihan menjadi seorang guru. Ketika hendak pamitan dengan keluarganya, ia sudah tak sanggup berkata-kata. Semua perasaannya ditumpahkan lewat surat yang dititipkan kepada Om Ramijo untuk disampaikan pada ayahnya. Dalam surat itu, Warni dengan gamblang menjelaskan bahwa kepergiannya bukan dimaksudkan menentang kehendak orang tua. Namun, semata-mata memenuhi panggilan suci sebagai seorang pendidik yang mesti dijalaninya. Selain itu, Warni dengan tegas memohon pengertian ayahnya agar tidak diskriminatif. Sudah saatnya kaum perempuan diberi hak yang sama dengan kaum lelaki. Bebas menentukan pilihan hidup sesuai dengan fitrah dan hati nuraninya.</p>
<p align="justify">Warni tidak tahu bagaimana reaksi ayahnya setelah membaca surat itu. Ia hanya tahu, saat ia dilepas ayahnya dengan wajah dingin dan sorot mata memancarkan amarah. Beruntung, Warni masih merasakan sikap arif dan kelembutan dari emaknya. Meski tidak setuju atas kepergiannya ke luar Jawa, Warni masih merasakan sisa-sisa perhatian dan kasih sayang di rongga hati emaknya. Dipeluknya erat-erat tubuh emaknya. Desah napas dan getaran hati mereka menyatu dalam keharuan. Warni serasa tak sanggup menahan arus air mata yang deras menjebol bendungan pelupuk matanya. Demikian juga ketika berpamitan dengan Totok, adiknya. Kedua bola mata adiknya itu tampak berkaca-kaca. Terasa amat berat melepas kepergiannya. Akhirnya, Warni benar-benar terbang ke daerah yang jauh, tempat yang diharapkan dapat menyematkan pengabdiannya untuk kepentingan sesama.<br />
     ***</p>
<p align="justify">Di tempat tugasnya, Warni diterima dengan ramah dan sambutan hangat dari kepala sekolah dan rekan-rekan gurunya yang sudah lama bertugas. Rumah dinas pun sudah disediakan, berada di kompleks sebuah gedung SLTP yang tampak kokoh dan megah.</p>
<p align="justify">Sebagian besar, rekan-rekan gurunya adalah kaum pendatang. Dari berita yang ia dengar, penduduk asli daerah itu masih terbilang kolot. Kehidupan mereka masih amat tergantung pada alam. Berladang dan berburu merupakan mata pencaharian utama mereka. Memang ada beberapa perkebunan kopi yang menghampar luas, tapi itu pun dikuasai oleh para pemilik modal dari luar. Kesadaran penduduk asli akan pentingnya pendidikan tampaknya belum tumbuh. Anak-anak mereka masih enggan duduk di bangku sekolah. Sejak kecil, anak-anak sudah diperkenalkan dengan pola hidup sederhana oleh orang tua mereka masing-masing. Magang di lahan dan di hutan, setelah besar menikah, lantas membangun permukiman liar di sekitar hutan. Tampaknya, mereka belum bisa hidup menyatu dengan kaum pendatang. Mereka lebih suka hidup di pinggir-pinggir hutan, menyatu dengan alam. Hanya sebagian kecil penduduk asli yang mau hidup membaur dengan kaum pendatang, terutama mereka yang bekerja sebagai pegawai pemerintah.</p>
<p align="justify">Waktu terus berlalu. Pembawaannya yang lincah dan sikapnya yang luwes membuat Warni mudah diterima dalam pergaulan. Tak ada hambatan yang ia rasakan selama bertugas. Semuanya berjalan lancar. Hanya terkadang ia harus berhadapan dengan siswanya yang tergolong nakal.</p>
<p align="justify">Naluri sebagai pendidik membikin Warni sering gelisah melihat anak-anak penduduk asli yang nyaris tak pernah tersentuh kemajuan. Hidup mereka seperti tersekap dalam lorong yang gelap dan sunyi. Terisolir. Warni berkeinginan membuka mata hati mereka akan pentingnya pendidikan. Ia ingin mengajari mereka baca tulis dan menghitung. Keinginan itu ternyata tak disetujui Pak Harahap, kepala sekolah. Menurutnya terlalu riskan kalau itu harus dilakukan. Apalagi, mereka belum bisa hidup menyatu dengan para penduduk yang lain. Bisa-bisa timbul kesalahpahaman. Namun, hasrat Warni agaknya sulit dibendung. Gagal mengajak Pak Harahap bekerja sama, Warni bergegas menemui Pak Matilda, camat setempat yang sudah ia kenal baik. Oleh Pak Matilda, gagasan Warni disambut dengan baik.</p>
<p align="justify">Sebenarnya, jarak antara rumah dinas Warni dengan permukiman penduduk asli tidak terlalu jauh. Hanya dipisahkan sebuah bukit kecil setelah melintasi sebuah hamparan kebun kopi yang agak luas. Namun, lantaran tidak ada jalinan komunikasi, jarak yang dekat itu terasa jauh. Oleh Pak Matilda, Warni diperkenalkan kepada para penduduk. Ia tak tahu persis bahasa yang mereka ucapkan. Warni hanya bersikap seramah mungkin dan selalu tersenyum. Para penduduk yang berkumpul tampak mengangguk-angguk. Terasa benar Pak Matilda berhasil berkomunikasi dengan mereka. Sementara itu, puluhan anak kecil sibuk dengan dunianya, bermain pedang-pedangan. Riuh.</p>
<p align="justify">Agak merinding juga menatap wajah-wajah penduduk asli yang tampak dingin dan acuh melihat kehadiran dirinya. Namun, Pak Matilda sering menghiburnya. Konon, hal itu sudah menjadi ciri khas penduduk setempat dalam menyambut kehadiran orang asing. Pak Matilda terus memberikan dorongan. Lama-lama, Warni terbiasa bergaul dengan para penduduk, hingga akhirnya ia berhasil mengajak anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Warni betul-betul menikmati misinya itu di sela-sela tugas utamanya sebagai guru di sebuah SLTP. Para penduduk mulai bisa menerima kehadirannya.</p>
<p align="justify">Misi pendidikan Warni ternyata membawa hikmah tersendiri. Entah bagaimana alur ceritanya, tiba-tiba saja warni terpikat oleh kehadiran Leode, seorang pendatang yang sukses sebagai pengusaha perkebunan kopi. Orangnya masih muda, tampan, dan berkulit bersih. Namun, bukan semata-mata itu yang membikin hati Warni terpikat, melainkan perhatian Leode yang cukup besar untuk mengentaskan penduduk asli dari keterbelakangan. Dengan kekayaannya, Laode sering memberikan bantuan kepada mereka. Bahkan, pemuda itu bersedia membangun sebuah gedung sekolah di tengah-tengah pemukiman para penduduk. Hati Warni semakin terpikat. Oleh sebab itu, Warni tak kuasa menolak ketika Laode meminang dirinya sebagai pendamping hidup.<br />
     ***<br />
Tanpa terasa, sudah sembilan tahun Warni meninggalkan kampung halamannya. Kini, ia sudah dikaruniai dua anak yang sehat, hasil perkawinannya dengan Laode yang simpatik dan penuh pengertian itu. Warni benar-benar bahagia. Tekad dan keyakinan yang kuat untuk mengentaskan penduduk setempat dari kebodohan dan keterbelakangan membuat dirinya begitu disegani dan dihormati oleh berbagai kalangan. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.</p>
<p align="justify">Memasuki tahun kesepuluh, sebuah peristiwa besar terjadi. Saat itu, di Jakarta pecah demonstrasi besar-besaran menuntut rezim yang lama lengser dari panggung kekuasaan. Tak lama kemudian, bola reformasi menggelinding ke seluruh penjuru Tanah Air. Rakyat yang selama ini tertekan tiba-tiba berubah bagaikan kuda liar, larut dalam eforia. Rakyat merasa bebas untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri.</p>
<p align="justify">Imbas reformasi menembus ke tempat Warni bertugas. Penduduk asli yang selama ini merasa dirampas kekayaannya oleh kaum pendatang tiba-tiba saja menuntut keadilan secara sepihak. Entah dihasut siapa, warga asli tiba-tiba berubah. Secara berkelompok mereka beramai-ramai mendatangi pemukiman para pendatang sambil membawa senjata tajam. Gedung-gedung milik pemerintah dibakar, gedung sekolah dihancurkan, toko-toko dijarah, pemiliknya dianiaya. Termasuk juga kebun kopi milik Laode yang siap dipanen, dijarah beramai-ramai. Kebaikan Laode dan pengorbanan Warni terhadap penduduk setempat sudah tidak dianggap. Berkali-kali keluarganya diteror.</p>
<p align="justify">Aparat pemerintah dan keamanan gagal mengendalikan ulah beringas penduduk setempat. Keadaan itu membikin kaum pendatang geram. Mereka bertekad menyatukan diri untuk membalas tindakan penduduk setempat yang dinilai sudah di luar batas. Kaum pendatang mempersenjatai diri. Pertikaian terbuka tak dapat dihindari. Korban berjatuhan di sana-sini. Kaum pendatang dan penduduk setempat sama-sama kalap. Akal sehat dan nurani terbang entah ke mana.</p>
<p align="justify">Suasana perkampungan benar-benar mencekam. Denting senjata tajam, suara tangis, dan jeritan histeris membahana, membelah langit, membelah hati nurani. Setiap hari selalu saja ada korban yang terbunuh atau terluka parah, meregang nyawa terkena sabetan senjata tajam. Darah segar tercecer di mana-mana, di depan pintu rumah, di perkebunan, di ladang, di tepi hutan, bahkan di tempat ibadah. Sudah puluhan nyawa melayang, menjadi korban pertikaian sia-sia.</p>
