<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MGMP BAHASA INDONESIA SMP &#187; sosial</title>
	<atom:link href="http://bindosmp.edublogs.org/category/sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bindosmp.edublogs.org</link>
	<description>Media Berbagi dan Bersilaturahmi antarguru</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Aug 2008 05:37:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pembacaan Cerpen Budi Maryono dan Diskusi Sastra</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 14:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[mgmp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[

Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Pembacaan cerpen akan dilakukan oleh sang cerpenis dan awak Teater Semut secara teatrekal.
Acara tersebut digelar pada:
hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008
pukul; 09.00 WIB s.d. selesai
tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Pembacaan cerpen akan dilakukan oleh sang cerpenis dan awak Teater Semut secara teatrekal.</p>
<p>Acara tersebut digelar pada:</p>
<p>hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008</p>
<p>pukul; 09.00 WIB s.d. selesai</p>
<p>tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 42 Kendal</p>
<p>keterangan:</p>
<p>1. kontribusi peserta Rp50.000,00 perorang</p>
<p>2. peserta mendapatkan sertifikat</p>
<p>3. peserta mendapatkan 1 (satu) buah buku kumpulan cerpen</p>
<p>4. kudapan</p>
<p>Usai pentas baca cerpen dilanjutkan dengan Diskusi Sastra yang akan mengupas habis tentang penulisan teks cerpen secara kreatif. Acara tersebut jelas akan sangat berarti bagi teman-teman sejawat guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kabupaten Kendal dalam upaya memberikan apresiasi sastra kepada sang pengarang sekaligus sebagai bekal menyajikan materi penulisan cerpen secara kreatif kepada siswa didik. Segala hal yang berkaitan dengan masalah penulisan cerpen akan dikupas habis-habisan oleh sang penulis. Mohon untuk berkenan hadir. Terima kasih.</p>
<p><strong>Salam Budaya,</strong></p>
<p>Sawali Tuhusetya</p>
</div>
</div>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F07%2F13%2Fpembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra%2F';
  addthis_title  = 'Pembacaan+Cerpen+Budi+Maryono+dan+Diskusi+Sastra';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/07/13/pembacaan-cerpen-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melly Kiong dan Bukunya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 11:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah mendengar nama Melly Kiong? Yups, di kompleks blogosphere, namanya memang kurang nyaring terdengar. Maklum, dia tergolong perempuan yang supersibuk. Selain sebagai perempuan yang dengan amat sadar memilih karier sebagai media perwujudan ”fitrah” keperempuanannya, dia juga sangat peduli pada harmoni kehidupan rumah tangga sebagai perwujudan ”kodrat” keperempuanannya. Bisa dimaklumi kalau dia jarang blogwalking. Blognya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pernah mendengar nama Melly Kiong? Yups, di kompleks blogosphere, namanya memang kurang nyaring terdengar. Maklum, dia tergolong perempuan yang supersibuk. Selain sebagai perempuan yang dengan amat sadar memilih karier sebagai media perwujudan ”fitrah” keperempuanannya, dia juga sangat peduli pada harmoni kehidupan rumah tangga sebagai perwujudan ”kodrat” keperempuanannya. Bisa dimaklumi kalau dia jarang blogwalking. Blognya yang di WP pun sudah lama tidak di-update.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly12.jpg" align="left" />Lantas, mengapa saya tiba-tiba saja tertarik untuk membuat postingan khusus tentang Melly Kiong? Secara pribadi, saya memang belum bertemu secara langsung dengan Mbak Melly –demikian saya biasa menyapanya. Komunikasi hanya sebatas kami lakukan via chatting, SMS, atau telepon. Meski demikian, setidaknya saya bisa mengenal ide-ide dan pemikiran-pemikirannya. Di mata saya, Mbak Melly tergolong perempuan yang memiliki idealisme untuk kemajuan bangsa. Lewat program dan slogannya ”Peduli Anak Bangsa”, betapa sosok Mbak Melly demikian<em> concern</em> dan peduli terhadap dunia pendidikan, meski pekerjaannya tidak terkait langsung dengan masalah pendidikan. Tempaan pengalaman hidupnya yang pahit, sosok ibunya yang <em>smart</em> dan tangguh, serta atmosfer lingkungan rumah tangga yang kondusif, agaknya telah memengaruhi sikap hidup Mbak Melly untuk peduli terhadap dunia pendidikan.</p>
<p align="justify">Pengaruh sosok ibunya dan atmosfer lingkungan keluarga semacam itulah yang telah mengilhami perempuan kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat, 1969 itu, untuk meluncurkan buku perdananya, <em>Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? </em>yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Jakarta. Buku setebal 127 halaman itu memaparkan dan sekaligus juga untuk membuktikan bahwa perempuan karier ternyata bisa juga mendidik anak dengan baik.</p>
<p><span id="more-327"></span></p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly4.jpg" align="right" />Ada sejumlah tokoh yang memberikan <em>endorsement </em>untuk buku ini, seperti Seto Mulyadi (pemerhati anak), Lenny Wongso (pengusaha dan penulis buku), Alexandra Dewi (perempuan karier), atau Santi Bonis (penyiar radio Cosmopolitan FM). Buku ini juga dilengkapi pujian dan apresiasi dari berbagai kalangan, seperti Nining W. Permana (<em>Managing Director Tupperware Indonesia</em>), Sayekti Sulisdiarto (<em>Production Director PT Phapros Tbk</em>), Eni Kusuma (Motivator, mantan TKW di Hongkong, dan penulis buku <em>best seller </em>”Anda Luar Biasa”), Hanna Fransisca (Ibu rumah tangga, pengusaha, dan bloger), dan masih banyak lagi. Saya juga kena sentil untuk ikut-ikutan memberikan apresiasi terhadap buku ini, hehehehe &#8230;</p>
<p align="justify">Apa sesungguhnya yang menarik dari buku perdana Mbak Melly ini? Kalau boleh menilai, buku ini memiliki kelebihan dalam muatan isi dan <em>style </em>pengungkapan. Buku ini mendedahkan pengalaman langsung Mbak Melly bagaimana di tengah kesibukan yang menumpuk, dia masih memiliki kesempatan untuk membimbing secara kreatif terhadap kedua anaknya, Julian (10 tahun) dan Matthew Liem (6 tahun). Diramu dengan beberapa kiat yang pernah dibaca lewat berbagai sumber, Mbak Melly berkesimpulan bahwa perempuan karier bisa juga menjadi sosok ibu yang sukses dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Julian dan Matthew telah merasakan imbas terhadap kiat-kiat praktis yang diterapkan Mbak Melly. Kedua anak ini tumbuh dan berkembang dengan baik, bahkan merasa nyaman meskipun sering ditinggal oleh sang ibu. Hal itu bisa dibaca melalui berbagai lampiran sebagai dokumen portofolio untuk melihat bagaimana Julian dan Matthew menikmati dunianya sehari-hari di lingkungan keluarga dan di sekolah.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly32.jpg" align="left" />Yang menarik, pengalaman-pengalaman praktis Mbak Melly dalam mendidik anak dikemukakan lewat racikan bahasa yang sederhana, jernih, dan mengalir. Tak banyak rujukan teoretis seperti kebanyakan buku ”<em>How To</em>&#8230;” yang lain. Dengan <em>style </em>khasnya. Mbak Melly mampu menyuguhkan sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkret sehingga gampang dicerna pembaca. Yang jelas, buku ini layak dibaca dan dimiliki oleh ibu-ibu yang kebetulan sibuk di ranah publik, tetapi masih memiliki kepedulian untuk sukses dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan ilustrasi pada halaman-halaman tertentu untuk memberikan <em>space </em>bagi pembaca dalam mencerna isi buku dan sekaligus memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mengembangkan imaji-imaji tertentu berdasarkan pengalaman Mbak Melly itu. Kalau toh ada, ilustrasi tersebut ditempatkan pada lampiran khusus sehingga terkesan lepas dari konteks pengalaman nyata yang disuguhkan Mbak Melly. (Mohon maaf Mbak Melly kalau saya terpaksa membidik titik ini sebagai kelemahannya, hehehehe &#8230;. )</p>
<p align="justify">Meski demikian, secara keseluruhan buku ini menampakkan adanya sebuah totalitas pemikiran dan pengalaman yang jitu dari istri Tatang Wijaya ini ke dalam sebuah buku ”<em>How To </em>&#8230;” yang cerdas dan mencerahkan. Bukan hanya layak dibaca oleh kaum perempuan karier. Bapak-bapak pun layak membacanya agar tidak canggung lagi beristrikan seorang permepuan karier.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly22.jpg" align="right" />Agaknya, buku ini juga menjadi bagian dari mimpi dan obsesi Mbak Melly dalam ikut serta membagun dunia pendidikan berbasis ”Program Peduli Anak bangsa” yang sudah lama mengendap dalam layar memorinya. Untuk itulah, belakangan ini dia juga sibuk menggelar berbagai seminar untuk memperkenalkan dan menyosialisasikan program-programnya itu.</p>
<p align="justify">Oke, Mbak Melly. Selamat atas peluncuran buku perdananya. Semoga sukses dan bermanfaat untuk kepentingan membangun karakter bangsa melalui sosok generasi masa depan yang disiplin, sikap moral yang baik, serta mentalitas unggul dengan daya juang tinggi. Kami tunggu buku edisi berikutnya. Semoga mimpi dan obsesi Mbak Melly untuk ikut berkiprah membangun karakter anak-anak bangsa berbasiskan motto: &#8220;Menjadi sebuah lilin yang mampu menyalakan seribu lilin lainnya&#8221; bisa segera terwujud. Salut banget! Namun, hati-hati loh, Mbak Melly, jangan sampai terjebak seperti sebuah lilin yang mampu menerangi kegelapan, tetapi dirinya meleleh dan hancur, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Yang ingin kontak via email ke Mbak Melly silakan hubungi: melly_kiong@yahoo.com atau kunjungi blognya <a href="http://muilie.wordpress.com/">di sini</a>.</p>
<p align="justify">***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F04%2F30%2Fmelly-kiong-dan-bukunya%2F';
  addthis_title  = 'Melly+Kiong+dan+Bukunya';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Guru yang Dikebiri Orang Tua Murid</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 15:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Melly Kiong
(Penulis Buku Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik, tinggal di Jakarta)

&#160;
Sekolah seperti yang kita ketahui adalah lembaga pendidikan yang kita percayakan sebagai rumah kedua yang tak kalah penting perannya dalam mendidik anak-anak kita. Guru adalah pengganti orang tua di sekolah yang menjadi pengajar sekaligus pendidik moral anak-anak kita. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Oleh: Melly Kiong<br />
(Penulis Buku <em>Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik</em>, tinggal di Jakarta)
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sekolah seperti yang kita ketahui adalah lembaga pendidikan yang kita percayakan sebagai rumah kedua yang tak kalah penting perannya dalam mendidik anak-anak kita. Guru adalah pengganti orang tua di sekolah yang menjadi pengajar sekaligus pendidik moral anak-anak kita. Tapi sungguh ironis keadaan yang berkembang sekarang di mana seorang guru untuk berbicara dengan murid saja harus berhati-hati dikarenakan penyampaian dari murid yang salah kepada orang tua bisa berakibat fatal. Jadi, bagaimana seorang guru bisa menjalankan fungsinya sebagai pendidik?</p>
<p align="justify"> Kita kembali melihat bagaimana di zaman China Kuno dulu, untuk mendapatkan seorang guru yang mau menerima anaknya sebagai murid, orang tua harus bersusah-payah mencari dan bahkan menyembah seorang guru. Dan begitu mendengar guru memukul anaknya, si orang tua datang kepada guru tersebut untuk memberi hormat, bahkan hadiah sebagai ucapan terima kasih, karena dianggap guru tersebut telah dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati dalam mendidik serta mengajari anaknya menjadi manusia yang berguna. Toh tidak pernah ada sejarah di mana murid yang pernah mengalami hal tersebut menjadi dendam kepada gurunya. Bahkan, murid sangat menghargai gurunya, karena mereka yakin jasa gurunya untuk keberhasilan hidupnya sangat luar biasa.</p>
<p align="justify"><span id="more-326"></span> Dan hal ini pun pernah saya alami secara pribadi, tapi sudah dengan kapasitas yang berbeda di mana di kota kecil di sebuah sekolah susteran yang menerapkan disiplin yang luar biasa di mana hanya terlambat dalam hitungan menit, kita dihukum harus mencabut sebidang rumput sampai bersih di bawah terik matahari atau membersihkan WC. Pada saat itu rasanya kita kesel sekali dengan cara suster memberikan hukuman. Tapi jujur saja setelah terjun di masyarakat ternyata disiplin yang ditanamkan sangat bermanfaat dan ternyata menjadi nilai positif yang membuat daya juang kita selangkah lebih maju serta <em>mentality  </em>persaingan  kita juga lebih siap.</p>
<p align="justify">Dan terus terang saja saya pribadi sangat berterima kasih kepada Suster yang telah memberikan kontribusi yang luar biasa dalam keberhasilan menanamkan disiplin di dalam hidup saya, dan jujur saja saya sangat berharap sekolah dan guru bisa memberikan pendidikan yang semestinya yang tentunya butuh kerjasama dan dukungan yang baik dari para orang tua murid tentunya.</p>
<p align="justify"> Mari kita  kembalikan peranan guru sebagai pengajar dan pendidik  yang baik bagi anak anak kita. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F04%2F29%2Fperanan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid%2F';
  addthis_title  = 'Peranan+Guru+yang+Dikebiri+Orang+Tua+Murid';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/29/peranan-guru-yang-dikebiri-orang-tua-murid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Guru</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/01/03/blog-guru/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/01/03/blog-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 08:49:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[blog guru]]></category>
		<category><![CDATA[karier]]></category>
		<category><![CDATA[kenaikan pangkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2008/01/03/blog-guru/</guid>
