<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MGMP BAHASA INDONESIA SMP &#187; mendidik</title>
	<atom:link href="http://bindosmp.edublogs.org/tag/mendidik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bindosmp.edublogs.org</link>
	<description>Media Berbagi dan Bersilaturahmi antarguru</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Aug 2008 05:37:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Melly Kiong dan Bukunya</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 11:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah mendengar nama Melly Kiong? Yups, di kompleks blogosphere, namanya memang kurang nyaring terdengar. Maklum, dia tergolong perempuan yang supersibuk. Selain sebagai perempuan yang dengan amat sadar memilih karier sebagai media perwujudan ”fitrah” keperempuanannya, dia juga sangat peduli pada harmoni kehidupan rumah tangga sebagai perwujudan ”kodrat” keperempuanannya. Bisa dimaklumi kalau dia jarang blogwalking. Blognya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pernah mendengar nama Melly Kiong? Yups, di kompleks blogosphere, namanya memang kurang nyaring terdengar. Maklum, dia tergolong perempuan yang supersibuk. Selain sebagai perempuan yang dengan amat sadar memilih karier sebagai media perwujudan ”fitrah” keperempuanannya, dia juga sangat peduli pada harmoni kehidupan rumah tangga sebagai perwujudan ”kodrat” keperempuanannya. Bisa dimaklumi kalau dia jarang blogwalking. Blognya yang di WP pun sudah lama tidak di-update.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly12.jpg" align="left" />Lantas, mengapa saya tiba-tiba saja tertarik untuk membuat postingan khusus tentang Melly Kiong? Secara pribadi, saya memang belum bertemu secara langsung dengan Mbak Melly –demikian saya biasa menyapanya. Komunikasi hanya sebatas kami lakukan via chatting, SMS, atau telepon. Meski demikian, setidaknya saya bisa mengenal ide-ide dan pemikiran-pemikirannya. Di mata saya, Mbak Melly tergolong perempuan yang memiliki idealisme untuk kemajuan bangsa. Lewat program dan slogannya ”Peduli Anak Bangsa”, betapa sosok Mbak Melly demikian<em> concern</em> dan peduli terhadap dunia pendidikan, meski pekerjaannya tidak terkait langsung dengan masalah pendidikan. Tempaan pengalaman hidupnya yang pahit, sosok ibunya yang <em>smart</em> dan tangguh, serta atmosfer lingkungan rumah tangga yang kondusif, agaknya telah memengaruhi sikap hidup Mbak Melly untuk peduli terhadap dunia pendidikan.</p>
<p align="justify">Pengaruh sosok ibunya dan atmosfer lingkungan keluarga semacam itulah yang telah mengilhami perempuan kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat, 1969 itu, untuk meluncurkan buku perdananya, <em>Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? </em>yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Jakarta. Buku setebal 127 halaman itu memaparkan dan sekaligus juga untuk membuktikan bahwa perempuan karier ternyata bisa juga mendidik anak dengan baik.</p>
<p><span id="more-327"></span></p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly4.jpg" align="right" />Ada sejumlah tokoh yang memberikan <em>endorsement </em>untuk buku ini, seperti Seto Mulyadi (pemerhati anak), Lenny Wongso (pengusaha dan penulis buku), Alexandra Dewi (perempuan karier), atau Santi Bonis (penyiar radio Cosmopolitan FM). Buku ini juga dilengkapi pujian dan apresiasi dari berbagai kalangan, seperti Nining W. Permana (<em>Managing Director Tupperware Indonesia</em>), Sayekti Sulisdiarto (<em>Production Director PT Phapros Tbk</em>), Eni Kusuma (Motivator, mantan TKW di Hongkong, dan penulis buku <em>best seller </em>”Anda Luar Biasa”), Hanna Fransisca (Ibu rumah tangga, pengusaha, dan bloger), dan masih banyak lagi. Saya juga kena sentil untuk ikut-ikutan memberikan apresiasi terhadap buku ini, hehehehe &#8230;</p>