<p align="justify">Warni terguguk di kamarnya. Hatinya pedih teriris-iris. Laode, suaminya, kini entah berada di mana. Warni hanya bisa mengurung diri di rumah dengan kedua anaknya, tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Tiba-tiba saja Warni ingin pulang ke Jawa. Ia sudah demikian rindu hidup di kampung halamannya yang tenteram. Menyatu bersama orang tua dan sanak saudaranya. Namun, ia sangsi, apakah ia masih bisa diterima di tengah-tengah keluarganya, terutama ayahnya.</p>
<p align="justify">Sementara itu, di luar rumah, kecamuk pertikaian masih terus berlanjut. Bau anyir darah terbang menusuk hidung. Warni gusar. Ia makin panik ketika pintu rumahnya mendadak digedor-gedor orang dengan paksa, ditingkah langkah-langkah kaki dan teriakan orang memanggil-manggil nama suaminya dengan kasar. Entah, tiba-tiba saja Warni merasakan rumahnya diselubungi hawa kematian. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F24%2Fwarni-ingin-pulang%2F';
  addthis_title  = 'Warni+Ingin+Pulang';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesetiakawanan Sosial dan Pengorbanan Ismail</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 15:52:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[Kesetiakawanan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir saja lupa kalau tanggal 20 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial. Sebuah momen penting yang diabadikan berdasarkan peristiwa bersejarah ketika terjalin kemanunggalan TNI dan rakyat persis sehari setelah agresi militer Belanda, 19 Desember 1948. Kekuatan sipil dan militer &#8220;berkolaborasi&#8221; ke dalam sebuah aksi patriorik yang terus menjalar dari kampung ke kampung, hingga akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Hampir saja lupa kalau tanggal 20 Desember telah ditetapkan sebagai <a href="http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=14">Hari Kesetiakawanan Sosial</a>. Sebuah momen penting yang diabadikan berdasarkan peristiwa bersejarah ketika terjalin kemanunggalan TNI dan rakyat persis sehari setelah agresi militer Belanda, 19 Desember 1948. Kekuatan sipil dan militer &#8220;berkolaborasi&#8221; ke dalam sebuah aksi patriorik yang terus menjalar dari kampung ke kampung, hingga akhirnya mampu mengenyahkan kekuatan kaum kolonial. Rakyat memberikan apa saja yang mereka punya untuk mendukung militer. Rakyat dari semua golongan turut bertempur, menolong, dan merawat para prajurit yang terbunuh maupun terluka. Sementara itu, kaum militer dengan  amat sadar membangun dan mengawal kesetiaan nurani untuk selalu dekat dan mengayomi rakyat.</p>
<p align="justify">59 tahun sudah momen historis itu berlalu. Ibu pertiwi telah melahirkan anak-anak bangsa dari generasi ke generasi. Peristiwa demi peristiwa pun terus bergulir membentuk mozaik kehidupan. Seiring dengan itu, masyarakat kita yang dulu begitu kuyup dengan nilai-nilai kesetiakawanan sosial, disadari atau tidak, makin abai, bahkan cenderung cuek terhadap nilai-nilai komunal. Serbuan egoisme dinilai telah menghanguskan kebersamaan dan kesetiaan dalam menjalin komunitas. Bagaimana tidak? Tahu kalau negeri ini masih dihuni oleh jutaan rakyat yang dililit kemelaratan, masih ada juga oknum yang tega menilap Raskin (Beras untuk Rakyat Miskin). Tahu kalau para korban bencana alam amat butuh uluran tangan, ketika bantuan datang, eh, diembat juga. *Aduh!*</p>
<p align="justify"><span id="more-292"></span>Masih adakah ruang dan <i>space</i> di negeri ini bagi nilai-nilai kesetiakawanan sosial untuk bersemayam? Masih bergetarkah gendang nurani kita saat melihat saudara-saudara kita yang terpaksa harus mengais sisa-sisa nasi di tong sampah karena tikaman nasib?</p>
<p align="justify">*Refleksi mode on*</p>
<p align="justify"><b><font color="#0000ff">(Saya sangat berterima kasih kepada sahabat saya yang sangat saya hormati, * tetapi maaf tidak perlu saya kemukakan identitasnya, yang telah berkenan menegur kebiasaan makan saya yang jelek yang masih suka menyisakan nasi di piring. Bener-bener saya terharu.  Merinding. Saat itu juga, dalam layar memori saya berkelebat jutaan petani yang bermandi keringat dibakar terik matahari untuk &#8220;menghidupi&#8221; perut kita. Juga saudara-saudara kita yang tak henti-hentinya mengais sisa-sisa nasi di tong-tong sampah. Pengalaman itu saya ceritakan kepada istri dan ketiga anak saya, juga saya tularkan kepada murid-murid saya. Saya lihat mata mereka memerah, menahan rasa haru. Betapa teguran sahabat saya itu telah mampu membuka mata hati saya, keluarga saya, dan mungkin juga murid-murid saya untuk selanjutnya kelak saya berharap mereka menuturkannya juga kepada anak cucu.)</font></b></p>
<p align="justify">*Refleksi mode off*</p>
<p align="justify">Masih berpura-pura tidak tahukah kita ketika banyak saudara kita yang harus berbulan-bulan mengungsi lantaran tempat huniannya ditenggelamkan oleh lumpur Lapindo? Masih tegakah kita mengeluarkan janji-janji untuk memenuhi uang ganti rugi, sementara kita dengan seenaknya memarkir uang di bank demi kita tilap bunga dan buahnya?</p>
<p align="justify">Sementara itu, pada tanggal yang sama, 20 Desember 2007, kita juga diingatkan kisah pengorbanan Ismail yang telah memfosil dan menyejarah dalam benak kita yang kemudian diabadikan sebagai Hari Raya Qurban.</p>
<p align="justify">Meminjam tulisan <a href="http://migas-indonesia.net/download/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=106&amp;Itemid=35" target="_blank">Swastioko Budhi Suryanto</a>, dalam Surat Ash Shaffat ayat 104-107 dijelaskan bahwa ibadah qurban berawal dari sebuah mimpi Nabi Ibrahim Alaihi Salam yang menggambarkan dirinya menyembelih putra tercintanya, Ismail sebagai bentuk persembahan dan bukti cinta kepada Allah SWT. Ibrahim sangat cemas, tetapi sang putra justru sangat bersemangat dan ikhlas bersedia menjadi qurban untuk disembelih. Meski pada akhirnya Allah tidak memperkenankan pengorbanan manusia, dan Ismail diganti dengan seekor domba yang dibawa langsung oleh Malaikat Jibril.</p>
<p align="justify">Dalam pemahaman  awam saya, jatuhnya momentum bersejarah dalam waktu yang bersamaan, bisa jadi sebagai &#8220;teguran&#8221; Sang Pencipta terhadap bangsa kita yang selama ini sudah telanjur asyik-masyuk dalam lingkaran hipokrisi, kepura-puraan, bahkan kebohongan. Kita sedemikian mudahnya berpura-pura miskin ketika beradu kening dengan seorang pengemis dan kaum dhuafa. Bahkan, jika perlu menghardiknya dengan umpatan-umpatan vulger. Sebaliknya, kita bisa dengan pongahnya berpura-pura kaya ketika menjalin relasi dengan orang-orang berkantong tebal. ***</p>
<p align="justify">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p align="justify">Mohon maaf, saya sedang belajar menulis postingan pendek, kawan, tanpa sisipan <i>image</i>. Untuk selanjutnya, silakan menerjemahkan lebih lanjut tentang makna kesetiakawanan sosial dan pengorbanan Ismail ini sebagai bahan refleksi di hari Natal dan Tahun Baru 2008.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>Selamat Hari Raya Idhul Adha 1428 H</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>Semoga semangat pengurbanan Ismail AS tetap bersemayam</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>dalam hati nurani kita untuk kembali merajut tali kesetiakawanan sosial</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>yang sempat terkoyak .</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff">****<br />
</font></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F19%2Fkesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail%2F';
  addthis_title  = 'Kesetiakawanan+Sosial+dan+Pengorbanan+Ismail';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjara</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 19:27:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[korup]]></category>
		<category><![CDATA[penjara]]></category>
		<category><![CDATA[sodomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Pelupuk mata Badrun mengerjap-ngerjap seperti klilipan. Berat dan pedas. Sudut-sudut matanya masih digerayangi sisa-sisa mimpi. Ia tidak tahu, sudah jam berapa sekarang. Sel tempat ia disekap memang sangat tidak memungkinkan untuk mengetahui dengan pasti pergantian setiap detik, menit, jam, bahkan hari. Ia pun tak ingat lagi, sudah berapa lama menjadi penghuni penjara terkutuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Pelupuk mata Badrun mengerjap-ngerjap seperti klilipan. Berat dan pedas. Sudut-sudut matanya masih digerayangi sisa-sisa mimpi. Ia tidak tahu, sudah jam berapa sekarang. Sel tempat ia disekap memang sangat tidak memungkinkan untuk mengetahui dengan pasti pergantian setiap detik, menit, jam, bahkan hari. Ia pun tak ingat lagi, sudah berapa lama menjadi penghuni penjara terkutuk yang sumpek, pengap, dan bau ini.</p>