		<description><![CDATA[Ini postingan pertama pasca-2007. Tiba-tiba saja saya terusik untuk mengangkat blog guru sebagai topik. Maklum, memasuki liburan semester I ini banyak waktu luang yang bisa saya gunakan untuk memuaskan syahwat hasrat bercinta berselancar dengan kekasih blog saya di dunia maya. *halah* &#8220;Kayak ndak ada kerjaan ajah!&#8221;, ujar Mas Mbelgedez, hehehehe  
Ya, ya, ya, setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ini postingan pertama pasca-2007. Tiba-tiba saja saya terusik untuk mengangkat blog guru sebagai topik. Maklum, memasuki liburan semester I ini banyak waktu luang yang bisa saya gunakan untuk memuaskan <strike>syahwat</strike> hasrat <strike>bercinta</strike> berselancar dengan <strike>kekasih</strike> blog saya di dunia maya. *halah* &#8220;Kayak ndak ada kerjaan ajah!&#8221;, ujar Mas <a href="http://mbelgedez.wordpress.com/" target="_blank">Mbelgedez</a>, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Ya, ya, ya, setelah hampir 6 bulan lamanya bersikutat dengan rutinitas di sekolah, para guru diberi kesempatan untuk libur. Mungkin setiap daerah beda-beda, yak. Sudah otonomi kok. Jadi, terserah kebijakan Pemda/Pemkot masing-masing. Untuk daerah saya (Kendal), sekitar 2 minggu, para guru bisa menghirup udara bebas di luar tembok sekolah. *halah* 14 Januari nanti baru kembali mencium aroma silabus, RPP, agenda mengajar, buku teks, daftar nilai, dan setumpuk tugas sampingan lainnya di sekolah.</p>
<p align="justify"><span id="more-309"></span>Enak betul, yak, jadi guru! Saya kira tidak salah. Dari sisi waktu, guru jelas banyak diuntungkan. Beban kewajiban mengajar guru hanya 24 jam &#8212; berdasarkan <a href="http://www.bsnp-indonesia.org/" target="_blank">Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)</a> &#8212; per minggu  dari total waktu 144 jam.  Ini artinya, masih ada siswa waktu 120 jam per minggu. Selain bisa digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas utama yang lain, seperti menyusun silabus, skenario dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), media/alat bantu,  menyusun soal, koreksi, analisis nilai, menyusun program tindak lanjut, beribadah, beristirahat, berkomunikasi dengan keluarga,  atau melakukan kegiatan-kegiatan sosial, juga bisa digunakan untuk <a href="http://sisca79.wordpress.com/2007/12/28/meningkatkan-potensi-diri/" target="_blank">meningkatkan potensi diri</a>. Membaca dan menulis, menurut hemat saya, sangat tepat dijadikan sebagai aktivitas yang bermakna dalam menunjang kompetensi guru.</p>
<p align="justify">Mengapa dua aktivitas itu penting saya kemukakan? Setidaknya ada dua alasan yang cukup mendasar. <i>Pertama,</i> membaca dan menulis bisa menjadi asupan bergizi dalam *halah* khazanah rohaniah kita yang (nyaris) luput dari sentuhan perhatian keseharian kita. Disadari atau tidak, kita lebih &#8220;memuliakan&#8221; kegemukan lahiriah ketimbang ketambunan rohaniah kita. Kita nekad melakukan demo, bahkan &#8220;perang urat syaraf&#8221; ketika perut kita merasa lapar. Namun, ketika simpul-simpul syaraf otak dan keliaran imajinasi kita butuh dipermak dan dirawat, kita <i>cuek-bebek</i>; membiarkan pikiran dan imaji kita kelaparan hingga lumpuh.</p>
<p align="justify"><i>Kedua</i>, membaca dan menulis masih menjadi fenomena budaya yang langka di negeri ini. Bahkan, bangsa kita sudah lama dikenal sebagai <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/09/11/bangsa-yang-malas-membaca/" target="_blank">bangsa yang malas membaca</a>. Dari budaya praliterasi, bangsa kita langsung meloncat ke budaya posliterasi (media elektronika). Budaya literasi dibiarkan tenggelam, melapuk, dan memfosil dalam sejarah peradaban bangsa dari generasi ke generasi. Kalau budaya membaca (reseptif) saja masih amburadul, apalagi budaya menulis (produktif). *halah sok tahu, yak* Tak heran ketika Menpan menetapkan ketentuan angka kredit pengembangan profesi untuk kenaikan pangkat dari golongan IV-a ke golongan IV-b dan seterusnya melalui penulisan karya ilmiah, banyak guru yang angkat tangan. <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  Banyak yang gagal meraihnya sehingga bejibun jumlah guru yang terpaksa <i>ndongkrok</i> di golongan IV-a.</p>
<p align="justify">Nah, ketika dunia tak lagi mengenal sekat-sekat geografis, bahkan sudah menyatu dalam sebuah perkampungan global, idealnya aktivitas membaca dan menulis bukan lagi menjadi sebuah kewajiban, melainkan sebuah kebutuhan. Seiring dengan itu, anak-anak sekolah pun mulai banyak yang merambah ke dunia internet. Jika kita perhatikan, sudah banyak pelajar yang memiliki blog. Hebat! Blog yang mereka miliki tak hanya sekadar blog biasa. Mereka rutin meng-<i>up date</i>-nya dengan postingan bermutu. Lihat saja blog <a href="http://chaosregion.wordpress.com/">chaosregion</a>, <a href="http://myresource.wordpress.com/">Mas Moer</a>, atau <a href="http://bachtiar.wordpress.com/">bachtiar</a> &#8211;untuk menyebut beberapa nama. Ketiga blog ini masing-masing dikelola oleh anak muda yang usianya belum genap berkepala 2. Luar biasa! Salut!</p>
<p align="justify">Kalau para pelajar seusia SMA saja sudah punya blog yang bagus, bagaimana dengan para gurunya? *halah* Bisa jadi menjadi sebuah ironi apabila para pelajar sudah melintas kencang di tengah-tengah lalu lintas peradaban dunia melalui blog, sementara para guru masih bersikutat di semak-semak peradaban proliterasi. Kita memang perlu bersikap realistis. Kesenjangan kompetensi guru desa-kota selama ini memang masih cukup lebar. Guru-guru yang tinggal di kota hampir setiap hari bisa mengakses dunia maya. Sementara, guru-guru yang tinggal di pelosok-pelosok dusun masih harus akrab dengan kondisi tempat tinggal yang jauh dari sentuhan signal internet. Namun, saya kira hal itu tidak bisa jadi alasan pembenar bagi rekan-rekan sejawat &#8212; terutama yang tinggal di kota&#8211; untuk tindak melakukan aktivitas ngeblog.</p>
<p align="justify">Selain sudah banyak diungkap di blog lain, saya juga pernah memosting beberapa tulisan yang berkaitan dengan pentingnya ngeblog di kalangan guru di tengah-tengah abad gelombang informasi ini.  Simak saja tulisan saya <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/08/16/guru-blog-dan-profesionalisme/" target="_blank">di sini</a>, <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/10/04/mengapa-saya-ngeblog-di-wordpress/" target="_blank">di sini</a>, atau <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/11/12/membudayakan-aktivitas-ngeblog-di-kalangan-guru/" target="_blank">di sini</a>. Kita juga mengenal blog guru &#8211;sekadar menyebut beberapa nama&#8211; seperti <a href="http://suandana.wordpress.com/">Aditya-Suandana,</a> <a href="http://karun99oni.wordpress.com/">akafuji</a>, <a href="http://awan965.wordpress.com/">Awan965</a>, <a href="http://deni3wardana.wordpress.com/">deni3wardana</a>, <a href="http://enggar.net/">enggar</a>, <a href="http://nuritaputranti.wordpress.com/">eNPe</a>, <a href="http://kangguru.wordpress.com/"></a><a href="http://gempur.blogsome.com/" target="_blank">Gempur</a>, <a href="http://kangguru.wordpress.com/">kangguru,</a> <a href="http://pustakamawar.wordpress.com/">Mawardi</a>, <a href="http://nartokendal.wordpress.com/">Narto</a>, <a href="http://rudyhilkya.wordpress.com/" rel="nofollow">rudyhilkya</a>, <a href="http://urip.wordpress.com/">urip,</a> <a href="http://wellnada.wordpress.com/">Welly Arwanto</a>, <a href="http://checep05.wordpress.com/">Yossi</a>, atau  <a href="http://zainurie.wordpress.com/">zainurie</a>. Blog-blog tersebut dikelola oleh bloger yang kebetulan juga berprofesi sebagai guru. Mudah-mudahan langkah mereka segera diikuti oleh rekan-rekan sejawat guru yang lain.</p>
<p align="justify">Saya kira blog yang mereka kelola bukan sebagai ajang untuk pamer diri, cari sensasi, atau ketenaran, melainkan lebih dimaksudkan sebagai upaya untuk menjalin silaturahmi, <i>sharing, </i>dan diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Kehadiran blog guru di dunia maya agaknya juga sangat dibutuhkan untuk kepentingan dunia pendidikan. Lihat saja skrinsut kata-kata kunci pencari dalam situs yang sempat &#8220;tersesat&#8221; <strike>mangslup</strike> masuk dalam blog saya berikut ini.</p>
<p align="justify"> <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2008/01/mesin-pencari.gif" title="mesin-pencari.gif"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2008/01/mesin-pencari.gif" title="mesin-pencari.gif"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2008/01/mesin-pencari.gif" alt="mesin-pencari.gif" /></a></div>
<p align="justify">Alhamdulillah, tidak ada kata-kata kunci, seperti <i>telanjang, video bokep, bugil, </i>atau <i>porno</i> <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  yang nyasar ke sini, karena saya memang tidak punya bakat ke situ, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Saya menduga, kata-kata kunci tersebut dimasukkan ke dalam mesin pencari oleh rekan-rekan sejawat guru atau mereka yang memiliki kepentingan informasi yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Ini artinya, kehadiran blog guru memang dibutuhkan oleh kaum pendidik dan pemerhati dunia pendidikan. Semoga tahun 2008 menjadi awal yang bagus terhadap bangkitnya blog guru di dunia maya. Siapa tahu kelak blog diakui sebagai angka kredit pengembangan profesi guru sehingga bisa ikut memperlancar dan memuluskan jalan dalam menggapai karier yang lebih baik.</p>
<p align="justify">Oh, ya, saat ini di WP juga sudah ada blog yang secara khusus mereview dan meresensi blog guru. Silakan lihat di <a href="http://arahguru.wordpress.com/" target="_blank">sini</a>.  Blog tersebut dikelola oleh <a href="http://arahguru.wordpress.com/about/" target="_blank">Kelik M. Nugroho</a>, jurnalis dan penulis yang bekerja di Jakarta. Dia alumnus Pondok Modern Gontor Ponorogo, IAIN Jogja, dan masih ingin menyelesaikan kuliah S-2 di <i>Islamic College for Advanced Studies,</i> Jakarta. Blog ini didedikasikan untuk kemajuan mutu guru di Indonesia. Terima kasih Pak Kelik atas kepeduliannya untuk terus mengikuti perkembangan blog guru, semoga maksud mulia ini bisa ikut menyebarkan &#8220;virus&#8221; ngeblog di kalangan guru. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F01%2F03%2Fblog-guru%2F';
  addthis_title  = 'Blog+Guru';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/01/03/blog-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Wejangan&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 13:29:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan &#8220;pesta&#8221; pergantian tahun, 18 &#8220;cantrik&#8221; dari &#8220;Padepokan&#8221; STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru &#8220;menyepi&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo itu mulai &#8220;bertapa&#8221; sejak Sabtu, 29 Desember hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan &#8220;pesta&#8221; pergantian tahun, 18 &#8220;cantrik&#8221; dari &#8220;Padepokan&#8221; STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru &#8220;menyepi&#8221; di &#8220;Pertapaan&#8221; Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo itu mulai &#8220;bertapa&#8221; sejak Sabtu, 29 Desember hingga Senin, 31 Desember 2007. Ada banyak &#8220;jurus&#8221; yang hendak diasah dalam &#8220;kawah candradimuka&#8221; itu, seperti manajemen pertunjukan, imajinasi, refleksi diri, olah tubuh, pernapasan dan vokal, penyutradaraan, keaktoran, make-up, artistik, kepekaan indera, improvisasi gerak dan kata, penciptaan, dan penyajian.</p>
<p align="justify">Ya,  para &#8220;cantrik&#8221; itu adalah beberapa gelintir anak muda yang telah berniat memilih dunia sastra dan teater sebagai bagian dari &#8220;panggilan&#8221; hidup. Sebuah dunia yang (nyaris) tidak banyak diminati oleh anak-anak muda di tengah-tengah gencarnya gerusan nilai materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme. Di bawah gemblengan Aslam Kussatyo, dedengkot teater Kota Kendal, mereka sengaja mengisolir diri menjelang pergantian tahun untuk melakukan refleksi,  berimajinasi,  mengolah daya cipta, dan berlatih jurus-jurus bermain teater.</p>
<div align="justify"><span id="more-308"></span>Saya yang kebetulan didaulat untuk memberikan &#8220;wejangan&#8221; kepada para &#8220;cantrik&#8221; di sebuah &#8220;pertapaan&#8221; yang dkelilingi banyak bukit itu pun tak kuasa menolak.  Di bawah &#8220;ancaman&#8221; cuaca buruk yang membadai, saya langsung memacu sepeda <strike>kumbang</strike> motor *halah* di atas jalan berlubang. Guyuran hujan rintik-rintik dan jalanan yang licin tak menyurutkan nyali saya *halah* untuk segera bertemu dengan para &#8220;cantrik&#8221; yang sedang &#8220;ngangsu kaweruh&#8221; masalah teater dan sastra itu.</div>
<div align="justify"> <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" title="aslam42.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" title="aslam42.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam42.jpg" alt="aslam42.jpg" height="290" width="485" /></a></div>
<p align="center"> Saya dan &#8220;Resi&#8221; Aslam Kussatyo di depan para &#8220;cantrik&#8221;.</p>
</div>
<div align="justify">   <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" title="aslam7ok.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" title="aslam7ok.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/aslam7ok.jpg" alt="aslam7ok.jpg" /></a></div>
<p align="center"> Membeberkan *halah* &#8220;wejangan&#8221; sastra di depan para &#8220;cantrik&#8221;.</p>
<p align="center">*Maaf kawan, fotonya kabur, cuaca mendung dan berkabut, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Alasan klise*</p>
</div>
<div align="justify">Inilah &#8220;wejangan&#8221; yang saya &#8220;khotbah&#8221;-kan kepada mereka.</div>
<div align="center"><b>Kreativitas dalam dunia Penciptaan Teks Sastra</b></div>
<p align="justify">“Jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri.”<br />
(Seno Gumira Ajidarma:1997)<br />
***<br />
Kreativitas berkaitan dengan kemampuan daya cipta. Kehidupan berkaitan dengan penafsiran nilai-nilai hidup dan kehidupan yang bermakna dalam upaya meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam dunia penciptaan teks sastra, seorang penulis, mau atau tidak, harus mampu memadukan dua “kekuatan” itu sekaligus dalam teks-teks ciptaannya.