<p align="justify">Apa sesungguhnya yang menarik dari buku perdana Mbak Melly ini? Kalau boleh menilai, buku ini memiliki kelebihan dalam muatan isi dan <em>style </em>pengungkapan. Buku ini mendedahkan pengalaman langsung Mbak Melly bagaimana di tengah kesibukan yang menumpuk, dia masih memiliki kesempatan untuk membimbing secara kreatif terhadap kedua anaknya, Julian (10 tahun) dan Matthew Liem (6 tahun). Diramu dengan beberapa kiat yang pernah dibaca lewat berbagai sumber, Mbak Melly berkesimpulan bahwa perempuan karier bisa juga menjadi sosok ibu yang sukses dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Julian dan Matthew telah merasakan imbas terhadap kiat-kiat praktis yang diterapkan Mbak Melly. Kedua anak ini tumbuh dan berkembang dengan baik, bahkan merasa nyaman meskipun sering ditinggal oleh sang ibu. Hal itu bisa dibaca melalui berbagai lampiran sebagai dokumen portofolio untuk melihat bagaimana Julian dan Matthew menikmati dunianya sehari-hari di lingkungan keluarga dan di sekolah.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly32.jpg" align="left" />Yang menarik, pengalaman-pengalaman praktis Mbak Melly dalam mendidik anak dikemukakan lewat racikan bahasa yang sederhana, jernih, dan mengalir. Tak banyak rujukan teoretis seperti kebanyakan buku ”<em>How To</em>&#8230;” yang lain. Dengan <em>style </em>khasnya. Mbak Melly mampu menyuguhkan sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkret sehingga gampang dicerna pembaca. Yang jelas, buku ini layak dibaca dan dimiliki oleh ibu-ibu yang kebetulan sibuk di ranah publik, tetapi masih memiliki kepedulian untuk sukses dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan ilustrasi pada halaman-halaman tertentu untuk memberikan <em>space </em>bagi pembaca dalam mencerna isi buku dan sekaligus memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mengembangkan imaji-imaji tertentu berdasarkan pengalaman Mbak Melly itu. Kalau toh ada, ilustrasi tersebut ditempatkan pada lampiran khusus sehingga terkesan lepas dari konteks pengalaman nyata yang disuguhkan Mbak Melly. (Mohon maaf Mbak Melly kalau saya terpaksa membidik titik ini sebagai kelemahannya, hehehehe &#8230;. )</p>
<p align="justify">Meski demikian, secara keseluruhan buku ini menampakkan adanya sebuah totalitas pemikiran dan pengalaman yang jitu dari istri Tatang Wijaya ini ke dalam sebuah buku ”<em>How To </em>&#8230;” yang cerdas dan mencerahkan. Bukan hanya layak dibaca oleh kaum perempuan karier. Bapak-bapak pun layak membacanya agar tidak canggung lagi beristrikan seorang permepuan karier.</p>
<p align="justify"><img src="http://sawali64.googlepages.com/melly22.jpg" align="right" />Agaknya, buku ini juga menjadi bagian dari mimpi dan obsesi Mbak Melly dalam ikut serta membagun dunia pendidikan berbasis ”Program Peduli Anak bangsa” yang sudah lama mengendap dalam layar memorinya. Untuk itulah, belakangan ini dia juga sibuk menggelar berbagai seminar untuk memperkenalkan dan menyosialisasikan program-programnya itu.</p>
<p align="justify">Oke, Mbak Melly. Selamat atas peluncuran buku perdananya. Semoga sukses dan bermanfaat untuk kepentingan membangun karakter bangsa melalui sosok generasi masa depan yang disiplin, sikap moral yang baik, serta mentalitas unggul dengan daya juang tinggi. Kami tunggu buku edisi berikutnya. Semoga mimpi dan obsesi Mbak Melly untuk ikut berkiprah membangun karakter anak-anak bangsa berbasiskan motto: &#8220;Menjadi sebuah lilin yang mampu menyalakan seribu lilin lainnya&#8221; bisa segera terwujud. Salut banget! Namun, hati-hati loh, Mbak Melly, jangan sampai terjebak seperti sebuah lilin yang mampu menerangi kegelapan, tetapi dirinya meleleh dan hancur, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Yang ingin kontak via email ke Mbak Melly silakan hubungi: melly_kiong@yahoo.com atau kunjungi blognya <a href="http://muilie.wordpress.com/">di sini</a>.</p>
<p align="justify">***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2008%2F04%2F30%2Fmelly-kiong-dan-bukunya%2F';
  addthis_title  = 'Melly+Kiong+dan+Bukunya';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru yang Dibenci Sekaligus Dirindukan</title>
		<link>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/17/guru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan/</link>
		<comments>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/17/guru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 08:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mgmpbindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/17/guru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan/</guid>