<p align="justify">Yang menjengkelkan, ia harus sering bergaul dengan para penghuni penjara berperangai kasar. Ia sering dijadikan sasaran amarah dan ledakan emosi para pesakitan yang sudah kebelet ingin mencium bau kebebasan di luar tembok penjara. Gertakan, makian, sumpah-serapah, ancaman, pukulan, bahkan ludah bacin tak jarang harus ia terima, tanpa perlawanan. Sangat konyol jika harus melawan mereka. Di penjara ini, hanya okol dan nyali yang berbicara. Makin kuat okol dan nyalinya, mereka malah disegani dan bisa dengan bebas memperlakukan napi lain seenak perutnya.</p>
<p align="justify"><span id="more-289"></span>Yang lebih menjengkelkan, tak jarang Badrun dipaksa melayani nafsu birahi para pendosa yang sudah lama tak pernah mencium ketiak perempuan itu. Perlakuan mereka sungguh kasar bagaikan kuda liar. Melakukan sodomi tanpa kenal waktu. Ia benar-benar merasa jijik dan muak, tapi tak mampu berbuat apa-apa.</p>
<p align="justify">Badrun mengambil napas. Bau kotoran dan air kencing segera menyergap hidungnya. Jlamprang –teman satu selnya yang bertubuh kekar dan penuh tato— masih tidur mendengkur, tengkurap di atas tikar lusuh. Badrun melangkah berat menuju lubang bilik berjeruji besi. Di luar sana, ekor matanya segera hinggap pada lalu-lalang para sipir berseragam yang sibuk mengepulkan asap rokok. Sesekali tampak menggerombol, berbincang-bincang, tertawa-tawa, lantas menyebar ke bilik-bilik, menatap para napi dengan wajah garang dan tak bersahabat.</p>
<p align="justify">Huh! Benar-benar menjengkelkan, rutuknya dalam hati. Ulah para sipir penjara pun ternyata tak kalah brengseknya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia sering menyaksikan beberapa sipir dengan sikap licik tega “menjual” tugasnya demi uang, tak tahan rayuan napi berkantong tebal yang ingin segera bebas dari sekapan bilik penjara. Dengan berpura-pura mengejar napi yang melarikan diri, sebenarnya mereka sedang berupaya untuk meloloskannya dari kepungan. Berkali-kali peristiwa itu terjadi. Tapi para pejabat teras penjara menganggapnya sebagai risiko sebuah pekerjaan, tanpa ada kemauan untuk mengendalikan dan “memenjarakan” mental bawahannya yang korup. Kalau mental para sipir seperti itu terus dibiarkan, mana mungkin penjara ini mampu menjadi tempat pertobatan bagi para pendosa? Tanya Badrun pada dirinya sendiri.<br />
***
</p>
<p align="justify">Badrun sebenarnya bukanlah seorang penjahat. Sebelum menjadi penghuni penjara ini, ia bekerja sebagai buruh pabrik tekstil. Ia amat senang dan bahagia dengan pekerjaannya itu. Selain banyak teman sekampungnya yang bekerja di sana, para buruh juga diantarjemput oleh bus pabrik. Penghasilannya kecil memang, tapi itu dianggapnya lebih baik ketimbang harus menjadi “bromocorah” yang suka bikin susah sesamanya. Yang jadi masalah, Sumarni, istrinya, tampaknya sangat tersiksa dengan cara hidup seperti itu. Setiap kali kalender jatuh di angka 20 ke atas, isterinya terus uring-uringan. Berwajah suntrut, sampai-sampai tak berkenan tidur di atas ranjang bersamanya.</p>
<p align="justify">“Mbok ya cari sampingan apa gitu toh, Kang! Masak <em>Sampeyan</em> tega membiarkan nasib kita terus-terusan seperti ini! Coba, Kang, <em>Sampeyan</em> pikir! Utang kita di warung Bu Karni makin menumpuk, sementara uang sekolah si Darpono sudah nunggak lima bulan! Ini kemarin dapat surat dari sekolah!&#8221; Berondong istrinya dengan mata melotot. Badrun tergeragap.</p>
<p align="justify">Diambilnya surat yang tergeletak di atas meja berdebu. Tangan Badrun gemetar. Dahinya berkerut. Bola matanya berkaca-kaca ketika membaca isi surat itu. Sepengetahuannya, uang sekolah anak sulungnya itu selalu ia beresi setiap awal bulan sebelum seluruh penghasilannya jatuh ke tangan isterinya. Ia curiga, jangan-jangan Darpono telah menyalahgunakannya. Tiba-tiba saja darahnya berdesir. Giginya gemeletuk, menahan amarah. Dadanya naik-turun. Ia segera berjingkat menuju bilik anaknya dengan perasaan tak menentu. Di atas kasur tua lusuh, ia melihat Darpono, anak sulungnya, masih meringkuk di balik sarungnya. Dengan amarah yang memuncak, dibangunkan anaknya dengan paksa. Darpono geragapan. Sembari mengucak-ngucak pelupuk mata, bocah yang baru beranjak remaja itu melihat ayahnya seperti monster yang menakutkan.</p>
<p align="justify">“Ayo, jawab dengan jujur! Kamu gunakan untuk apa uang sekolah yang ayah berikan, hem?&#8221; Bentak Badrun sambil mengguncang-guncang bahu Darpono yang duduk termangu. </p>
<p align="justify">“Ayo, jawab!” Tak ada jawaban. Darpono mematung. Di luar sana, sesekali melintas deru kendaraan, samar-samar, lantas lenyap ditelan kabut pagi. Sepi. Hanya terdengar rengekan anak bungsunya dan suara isterinya yang ngedumel dari arah dapur.</p>
<p align="justify">Dada Badrun bergemuruh. Wajahnya memerah. Ia merasa telah dipermainkan. Plak! Plak! Plak! Tanpa disadari, telapak tangannya telah menari-nari di wajah anaknya. Darpono merasa kesakitan, terjerembab mencium lantai tanah. Hidungnya mengucurkan darah. Dari arah belakang, istrinya buru-buru menerobos bilik yang sumpek itu sambil menggendong si bungsu yang masih terus merengek-rengek.</p>
<p align="justify">“<em>Sampeyan</em> jangan gila, Kang! Kalau sampai terjadi apa-apa, apa tidak Sampeyan sendiri yang rugi?” sergahnya sambil meredam amarah suaminya. Dengan kelembutan naluri seorang ibu yang masih tersisa, perempuan kurus bermata cekung itu bergegas membelai wajah Darpono yang terguguk di lantai.</p>
<p align="justify">“Biar saja! Itulah upah seorang anak yang mulai belajar jadi penipu!” sahut Badrun ketus. </p>
<p align="justify">“Wong diminta Emak, kkk&#8230; katanya untuk mbayar utang Bu Karni, kok!” jawab Darpono gagap. Badrun tersentak. Kepalanya segera berpaling menatap wajah isterinya yang tiba-tiba memucat. Salah tingkah. </p>
<p align="justify">“Itu juga salah Sampeyan, jadi lelaki nggak becus ngurus kebutuhan keluarga!” sergah Sumarni merasa tidak bersalah.</p>
<p align="justify">“Eee&#8230; eee! Sudah jelas salah masih bisa cari-cari alasan! Aku sudah banting tulang setiap hari, semuanya untuk keluarga! Tak pernah sepeser pun aku mengantongi uang! Kalau sampai nggak cukup, mestinya kamu yang ngaca, becus nggak ngurus uang belanja?” sahut Badrun sewot, tidak seperti biasanya yang selalu mengalah. Ia merasa, kesabarannya telah habis.</p>
<p align="justify">Pertengkaran Badrun dan isterinya makin memuncak. Rumah reot itu seperti diselubungi kabut. Beberapa orang tetangga tampak ikut menguping sambil mengobral gunjingan miring. Badrun merasa risih. Tanpa pamit, ia bergegas menerobos pintu, menyahut pakaian seragam pabrik, lantas menembus jalan raya dengan perasaan amat masygul.</p>
<p align="justify">Setiba di pabrik, benak Badrun makin kacau, memikirkan nasib hidup keluarganya yang belum juga bergeser dari lumpur kemiskinan. Tiba-tiba saja gendang telinganya menangkap gemuruh demonstrasi ratusan buruh yang menuntut kenaikan upah. Dengan spanduk seadanya, mereka mengecam bos pabrik yang dianggap tidak pernah memperhatikan kesejahteraan para buruh. Mereka merasa, selama ini hanya dijadikan sebagai “sapi perah”. Badrun mengambil serangkum napas, lantas bergabung bersama para pengunjuk rasa. Di bawah siraman terik matahari, para buruh terus meneriakkan yel-yel. Dengan penuh semangat, Badrun ikut-ikutan menuntut kenaikan upah. Mulutnya terus berteriak-teriak. Kedua tangannya mengepal ke udara seperti hendak meninju langit. Siapa tahu, dengan cara seperti ini nasibnya akan berubah, pikirnya.</p>
<p align="justify">Para pengunjuk rasa makin bertambah dan terus bertambah. Di bawah terik matahari, mereka terus bersemangat meneriakkan yel-yel, menuntut agar upah dinaikkan 200%. Jika tidak dituruti, mereka mengancam akan melakukan mogok kerja total. Aksi mereka didukung oleh beberapa kelompok LSM.</p>