</p>
<p align="justify"> Dunia sastra sangat berkaitan dengan dunia yang tidak kasat mata. Teks sastra menyajikan persoalan hidup dan kehidupan secara fiktif, tetapi secara moral dan logika harus dapat ”dipertanggungjawabkan”. Bisa saja seorang penulis menyajikan konflik perjalanan hidup seorang pencandu narkotika yang tega menyiksa diri dan merusak masa depannya melalui ”pil atau serbuk setan”, misalnya. Namun, peristiwa yang digambarkan tetap harus utuh dan menampakkan kewajaran dari sisi moral dan logika. Jadi, meskipun hanya merupakan karya imajinatif, teks sastra tetap harus menampakkan keutuhannya sebagai teks yang runtut penalarannya.</p>
<p align="justify"> Emha Ainun Najib mengatakan, pekerjaan sastra memang merupakan pekerjaan halus, pekerjaan rohaniah. Namun, bagi yang berminat mengembangkan bakatnya tidak sesulit menekuni olahraga. Jika dalam sepak bola aturan-aturan main harus dipahami sebelum main sepak bola, sedangkan sastra &#8211;meski belum jelas; apakah itu soal kosa kata, dan sebagainya&#8211; tulis saja terus, sambil mencari waktu membaca karya sastra, kemudian karya tersebut disimpan, dibaca lagi, diperbaiki lagi, diendapkan lagi.</p>
<p align="justify"> &#8220;Semua penyair/cerpenis mengalami kesulitan menulis. Kalau tak demikian, tak lahir karya bermutu. Jadi, tulis saja dulu, meski katanya keliru, nanti akan ada komparasi, perbaiki kekeliruan, supaya ada dialektika dengan diri. Puisi menarik karena ia merangsang pikiran. Bisa saja dalam sebuah karya ada analisis sosiologis, antropologis dan sebagainya,&#8221; ungkap Emha. Hal senada juga dikemukakan Wisran Hadi. Menurutnya, bila banyak &#8220;peraturan&#8221; atau teori justru bisa jadi penghambat dalam menulis. Untuk itu, jangan peduli dulu dengan aturan ini-itu, yang penting menulis, dan terus menulis. Nah, bagaimana, menulis teks sastra tak perlu teori, bukan?<br />
***
</p>
<p align="justify">Bagaimana mengawali penulisan teks sastra? Tidak usah mempersulit diri. Apa pun yang ada di sekitar kita bisa dijadikan bahan cerita. Teman yang putus cinta, konflik dengan orang tua, gagal naik kelas, kecelakaan lalu lintas, korban narkoba, dan semacamnya bisa diracik menjadi sebuah teks yang menarik. Jadi, kita mesti jeli mengamati berbagai peristiwa yang berlangsung dalam kehidupan di sekitar kita sehari-hari. Lalu, sajikan peristiwa itu secara menarik dengan menggunakan kata-kata yang ekspresif. Ekspresif artinya mampu menyajikan peristiwa dengan menggunakan kata-kata yang dapat menggambarkan apa yang dilihat, didengar, diraba, dicium, atau dirasakan oleh penulis secara tepat. Hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan ungkapan (idiom), majas, atau ujaran langsung.</p>
<p align="justify"> Coba perhatikan kutipan cerpen berikut!</p>
<p align="justify"><i> “Melati … Melati … harum dan mewangi …”<br />
Setiap potongan syair dangdut itu terdengar, para tetangga segera paham, Sarkawi baru saja pulang dari hutan. Ia pasti sedang terlihat leyeh-leyeh, sembari  memeluk kucingnya.<br />
Mulanya para tetangga memang merasa aneh dengan dendang Sarkawi. Ya, selama ini ia lebih dikenal akrab dengan tembang Jawa atau lagu-lagu tayuban, baik dari mulutnya maupun dari radio kotaknya yang besar itu. Tapi, mereka kemudian mengerti juga, syair dangdut itu ternyata bukan pertanda peralihan selera. Bukan. Ia hanya ungkapan sayang bagi momongannya, si Melati.<br />
</i></p>
<p align="justify"><i> Kalau saja punya cucu, Pak Wi, begitu lelaki pencari kayu bakar itu dipanggil, tentu pantas dipanggil kakek. Tapi, jangankan kok cucu, sampai usianya yang menginjak senja, seorang anak pun tak ia miliki. Pernah memang seorang bocah mewarnai kehidupannya, perempuan lagi. Tapi nasib malang merenggut hidup bocah itu ketika belum genap berumur 10 tahun. Sejak itu, Pak Wi dan istrinya tak pernah lagi dikaruniai seorang anak pun. Sebenarnya ada keinginan untuk memungut anak dari famili atau tetangga. Namun, hidupnya yang tak pernah lepas dari kesulitan membuat keinginan itu hanya sebagai keinginan …<br />
</i></p>
<div align="right"> (Dikutip dari cerpen “Melati” karya Mahfud Ikhwan)</div>
</p>
<p align="justify"> Struktur cerpen terbentuk dari lima unsur yang saling berkaitan, yaitu perbuatan, penokohan, latar, sudut pandang, dan alur (plot). Tokoh yang dikisahkan melakukan perbuatan atau tindakan yang terjadi pada waktu dan tempat (latar) tertentu berdasarkan tahapan-tahapan tertentu (plot) dari sudut pandang (pusat pengisahan) penulisnya. Daya pikat sebuah teks cerpen sangat ditentukan oleh keterampilan sang penulis dalam menyatukan unsur-unsur cerita sehingga mampu merangsang minat  pembaca untuk mengetahui jalan cerita selanjutnya.</p>
<p align="justify"> Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah membangun karakter tokoh. Ada banyak cara yang bisa digunakan, di antaranya:</p>
<div align="justify">
<ul>
<li>Melalui ucapan-ucapan si tokoh: Ucapan si tokoh dalam menggambarkan karakternya. Orang yang sopan tentu berbeda cara ngomongnya dengan orang yang bengal. Orang pemarah tentu beda cara ngomongnya dengan orang yang penyabar. Demikian seterusnya.</li>
<li>Melalui pemberian nama: Dalam kehidupan nyata, nama seseorang memang tidak identik dengan sifat dan perilaku orang tersebut. Namun, dalam dunia fiksi, kita bisa memberikan nama-nama tertentu untuk memberikan kesan karakter yang berbeda-beda. Misalnya, nama Dewi cenderung berkesan anggun dan keibuan. Sedangkan, nama Susan cenderung berkesan centil dan genit. Pemberian nama juga hendaknya disesuaikan dengan setting cerita dan karakter etnis dari tokoh tersebut. Misalnya, aneh rasanya jika kamu menceritakan seorang tokoh yang beragama kristen, tetapi dia bernama Abdullah. Atau, kamu menceritakan tentang seorang tokoh yang ber-etnis Jawa, dan sejak lahir hingga dewasa tinggal di Kendal, tetapi dia bernama Michael. Kalaupun kamu harus memberikan nama yang seperti itu, hendaknya kamu memberikan penjelasan yang memadai mengenai hal itu (mengapa orang Jawa yang sejak lahir tinggal di Kendal bisa punya nama Michael, dan sebagainya)</li>
<li>Melalui diskripsi yang disampaikan oleh si penulis: Ini adalah cara yang cukup umum dan gampang. Contohnya: &#8220;Wina adalah gadis yang amat penyabar, ia selalu memulai ucapannya dengan senyuman.&#8221;</li>
<li>Melalui pendapat tokoh-tokoh lainnya di dalam karya tersebut, contoh: <i>Nia berkata, &#8220;Joko itu pelit banget deh. Masa udah ketahuan di dompetnya banyak duit, dia ngaku lagi bokek!&#8221;</i></li>
<li>Melalui sikap atau reaksi si tokoh terhadap kejadian tertentu, contoh: <i>Ketika seorang anak memecahkan gelas, apa yang dilakukan ibunya? Dalam hal ini, kita harus merumuskan dulu secara jelas, bagaimana karakter si ibu. Apakah dia pemarah, penyabar, suka mencaci-maki, dan sebagainya. Jika yang diceritakan adalah seorang ibu yang penyabar dan penuh pengertian, tentu tidak akan membuat kalimat yang menceritakan bahwa si ibu marah besar lalu memaki-maki anaknya.</i></li>
</ul>
</div>
<p align="justify"> Jangan sekali-lagi merusak karakter tokoh dengan hal-hal yang kontradiktif. Misalnya: kamu menceritakan tentang tokoh Ali yang penyabar dan selalu santun dalam bicara. Namun dalam sebuah bagian cerita, kamu membuat kalimat seperti ini: Ali sangat terkejut mendengar cerita Hasan. Dadanya bergemuruh, mukanya merah, dan ia menatap Hasan penuh kebencian. &#8220;Bajingan loe!&#8221; teriaknya dengan kasar.<br />
***<br />
Teks sastra yang kamu buat akan menjadi lebih bermakna jika dibaca orang lain. Oleh sebab itu, kamu perlu memublikasikan teks karyamu ke media massa, majalah sekolah/remaja/umum, koran, atau tabloid. Sekarang ini, cerpen/puisi ”dimanjakan” oleh berbagai media. Hampir setiap penerbitan selalu menyediakan rubrik cerpen/puisi. Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ada baiknya, kamu memiliki beberapa alamat redaksi majalah/koran. Lebih bagus lagi jika memiliki alamat e-mail; lebih murah dan praktis.</p>
<p align="justify"> Jangan putus asa kalau gagal dimuat. Resep menjadi penulis sukses tidak mengenal putus asa dalam kamus hidupnya. Yang penting menulis, menulis, dan menulis. Yang tidak kalah penting, kamu harus banyak membaca teks sastra yang dimuat di berbagai koran atau majalah. Kalau mengalami kebuntuan dalam menulis?<br />
Salinlah beberapa paragraf atau halaman dari buku kesukaanmu.</p>
<ul>
<li>Tirulah gaya penulis favoritmu.</li>
<li>Berusahalah menulis dengan gaya yang baru bagimu.</li>
<li> Petakan kebuntuanmu menulis dalam bentuk gambar. Gunakan imajinasimu. Gambarlah apa saja. Melalui kegiatan ini “kedua belah otak” kamu bekerja dan merangsang pikiran kreatif.</li>
</ul>
<p align="justify">(Sebagian &#8220;wejangan&#8221; saya &#8220;curi&#8221; dari berbagai sumber yang saya sendiri sudah lupa dari  mana dulu saya &#8220;mencuri&#8221; <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  )</p>
<p align="justify">***</p>
<p align="justify">Tentu saja, mereka tidak puas hanya sekadar mendengarkan &#8220;wejangan-wejangan&#8221; yang tidak jelas juntrungnya itu, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />   Mereka saya beri kebebasan untuk ngomong apa saja. Bertanya dan berdiskusi pun jadilah. Hangat dan menarik. Ada keluguan dan kepolosan. Ada juga kekenesan.</p>
<p align="justify">Walhasil, saya pun meminta mereka untuk menerapkan &#8220;jurus-jurus&#8221; dalam menulis; puisi dan cerpen. Beragam jadinya. Ada yang bicara soal &#8220;Pohon Cinta&#8221;, &#8220;Terlambat&#8221;, &#8220;Putri Malu&#8221;, atau &#8220;Durian&#8221;. Macam-macamlah pokoknya. Tanpa terasa selama 3 jam saya menemani para &#8220;cantrik&#8221; itu. Hasilnya pun belum kelihatan memang. Namun, melihat semangat dan talenta yang mereka miliki, saya punya keyakinan, kelak akan muncul penulis dan penggiat sastra baru dari para &#8220;cantrik&#8221; yang baru saja usai melakukan &#8220;pertapaan&#8221; di Cokrokembang itu. Semoga! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F31%2Fwejangan-di-pertapaan-cokrokembang%2F';
  addthis_title  = '%26%238220%3BWejangan%26%238221%3B+di+%26%238220%3BPertapaan%26%238221%3B+Cokrokembang';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/31/wejangan-di-pertapaan-cokrokembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warni Ingin Pulang</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 18:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[patriarkhi]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Sawali Tuhusetya
Warni tercenung di kamarnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Benaknya jatuh ke tempat yang jauh. Ia rindu Emak, Bapak, dan adik lelaki satu-satunya di tanah Jawa, yang sudah hampir sepuluh tahun ditinggalkannya. Kenekadan Warni untuk menerima tugas sebagai guru di luar Jawa seakan bebar-benar telah memutuskan hubungan darah dengan keluarganya. Ia sudah berkali-kali mencoba mengirim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Cerpen: Sawali Tuhusetya</p>
<p align="justify">Warni tercenung di kamarnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Benaknya jatuh ke tempat yang jauh. Ia rindu Emak, Bapak, dan adik lelaki satu-satunya di tanah Jawa, yang sudah hampir sepuluh tahun ditinggalkannya. Kenekadan Warni untuk menerima tugas sebagai guru di luar Jawa seakan bebar-benar telah memutuskan hubungan darah dengan keluarganya. Ia sudah berkali-kali mencoba mengirim surat ke Jawa, tapi belum pernah sekali pun mendapatkan balasan. Warni tidak tahu, apakah surat yang dikirim memang tidak pernah sampai ke alamat yang dituju atau surat itu sampai ke tangan keluarganya, tapi sengaja tidak dibalas, yang bisa diartikan ia sudah tidak lagi dianggap sebagai anggota keluarga.</p>