		<description><![CDATA[Saya seperti diingatkan Mas Moer. Saat blogwalking, saya temukan postingan terbaru  yang menarik dan menggelitik &#8220;Orasi didepan Guru Dungu&#8221;. Menarik karena ditulis oleh seorang siswa sebuah sekolah kejuruan yang usianya belum genap berkepala 2. Menggelitik lantaran bersifat reflektif, sehingga bisa menjadi &#8220;warning&#8221; bagi segenap komponen pendidikan untuk bersama-sama melakukan sebuah perubahan. Bahkan, postingan tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Saya seperti diingatkan Mas <a href="http://myresource.wordpress.com/" target="_blank">Moer</a>. Saat <em>blogwalking</em>, saya temukan postingan terbaru  yang menarik dan menggelitik &#8220;<a href="http://myresource.wordpress.com/2007/12/16/orasi-didepan-guru-dungu/" rel="bookmark">Orasi didepan Guru Dungu&#8221;</a>. Menarik karena ditulis oleh seorang siswa sebuah sekolah kejuruan yang usianya belum genap berkepala 2. Menggelitik lantaran bersifat reflektif, sehingga bisa menjadi &#8220;warning&#8221; bagi segenap komponen pendidikan untuk bersama-sama melakukan sebuah perubahan. Bahkan, postingan tersebut juga dilengkapi sebuah banner &#8220;<a href="http://myresource.files.wordpress.com/2007/12/banner-kekerasan.jpg?w=350&amp;h=145" target="_blank">Stop Kekerasan dalam mengajar!</a>&#8221;  (Lihat bannner karya Mas Moer yang saya pasang di bar samping! Gimana, keren, nggak? Hehehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  ) Sebuah &#8220;keberanian&#8221; yang layak diapresiasi. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana reaksi guru-gurunya ketika membaca postingan tersebut. Geram, tersipu, atau justru diam-diam mengagumi sikap kritis Mas <a href="http://myresource.wordpress.com/" target="_blank">Moer</a>.</p>
<p align="justify">Secara tersirat, Mas <a href="http://myresource.wordpress.com/" target="_blank">Moer</a> mengungkapkan kegelisahannya terhadap aksi kekerasan yang berlangsung di sekolah. Dia tidak sedang membual. Dia mengalami sendiri ditendang seorang guru gara-gara nongkrong di atas bangku untuk membetulkan tali sepatunya. *Halah, tragis amat.*</p>
<p align="justify"><span id="more-291"></span>Pada saat yang (hampir) bersamaan, saya mendapatkan <em>tracback </em>dari Bang <a href="http://guhpraset.wordpress.com/" target="_blank">Guhpraset</a>.   Postingannya &#8220;<a href="http://guhpraset.wordpress.com/2007/12/17/guru-digugu-ditiru-digugat-diburu/" title="GuRu, diGugu ditiRu diGugat dibuRu">GuRu, diGugu ditiRu diGugat dibuRu</a>&#8221; masih membicarakan seputar guru. *Halah, sosok guru ternyata masih menarik juga yak untuk diomongkan, hehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  * Dengan gaya khasnya, &#8220;sederhana, tulus, jujur&#8221;, Bang  <a href="http://guhpraset.wordpress.com/" target="_blank">Guhpraset</a> mengungkapkan kesan-kesan &#8220;apa adanya&#8221; tentang sosok guru yang pernah ditemui sepanjang sejarah kehidupannya. Ada Ibu Guru SD yang mengancam akan menjewer kupingnya jika tidak hapal perkalian 1 sampai 10, ada guru kesenian yang pernah menamparnya berkali-kali, ada Ibu Guru ngaji yang memprogram dan mencuci otaknya untuk membenci ajaran dan penganut agama-agama lain, bahkan ada juga guru Bahasa Indonesia yang suka berbicara dengan melecehkan. *Walah, banyak juga, yak!&#8221;</p>
<p align="justify">Sepanjang sejarah peradaban umat manusia, kehadiran guru agaknya menjadi sebuah keniscayaan. Kehadirannya diharapkan dapat mewarnai &#8220;kanvas&#8221; zaman. Di situlah tugas-tugas kemanusiaan dipertaruhkan. Dinamikanya pun mengalami pasang-surut. Kadang-kadang dibenci, tetapi sekaligus juga dirindukan.</p>
<p align="justify">Ketika masyarakat dunia menjadi satu atap dalam sebuah peradaban global, guru dihadapkan pada kondisi &#8220;anomie&#8221; &#8211;pinjam istilahnya Durkheim. Pada satu sisi, guru harus menanamkan nilai-nilai luhur hakiki, tetapi pada sisi yang lain, guru juga harus lentur dan fleksibel menghadapi perubahan. Perubahan sudah demikian nyata terjadi di depan mata. Bendera konsumtivisme, materialisme, bahkan juga hedonisme berkibar di setiap sudut dan lapisan masyarakat. Masyarakat makin abai terhadap persoalan-persoalan moral. Bahkan, cenderung bersikap permisif terhadap maraknya penyakit sosial yang berlangsung vulgar dan telanjang di depan mata. Perilaku korup, manipulasi, tawuran antarpelajar, pesta pil setan, atau ulah anomali sosial lainnya sudah dianggap sebagai hal yang wajar.</p>