<p align="justify">Namun, unjuk rasa itu gagal membuahkan hasil. Tuntutan kenaikan upah itu dinilai pihak pabrik tidak masuk akal dan bersikukuh untuk menaikkan upah hanya sebesar 10%. Merasa tak digubris, para buruh mewujudkan ancamannya. Mereka melakukan mogok kerja total. Tapi, kejadian itu tak mengubah keputusan pihak pabrik. Malah berakibat fatal bagi para buruh pabrik. Sebagian pengunjuk rasa yang gencar menyuarakan tuntutan –termasuk Badrun—dipecat tanpa diberi pesangon. </p>
<p align="justify">Badrun benar-benar sial. Ia harus pontang-panting ke sana kemari memburu nasib. Sudah hampir sebulan ia mengacak-acak seantero kota, nasib baik belum juga berpihak kepadanya. Pekerjaan belum juga ia dapatkan, hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang lelaki separuh baya berperut buncit dan berpipi gembul di bawah reruntuhan gedung yang habis dibakar para pengunjuk rasa yang kalap. Dengan santun, lelaki separuh baya itu menawari sebuah pekerjaan mudah dengan imbalan yang cukup menggiurkan. Satu juta rupiah sekali kerja. Wajah Badrun berbinar. Setumpuk dhuwit melayang-layang di layar benaknya. Tanpa banyak alasan, Badrun menyanggupi pekerjaan yang ditawarkan lelaki yang tidak dikenalnya itu. Ia benar-benar merasa beruntung. Tanpa harus mengeluarkan banyak keringat, beberapa lembar ratusan ribu sudah jatuh ke tangannya. Badrun pun dengan jitu berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.</p>
<p align="justify">Namun, alangkah terkejutnya ketika Badrun baru berjalan dalam langkah seratus meter, gendang telinganya tiba-tiba mendengar ledakan dahsyat, diikuti suara berderak-derak dan jeritan histeris bersambung-sambungan. Ketika menoleh ke belakang, bola matanya membelalak. Mulutnya menganga. Ia tidak percaya terhadap pemandangan di hadapannya. Sebuah gedung plaza yang megah, yang barusan ia tinggalkan itu dalam sekejap telah porak-poranda. Beberapa sosok tubuh bergelimpangan meregang nyawa. Para pengunjung berlarian lintang-pukang ditingkah jerit dan pekik histeris. Terdengar pula raungan sirine mobil patroli aparat kepolisian mebelah kepanikan orang-orang. Suasana kacau.</p>
<p align="justify">Badrun tidak tahu, apa yang menjadi penyebab meledaknya pusat perbelanjaan masyarakat kota itu. Mungkinkah benda dalam plastik kresek yang tadi ia taruh di sebuah sudut etalase? Belum sempat ia memperoleh jawaban, tiga orang anggota polisi bertubuh tegap telah memborgolnya. Badrun tergeragap bagaikan rusa masuk kampung.</p>
<p align="justify">“Heh, ayo pijit!” Jangan bengong di situ!” seru sebuah suara yang besar dan berat. Badrun menoleh, tersentak. Rupanya, Jlamprang telah bangun. Itu artinya, ia harus siap melayani semua keinginan penjahat bertubuh kekar penuh tato yang konon sudah pernah membunuh belasan orang tak berdosa. Badrun tak menduga kalau harus menjalani hidup di penjara, bergaul dengan para pendosa yang tangannya sudah terbiasa berlumuran darah. Entah! Sampai kapan ia harus menjadi penghuni bilik berbau busuk itu! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F14%2Fpenjara%2F';
  addthis_title  = 'Penjara';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/14/penjara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jagal Abilawa</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/26/jagal-abilawa/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/26/jagal-abilawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Nov 2007 15:50:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[jagal abilawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/26/jagal-abilawa/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Sudah hampir sebulan ini aku dipusingkan oleh ulah Sumi, istriku, yang tengah hamil. Menurut para tetangga, istriku lagi nyidham, hal yang wajar dialami oleh perempuan yang sedang menjalani kodratnya. Dia minta dicarikan seorang tokoh dalam jagad pewayangan, Jagal Abilawa, salah satu kerabat Pandawa yang amat dikagumi lantaran keberanian dan ketegaran hatinya dalam menegakkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Sudah hampir sebulan ini aku dipusingkan oleh ulah Sumi, istriku, yang tengah hamil. Menurut para tetangga, istriku lagi<em> nyidham</em>, hal yang wajar dialami oleh perempuan yang sedang menjalani kodratnya. Dia minta dicarikan seorang tokoh dalam jagad pewayangan, Jagal Abilawa, salah satu kerabat Pandawa yang amat dikagumi lantaran keberanian dan ketegaran hatinya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.</p>
<p align="justify">Kalau sembarangan Jagal Abilawa, bagiku tak masalah. Aku bersahabat baik dengan banyak dalang dan perajin wayang kulit. Tentu, mereka dengan senang hati akan membantuku. Namun, yang diinginkan istriku, Jagal Abilawa yang usianya sudah mencapai usia ratusan tahun. Aku menganggap permintaan istriku merupakan sesuatu yang mustahil. Mana ada wayang kulit yang sanggup bertahan hingga umur ratusan tahun? Kalau toh ada, pasti sudah jatuh ke tangan para kolektor barang antik yang berkantong tebal. Tetapi, istriku tak peduli. Dia terus mendesakkan keinginannya untuk bisa dipertemukan dengan ksatria Jodipati yang perkasa itu.</p>
<p align="justify"><span id="more-275"></span>Ketika hasratnya mulai mendekati kemustahilan, istriku mulai berubah. Dingin dan acuh. Lidahnya tak pernah mau bersentuhan dengan makanan. Tubuhnya tampak kurus. Wajahnya yang cantik berubah pucat dan kuyu. Hampir setiap malam tak pernah tidur. Benaknya menerawang entah ke mana, diserbu hasrat yang menelikung batinnya.</p>
<p align="justify">Aku mulai cemas. Kalau istriku terus-terusan seperti itu, jelas akan berpengaruh tidak baik terhadap janin yang dikandungnya. Dan, aku tak mau mengharapkan hal itu terjadi, apalagi ini anak pertama yang sangat kami dambakan setelah lima tahun hidup berumah tangga.</p>
<p align="justify">Berminggu-minggu aku menjelajah dan mengubek-ubek berbagai kampung dan kota. Sudah belasan Jagal Abilawa kupersembahkan kepada istriku, tapi tak satu pun berkenan di hatinya. Semuanya ditolak dengan tatapan wajah yang suntrut. Keadaan istriku makin payah dan memprihatinkan. Aku terus mengembara, naik gunung turun jurang, hingga akhirnya aku terdampar di sebuah desa terpencil, jauh dari hiruk-pikuk keramaian.</p>
<p align="justify">Di desa sunyi yang diapit dua bukit gundul ini, aku bertemu dengan Ki Jantur Branjangan, dalang tua yang saat jayanya dikenal memiliki kemampuan memainkan wayang lewat perpaduan antara keterampilan sabet dan kekuatan magis. Konon, saat adegan perang, Ki Jantur Branjangan mampu membikin anak-anak wayang bertarung sendiri tanpa sentuhan tangannya di tengah pakeliran. Hebat, atraktif, dan fantastis. Para penonton dibuat tersentak sekaligus terkagum-kagum.</p>
<p align="justify">Aku sendiri tidak tahu, kenapa mantan dalang kondang itu bisa terlempar di dusun yang nyaris tak pernah mencium bau asap kendaraan ini. Kehidupannya pun amat menyedihkan. Tinggal di gubuk reot dan tak terawat. Di kanan kirinya penuh rerumputan liar hingga menjalar di atap gubugnya. Yang membuat aku heran, lelaki tua itu mampu menebak maksud kehadiranku. Dengan napas sengal, ia bercerita bahwa sudah sebulan ini kotak wayangnya sering berbunyi sendiri, seperti ada wayang yang ingin keluar dari persembunyiannya di tengah malam. Dan, itu dipahami, ada seseorang yang menginginkan salah satu wayang yang tersimpan di kotak tua itu.</p>
<p align="justify">“Aku yakin, kedatangan <em>Sampeyan</em> pasti menginginkan wayang itu!” katanya dengan suara bergetar, tapi wibawa. Aku tersentak.</p>
<p align="justify">“Betul, Ki!” jawabku tergagap.</p>
<p align="justify">Sembari menyeret langkah, Ki Jantur Branjangan beranjak dari kursi tuanya, menuju kotak wayang yang tertimbun debu berlapis-lapis. Ketika dibuka, aku terperanjat. Ada salah satu wayang yang berdiri di atas tumpukan wayang lain. Dengan tangan gemetar, Ki Jantur Branjangan sangat hati-hati mengambil wayang itu.</p>
<p align="justify">“Inilah wayang yang kumaksudkan itu, Nak! Jagal Abilawa!”</p>
<p align="justify">“Jagal Abilawa?”</p>
<p align="justify">“Ia hendak keluar mencari jodohnya!”</p>
<p align="justify">Seketika ingatanku jatuh pada Sumi, istriku. Tentu, Jagal Abilawa milik Ki Jantur Branjangan inilah yang diinginkannya. Setelah meninggalkan beberapa lembar lima puluhan ribu, aku bergegas pulang dengan perasaan lega. Plong.<br />
***</p>
<p align="justify">Dilihat dari bentuknya, wayang Jagal Abilawa ini sudah tidak menarik. Warnanya kusam. Di sana-sini sudah geripis, seperti dimakan rayap. Tampil dengan wujud setengah telanjang, hanya mengenakan busana sekadar penutup aurat. Rambutnya yang gondrong hanya diikat selembar kain hitam. Namun, masih menampakkan sisa-sisa keperkasaan. Dadanya bidang. Otot perutnya bertonjolan. Sorot matanya tajam. Kuku pancanaka yang melekat di jempol tangannya tampak kukuh dan kuat.</p>