<p align="justify">“Kamu hanya perempuan, Warni. Buat apa jauh-jauh meninggalkan kampung halaman hanya untuk memburu <i>duit</i>? Tanpa harus bekerja pun ayah sanggup menanggung hidupmu, bahkan sampai kelak kamu hidup berumah tangga!” kata-kata ayahnya menari-nari di lorong ingatannya.</p>
<p align="justify"><span id="more-302"></span>Ayah Warni memang tergolong orang kaya yang terpandang di kampung. Sawahnya berpetak-petak. Rumahnya paling besar dan megah. Sebagai seorang mantan kepala desa, ayah Warni begitu dihormati para penduduk. Namun, Warni tidak sepenuhnya setuju dengan sebagian sikap yang ditunjukkan oleh ayahnya yang dianggap tidak adil dalam memperlakukan dirinya. Dalam soal jodoh, misalnya, ayahnya bersikap otoriter. Warni tidak diberi kesempatan untuk memilih. Oleh ayahnya, Warni hendak dijodohkan dengan Joko, putra Pak Mantri Darpan. Tapi, Warni tidak suka dengan Joko yang pemalas dan congkak, sering membangga-banggakan kekayaan orang tuanya. Oleh sebab itu, ketika ia memperoleh nota tugas sebagai guru dan ditempatkan di luar Jawa, Warni amat senang. Paling tidak, hal itu bisa dijadikan dalih untuk menghindari Joko.</p>
<p align="justify">“Maaf, Ayah! Soal tugas adalah soal tanggung jawab. Bukan perkara lelaki atau perempuan! Lagi pula kenapa, sih, Ayah masih saja membedakan perempuan dan lelaki. Lantas bedanya di mana?” berontak Warni.</p>
<p align="justify">“Warni! Apa pun alasanmu, perempuan itu dalam kehidupan rumah tangga kelak tetap di bawah lelaki. Dan ingat, secara moral kamu sudah punya ikatan dengan Joko, putra Pak Mantri itu!”</p>
<p align="justify">“Itulah yang membuat saya tidak setuju! Di zaman yang sudah modern ini, Ayah masih saja memaksakan jodoh. Kalau cocok, sih, enggak masalah. Tapi kalau enggak, apa ada jaminan aku bisa hidup bahagia?” berondong Warni.</p>
<p align="justify">“Sudah, aku tidak mau berdebat. Sekarang tinggal pilih, tetap nekad atau mengikuti kemauan Bapak!”</p>
<p align="justify">Dua buah pilihan yang sama-sama sulit bagi Warni. Kalau harus mengikuti kemauan ayahnya, itu berarti ia menolak panggilan hidupnya sebagai seorang guru dan harus siap hidup berumah tangga dengan Joko yang tidak dicintainya. Itu sama saja ia telah ikut mengembangkan budaya patriarki yang selama ini ditentangnya. Warni memang bukan tipe feminis, tapi ia amat tidak sependapat kalau kaum perempuan selalu dimitoskan sebagai <i>kanca wingking,</i> yang hanya diserahi tugas mengurus <i>dapur, sumur, </i>dan<i> kasur</i>. Namun, jika ia tidak mengikuti keinginan ayahnya, itu sama artinya telah melempar telur busuk ke wajah ayahnya yang begitu dihormati oleh orang-orang kampung.</p>
<p align="justify">Beberapa hari lamanya, warni hanya ngendon di kamar. Ada segumpal mendung yang menggelayuti pikirannya. Sulit mengambil keputusan. Apalagi Ayah, Emak, dan adiknya selalu memasang wajah cemberut yang agaknya sudah sulit diajak kompromi. Namun, nota tugas yang ada dalam genggaman tangannya seperti sudah mengisyaratkan kalau ia harus secepatnya menunaikan tugas suci itu. Dalam kondisi seperti itu hanya pamannya, Om Rajimo yang cukup toleran, dapat memahami keinginannya.</p>
<p align="justify">“Warni, kalau itu sudah menjadi keyakinanmu, berangkatlah. Om merestuimu. Om hanya berpesan, hati-hati membawa diri di kampung orang. Apalagi di sana nanti tak ada sanak saudara,” kata pamannya lembut dan penuh pengertian. Kata-kata pamannya seperti mampu menyibak mendung yang bergelayut di benaknya, memantapkan langkahnya untuk segera menunaikan panggilan nuraninya, menjadi seorang pendidik di daerah yang jauh.</p>
<p align="justify">Akhirnya, Warni menetapkan pilihan menjadi seorang guru. Ketika hendak pamitan dengan keluarganya, ia sudah tak sanggup berkata-kata. Semua perasaannya ditumpahkan lewat surat yang dititipkan kepada Om Ramijo untuk disampaikan pada ayahnya. Dalam surat itu, Warni dengan gamblang menjelaskan bahwa kepergiannya bukan dimaksudkan menentang kehendak orang tua. Namun, semata-mata memenuhi panggilan suci sebagai seorang pendidik yang mesti dijalaninya. Selain itu, Warni dengan tegas memohon pengertian ayahnya agar tidak diskriminatif. Sudah saatnya kaum perempuan diberi hak yang sama dengan kaum lelaki. Bebas menentukan pilihan hidup sesuai dengan fitrah dan hati nuraninya.</p>
<p align="justify">Warni tidak tahu bagaimana reaksi ayahnya setelah membaca surat itu. Ia hanya tahu, saat ia dilepas ayahnya dengan wajah dingin dan sorot mata memancarkan amarah. Beruntung, Warni masih merasakan sikap arif dan kelembutan dari emaknya. Meski tidak setuju atas kepergiannya ke luar Jawa, Warni masih merasakan sisa-sisa perhatian dan kasih sayang di rongga hati emaknya. Dipeluknya erat-erat tubuh emaknya. Desah napas dan getaran hati mereka menyatu dalam keharuan. Warni serasa tak sanggup menahan arus air mata yang deras menjebol bendungan pelupuk matanya. Demikian juga ketika berpamitan dengan Totok, adiknya. Kedua bola mata adiknya itu tampak berkaca-kaca. Terasa amat berat melepas kepergiannya. Akhirnya, Warni benar-benar terbang ke daerah yang jauh, tempat yang diharapkan dapat menyematkan pengabdiannya untuk kepentingan sesama.<br />
     ***</p>
<p align="justify">Di tempat tugasnya, Warni diterima dengan ramah dan sambutan hangat dari kepala sekolah dan rekan-rekan gurunya yang sudah lama bertugas. Rumah dinas pun sudah disediakan, berada di kompleks sebuah gedung SLTP yang tampak kokoh dan megah.</p>
<p align="justify">Sebagian besar, rekan-rekan gurunya adalah kaum pendatang. Dari berita yang ia dengar, penduduk asli daerah itu masih terbilang kolot. Kehidupan mereka masih amat tergantung pada alam. Berladang dan berburu merupakan mata pencaharian utama mereka. Memang ada beberapa perkebunan kopi yang menghampar luas, tapi itu pun dikuasai oleh para pemilik modal dari luar. Kesadaran penduduk asli akan pentingnya pendidikan tampaknya belum tumbuh. Anak-anak mereka masih enggan duduk di bangku sekolah. Sejak kecil, anak-anak sudah diperkenalkan dengan pola hidup sederhana oleh orang tua mereka masing-masing. Magang di lahan dan di hutan, setelah besar menikah, lantas membangun permukiman liar di sekitar hutan. Tampaknya, mereka belum bisa hidup menyatu dengan kaum pendatang. Mereka lebih suka hidup di pinggir-pinggir hutan, menyatu dengan alam. Hanya sebagian kecil penduduk asli yang mau hidup membaur dengan kaum pendatang, terutama mereka yang bekerja sebagai pegawai pemerintah.</p>
<p align="justify">Waktu terus berlalu. Pembawaannya yang lincah dan sikapnya yang luwes membuat Warni mudah diterima dalam pergaulan. Tak ada hambatan yang ia rasakan selama bertugas. Semuanya berjalan lancar. Hanya terkadang ia harus berhadapan dengan siswanya yang tergolong nakal.</p>
<p align="justify">Naluri sebagai pendidik membikin Warni sering gelisah melihat anak-anak penduduk asli yang nyaris tak pernah tersentuh kemajuan. Hidup mereka seperti tersekap dalam lorong yang gelap dan sunyi. Terisolir. Warni berkeinginan membuka mata hati mereka akan pentingnya pendidikan. Ia ingin mengajari mereka baca tulis dan menghitung. Keinginan itu ternyata tak disetujui Pak Harahap, kepala sekolah. Menurutnya terlalu riskan kalau itu harus dilakukan. Apalagi, mereka belum bisa hidup menyatu dengan para penduduk yang lain. Bisa-bisa timbul kesalahpahaman. Namun, hasrat Warni agaknya sulit dibendung. Gagal mengajak Pak Harahap bekerja sama, Warni bergegas menemui Pak Matilda, camat setempat yang sudah ia kenal baik. Oleh Pak Matilda, gagasan Warni disambut dengan baik.</p>
<p align="justify">Sebenarnya, jarak antara rumah dinas Warni dengan permukiman penduduk asli tidak terlalu jauh. Hanya dipisahkan sebuah bukit kecil setelah melintasi sebuah hamparan kebun kopi yang agak luas. Namun, lantaran tidak ada jalinan komunikasi, jarak yang dekat itu terasa jauh. Oleh Pak Matilda, Warni diperkenalkan kepada para penduduk. Ia tak tahu persis bahasa yang mereka ucapkan. Warni hanya bersikap seramah mungkin dan selalu tersenyum. Para penduduk yang berkumpul tampak mengangguk-angguk. Terasa benar Pak Matilda berhasil berkomunikasi dengan mereka. Sementara itu, puluhan anak kecil sibuk dengan dunianya, bermain pedang-pedangan. Riuh.</p>
<p align="justify">Agak merinding juga menatap wajah-wajah penduduk asli yang tampak dingin dan acuh melihat kehadiran dirinya. Namun, Pak Matilda sering menghiburnya. Konon, hal itu sudah menjadi ciri khas penduduk setempat dalam menyambut kehadiran orang asing. Pak Matilda terus memberikan dorongan. Lama-lama, Warni terbiasa bergaul dengan para penduduk, hingga akhirnya ia berhasil mengajak anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Warni betul-betul menikmati misinya itu di sela-sela tugas utamanya sebagai guru di sebuah SLTP. Para penduduk mulai bisa menerima kehadirannya.</p>
<p align="justify">Misi pendidikan Warni ternyata membawa hikmah tersendiri. Entah bagaimana alur ceritanya, tiba-tiba saja warni terpikat oleh kehadiran Leode, seorang pendatang yang sukses sebagai pengusaha perkebunan kopi. Orangnya masih muda, tampan, dan berkulit bersih. Namun, bukan semata-mata itu yang membikin hati Warni terpikat, melainkan perhatian Leode yang cukup besar untuk mengentaskan penduduk asli dari keterbelakangan. Dengan kekayaannya, Laode sering memberikan bantuan kepada mereka. Bahkan, pemuda itu bersedia membangun sebuah gedung sekolah di tengah-tengah pemukiman para penduduk. Hati Warni semakin terpikat. Oleh sebab itu, Warni tak kuasa menolak ketika Laode meminang dirinya sebagai pendamping hidup.<br />
     ***<br />
Tanpa terasa, sudah sembilan tahun Warni meninggalkan kampung halamannya. Kini, ia sudah dikaruniai dua anak yang sehat, hasil perkawinannya dengan Laode yang simpatik dan penuh pengertian itu. Warni benar-benar bahagia. Tekad dan keyakinan yang kuat untuk mengentaskan penduduk setempat dari kebodohan dan keterbelakangan membuat dirinya begitu disegani dan dihormati oleh berbagai kalangan. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.</p>
<p align="justify">Memasuki tahun kesepuluh, sebuah peristiwa besar terjadi. Saat itu, di Jakarta pecah demonstrasi besar-besaran menuntut rezim yang lama lengser dari panggung kekuasaan. Tak lama kemudian, bola reformasi menggelinding ke seluruh penjuru Tanah Air. Rakyat yang selama ini tertekan tiba-tiba berubah bagaikan kuda liar, larut dalam eforia. Rakyat merasa bebas untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri.</p>
<p align="justify">Imbas reformasi menembus ke tempat Warni bertugas. Penduduk asli yang selama ini merasa dirampas kekayaannya oleh kaum pendatang tiba-tiba saja menuntut keadilan secara sepihak. Entah dihasut siapa, warga asli tiba-tiba berubah. Secara berkelompok mereka beramai-ramai mendatangi pemukiman para pendatang sambil membawa senjata tajam. Gedung-gedung milik pemerintah dibakar, gedung sekolah dihancurkan, toko-toko dijarah, pemiliknya dianiaya. Termasuk juga kebun kopi milik Laode yang siap dipanen, dijarah beramai-ramai. Kebaikan Laode dan pengorbanan Warni terhadap penduduk setempat sudah tidak dianggap. Berkali-kali keluarganya diteror.</p>
<p align="justify">Aparat pemerintah dan keamanan gagal mengendalikan ulah beringas penduduk setempat. Keadaan itu membikin kaum pendatang geram. Mereka bertekad menyatukan diri untuk membalas tindakan penduduk setempat yang dinilai sudah di luar batas. Kaum pendatang mempersenjatai diri. Pertikaian terbuka tak dapat dihindari. Korban berjatuhan di sana-sini. Kaum pendatang dan penduduk setempat sama-sama kalap. Akal sehat dan nurani terbang entah ke mana.</p>