<p align="justify">&#8220;Halah, moral itu kan urusan guru di sekolah! Buat apa sih repot-repot ikut ngurusin? Nanti guru ndak ada kerjaan!&#8221;  Hehehehehe <img src='http://bindosmp.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />   Bisa jadi pertanyaan semacam itulah yang sempat meluncur dalam layar memori kita.</p>
<p align="justify"> <a href="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/cuci-otak-siswa.gif" title="cuci-otak-siswa.gif"></a></p>
<p><a href="http://www.payer.de/religionskritik/karikaturK349.gif" target="_blank"><img src="http://sawali.files.wordpress.com/2007/12/cuci-otak-siswa.gif" alt="cuci-otak-siswa.gif" height="275" width="266" /></a></p>
<p align="justify">Disadari atau tidak, kini makin banyak keluarga yang ditindih berbagai macam kesibukan. Orang tua dinilai hanya sekadar menjalankan tugas-tugas biologisnya; melahirkan, membesarkan, atau mencarikan pasangan hidup kelak setelah dewasa. Selebihnya, tugas kultural dan kemanusiaan diserahkan guru sepenuhnya. Dalam kondisi demikian, seringkali nilai yang ditanamkan guru di sekolah tidak klop dengan kenyataan yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Guru menanamkan nilai-nilai kejujuran, kerendahhatian, keadilan, moral, atau budi pekerti. Namun, apa yang dilihat oleh anak-anak di tengah kehidupan masyarakat sungguh bertentangan secara diametral. Korupsi, arogansi kekuasaan, ketidakadilan, amoral, atau perilaku vandalistis lainnya marak terjadi. Aduh, guru seringkali &#8220;stress&#8221;, sehingga acapkali tidak sabar dan gagal membendung emosi. Tak ayal lagi, praktik kekerasan seorang guru kepada muridnya pun tak jarang terjadi, atau juga sebaliknya.</p>
<p align="justify">Kalau kondisi semacam itu terus berlangsung,  idiom &#8220;sekolah sebagai agen kebudayaan&#8221; bisa dipastikan hanya akan terapung-apung dalam slogan belaka. Semua komponen bangsa harus bersama-sama melakukan perubahan secara kolektif. Apa pun alasannya, motif-motif kekerasan mestinya pantang berlangsung dalam dunia persekolahan. Secara reflektif,  Dorothy Law Nolthe, mengingatkan:</p>
<blockquote><p> Jika anak dibesarkan dengan <font color="#ff0000">Celaan</font>, ia belajar <font color="#ff0000">Memaki</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#ff0000">Permusuhan</font>, ia belajar <font color="#ff0000">Berkelahi</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#ff0000">Cemoohan</font>, ia belajar <font color="#ff0000">Rendah Diri</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#ff0000">Penghinaan</font>, ia belajar <font color="#ff0000">Menyesali diri</font></p>
<p>Jika anak dibesarkan dengan <font color="#0000ff">Toleransi</font>, ia belajar <font color="#0000ff">Menahan Diri</font><br />
Jika anakdibesarkan dengan <font color="#0000ff">Dorongan</font>, ia belajar <font color="#0000ff">Percaya diri</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#0000ff">Pujian</font>, ia belajar <font color="#0000ff">Menghargai</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#0000ff">Sebaik-baik perlakuan</font>, ia belajar<font color="#0000ff"> Keadilan</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan<font color="#0000ff"> Rasa aman</font>, ia belajar <font color="#0000ff">Menaruh Kepercayaan</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#0000ff">Dukungan</font>, ia belajar <font color="#0000ff">Menyenangi Dirinya</font><br />
Jika anak dibesarkan dengan <font color="#0000ff">Kasih sayang &amp; Persahabatan</font>, ia belajar menemukan<font color="#0000ff"> Cinta</font> dalam Kehidupannya</p></blockquote>
<p align="justify">Semoga akhir tahun 2007 memberikan banyak pengalaman berharga bagi insan pendidikan sehingga mampu merumuskan misi 2008 secara visioner. Untuk selanjutnya, diimplementasikan secara nyata. Semoga! ***</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Fbindosmp.edublogs.org%2F2007%2F12%2F17%2Fguru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan%2F';
  addthis_title  = 'Guru+yang+Dibenci+Sekaligus+Dirindukan';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bindosmp.edublogs.org/2007/12/17/guru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