<p align="justify">Ketika wayang itu kusodorkan kepada istriku, ia tampak seperti anak kecil yang telah lama merindukan barang mainannya yang telah lama hilang. Senyumnya mengembang. Lantas, memeluk erat-erat Jagal Abilawa dengan kemesraan yang sempurna.</p>
<p align="justify">Aku senang, istriku sudah menemukan dunianya. Gairah hidupnya tumbuh berlipat-lipat. Wajahnya bercahaya. Menjelang tidur, tak lupa istriku memainkan sebentar Jagal Abilawa itu dengan gerakan yang kaku, lalu memeluknya erat-erat di atas dadanya yang padat. Terkadang aku merasa iri, bahkan lebih tepat dibilang cemburu setiap kali melihat Jagal Abilawa berada di atas perut istriku yang makin membuncit. Di mataku, Jagal Abilawa itu seperti wujud yang sesungguhnya, melakukan gerakan-gerakan di atas tubuh istriku seperti orang bersetubuh. Sejak kehadiran wayang itu di rumah ini, aku seperti disingkirkan dari kehidupan Sumi. Merasa asing dan tak dipedulikan lagi.</p>
<p align="justify">Istriku memang pengagum berat pertunjukan wayang kulit. Saat kami masih pacaran, Sumi sering memaksaku untuk menemaninya nonton hingga <em>tancep kayon</em>. Di tempat-tempat tetangga yang punya hajat, di balai desa, di kantor kecamatan, bahkan hingga di pendapa kabupaten, setiap kali ada pergelaran wayang kulit, Sumi selalu merajuk untuk menonton.</p>
<p align="justify">Ia sering menangis sesenggukan ketika sang dalang dengan dramatis menggambarkan kehidupan Jagal Abilawa bersama Drupadi dan keempat saudaranya yang lain hidup dalam penyamaran di negeri Wiratha. Dengan mulut <em>ngedumel</em>, ia mengumpat perilaku para Kurawa yang tega menyingkirkan Pandawa dengan cara yang amat menyakitkan. </p>
<p align="justify">Namun, ia berbalik jingkrak-jingkrak ketika Jagal Abilawa berhasil menggasak musuh-musuhnya. Secara refleks, ia mencium dan memelukku di tengah kerumunan para penonton. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga kami membangun rumah tangga.</p>
<p align="justify">Sejak Jagal Abilawa hadir di rumah ini, aku mulai menangkap keanehan. Istriku acuh dan tak mau lagi melayaniku. Ia memperlakukan wayang “terkutuk” itu terlalu berlebihan. Ia tetap bergeming ketika dengan cara yang sedikit kasar aku memaksanya untuk melayaniku di atas ranjang.</p>
<p align="justify">Ia tak peduli. Jagal Abilawa itu tetap bertengger di atas perutnya, didekap dan dipeluk dengan kehangatan dan kemesraan yang sempurna. Ketika istriku terlena, ingin rasanya aku membuang jauh-jauh wayang keparat itu, atau mengembalikannya ke tempat Ki Jantur Branjangan. Tapi, Jagal Abilawa itu seperti lengket dan menyatu dengan tubuh istriku. Brengsek!<br />
***</p>
<p align="justify">Perut istriku makin membesar. Usianya sudah lebih sembilan bulan. Dengan perasaan mendongkol yang masih menyergap dada, aku segera menggantung Jagal Abilawa di atas tempat tidur seperti permintaan istriku. Tiba-tiba saja, istriku mengerang. Perutnya bergerak-gerak.</p>
<p align="justify">“Sum, sudah tiba saatnya kamu <em>babaran</em>! Kubawa ke rumah Bu Bidan, ya?”</p>
<p align="justify">“Tidak usah cemas, Mas! Anak kita akan lahir dengan sendirinya!”</p>
<p align="justify">Aku benar-benar dibikin tak berkutik. Bagaimana mungkin istriku mampu melahirkan tanpa bantuan orang lain? Mataku menyapu seisi kamar. Kulihat perabot-perabot kamar tak berubah. Namun, ketika mataku jatuh ke sosok Jagal Abilawa yang tergantung di atas tubuh istriku, kembali aku tersentak. Wayang kulit itu tiba-tiba saja mengeluarkan asap. Aromanya anyir seperti bau darah. Asap terus bergulung-gulung memenuhi kamar. Lantas, menyatu membentuk sosok Jagal Abilawa yang sesungguhnya. Tubuhnya tinggi dan besar, berotot, berkuku tajam, perkasa. Sosok itu tersenyum. Dengan kecepatan yang sulit kuduga, sosok Jagal Abilawa itu tiba-tiba menghilang seperti tertelan perut bumi.</p>
<p align="justify">Bersamaan dengan hilangnya Jagal Abilawa, telingaku mendengar suara tangis bayi. Ternyata benar kata istriku, anakku lahir dengan sendirinya. Tanpa harus mengalami perjuangan yang berat, istriku telah mampu menunaikan tugsanya sebagai seorang istri dengan begitu sempurna. Aku bergegas melihat anakku. Montok dan sehat. Rasa dongkolku berubah jadi haru dan bahagia. Aku telah menjadi seorang ayah. Segera kucium dan kupeluk istriku dengan luapan kebahagiaan.</p>
<p align="justify">“Anak kita laki-laki, Sum!” bisikku di telinga istriku. Ia tersenyum.</p>
<p align="justify">“Namakan dia Jagal Abilawa, Mas!” pintanya. Seperti dihantam godam, dadaku terasa sakit dan sesak. Setiap kali mendengar nama Jagal Abilawa, aku seperti menatap monster ganas yang hendak memisahkan aku dari kehidupan Sumi. Sembari menahan perasaan tak menentu, kuiyakan saja permintaan Sumi.<br />
***</p>
<p align="justify">Belum genap sepekan anakku menjadi penghuni rumah ini, dan belum resmi ia kuberi nama Jagal Abilawa, muncul keanehan pada dirinya. Tidak seperti layaknya seorang bayi, ia begitu rakus dan melahap makanan apa saja yang disodorkan kepadanya. Tubuhnya jadi bongsor dan melebihi ukuran tubuh anak usia lima tahun. Yang membuatku terkejut, ia demikian bernafsu menyedot tetek ibunya. Aku jadi risih terhadap berbagai komentar yang meluncur dari mulut para tetangga.</p>
<p align="justify">Tenggorokanku tercekat ketika suatu malam istriku merintih-rintih. Aku bergegas menuju ke kamar. Di luar, banyak tetangga yang masih begadang. Aku terkesiap saat melihat anakku menetek ibunya seperti anak seekor kerbau yang kehausan, berjam-jam lamanya. Istriku terus merintih-rintih. Aku melihat tubuh istriku makin melemah. Loyo. Pucat.</p>
<p align="justify">Aku yakin, anakku tak sekadar menyedot air susu, tapi juga darah ibunya. Dengan gerakan kilat aku berjingkat melepaskan anakku dari sisi Sumi. Namun, cengkeraman mulutnya begitu kuat. Aku tak sanggup melepaskannya. Istriku makin tak berdaya.</p>
<p align="justify">Aku berteriak minta tolong. Ketika gendang telingaku menangkap derap langkah kaki menuju ke kamar, aku melihat anakku melepaskan tetek ibunya, lantas menyergapku dengan kecepatan tak terduga. Aku tergeragap. Belum sempat menghindar, anakku yang mendadak menjadi sosok mengerikan itu, mencengkeramkan mulutnya ke leherku.</p>
<p align="justify">Darahku berdesir. Leherku terasa seperti digigit gugusan gigi yang kuat dan tajam dengan kekuatan penuh. Aku terus berteriak, tapi cengkeraman itu makin dahsyat menggasakku. Telingaku hanya mampu menangkap teriakan histeris para tetangga dengan samar-samar, hingga akhirnya aku tak tahu apa-apa lagi. Gelap. Kulihat Malaikat Maut menari-nari di depanku. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F11%2F26%2Fjagal-abilawa%2F';
  addthis_title  = 'Jagal+Abilawa';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/26/jagal-abilawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku, Penulis, dan Penjara</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/23/buku-penulis-dan-penjara/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/23/buku-penulis-dan-penjara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Nov 2007 17:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Bersihar Lubis]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[penjara]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/23/buku-penulis-dan-penjara/</guid>
		<description><![CDATA[

Diilhami oleh tulisan Bangaiptop &#8220;Dukung Bersihar Lubis&#8220;, Mas Hoek, dan juga banner keren, buah kreasi Kang Anto Bilang, naluri saya sebagai penulis katrok tiba-tiba ikut-ikutan &#8220;memberontak&#8221;. Betapa kebebasan yang dijamin pasal 28 UUD 1945 di negeri ini masih silang sengkarut. Masih ada persoalan serius yang harus dituntaskan, khususnya yang berkaitan dengan kebebasan berekspresi, baik secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arifkurniawan.wordpress.com/dukung-bersihar-lubis/"></a></p>
<p><a href="http://arifkurniawan.wordpress.com/dukung-bersihar-lubis/"><img src="http://antobilang.googlepages.com/banner-big-bersihar.jpg" /></a></p>