<p align="justify">Suasana perkampungan benar-benar mencekam. Denting senjata tajam, suara tangis, dan jeritan histeris membahana, membelah langit, membelah hati nurani. Setiap hari selalu saja ada korban yang terbunuh atau terluka parah, meregang nyawa terkena sabetan senjata tajam. Darah segar tercecer di mana-mana, di depan pintu rumah, di perkebunan, di ladang, di tepi hutan, bahkan di tempat ibadah. Sudah puluhan nyawa melayang, menjadi korban pertikaian sia-sia.</p>
<p align="justify">Warni terguguk di kamarnya. Hatinya pedih teriris-iris. Laode, suaminya, kini entah berada di mana. Warni hanya bisa mengurung diri di rumah dengan kedua anaknya, tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Tiba-tiba saja Warni ingin pulang ke Jawa. Ia sudah demikian rindu hidup di kampung halamannya yang tenteram. Menyatu bersama orang tua dan sanak saudaranya. Namun, ia sangsi, apakah ia masih bisa diterima di tengah-tengah keluarganya, terutama ayahnya.</p>
<p align="justify">Sementara itu, di luar rumah, kecamuk pertikaian masih terus berlanjut. Bau anyir darah terbang menusuk hidung. Warni gusar. Ia makin panik ketika pintu rumahnya mendadak digedor-gedor orang dengan paksa, ditingkah langkah-langkah kaki dan teriakan orang memanggil-manggil nama suaminya dengan kasar. Entah, tiba-tiba saja Warni merasakan rumahnya diselubungi hawa kematian. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F24%2Fwarni-ingin-pulang%2F';
  addthis_title  = 'Warni+Ingin+Pulang';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/24/warni-ingin-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesetiakawanan Sosial dan Pengorbanan Ismail</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 15:52:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[Kesetiakawanan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir saja lupa kalau tanggal 20 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial. Sebuah momen penting yang diabadikan berdasarkan peristiwa bersejarah ketika terjalin kemanunggalan TNI dan rakyat persis sehari setelah agresi militer Belanda, 19 Desember 1948. Kekuatan sipil dan militer &#8220;berkolaborasi&#8221; ke dalam sebuah aksi patriorik yang terus menjalar dari kampung ke kampung, hingga akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Hampir saja lupa kalau tanggal 20 Desember telah ditetapkan sebagai <a href="http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=14">Hari Kesetiakawanan Sosial</a>. Sebuah momen penting yang diabadikan berdasarkan peristiwa bersejarah ketika terjalin kemanunggalan TNI dan rakyat persis sehari setelah agresi militer Belanda, 19 Desember 1948. Kekuatan sipil dan militer &#8220;berkolaborasi&#8221; ke dalam sebuah aksi patriorik yang terus menjalar dari kampung ke kampung, hingga akhirnya mampu mengenyahkan kekuatan kaum kolonial. Rakyat memberikan apa saja yang mereka punya untuk mendukung militer. Rakyat dari semua golongan turut bertempur, menolong, dan merawat para prajurit yang terbunuh maupun terluka. Sementara itu, kaum militer dengan  amat sadar membangun dan mengawal kesetiaan nurani untuk selalu dekat dan mengayomi rakyat.</p>
<p align="justify">59 tahun sudah momen historis itu berlalu. Ibu pertiwi telah melahirkan anak-anak bangsa dari generasi ke generasi. Peristiwa demi peristiwa pun terus bergulir membentuk mozaik kehidupan. Seiring dengan itu, masyarakat kita yang dulu begitu kuyup dengan nilai-nilai kesetiakawanan sosial, disadari atau tidak, makin abai, bahkan cenderung cuek terhadap nilai-nilai komunal. Serbuan egoisme dinilai telah menghanguskan kebersamaan dan kesetiaan dalam menjalin komunitas. Bagaimana tidak? Tahu kalau negeri ini masih dihuni oleh jutaan rakyat yang dililit kemelaratan, masih ada juga oknum yang tega menilap Raskin (Beras untuk Rakyat Miskin). Tahu kalau para korban bencana alam amat butuh uluran tangan, ketika bantuan datang, eh, diembat juga. *Aduh!*</p>
<p align="justify"><span id="more-292"></span>Masih adakah ruang dan <i>space</i> di negeri ini bagi nilai-nilai kesetiakawanan sosial untuk bersemayam? Masih bergetarkah gendang nurani kita saat melihat saudara-saudara kita yang terpaksa harus mengais sisa-sisa nasi di tong sampah karena tikaman nasib?</p>
<p align="justify">*Refleksi mode on*</p>
<p align="justify"><b><font color="#0000ff">(Saya sangat berterima kasih kepada sahabat saya yang sangat saya hormati, * tetapi maaf tidak perlu saya kemukakan identitasnya, yang telah berkenan menegur kebiasaan makan saya yang jelek yang masih suka menyisakan nasi di piring. Bener-bener saya terharu.  Merinding. Saat itu juga, dalam layar memori saya berkelebat jutaan petani yang bermandi keringat dibakar terik matahari untuk &#8220;menghidupi&#8221; perut kita. Juga saudara-saudara kita yang tak henti-hentinya mengais sisa-sisa nasi di tong-tong sampah. Pengalaman itu saya ceritakan kepada istri dan ketiga anak saya, juga saya tularkan kepada murid-murid saya. Saya lihat mata mereka memerah, menahan rasa haru. Betapa teguran sahabat saya itu telah mampu membuka mata hati saya, keluarga saya, dan mungkin juga murid-murid saya untuk selanjutnya kelak saya berharap mereka menuturkannya juga kepada anak cucu.)</font></b></p>
<p align="justify">*Refleksi mode off*</p>
<p align="justify">Masih berpura-pura tidak tahukah kita ketika banyak saudara kita yang harus berbulan-bulan mengungsi lantaran tempat huniannya ditenggelamkan oleh lumpur Lapindo? Masih tegakah kita mengeluarkan janji-janji untuk memenuhi uang ganti rugi, sementara kita dengan seenaknya memarkir uang di bank demi kita tilap bunga dan buahnya?</p>
<p align="justify">Sementara itu, pada tanggal yang sama, 20 Desember 2007, kita juga diingatkan kisah pengorbanan Ismail yang telah memfosil dan menyejarah dalam benak kita yang kemudian diabadikan sebagai Hari Raya Qurban.</p>
<p align="justify">Meminjam tulisan <a href="http://migas-indonesia.net/download/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=106&amp;Itemid=35" target="_blank">Swastioko Budhi Suryanto</a>, dalam Surat Ash Shaffat ayat 104-107 dijelaskan bahwa ibadah qurban berawal dari sebuah mimpi Nabi Ibrahim Alaihi Salam yang menggambarkan dirinya menyembelih putra tercintanya, Ismail sebagai bentuk persembahan dan bukti cinta kepada Allah SWT. Ibrahim sangat cemas, tetapi sang putra justru sangat bersemangat dan ikhlas bersedia menjadi qurban untuk disembelih. Meski pada akhirnya Allah tidak memperkenankan pengorbanan manusia, dan Ismail diganti dengan seekor domba yang dibawa langsung oleh Malaikat Jibril.</p>
<p align="justify">Dalam pemahaman  awam saya, jatuhnya momentum bersejarah dalam waktu yang bersamaan, bisa jadi sebagai &#8220;teguran&#8221; Sang Pencipta terhadap bangsa kita yang selama ini sudah telanjur asyik-masyuk dalam lingkaran hipokrisi, kepura-puraan, bahkan kebohongan. Kita sedemikian mudahnya berpura-pura miskin ketika beradu kening dengan seorang pengemis dan kaum dhuafa. Bahkan, jika perlu menghardiknya dengan umpatan-umpatan vulger. Sebaliknya, kita bisa dengan pongahnya berpura-pura kaya ketika menjalin relasi dengan orang-orang berkantong tebal. ***</p>
<p align="justify">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p align="justify">Mohon maaf, saya sedang belajar menulis postingan pendek, kawan, tanpa sisipan <i>image</i>. Untuk selanjutnya, silakan menerjemahkan lebih lanjut tentang makna kesetiakawanan sosial dan pengorbanan Ismail ini sebagai bahan refleksi di hari Natal dan Tahun Baru 2008.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>Selamat Hari Raya Idhul Adha 1428 H</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>Semoga semangat pengurbanan Ismail AS tetap bersemayam</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>dalam hati nurani kita untuk kembali merajut tali kesetiakawanan sosial</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff"><b>yang sempat terkoyak .</b></font></p>
<p align="center"><font color="#3366ff">****<br />
</font></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F19%2Fkesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail%2F';
  addthis_title  = 'Kesetiakawanan+Sosial+dan+Pengorbanan+Ismail';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/19/kesetiakawanan-sosial-dan-pengorbanan-ismail/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imajinasi &#8220;Sang Pembunuh&#8221; dan &#8220;Kebusukan&#8221; Penjara</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/04/imajinasi-sang-pembunuh-dan-kebusukan-penjara/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/04/imajinasi-sang-pembunuh-dan-kebusukan-penjara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Dec 2007 13:28:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[narapidana]]></category>
		<category><![CDATA[penjara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/04/imajinasi-sang-pembunuh-dan-kebusukan-penjara/</guid>
		<description><![CDATA[Sejujurnya, saya tersentak ketika membaca komentar Bu Amanda terhadap cerpen saya &#8220;Sang Pembunuh&#8221;. Mohon maaf sebelumnya kepada Bu Amanda kalau komentar Ibu saya jadikan sebagai topik tulisan. Hal ini penting lantaran menyangkut kreativitas dan &#8220;keliaran&#8221; imajinasi saya yang sedang belajar menulis cerpen. Apalagi, cerpen tersebut dinilai oleh Bu Amanda &#8220;tidak mungkin murni dari bayangan atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sejujurnya, saya tersentak ketika membaca komentar Bu Amanda terhadap cerpen saya &#8220;Sang Pembunuh&#8221;. Mohon maaf sebelumnya kepada Bu Amanda kalau komentar Ibu saya jadikan sebagai topik tulisan. Hal ini penting lantaran menyangkut kreativitas dan &#8220;keliaran&#8221; imajinasi saya yang sedang belajar menulis cerpen. Apalagi, cerpen tersebut dinilai oleh Bu Amanda &#8220;tidak mungkin murni dari bayangan atau ide kreatifitas semata tanpa ditunjang beberapa fakta-fakta yang nyata. Kenapa? Karena cerita tersebut sarat dengan elemen-elemen fakta nyata yang hanya bisa diketahui dan diresapi oleh seseorang yang memang benar-benar telah melalui sebuah masa dibalik jeruji besi.&#8221; *Aduh, garuk-garuk kepala.*</p>
<p align="justify"><span id="more-285"></span>Berikut ini komentar Bu Amanda selengkapnya.</p>
<blockquote><p> Dengan Hormat,<br />
Saya sangat terkesan dengan tulisan “Sang Pembunuh”. Maafkan asumsi saya yang mengatakan bahwa ide cerita tersebut tidak mungkin murni dari bayangan atau ide kreatifitas semata tanpa ditunjang beberapa fakta-fakta yang nyata. Kenapa? Karena cerita tersebut sarat dengan elemen-elemen fakta nyata yang hanya bisa diketahui dan diresapi oleh seseorang yang memang benar-benar telah melalui sebuah masa dibalik jeruji besi.</p>
<p>Kebetulan sudah empat bulan ini saya menjadi istri napi. Dan gambaran yang disodorkan kepada pembaca melalui cerita “Sang Pembunuh” memang benar adanya sehingga membuat saya miris karena begitu mendekati realita.</p>
<p>Sejujurnya, saya tidak pernah tahu mengapa saya setuju menikahi seorang napi. Mungkin karena saya percaya bahwa napi adalah manusia yang tetap memiliki hak hidup dan hak untuk diberlakukan layaknya manusia pada umumnya terlepas dari apapun kejahatan yang telah dilakukannya. Dan penjalanan hukuman kemungkinan besar tidak salah bila diartikan sebagai sebuah bentuk rasa tanggung-jawabnya untuk “menebus” kesalahan.</p>
<p>Namun, tampaknya, gambaran bahwa napi bukan manusia, yang bisa dengan seenaknya dilecehkan dan diperlakukan semena-mena oleh mereka-mereka yang berlindung dibalik seragam aparat semakin jelas terpapar. Penganiayaan napi sudah semakin menjadi-jadi.</p>
<p>Saya menanti karya tulis Bapak dalam memaparkan sebuah cerita “sejenis” cerita “Sang Pembunuh” namun dalam sudut pandang yangberbeda. Mungkin dari segi pandang penantian seorang istri napi, atau justru mungkin dari sudut cerita yang sama sekali berbeda – bagaimana perasaan para sipir penjara yang “terpaksa” menyiksa, menganiaya dan mengintimidasi napi atas suruhan KPLP atau KaLapasnya.</p>
<p>Tulisan Bapak sedemikian hidup. Jauh lebih hidup dari buku-buku beberapa penulis ternama yang berhasil menjual ratusan buku cerita dengan modal nama tenar semata. Mulai saat ini, Bapak merupakan icon saya. Icon penulis yang mengerti betul apa itu menulis.</p>
<p>Salam kenal dari saya, seorang istri napi.</p></blockquote>
<p align="justify">Secara spontan, saya pun merespon balik komentar Bu Amanda berikut ini.</p>
<blockquote><p> Waduh, saya jadi ge-er nih Bu Amanda. Memang, cerita yang saya paparkan tidak murni dari olahan imajinasi. Ada beberapa fakta menarik yang membuat saya ingin mengungkapkannya dalam bentuk fiksi. Dari berbagai berita sudah sering saya baca bahwa para napi mendapatkan perlakuan yang kurang simpatik dari aparat. Nah, ini yang menarik buat saya. Tentu saja sebagai sebuah fiksi, saya tidak hanya mengalihkan fakta2 manrik itu apa adanya, sebab tugas semacam itu sudah dijalankan oleh para jurnalis atau wartawan. Sebagai orang yang sedang belajar menulis, saya ingin mengungkap fakta dari sudut pandang imajinasi saya, mengamatinya dari susut pandang *halah* hati nurani dan kemanusiaan. Saya sedih terhadap opini yang berkembang di tengah2 masyarakat bahwa Napi identik dengan pesakitan yang layak disingkirkan dan diisolir dari pergaulan. Saya ingin menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yan sempurna. Tidak bisa kita nilai seseorang secara hitam putih bahwa mantan napi pasti jelek, sebaliknya orang yang selama ini dinilai baik pasti tidak memiliki cacat.<br />
Terima kasih Bu Amanda atas apresiasinya, semoga Ibu sabar dan tabah menghadapi persoalan yang Ibu hadapi. Tuhan pasti bersama orang-orang yang sabar.</p></blockquote>
<p align="justify">(Cerpen &#8220;Sang Pembunuh&#8221; dan komentar Bu Amanda bisa dilihat <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/sang-pembunuh/" target="_blank">di sini</a>. )</p>
<p align="justify">Komentar itu meluncur secara spontan dan saya sama sekali tidak kenal siapa Bu Amanda yang sesungguhnya. Keesokan harinya, ketika jam istirahat sekolah, saya iseng membuka blog. Ternyata sudah ada respon balik dari Bu Amanda dengan menggunakan nama <font color="red">Ipan Irtsi</font><font color="#000000">. Berikut komentarnya:</font></p>
<blockquote><p> Mohon pendapat Bapak tentang situs ini: harian-istri-napi.blogspot.com</p></blockquote>
<p align="justify">Akhirnya, saya pun segera meluncur <a href="http://harian-istri-napi.blogspot.com/">ke sini</a>. Dari blog yang belum lama dibuat itu &#8211;bisa dilihat berdasarkan arsip postingan&#8211; saya benar-benar bungkam. Tak sanggup berkata apa-apa, apalagi meninggalkan komentar. Suara anak-anak yang riuh di luar sana tak lagi masuk dalam gendang telinga saya. Mouse terus saya pegang, meluncur dari kata per kata, kalimat per kalimat, postingan per postingan. Aduh, tubuh saya bergetar, membayangkan seorang istri yang tengah berjuang sendirian dalam upaya memastikan nasib suaminya yang kini tengah terombang-ambing, bahkan mendapatkan perlakuan yang kurang manusiawi di penjara. Lobi ke lobi tak henti-hentinya dilakukan, tak mengenal ruang dan waktu. Bu Amanda terus menembus batas-batas kesetiaan sebagai seorang isteri.</p>
<p align="justify">Saya makin trenyuh ketika perjuangan Bu Amanda (nyaris) tak ada yang meresponnya. Terlepas dari masalah yang sedang menimpa suami Bu Amanda, ada sisi kemanusiaan kita yang sedang terusik. Sedemikian burukkah stigma yang menempel di tubuh seorang nara pidana sehingga tak sedikit orang yang memalingkan muka ketika beradu jidat dengan keluarga sang napi? Bukankah hidup manusia juga akan terus berubah seiring dengan detak zaman dan peradaban yang terus bergulir dalam <a href="http://www.unclegoop.wordpress.com/" target="_blank">lipatan waktu</a>?</p>
<p align="justify">Saking hanyutnya, saya lupa tidak meninggalkan komentar apa pun di blog <a href="http://harian-istri-napi.blogspot.com/" target="_blank">Bu Amanda</a>. Ketika tiba di rumah (pukul 15.00 WIB), saya kembali membuka blog Bu Amanda. Kembali saya bungkam. Haruskah saya &#8220;menjual&#8221; pepatah-petitih tentang moral dan sikap empati secara verbal? Aduh, dengan permohonan maaf, akhirnya saya putuskan untuk membuat tulisan ini.</p>
<p align="justify">Mohon maaf, Bu Amanda, kalau saya terlalu berlebihan. Cerpen &#8220;<a href="http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/sang-pembunuh/" target="_blank">Sang Pembunuh</a>&#8221; hanyalah sebuah teks fiksi. Memang, ada fakta yang saya hadirkan di sana. Namun, saya tak hanya sekadar mengalihkan fakta ke sebuah teks. Tugas semacam itu sudah dilaksanakan dengan baik oleh para jurnalis. &#8220;<a href="http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/sang-pembunuh/" target="_blank">Sang Pembunuh</a>&#8221; sudah melewati penjelajahan batin dan transpirasi batas-batas penulisan cerpen bagi saya yang sedang belajar menulis sebuah cerpen. Bahkan, &#8220;busuk&#8221;-nya penjara itu sudah &#8220;tercium&#8221; oleh kepekaan intuisi saya sejak saya belajar di SPG sekitar tahun 1980-an yang kebetulan saat itu ada saudara saya yang sedang berada di penjara.</p>
<p align="justify">Perlakuan yang kurang manusiawi ketika para napi berada di penjara juga banyak diberitakan di berbagai media. Itulah yang akhirnya memantapkan langkah saya untuk sekadar mengabadikannya menjadi sebuah cerpen. Hanya itu. Bisa jadi, suasana penjara juga akan terus mengusik para penulis untuk memotretnya ke dalam teks-teks lain yang lebih liar dan imajinatif.</p>
<p align="justify">Selamat berjuang <a href="http://harian-istri-napi.blogspot.com/" target="_blank">Bu Amanda</a> dalam menembus batas-batas kesetiaan sebagai seorang istri napi, semoga ibu bangga dengan predikat semacam itu. Salam hormat. ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F04%2Fimajinasi-sang-pembunuh-dan-kebusukan-penjara%2F';
  addthis_title  = 'Imajinasi+%26%238220%3BSang+Pembunuh%26%238221%3B+dan+%26%238220%3BKebusukan%26%238221%3B+Penjara';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/04/imajinasi-sang-pembunuh-dan-kebusukan-penjara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korpri dan Neofeodalisme dalam Birokrasi</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/28/korpri-dan-neofeodalisme-dalam-birokrasi/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/28/korpri-dan-neofeodalisme-dalam-birokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Nov 2007 13:27:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[etos kerja]]></category>
		<category><![CDATA[pegawai]]></category>
		<category><![CDATA[pengabdian masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/28/korpri-dan-neofeodalisme-dalam-birokrasi/</guid>
		<description><![CDATA[Pada 29 November 2007, Korpri genap berusia 36 tahun. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, rentang usia tersebut bisa dibilang masih cukup muda. Usia yang identik dengan idealisme, tetapi tak jarang gampang tersulut emosi dan tensi tinggi. Wadah non-kedinasan bagi pegawai yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 82 tahun 1971 ini &#8211;warisan rezim Orde Baru&#8211; dinilai makin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pada 29 November 2007, <a href="http://www.korpri.or.id/" target="_blank">Korpri genap berusia 36 tahun</a>. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, rentang usia tersebut bisa dibilang masih cukup muda. Usia yang identik dengan idealisme, tetapi tak jarang gampang tersulut emosi dan tensi tinggi. Wadah non-kedinasan bagi pegawai yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 82 tahun 1971 ini &#8211;warisan rezim Orde Baru&#8211; dinilai makin eksis berkiprah di tengah riuhnya dinamika zaman. Korpri dinilai cukup berhasil dalam melakukan pembinaan dan penggalangan eksternal secara total dan intens kepada para anggotanya. Dengan doktrin “<a href="http://www.bainfokomsumut.go.id/open.php?id=168&amp;db=gis" target="_blank">Bhinneka Karya Abdi Negara</a>” didukung mobilitas andal, Korpri telah mampu menyamakan gerak, langkah, pikiran, dan tindakan para pegawai yang tersebar di segenap lini dan sektor kehidupan. Sungguh, bukan soal mudah mengakomodasi dan mengakumulasi beragam profesi dalam satu visi.</p>
<p align="justify">Meskipun demikian, secara jujur harus diakui, masih banyak masalah krusial yang belum teratasi, masih banyak agenda penting yang luput dari perhatian. Dalam rentang usia yang belum bisa dibilang “dewasa”, Korpri dituntut untuk bisa bersikap arif dan dewasa dalam menangani masalah-masalah yang muncul maupun menyikapi kritik yang mencuat. Ibarat sosok pemuda, Korpri harus sanggup memanggul beban idealisme di tengah-tengah tantangan zaman yang semakin berat. Upaya meningkatkan bobot dan mutu pengabdian pegawai demi terciptanya aparatur pemerintah yang bersih dan berwibawa “harus” menjadi agenda yang urgen dan penting untuk digarap.</p>
<p><span id="more-279"></span></p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/images-korpri.jpg" title="images-korpri.jpg"></a></p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/imageskorpri.jpg" title="imageskorpri.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/imageskorpri.jpg" alt="imageskorpri.jpg" align="right" /></a> Dalam <a href="http://www.dikti.org/uu-no43-1999.htm" target="_blank">UU No. 43 Tahun 1999</a> tentang Perubahan atas <a href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fulltext/1974/8TAHUN~1974UU.HTM" target="_blank">UU No. 8 Tahun 1974</a> tentang Pokok-pokok Kepegawaian disebutkan bahwa dalam rangka usaha mencapai tujuan nasional untuk mewujudkan masyarakat madani yang taat hukum, berperadaban modern, demokratis, makmur, adil, dan bermoral tinggi, diperlukan Pegawai Negeri yang merupakan unsur aparatur negara yang bertugas sebagai abdi masyarakat yang menyelenggarakan pelayanan secara adil dan merata, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (klausul <em>Menimbang </em>butir a). Untuk itu, diperlukan Pegawai Negeri yang berkemampuan melaksanakan tugas secara profesional dan bertanggung jawab dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan, serta bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (klausul <em>Menimbang </em>butir b) .</p>
<p align="justify">Makna dan nilai luhur yang tersirat dari ketentuan tersebut ialah bahwa dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya, seorang pegawai harus mengedepankan sikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab kepada bangsa dan negara serta masyarakat Indonesia, dilandasi semangat religius, dedikasi, dan loyalitas tinggi.</p>
<p align="justify"><strong></strong>Tampaknya ketentuan tersebut belum sepenuhnya terinternalisasi secara intensif oleh segenap jajaran warga Korpri. Diakui atau tidak, masih ada keeenderungan pegawai kita yang bermental feodal dan elitis. Status priyayi yang diwariskan oleh kaum penjajah tampak belum benar-benar terkikis. Mereka bukannya mau melayani masyarakat dengan sikap yang baik dan tulus, melainkan malah minta dilayani ala “borjuis kecil”. Bahkan, di dalam Korpri ditengarai telah muncul fenomena neo-feodalisme dalam tatanan birokrasi. Para pegawai yang seharusnya menjadi abdi negara dan abdi masyarakat justru terkesan elitis dan eksklusif. Mereka dinilai makin jauh jaraknya dari masyarakat. </p>