<p align="justify">Diilhami oleh tulisan Bangaiptop &#8220;<a href="http://arifkurniawan.wordpress.com/dukung-bersihar-lubis/" target="_blank">Dukung Bersihar Lubis</a>&#8220;, <a href="http://blogirang.wordpress.com/2007/11/22/ah-ya-apakah-kita-sedang-mengulang-kembali-kepahitan-jamannya-sang-widji/#comment-2779" target="_blank">Mas Hoek,</a> dan juga banner keren, buah kreasi <a href="http://antobilang.wordpress.com/2007/11/22/banner-untuk-bersihar-lubis/" target="_blank">Kang Anto Bilang</a>, naluri saya sebagai penulis katrok tiba-tiba ikut-ikutan &#8220;memberontak&#8221;. Betapa kebebasan yang dijamin <a href="http://www.mpr.go.id/index.php?lang=id&amp;section=uud1945_iframe&amp;id=16&amp;judul=UNDANG-UNDANG%20DASAR%20NEGARA%20REPUBLIK%20INDONESIA%20TAHUN%201945%20DALAM%20SATU%20NASKAH&amp;PHPSESSID=4aab4d054a115dcb148fc235ae08555a" target="_blank">pasal 28 UUD 1945</a> di negeri ini masih silang sengkarut. Masih ada persoalan serius yang harus dituntaskan, khususnya yang berkaitan dengan kebebasan berekspresi, baik secara lisan maupun tulisan.</p>
<p align="justify">Jujur saja, saya tidak kenal siapa Bersihar Lubis (BL). Pernah sesekali membaca tulisannya di TEMPO. Tulisan-tulisannya lugas, kritis, dan menusuk. Tulisan-tulisan khas yang biasa meluncur dari tangan para jurnalis. Namun, agaknya sikap lugas dan kritis BL berbuah petaka.</p>
<p align="justify"><span id="more-273"></span>Akibat opininya di <a href="http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/koran-tempo%21overlay" title="koran Tempo">Koran TEMPO</a> edisi 17 Maret 2007 yang berjudul &#8220;Kisah Interogator yang Dungu&#8221;, yang mengkritisi pelarangan buku sejarah SMP dan SMU oleh Kejaksaan Agung pada Maret 2007, yang juga mengaitkannya dengan pelarangan novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia (<a href="http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/bm%21overlay" title="BM">BM</a>), dan  Anak Semua  Bangsa (ASB) pada 1981, BL harus berurusan dengan pijak Kejaksaan Agung (baca <a href="http://mediacare.blogspot.com/2007/11/kolumnis-diadili-cemarkan-kejaksaan.html" target="_blank">di sini</a>). BL diadili di Pengadilan Negeri (<a href="http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/pn%21overlay" title="PN">PN</a>) Depok  karena didakwa menghina instansi Kejaksaan Agung dan dituntut sesuai pasal  207 <a href="http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/kuhp%21overlay" title="KUHP">KUHP</a> dan  pasal 316 yo 310 ayat (1) <a href="http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/kuhp%21overlay" title="KUHP">KUHP</a>. Jaksa Penuntut Umum Tikyono dari Kejaksaan Negeri Depok menuntut terdakwa dengan hukuman delapan bulan penjara pada 14 November lalu. Kemudian, BL menyampaikan pleidoinya pada <a href="http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/events/20071121%21overlay" title="21 November 2007">21 November 2007</a>.</p>
<p align="justify">Dalam pleidoinya, BL mengatakan bahwa tulisannya di  <a href="http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/koran-tempo%21overlay" title="koran Tempo">Koran TEMPO</a> bukanlah perbuatan pidana. &#8220;Tetapi adalah wujud ekspresi dalam kebebasan berpendapat sebagaimana dibenarkan dalam pasal 28 UUD 1945, dan merupakan bagian dari alam demokrasi di Indonesia,&#8221; kata Lubis. Untuk itu ia mohon Majelis Hakim membebaskannya dari segala dakwaan (dikutip dari <a href="http://mediacare.blogspot.com/2007/11/kolumnis-diadili-cemarkan-kejaksaan.html" target="_blank">sini</a>).</p>
<p align="justify">Siapa pun yang pernah membaca UUD 1945, khususnya pasal 28 berikut penjelasannya, saya kira akan sulit membantah kebenaran pleidoi yang disampaikan oleh BL itu. Namun, agaknya di mata hukum (khususnya pihak kejaksaan) BL dinilai telah melakukan penghinaan lantaran menyebut pelarang buku sebagai orang <a href="http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/11/ac-i-diadili-karena-menulis-opini-mari.html" target="_blank">dungu</a>. Itulah persoalan pelik yang tak henti-hentinya menghadang para penulis yang dengan amat sadar ingin melakukan sebuah perubahan.</p>
<p align="justify">Buku hakikatnya tak hanya sekadar simbol intelektual. Di dalamnya juga terkandung muatan nilai yang bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Lumpuhnya dinamika dunia keilmuan di negeri ini agaknya lebih banyak disebabkan oleh penafsiran-penafsiran sepihak dari penguasa yang tidak mengizinkan buku-buku yang dinilai &#8220;liar&#8221; dan &#8220;melawan arus&#8221; dibaca oleh anak-anak bangsa. Mereka &#8220;diharamkan&#8221; membaca buku yang mampu memberikan persepsi berbeda terhadap keberadaan sang rezim.</p>
<p align="justify">Dampak yang lebih serius, para penulis kreatif yang ingin tampil beda dalam menyuarakan nuraninya seringkali harus selalu berada di bawah ancaman kilatan pedang sang penguasa. Tidak heran apabila dalam beberapa dekade terakhir ini, kita benar-benar kehilangan para penulis &#8220;hebat&#8221; yang dengan amat sadar ingin melakukan &#8220;pemberontakan&#8221; terhadap atmosfer fasis yang berlangsung di sekitarnya. Buku, penulis, dan penjara seolah-olah sudah menjadi sebuah mata rantai yang saling mengintai dan menikam.</p>
<p align="justify">Kasus hukum yang menimpa BL sebenarnya bukan hanya menjadi keprihatinan BL seorang diri, melainkan juga bagi para penulis &#8211;termasuk bloger&#8211; yang merasa terancam kebebasannya dalam berekspresi. Yang dihadapi oleh pihak kejaksaan sebenarnya bukan hanya BL, melainkan juga para pendamba kebebasan berekspresi yang ingin mengabadikan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan melalui sebuah tulisan. Vonis yang hendak dijatuhkan kepada BL bukan semata-mata vonis untuk BL seorang, melainkan juga vonis kepada para pengusung nilai kebenaran di atas altar peradaban. Ya, vonis untuk BL sama saja vonis untuk para penulis yang berupaya mengabadikan setiap noktah dan jengkal peristiwa menjadi tulisan yang memfosil dalam benak setiap pembacanya.</p>
<p align="justify">Oleh karena itu, mari kita berikan dukungan moral kepada Bung Bersihar Lubis sebagai wujud empati kita terhadap sesama penulis yang sedang tersandung masalah hukum. Para bloger bisa memasang banner keren bikinan <a href="http://antobilang.wordpress.com/2007/11/22/banner-untuk-bersihar-lubis/" target="_blank">Bang Antobilang</a>. Mari kita semarakkan dunia blogosphere dengan satu suara &#8220;Jangan kekang kebebasan berekspresi&#8221;. Nah, salam budaya! ***</p>
<p align="justify">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p align="justify"><em><strong>Tembusan:</strong></em></p>
<ol>
<li><a href="http://arifkurniawan.wordpress.com/dukung-bersihar-lubis/" target="_blank">Bangaip</a></li>
<li><a href="http://antobilang.wordpress.com/2007/11/22/banner-untuk-bersihar-lubis/" target="_blank">Bang Antobilang</a></li>
<li><a href="http://blogirang.wordpress.com/2007/11/22/ah-ya-apakah-kita-sedang-mengulang-kembali-kepahitan-jamannya-sang-widji/" target="_blank">Mas Hoek</a></li>
<li><a href="http://mediacare.blogspot.com/2007/11/kolumnis-diadili-cemarkan-kejaksaan.html" target="_blank">Mediacare</a></li>
<li><a href="http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/11/ac-i-diadili-karena-menulis-opini-mari.html" target="_blank">ACI</a></li>
</ol>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" alt="AddThis Social Bookmark Button" border="0" height="16" width="125" /></a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F11%2F23%2Fbuku-penulis-dan-penjara%2F';
  addthis_title  = 'Buku%2C+Penulis%2C+dan+Penjara';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/23/buku-penulis-dan-penjara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revitalisasi Seni Rakyat di Tengah Peradaban Global</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/20/revitalisasi-seni-rakyat-di-tengah-peradaban-global/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/20/revitalisasi-seni-rakyat-di-tengah-peradaban-global/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Nov 2007 12:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/20/revitalisasi-seni-rakyat-di-tengah-peradaban-global/</guid>
		<description><![CDATA[Seiring dengan dinamika zaman yang terus bergerak pada arus globalisasi, dunia kesenian diharapkan bisa ikut berkiprah dalam melakukan pencerahan terhadap peradaban yang “sakit”. Seni tidak cukup hanya dipahami sebagai produk estetika, tetapi juga mesti diapresiasi sebagai sebagai produk budaya yang mampu memberikan sesuatu yang bermakna bagi umat manusia. “Dulce et utile”, kata Horace.