<p align="justify">Yang memprihatinkan, tragedi penggusuran dan razia terhadap pedagang-pedagang kecil masih marak dan terus terjadi di berbagai kota. Bahkan, isu penilapan beras untuk rakyat miskin (raskin) atau bantuan untuk korban bencana sudah jadi rahasia umum yang terungkap di depan publik. Esensi utama sebagai abdi masyarakat belum terealisasikan dalam tataran praktek. Idiom-idiom miring, semacam pungutan liar (pungli), manipulasi dan <em>mark-up</em> anggaran, kolusi, korupsi, atau nepotisme masih sangat kental melekat dalam tubuh Korpri.</p>
<p align="justify">Keluhan masyarakat tentang rendahnya mutu pelayanan di sektor publik yang ditandai dengan ruwetnya birokrasi dan masih sumirnya pemahaman budaya disiplin masih sering terdengar. Simaklah “somasi terselubung” yang gencar disuarakan oleh masyarakat luas lewat Surat Pembaca di berbagai media cetak. Kasus ganti rugi tanah yang dinilai tidak layak, belum optimalnya pelayanan hukum sehingga memicu munculnya rumor “mafia” peradilan, pengurusan sertifikat tanah yang berbelit-belit, atau lambannya pelayanan administrasi di kantor-kantor yang bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat merupakan fenomena umum yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p align="justify">Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya “oknum” pegawai yang bermental korup, sehingga tak segan-segan menyalahgunakan jabatan dan wewenangnya untuk melakukan korupsi, manipulasi, kolusi, dan sederet ulah tak jujur lainnya yang merugikan kepentingan publik. Jika kondisi semacam itu dibiarkan berlarut-larut, jelas membuat citra pegawai merosot, masyarakat pun jadi tidak respek lagi terhadap figur pegawai. Dalam keadaan demikian, Korpri harus semakin mempertajam visi dan misinya dalam menegakkan disiplin pegawai, mengakarkan roh spiritual ke dalam nurani setiap pegawai, dan meningkatkan profesionalisme pegawai dalam upaya memberikan pelayanan publik yang bermutu dan berbobot.</p>
<p align="justify">Setidaknya, ada tiga agenda penting yang perlu dilakukan oleh Korpri dalam upaya meningkatkan mutu dan bobot pelayanan publik yang mesti disosialisasikan secara gencar kepada segenap jajaran warga Korpri. <em>Pertama</em>, meningkatkan keterampilan profesional pegawai. Entitas profesionalisme akan tampak pada sosok pegawai yang cekatan dan terampil mengemban tugasnya di lapangan. Upaya merekrut calon pegawai hendaknya lebih diperketat melalui uji keterampilan yang selektif sesuai bidangnya masing-masing, sehingga tidak lagi merasa “gagap” setelah menyentuh tugasnya di lapangan. Upaya ini mesti didukung oleh kinerja dunia pendidikan yang mampu menghasilkan <em>out-put</em> yang memiliki basis kognitif, afektif, dan psikomotorik andal.</p>
<p align="justify"><em>Kedua</em>, mengekstensifkan dan mengintensifkan wawasan pegawai. Sebagai salah satu “pilar” pembangunan, tugas rutin pegawai di lapangan akan semakin “afdol” jika ditunjang dengan wawasan dan visi yang luas. Upaya memberikan kesempatan belajar dan pemberian beasiswa studi lanjut bagi para pegawai yang potensial perlu lebih digalakkan. Selain itu, setiap pegawai hendaknya memiliki hasrat belajar secara simultan dan berkelanjutan, baik lewat buku maupun kehidupan, untuk lebih meningkatkan aktualitas diri sesuai bidang tugas yang digelutinya.</p>
<p align="justify"><em>Ketiga,</em> mempertinggi integritas kepribadian pegawai. Munculnya mentalitas korup dan tidak jujur yang dibingkai kepentingan dan pamrih sempit, boleh jadi lantaran keringnya integritas kepribadian, sehingga merasa tak berdosa ketika melakukan setumpuk dosa dan penyimpangan moral.</p>
<p align="justify">Melahirkan pegawai yang tinggi integritas kepribadiannya jelas menjadi tantangan tersendiri bagi Korpri di tengah-tengah semakin dahsyatnya pola hidup konsumtif, materialistis, dan hedonis yang melanda kehidupan global saat ini. Dalam hal ini, Korpri harus lebih gencar lagi dalam mengakarkan kode etik “<a href="http://www.korpri.or.id/FORUM.HTM" target="_blank">Panca Prasetya Korpri</a>” kepada para pegawai, sehingga tidak terperangkap menjadi slogan moral yang kehilangan nilai spiritualnya. Kode etik tersebut harus mendarah daging dan bernaung-turba ke dalam nurani pegawai, tidak cukup sekadar dihafalkan tanpa penghayatan dan pengamalan.</p>
<p align="justify"><strong></strong>Sisi lain yang penting dicermati adalah tak henti-hentinya “meniupkan” roh spiritualisme ke dalam dada warga Korpri. Dengan semangat spiritualisme yang terus memancar, warga Korpri akan semakin optimal mengemban tugas sehinngga tidak mudah tergoda untuk melakukan tindakan “konyol” yang bisa meruntuhkan namanya sebagai seorang abdi negara dan abdi masyarakat.</p>
<p align="justify">Dengan demikian, menjalani profesi sebagai pegawai negeri tidak semata-mata berupa pelepasan energi fisik untuk menghasilkan sesuatu, tetapi pada tugas tersebut juga melekat faktor spiritual. Selain menghasilkan sesuatu, mereka juga dapat mengekspresikan diri dalam melaksanakan tugasnya yang berfungsi sebagai simbol menjadi sebuah “kode” yang menunjuk nilai atau makna tertentu (Sartono Kartodirdjo, 1994:105).</p>
<p align="justify">Nilai kesalehan, baik pribadi maupun sosial, agaknya bisa menjadi resep mujarab dalam mencegah berjangkitnya “penyakit” moral. Dengan landasan spiritual yang tinggi, tanpa ada pengawasan melekat pun seorang pegawai tidak akan mudah tergiur dan tergoda untuk melakukan tindakan tercela, sebab setiap gerak-geriknya senantiasa merasa diawasi oleh Yang Maha melihat.</p>
<p align="justify"><a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/cb/Arjuna-kl.jpg/180px-Arjuna-kl.jpg" target="_blank"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/180px-arjuna-kl.jpg" alt="180px-arjuna-kl.jpg" align="right" /></a> Agar bisa memberikan mutu pelayanan yang baik kepada publik, pengejawantahan nilai-nilai kepemimpinan luhur perlu menjadi sebuah keniscayaan bagi pegawai negeri. Agaknya, insan pegawai negeri, khususnya para pemimpin di jajaran birokrasi, bisa becermin dan sekaligus mengambil hikmah dari nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam ajaran <a href="http://jv.wikipedia.org/wiki/Watek_Jawa" target="_blank"><em>Asthabrata</em></a>, sebuah ajaran luhur tentang perilaku hidup yang pernah diterima <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arjuna" target="_blank">Arjuna</a> dari <a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0410/11/mur05.htm" target="_blank">Begawan Kesawasidhi</a>. Ajaran ini mengandung delapan watak alam yang bisa dijadikan sebagai “simbol moralitas” manusia modern di tengah-tengah dahsyatnya gerusan nilai global yang gencar menawarkan gaya hidup konsumtif, materialistis, dan hedonis. </p>
<p align="justify"><em>Pertama, </em>watak bumi (simbol karakter manusia yang mau memeratakan kekayaannya kepada siapa pun tanpa pilih kasih).<em> Kedua, </em>watak matahari (mampu memberikan penerangan, kehangatan, dan energi secara merata kepada mereka yang membutuhkan). <em>Ketiga, </em>watak bulan (mampu membahagiakan orang lain dengan penuh sentuhan kelembutan cinta dan kasih sayang terhadap sesama). <em>Keempat, </em>watak angin (bersikap adaptif dan bisa bergaul dengan siapa saja tanpa membedakan status, agama, atau ras).</p>
<p align="justify"><em>Kelima, </em>watak samudra (mampu menampung keluhan, aspirasi, dan masukan orang lain dengan tingkat kesabaran yang tinggi). <em>Keenam,</em> watak air  (bersikap adil dan ikhlas, tidak arogan, tidak mau menang sendiri, dan memiliki semangat persaudaraan yang tinggi terhadap sesama). <em>Ketujuh, </em>watak api (memiliki kekuatan pelebur yang mampu memecahkan masalah yang muncul). Dan<em> kedelapan, </em>watak bintang (tegar, tangguh, dan tidak mudah tergoda untuk melakukan perbuatan tercela).</p>
<p align="justify">Agaknya, nilai-nilai dalam ajaran <a href="http://jv.wikipedia.org/wiki/Watek_Jawa" target="_blank"><em>Asthabrata</em></a> terkesan “perfeksionis” dan terlalu berlebihan diharapkan dari figur seorang pegawai negeri. Untuk bisa direalisasikan pada tataran praktik dibutuhkan perhatian serius dan kesadaran tinggi. Akan tetapi, jika komitmen dan tanggung jawab moralnya senantiasa ditujukan semata-mata untuk kepentingan bangsa dan negara serta seluruh masyarakat, nilai-nilai luhur tersebut bukan mustahil akan menjadi entitas jatidiri warga Korpri yang pada gilirannya akan muncul sosok pegawai yang bervisi kerakyatan, kemanusiaan, kejujuran, dan tidak korup.</p>
<p align="justify">Di tengah-tengah arus globalisasi, visi dan misi yang mesti dipikul Korpri sebagai satu-satunya wadah non-kedinasan bagi pegawai negeri memang tidak semakin ringan. Dalam kondisi demikian, Korpri mesti bersikap terbuka terhadap kritik sehingga tidak akan terjebak menjadi sebuah organisasi yang kaku dan tertutup.</p>
<p align="justify"> Seiring dengan meningkatnya taraf hidup dan pendidikan masyarakat, Korpri juga semakin dituntut untuk mampu memberikan mutu pelayanan publik yang baik dan memuaskan. Hanya dengan cara demikian, kiprah Korpri akan semakin eksis, citra pegawai negeri akan terbangun, masyarakat pun akan semakin respek terhadap keberadaan Korpri dan pegawainya. Sebuah tantangan yang butuh dijawab oleh Korpri. Nah, dirgahayu Korpri! ***</p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" alt="AddThis Social Bookmark Button" border="0" height="16" width="125" /></a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F11%2F28%2Fkorpri-dan-neofeodalisme-dalam-birokrasi%2F';
  addthis_title  = 'Korpri+dan+Neofeodalisme+dalam+Birokrasi';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/28/korpri-dan-neofeodalisme-dalam-birokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerah Gara-gara Guru</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/24/gerah-gara-gara-guru/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/24/gerah-gara-gara-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Nov 2007 12:38:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[hari guru]]></category>
		<category><![CDATA[hymne guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/24/gerah-gara-gara-guru/</guid>
		<description><![CDATA[25 November telah ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional, bersamaan dengan HUT PGRI. Menurut rencana, puncak peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2007 akan dipusatkan di Pekanbaru, Riau, yang akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pejabat teras pendidikan lainnya. Untuk ke sekian kalinya, guru dihadirkan di ruang publik. Upacara digelar di seantero negeri, mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">25 November telah ditetapkan sebagai <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Guru" target="_blank">Hari Guru Nasional</a>, bersamaan dengan HUT PGRI. Menurut rencana, puncak peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2007 akan dipusatkan di <a href="http://www.pmptk.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=352&amp;Itemid=1" target="_blank">Pekanbaru, Riau</a>, yang akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pejabat teras pendidikan lainnya. Untuk ke sekian kalinya, guru dihadirkan di ruang publik. Upacara digelar di seantero negeri, mulai dari pusat ibukota hingga dusun-dusun terpencil. Semua siswa didik mengangkat tangan tanda hormat tingginya marwah guru dalam membimbing mereka meraih masa depan. Lirik <a href="http://organisasi.org/pahlawan_tanpa_tanda_jasa_lirik_lagu_wajib_nasional" target="_blank">Hymne Guru</a> disenandungkan dengan rasa haru yang menyesak di dada. Para guru hanya bisa menunduk mendengarkan senandung pujian dan sanjungan. Tak kalah harunya menyaksikan siswa didiknya yang begitu tulus memberikan kado &#8220;<a href="http://organisasi.org/pahlawan_tanpa_tanda_jasa_lirik_lagu_wajib_nasional" target="_blank">Hymne Guru</a>&#8220;.</p>