Berkaitan dengan keberadaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Seiring dengan dinamika zaman yang terus bergerak pada arus globalisasi, dunia kesenian diharapkan bisa ikut berkiprah dalam melakukan pencerahan terhadap peradaban yang “sakit”. Seni tidak cukup hanya dipahami sebagai produk estetika, tetapi juga mesti diapresiasi sebagai sebagai produk budaya yang mampu memberikan sesuatu yang bermakna bagi umat manusia. “Dulce et utile”, kata Horace.</p>
<p align="justify">Berkaitan dengan keberadaan seni rakyat yang hingga kini masih tumbuh subur di kantong-kantong seni, khususnya di daerah pedesaan, pada era global justru akan semakin dilirik dan diperhatikan sebagai “mutiara yang hilang”. Seni rakyat justru akan semakin penting dan strategis setelah manusia-manusia yang hidup pada masa post-modern sudah mulai jenuh dengan berbagai produk seni modern yang dinilai mulai kehilangan basis dan tuah falsafinya. Oleh karena itu, produk-produk seni rakyat perlu dikemas sedemikian rupa sehingga kehadirannya semakin dicintai dan dirindukan oleh publik.</p>
<p align="justify"><span id="more-271"></span>Dalam konteks demikian, kaum seniman dituntut untuk bersikap adaptif, sigap, dan cekatan dalam menerjemahkan, menginternalisasi, dan mengapresiasi nilai-nilai seni sehingga desain peradaban yang kita bangun menjadi lebih bermartabat, santun, arif, dan terhormat. Kelambanan kolektif kita –meminjam istilah Taufiq Ismail &#8211;akan diterjang tanpa ampun oleh kencang lajunya peradaban milenium yang akan datang ketika batas-batas geografi dan berbagai sekat peraturan sudah diangkat orang. Kita yang terkenal lambat, lamban, lalai, dan lengah akan tergeser, tergusur, tergasak, dan kemudian tergeletak di pinggir jalan raya peradaban dunia. Ini sebuah “warning” yang layak kita renungkan bersama untuk memberikan perhatian yang lebih serius dan intens terhadap persoalan kesenian agar jatidiri dan kepribadian bangsa kita yang kuyup akan nilai-nilai adiluhung terevitalisasi dan teraktualisasi dalam tataran praksis kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, kita jangan sampai terjebak dan latah dalam kelancungan slogan-slogan moral dan keluhuran budi yang kehilangan basis estetika dan kulturalnya.</p>
<p align="justify">Harus diakui, teknologi telah banyak membawa perubahan besar dalam sejarah kehidupan umat manusia. Sudah tak terbilang kelompok maupun perorangan yang mampu hidup mapan berkat teknologi. Meskipun demikian, teknologi dinilai juga membawa dampak munculnya manusia berkarakter –meminjam istilah Hasyim Anwar&#8211; oportunis, pembangkang, munafik, hedonistik, bermoral lemah, megalomaniak, maupun schizophronik, atau menurut pemikiran filsafat Hobbesian merupakan entitas manusia yang bersosok serigala bagi sesamanya (<em>homo homini lupus</em>).</p>
<p align="center">Manusia-manusia yang memiliki karakter semacam itu konon akan mudah tergelincir dalam kubangan kemanjaan nafsu dan selera hidup yang tega tertawa <em>ngakak</em> di atas derita dan bangkai sesamanya. Tatanan hidup tak jauh berbeda dengan siklus kehidupan hukum rimba, di mana makhluk yang lemah dan tak berdaya akan menjadi santapan empuk bagi makhluk yang kuat dan berkuasa. Dengan kata lain, bingkai kehidupan tereduksi oleh peradaban bar-bar, sadis, keras, dan lepas dari kontrol nilai kemanusiaan.</p>
<p align="right"><font color="#ff0000"><strong>Suasana Sarasehan &#8220;Revitalisasi Dewan Kesenian Kendal&#8221; </strong></font></p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/rewv3.jpg" title="rewv3.jpg"></a></p>
<p><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/rewv3.jpg" title="rewv3.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/rewv3.jpg" alt="rewv3.jpg" height="308" width="408" /></a></p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/rev1.jpg" title="rev1.jpg"></a></p>
<p><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/rev1.jpg" alt="rev1.jpg" height="308" width="408" /></p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/rev23.jpg" title="rev23.jpg"></a></p>
<p><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/rev23.jpg" title="rev23.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/rev23.jpg" alt="rev23.jpg" height="308" width="408" /></a></p>
<p align="justify"> Atmosfer kemajuan teknologi yang begitu terbuka dalam menawarkan nilai-nilai baru yang dinamis dan progresif agaknya tak berdaya dalam membangun peradaban yang lebih cerah, bermartabat, dan terhormat. Sikap latah dalam memburu gengsi dan <em>kemaruk </em>dalam menumpuk-numpuk harta, disadari atau tidak, telah melumpuhkan kepekaan sosial dan nurani kemanusiaan, bahkan cenderung menghalalkan segala cara dalam menggapai ambisi.</p>
<p align="justify">Dalam konteks demikian, seni diharapkan mampu memanfaatkan teknologi untuk membangun desain peradaban yang lebih bermoral dan berbudaya. Kaum seniman sebagai manusia yang memiliki “dunia panggilan” untuk memberikan pencerahan di tengah-tengah kehidupan masyarakat perlu “mengawinkan” antara seni dan teknologi sehingga berbagai produk seni yang dihasilkannya bisa lebih adaptif, lentur, <em>manjing-ajur-ajer, </em>dan bisa diterima oleh masyarakat. Harus ada kesadaran baru bahwa produk seni tidak boleh berada dalam keadaan elitis dan terasing di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang hanya bisa dinikmati oleh beberapa gelintir orang saja.</p>
<p align="justify">Tumbangnya produk-produk seni <em>&#8220;</em>masterpiece&#8221; dan komunitas keseniannya di atas panggung kehidupan sosial kita dinilai lebih banyak disebabkan oleh gagalnya kaum seniman sendiri dalam mengemas seni pertunjukan. Pertunjukan wayang orang, misalnya, dinilai masih tabu mengawinkannya dengan teknologi masa kini sehingga gagal menghasilkan pertunjukan yang sesuai dengan “selera” masyarakat masa kini. Ini tidak lantas berarti bahwa produk kesenian harus menghamba pada selera pasar, melainkan perlu dimaknai sebagai kiat dan strategi dalam upaya mendinamiskan produk-produk kesenian di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern.</p>
<p align="center"><strong>***<br />
</strong>
</p>
<p align="justify">Upaya &#8220;mengawinkan&#8221; seni dan teknologi juga dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan apresiasi masyarakat yang (nyaris) sudah terjebak dalam budaya instan. Untuk menggapai sesuatu, masyarakat tidak lagi menghargai proses, tetapi lebih berorientasi pada hasil. Sikap sabar, tawakal, ulet, telaten, dan cermat yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran, telah tersulap menjadi sikap suka menerabas, pragmatis, dan serba cepat. Orang pun jadi semakin permisif terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak jujur di sekitarnya. Budaya suap, kolusi, dan manipulasi sudah dianggap sebagai hal yang wajar. Untuk menggapai ambisi tertentu tidak jarang ditempuh dengan cara-cara yang tidak wajar menurut etika.</p>