<p align="justify">Ya, ya, ya, ibarat serdadu, guru di medan pendidikan mengemban misi memerdekakan generasi bangsa dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Mereka berada di garda depan dalam “menciptakan” generasi-generasi muda yang cerdas, terampil, tangguh, kreatif, penuh inisiatif, bermoral tinggi, berwawasan luas, memiliki basis spiritual yang kuat, dan beretos kerja andal, sehingga kelak mampu menghadapi kerasnya tantangan peradaban.</p>
<p align="justify"><span id="more-274"></span>Mengemban misi tersebut jelas bukan tugas yang ringan. Selain harus memiliki bekal pengetahuan yang cukup, guru juga dituntut untuk memiliki integritas kepribadian yang tinggi dan keterampilan mengajar yang dapat diandalkan, sehingga mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif, sehat, dan menyenangkan. Hanya dengan bekal ideal tersebut, guru akan tampil sebagai figur yang benar-benar mumpuni, disegani, dan digugu lan ditiru (dipercaya dan teladani). Menurut versi <a href="http://www.imhere-dikti.net/request.php?70" target="_blank">UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen</a> dan PP 19/2009 tentang Standar Nasional Pendidikan, guru mesti memiliki kualifikasi akademik yang dipersyaratkan dan menguasai empat kompetensi (pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional).</p>
<p align="justify">Sementara itu, jika kita melihat fakta di lapangan, banyak kalangan mulai meragukan kapabilitas dan kredibiltas guru. Perannya sebagai pengajar dan pendidik mulai dipertanyakan. Misinya sebagai pencetak generasi pinunjul –terampil dan bermoral—belum sepenuhnya terwujud. Para pelajar kita justru kian menjauh dari kondisi ideal seperti yang diharapkan. Yang lebih memperihatinkan, para pelajar itu dinilai mulai kehilangan kepekaan moral, terbius ke dalam atmosfer zaman yang serba gemerlap, tersihir oleh perikehidupan yang memburu selera dan kemanjaan nafsu, terjebak ke dalam sikap hidup instan. Tawur antarpelajar merajalela, pesta “pil setan” menyeruak, pergaulan bebas semakin mencuat ke permukaan.</p>
<p align="justify"><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/handsphere.jpg" title="handsphere.jpg"></a></p>
<p><a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/handsphere.jpg" title="handsphere.jpg"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/11/handsphere.jpg" alt="handsphere.jpg" /></a></p>
<p align="justify">Zaman memang sudah berubah. Modernisasi yang melanda berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dinilai memiliki imbas yang cukup kuat dalam memengaruhi sikap dan pola hidup masyarakat. Pergeseran nilai menyergap di segenap lapis dan sektor kehidupan. Nilai kesalehan, baik pribadi maupun sosial, mulai dikebiri dan dimarginalkan. Nilai-nilai lama yang semula dipegang kukuh mulai memudar.</p>
<p align="justify">Orang mulai semakin tidak intens dalam memburu jatidiri yang lebih bermartabat. Perburuan gengsi yang berkembang dalam kelatahan membuat orang mengejar keberhasilan secara instan, entah melakukan korupsi atau usaha magis melalui cara mistis dalam memperoleh kekayaan. Pada hakikatnya mereka gemar menempuh terobosan dan “jalan kelinci” dengan sukses gaya “Abu Nawas”. Kursi empuk kepejabatan, titel, dan kedudukan keilmuan pun tak jarang disergap melalui kelancungan dalam ilmu permalingan” (Slamet Sutrisno, 1997).</p>
<p align="justify">Dalam kondisi masyarakat yang demikian itu, petuah dan nasihat luhur tentang budi pekerti hanya menjadi slogan moral yang kehilangan basis spiritualnya. Masyarakat menjadi semakin masa bodoh dan cuek terhadap masalah-masalah moral. Masyarakat yang diharapkan menjadi kekuatan kontrol terhadap segala macam bentuk perilaku kejahatan justru makin menunjukkan sikap permisif, membiarkan setumpuk dosa berkeliaran di sekitarnya.</p>
<p align="justify">Pergeseran nilai yang melanda masyarakat modern, agaknya juga membawa dampak terjadinya pergeseran penilaian masyarakat terhadap dunia pendidikan. Urusan pendidikan anak-anak hanya dibebankan kepada lembaga pendidikan (sekolah), sehingga kalau ada pelajar yang terlibat dalam perilaku amoral, misalnya, masyarakat dengan enteng menuding guru sebagai biangnya, lantaran dianggap telah gagal menjalankan fungsinya sebagai pendidik.</p>
<p align="justify">Seiring dengan itu, posisi sosial guru dalam strata masyarakat pun tampaknya juga mulai bergeser. Guru tidak lagi memiliki legitimasi sosial yang terhormat dan bermartabat. Guru tidak lagi dijadikan sebagai sumber informasi, bahkan dalam banyak hal guru tidak lagi dijadikan sebagai patron teladan. Peran guru di masyarakat sebagai sumber informasi telah digantikan oleh “anak buah” teknologi yang lebih canggih lewat media televisi dan internet. Makna luhur yang tersirat di balik hymne guru “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” pun nadanya telah berubah menjadi sebuah elegi getir yang sarat parodi dan sindiran.</p>
<p align="justify">Sosok guru yang bermartabat dan terhormat pernah muncul ketika insitusi pendidikan kita masih berbentuk pertapaan dan padepokan yang begitu bersahaja. Konon, guru atau resi pada masa itu benar-benar menjadi figur anutan, berwibawa, dan disegani. Apa yang dikatakan sang resi merupakan “sabda” tak terbantahkan.</p>
<p align="justify">Institusi pertapaan tak ubahnya “kawah candradimuka”, tempat seorang resi menggembleng para siswa (cantrik) agar kelak menjadi sosok yang arif, tangguh, kaya ilmu, memiliki kepekaan moral dan sosial yang tinggi. Di mata masyarakat, kehadiran sang resi pun begitu tinggi citranya; bermartabat, terhormat, dan memiliki legitimasi sosial yang mengagumkan. Masyarakat benar-benar respek terhadapnya. Apresiasi masyarakat terhadap “profesi” resi atau guru sangat kental sehingga tidak jarang sang resi menjadi sumber “sugesti” atau sumber inspirasi masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul.</p>
<p align="justify">Apakah guru masa kini masih mampu menginternalisasi sifat-sifat seorang resi dalam mengemban misinya sebagai pengajar dan pendidik? Masihkah masyarakat memiliki apresiasi yang cukup baik dan memadai terhadap profesi guru? Mampukah lembaga pendidikan (sekolah) dengan fasilitasnya yang lebih komplit dan modern mencetak manusia-manusia “unggul”?</p>
<p align="justify">Agaknya mengharapkan sosok guru yang pinunjul, mumpuni, dan disegani seperti yang tergambar dalam figur seorang resi terlalu berlebihan pada saat ini. Di hadapan siswanya, kata-kata guru bukan lagi “sabda” yang mesti diturut.</p>
<p align="justify">Untuk menaikkan pamor guru, <a href="http://www.imhere-dikti.net/request.php?70" target="_blank">UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen</a> pun diluncurkan. Untuk itu, guru perlu menempuh uji sertifikasi pendidik. Jika lulus mereka akan mendapatkan sertifikat sebagai bukti bahwa mereka layak menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pendidik. Persoalan apakah sertifikasi guru mampu <a href="http://sawali.wordpress.com/2007/07/31/sertifikasi-guru-sebuah-indonesia-yang-tertinggal/" target="_blank">mendongkrak mutu pendidikan</a> yang selama ini tersaruk-saruk, itu persoalan lain.</p>
<p align="justify">Yang tidak kalah memprihatinkan, hingga saat ini guru belum benar-benar menjadi profesi yang &#8220;merdeka&#8221;. Mereka gampang dipolitisir dan dipengaruhi oleh hegemoni kekuasaan. Masih ingat kasus yang menimpa <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0704/27/humaniora/3486199.htm" target="_blank">Kelompok Air Mata Guru</a> dalam Ujian Nasional di Medan beberapa waktu yang lalu? Ya, kelompok guru yang ingin membongkar berbagai praktik kecurangan tentang pelaksanaan UN justru diintimidasi dan ditekan. Sebuah tindakan &#8220;kekanak-kanakan&#8221; yang seharusnya tidak perlu terjadi. Agaknya, banyak pihak yang merasa gerah gara-gara guru. Bagaimana mungkin guru mampu mendidik anak-anak bangsa negeri ini menjadi generasi yang cerdas dan kritis kalau guru selalu diposisikan dalam keadaan tertekan? Apakah guru harus ikut-ikutan bersikap permisif dengan membiarkan berbagai kecurangan dan manipulasi berlangsung telanjang di depan mata?</p>
<p align="justify">Selain itu, guru tak jarang dijadikan “kendaraan” untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Guru tidak punya banyak pilihan. Kebebasan dan kemerdekaan untuk mengeluarkan pendapat telah dibatasi oleh simbol-simbol tertentu. Guru harus menjadi sosok yang nrima, pasrah, dan tidak banyak menuntut. Kondisi semacam itu diperparah dengan harapan masyarat yang terlalu “perfeksionis” dan berlebihan. Dalam kondisi yang belum sepenuhnya bisa menjadi sosok &#8220;merdeka&#8221;, masyarakat tetap menuntut agar guru tetap memiliki idealisme sebagai figur pengajar dan pendidik yang bersih dari cacat hukum dan moral.</p>
<p align="justify">Beratnya beban yang mesti dipikul guru masa kini jelas memerlukan perhatian serius dari berbagai kalangan untuk memosisikan guru pada aras yang lebih proporsional dan manusiawi. Reaktualisasi peran dan gerakan penyadaran dari semua pihak sangat diharapkan untuk memulihkan citra guru.</p>
<p align="justify">Guru harus lebih meningkatkan profesionalismenya sehingga tidak “gagap” ketika mengemban misinya sebagai penyemai intelektual, pemupuk nilai kemanusiaan, dan penyubur nilai moral kepada peserta didik. Tentu saja, misi luhur guru ini harus diimbangi dengan intensifnya pendidikan keluarga di rumah. Orang tua harus mampu mengembalikan fungsi keluarga sebagai basis penanaman dan pengakaran nilai moral, budaya, dan agama kepada anak, sehingga mereka mampu mengontrol perilakunya sesuai ajaran-ajaran luhur. Sedangkan, pemerintah perlu segera merealisasikan janjinya untuk meningkatkan kesejahteraan guru yang sudah jelas landasan hukumnya, yaitu <a href="http://www.imhere-dikti.net/request.php?70" target="_blank">UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen</a>.</p>
<p align="justify">Yang tidak kalah penting, apresiasi masyarakat terhadap profesi guru harus proporsional dan manusiawi. Guru bukanlah “dewa” atau “nabi” yang luput dari cacat dan cela. Kalau ada guru yang terlibat dalam kasus amoral, misalnya, hal itu memang kurang bisa ditolerir. Namun, juga terlalu naif jika buru-buru menghujatnya tanpa menyikapinya secara arif.</p>
<p align="justify">Sebagai serdadu pendidikan, kita semua jelas tidak menginginkan guru tampil loyo dan tidak berdaya memanggul beban di pundaknya. Memikirkan dan memberikan apresiasi yang cukup proporsional tentangnya identik dengan memikirkan nasib masa depan negeri ini. Sebab, generasi yang cerdas, terampil, dan bermoral tinggi yang kelak akan memimpin negeri ini, tidak luput dari sentuhan tangan sang guru. Yang tidak kalah penting, kembalikan &#8220;kemerdekaan&#8221; kepada guru agar mereka mampu menjalankan profesinya secara mandiri dan otonom, terbebas dari intervensi dan reduksi hegemoni kekuasaan. Sudah saatnya guru kembali ke &#8220;fitrah&#8221;-nya sebagai sosok yang bebas dan merdeka sehingga mampu menjalankan fungsi dan perannya secara optimal dalam upaya melahirkan anak-anak bangsa yang cerdas, kritis, kreatif, berbudaya, bermoral, dan berperadaban. Nah, bagaimana? ***</p>
<p align="center"><font color="#ff0000"><strong>Dirgahayu Guru Indonesia!!! </strong></font></p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php" target="_blank"><img src="http://s9.addthis.com/button1-bm.gif" alt="AddThis Social Bookmark Button" border="0" height="16" width="125" /></a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F11%2F24%2Fgerah-gara-gara-guru%2F';
  addthis_title  = 'Gerah+Gara-gara+Guru';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/11/24/gerah-gara-gara-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