<p align="justify">Kesibukan memburu gebyar materi untuk memanjakan selera dan naluri konsumtifnya juga memiliki dampak terhadap gaya hidup seseorang dalam berkesenian. Nilai-nilai <em>klangenan </em>dan hiburan lebih ditonjolkan ketimbang kandungan nilai filsafat yang terkandung dalam seni pertunjukan. Orang tidak lagi betah menonton seni pertunjukan yang melelahkan dan bertele-tele. Menikmati kesenian bagi sebagian besar masyarakat pada masa sekarang hanya sekadar untuk memperoleh hiburan di sela-sela rutinitas dan kesibukan. Oleh karena itu, tidak salah apabila dalang-dalang kondang semacam Ki Manteb, Entus, Joko Edan, atau dalang-dalang lokal lainnya bersikap adaptif dengan memasukkan unsur-unsur teknologi masa kini agar seni pakeliran yang mereka gelar tampil beda. Dan ternyata, masyarakat menyukainya. Agaknya sikap sebagian besar masyarakat kita dalam menikmati produk kesenian pun telah mengalami pergeseran. Seni pertunjukan yang semata-mata hanya menghamba dengan pakem, miskin inovasi, dan tabu teknologi, seringkali gampang ditinggalkan.</p>
<p align="justify">Dalam konteks demikian, kaum seniman juga dituntut untuk mampu menghasilkan kemasan dan produk seni yang lebih kreatif dan inovatif, sehingga keberadaannya di tengah-tengah kehidupan masyarakat tetap dicintai dan dirindukan. Jangan sampai terjadi, produk seni rakyat yang sudah teruji oleh sejarah mampu mencerahkan peradaban ditinggalkan oleh para penonton hanya karena kelengahan kaum seniman yang tidak peduli terhadap derap dan dinamika zaman. Harus ada upaya revitalisasi secara serius agar produk-produk seni rakyat tetap dicintai penonton dari berbagai kalangan usia.</p>
<p align="center"><strong>***</strong></p>
<p align="justify">Zaman akan terus berubah. Nilai-nilai baru akan terus bermunculan. Konsumtivisme dan hedonisme telah menjadi “paham” baru yang melanda sebagian besar masyarakat kita, bahkan telah telanjur menjadi sebuah kelatahan. Manusia modern, dalam pandangan Hembing Wijayakusuma, telah melupakan satu dari dua sisi yang membentuk eksistensinya akibat keasyikan pada sisi yang lain. Kemajuan teknologi telah mengoptimalkan kekuatan mekanismenya,  tetapi melemahkan kekuatan rohaninya. Manusia telah melengkapinya dengan alat-alat teknologi dan ilmu pengetahuan eksperimental dan telah meninggalkan hal-hal positif yang dibutuhksan bagi jiwanya. Akar-akar kerohanian sedang terbakar di tengah api hawa nafsu, keterasingan, kenistaan, dan ketidakseimbangan.</p>
<p align="justify">Dalam konteks demikian, kaum seniman harus tampil sebagai “pencerah” dan katalisator peradaban agar masyarakat tidak terus-terusan terjebak dalam perilaku anomali sosial. Seniman bisa dikatakan sebagai seorang resi yang “tapa ngrame”, menyatu di tengah-tengah kehidupan masyarakat sambil membawa misi “pencerahan” sesuai dengan bidang seni yang digelutinya. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam seni rakyat perlu terus dikembangkan, dikemas secara kreatif, dan disesuaikan dengan tuntutan perubahan zaman. Kaum seniman jangan sampai terjebak dalam sikap elitis dan terisolir dari tengah-tengah kehidupan masyarakat. Ketika banyak masyarakat yang lupa terhadap nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan, kaum seniman mesti terpanggil untuk mengingatkan mereka. “<em>Sabeja-bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada</em>” (seuntung-untungnya orang yang lupa masih beruntung orang yang ingat dan wapada), demikian kata Ranggawarsita melalui <em>Serat Kalatidha-</em>nya.</p>
<p align="center">Melalui misi “pencerahan” yang diembannya, kaum seniman juga dituntut untuk selalu tampil adaptif dan fleksibel sesuai dengan tuntutan zaman. Ini artinya, kaum seniman harus selalu tanggap dan peka dalam menangkap suara dan hati nurani masyarakat dalam berkesenian.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Era peradaban pada milenium ketiga dinilai banyak pengamat akan menawarkan kemajemukan persoalan hidup yang semakin rumit dan kompleks. Franz Magnis Suseno &#8211;dengan meminjam fenomena <em>Zaman Edan</em> yang pernah dikemukakan oleh Ranggawarsita—mengungkapkannya dengan satire: <em>Wong lugu keblenggu, wong bener thenger-thenger, wong jahat munggah pangkat, pengkhianat saya nikmat, surjana saya kepenak </em>(orang lug terbelenggu, orang jujur terperosok, orang benar terdiam kehilangan akal, orang jahat naik pangkat, pengkhianat tambah nikmat, orang tak baik jadi semakin enak).</p>
<p align="justify">Ketika fenomena <em>Zaman Edan</em> sudah tampak di depan mata, lantas apa kontribusi yang bisa dilakukan oleh kaum seniman? Ya, sebagai pengemban misi “pencerahan”, kaum seniman tidak boleh kehilangan sikap arif dan bijak dalam menyiasati dan menyikapinya. Intensitas dan totalitas penghayatan nilai-nilai moral, religi, kemanusiaan, dan kultural harus terus dihembuskan dalam setiap dimensi ruang dan waktu. Tujuannya? Agar masyarakat kita tidak telanjur kehilangan kepekaan dan sikap responsif terhadap segala macam bentuk fenomena kehidupan yang mencuat ke permukaan.</p>
<p align="justify">Paling tidak, ada dua tugas utama kaum seniman dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin rumit dan kompleks. <em>Pertama, </em>membentengi bangsa dari gerusan nilai-nilai mondial, global, dan kosmopolit, sehingga jatidiri dan kepribadian luhur bangsa yang sudah teruji melalui sejarah yang panjang tetap menampakkan eksitensinya. Hal ini tidak terlepas dari substansi kesenian sebagai produk budaya yang mampu menumbuhkan kepekaan nurani, nilai-nilai kesalehan, dan kearifan makna hidup. Melalui seni, mata hati kita akan semakin terbuka terhadap persoalan-persoalan konkret yang dihadapi masyarakat dan bangsanya sehingga mampu melihat setiap persoalan secara jernih, tidak mudah terjebak dan tergelincir ke dalam rajau-ranjau peradaban yang sakit.</p>
<p align="justify"><em>Kedua, </em>menjadikan “paket” kesenian sebagai bagian dari mata rantai zaman yang menjanjikan keuntungan materiil dan spiritual bagi kebesaran nama bangsa di mata dunia. Seni-seni “lokal jenius” harus terus ditumbuhkembangkan melalui kesadaran kolektif untuk merevitalisasinya menjadi sebuah produk dan kemasan seni yang memiliki “nilai jual” dan daya pikat bagi masyarakat.</p>
<p align="justify">Para pelaku seni hendaknya juga sigap menangkap momen dan gerak peradaban dengan menciptakan karya-karya monumental dan representatif yang mampu menembus batas-batas geografi, tak sekadar menjadi karya <em>masterpiece </em>di daerah sendiri. Lobi-lobi kesenian perlu terus dihidupkan dan dikembangkan. Nah, selamat berkarya rekan-rekan seniman, semoga misi “pencerahan” yang kita emban dapat terwujud. Hidup kaum seniman! ***</p>
<p align="justify">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
<em><strong><font color="#ff6600">Catatan:</font></strong></em><br />
<em>Tulisan ini saya sajikan di depan peserta &#8220;Revitalisasi Dewan Kesenian Kendal&#8221; pada hari Selasa, 20 November 2007, yang dihadiri sekitar 140 seniman se-Kabupaten Kendal dari 20 Komisariat Kecamatan. Setiap komisariat kecamatan mengirimkan 7 orang. Acara berlangsung selama dua hari (Senin-Selasa, 19-20 November 2007). Penyelenggara kegiatan adalah Dewan Kesenian Kendal yang dikomandani oleh Itos Budi Santosa. Saya ketiban sampur untuk membidangi Komite Sastra. </em></p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" alt="AddThis Social Bookmark Button" border="0" height="16" width="125" /></a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F11%2F20%2Frevitalisasi-seni-rakyat-di-tengah-peradaban-global%2F';
  addthis_title  = 'Revitalisasi+Seni+Rakyat+di+Tengah+Peradaban+Global';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/20/revitalisasi-seni-rakyat-di-tengah-peradaban-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
